Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 32 Do You Want To Be My Girlfriend?


__ADS_3

Alleysa merendamkan tubuhnya kedalam bathub yang berisi air sabun. Ia meminum wine sambil memakan steak, Alleysa bukan gadis yang terlalu baik semenjak tinggal di Amerika sangat lama, ia jadi sering mengikuti culture budaya Barat. Seperti minum Wine, Alkohol dan Arak namun masih dalam dosis yang wajar, ia juga tidak sering meminum minuman keras itu hanya ketika keadaan otaknya sedang kalut ataupun masalah yang ia alami terlalu berbelit seperti saat ini.


Ia memainkan busa sabun dan satu tangannya memegang ponsel.


Ting


Ada notifikasi masuk dari ponselnya, ia membuka aplikasi WhatsApp. Gadis itu menyingit binggung ketika melihat sebuah pesan dari Antariksa, senyuman terbit ketika membaca sebuah pesan singkat itu.


Antariksa


Gue jemput jam 7 siap-siap jangan lupa dandan yang cantik ❤️


Alleysa bersiap-siap bangkit dari bathub kemudian membilas tubuhnya dengan air panas dan bergegas mengganti pakaian.


"Nona mau kemana?" Tanya seseorang membuat Alleysa mengentikan langkahnya pada anak tangga terakhir.


"Siapa kamu?" Tanya gadis itu, menatap binggung orang baru yang ada didalam Mansion keluarganya. Ia menatap wanita itu dari atas sampai bawah gadis muda yang berpakaian mirip Maid yang berada di dalam rumahnya.


"Saya pembantu baru sekaligus asisten pribadin nona" ucapnya lembut.


"Asisten pribadi? Saya?" Ulang gadis itu.


Pembantu wanita itu menganggukkan kepalanya. "Siapa yang menyuruh kamu, Daddy? Bilang sama dia saya nggak perlu asisten pribadi karena saya bukan bayi" bentak gadis itu kemudian berjalan meninggalkan wanita itu yang mengeluarkan smirik andalannya.


"Anda terlalu angkuh Nona Alleysa" ucapnya membatin.


Alleysa melangkahkan kakinya dengan hentakan, kesal terhadap Daddynya yang seenaknya memerintahkan karyawan baru untuk menjaganya. Gadis itu berjalan keluar tanpa peduli dengan panggilan dari para bodyguard nya yang bertanya kepada nona nya apa perlu di temani.


Antariksa melihat raut wajah gadis itu berubah kusut, entah kenapa perasaan khawatir terhadap gadis itu meliputi dirinya saat ini, Antariksa berusaha menampik akan perasan itu berharap tidak menjadi kenyataan. Antariksa tersenyum lebar ke arah gadis yang mengenakan dress putih selutut dengan bagian bahu yang terekspos lepas. Menggunakan Sling bag berwarna hitam dan high heels yang berwarna abu serta rambutnya di di sanggul kecil membuat bagian atas tubuhnya terlihat dan lehernya terlihat semakin jenjang.


Antariksa tak menampik bahwa gadis itu sangat cantik malam ini. Meskipun raut cemberut di tunjukan ya ke arah Antariksa. Ia terkekeh melihat gadis itu "kenapa?" Tanya Antariksa lembut.


Alleysa terkejut, kemudian berusaha menormalkan mimik wajahnya yang cemberut itu. "Nanti gue cerita, yaudah yuk" ucap Alleysa kemudian mendorong lengan Antariksa agar masuk kedalam mobil.


Alleysa masih terdiam di dalam mobil, Antariksa memajukan tubuhnya hingga wangi aroma parfum pria itu tercium dengan jarak yang begitu dekat. "Mau ngapain Lo?" Tanya Alleysa gugup ketika tubuh Antariksa semakin mendekat. Alleysa menahan degup jantungnya, sekalian menahan nafas agar Antariksa tak bisa mendengar helahan nafas gugupnya.


"Sealtbelt Lo belum di pasang, mau jatuh" ucap Antariksa kemudian memakaikan sealtbelt (sabuk pengaman) milik Alleysa. Gadis itu tersenyum kikuk, dia sudah berpikir yang macam-macam tentang kejadian barusan sungguh saat ini ia sangat malu.


"Lley" panggil Antariksa lembut.


Gadis itu menoleh kearah Antariksa untuk sejenak ia terdiam. Kenapa dari tadi ia tidak tahu bahwa pria di sebelahnya ini sangat tampan!.


"Lo cantik" ucapnya sambil menatap tulus ke arah gadis itu.


Degup jantung gadis itu tak terkontrol, pipinya bersemu merah semerah tomat mendengar 2 kata yang di lontarkan oleh Antariksa. Antariksa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan Mansion Alleysa. Tanpa mengetahui dari tadi gadis itu menahan setengah mati degup jantungnya berharap ia bisa keluar dari mobil Antariksa sekarang juga.


"Sekarang mata Lo tutup dulu" ucap Antariksa kemudian mengambil sebuah kain penutup berwarna merah, menutup mata gadis itu dengan lembut.


"Emangnya mau apa sih, sampe di tutup segala Tar" tanya Alleysa risih dengan kain penutup itu.

__ADS_1


"Udah nurut aja kek sekali lley".


"Iya deh".


Alleysa turun dari mobil di bantu oleh Antariksa yang melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan salah satu tangannya mengandeng tangan gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Hati-hati lley" peringat Antariksa sesaat gadis itu hendak terjatuh karena hellsnya menginjak lubang jalan.


Semua orang di dalam restoran itu menunduk memberikan salam penghormatan kepada Antariksa membuka pintu ketika pria itu masuk.


"Silahkan tuan" ucap manager restoran berbintang itu kepada Antariksa.


Antariksa mengikuti jalan manager itu menuju lift yang akan menghubungkan nya ke rooftop restoran.


"Duduk lley" ucap Antariksa.


"Udah bisa di buka belum kainnya gue risih Tar" ucap gadis itu.


"Nanti kalo misalnya gue suruh buka baru di buka okeh, sekarang Lo tunggu dulu" ucap Antariksa lembut.


Antariksa pergi meninggalkan gadis itu seorang diri, ia menuju ke arah panggung kecil di atas rooftop itu mengambil gitar klasik. Dan mulai memetik gitar itu hingga menghasilkan sebuah nada lagu yang sangat indah di dengar. Gadis itu terdiam beberapa saat terhanyut dalam petikan gitar yang di mainkan, sebuah tangan membuka penutup matanya. Netra nya bertemu dengan si pemain gitar yang tak lain ada Antariksa.


Saat kutenggelam dalam sendu


Waktu pun enggan untuk berlalu


Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku


Semakin kulihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat 'ku melihat senyummu


Dan kau hadir


Merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh

__ADS_1


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


Hu-u-u-u-u ...


Kini kuingin hentikan waktu


Bila kau berada di dekatku


Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku


'Kan kupetik satu untukmu


Dan kau hadir


Merubah segalanya (segalanya)


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh (membuatku utuh)


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu…


Alleysa menitikkan air mata, haru mendengar suara merdu Antariksa. Antariksa meletakan gitar di sebelah drum berjalan ke arah gadis itu. Ia berlutut ke arah Alleysa netranya menatap lekat ke arah gadis itu. Seorang  pelayan membawa nampan yang di atasnya ada sebuah buket bunga mawar putih, dan sebuah kotak beludru persegi.


Lampu kelap-kelip di hidupkan, Antariksa tersenyum.


"Pertama kali gue liat Lo di tempat les vokal. Gue langsung jatuh hati sama Lo.


Gue senang kalo tau Lo satu sekolah sama gue, semenjak liat Lo duduk di jembatan seorang diri gue meyakinkan diri gue bahwa gue harus menjaga Lo.


Lo takdir Tuhan buat gue, gue berharap bisa jadi pangeran yang selalu menjaga Lo.


Gue Antariksa Keano Peter berjanji akan menjaga Alleysa Seira James Smith, So Do You Want To Be My Girlfriend Alley?" Ucapnya sambil membuka kotak beludru itu, yang menampilkan sebuah kalung berinisial AA kepada gadis itu.


"Kalo Lo Nerima gue ambil kalung ini, kalo nggak sebaliknya" ucapnya dengan tatapan yang tak berhenti menatap gadis itu.


Alleysa terdiam cukup lama, menatap kalung bertuliskan inisial mereka. Air mata jatuh secara tiba-tiba membuat Antariksa yang memandang wajah gadis itu terdiam bertanya dalam hati kenapa Alleysa menangis.

__ADS_1


"Antariksa" panggil gadis itu.


"Gue ----"


__ADS_2