
Alleysa menangis di atas tanah kecoklatan itu, memegang nisan kakeknya berusaha untuk tidak menerima kenyataan bahwa kakeknya telah pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya.
"Sayang udah" ucap Anandita memegang bahu putrinya agar tubuh putrinya tidak tumbang.
"Kakek" lirih Alleysa.
Suasana rumah duka kini masih ramai di kunjungi pelayat. Sejumlah kerabat dan rekan bisnis dari anak cabang Smith corperation mulai berdatangan ke rumah duka. Alleysa gadis itu masih berada di dalam kamar miliknya, setelah acara pemakaman selesai gadis itu lebih mengurung diri didalam kamarnya menekuk kakinya dan memeluknya di atas kasur kingsize itu.
Sekelebat memori tercuat saat ini dimana rentetan kebersamaan ia kakeknya semasa tinggal disini.
"Kakek kenapa sayang Alley?"
"Karena Alley cucu Kakek".
"Kakek kok nambah tua?"
"Karena kakek sebentar lagi bakal menemui sang pencipta"
"Berarti Alley juga bakal kayak gitu nanti?".
"Pasti sayang, semua makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami namanya kematian dimana nanti ia kan hidup kekal selamanya di alam baru buatan tuhan".
"Jadi kakek bakal ninggalin Alley sendirian disini?".
"Kakek ngga akan ninggalin kamu, kalo misalnya Kakek pergi ingat kakek selalu ada di hati mu ya. Kakek akan berusaha hidup nemenin kamu wisuda, nikah dan punya anak biar kakek jadi buyut".
*******
"Kakek" ucapnya kemudian memejamkan matanya tertidur.
Alleysa turun dari ke bawah setelah 3 hari berdiam dirinya di kamarnya, ia tak melihat satupun keluarganya berada di rumah kakeknya yang megah ini. Daddy dan Mommy pun tak tampak ada di rumah ini.
Ia kemudian melanjutkan langkah kakinya ke ruang makan, ya sudah tiga hari ia kehilangan nafsu makannya, Mommy berusaha membujuknya untuk makan tapi nihil ia tak mau menyentuh sama sekali makanan yang di buat, Sean sendiri juga sudah kewalahan memerintahkan gadis itu untuk makan namun sama juga Alleysa gadis yang sungguh keras kepala.
Kali ini ia berusaha untuk menerima semuanya dengan lapang dada meskipun mengingat kakeknya membuat dirinya sedih sendiri, di tinggal pergi oleh orang yang kita sayang pasti berat bukan? Tapi Alleysa berusaha menerima kenyataan bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, ia juga harus hidup demi mewujudkan harapan kakeknya padanya.
__ADS_1
"Kemana semua orang?" Tanya Alleysa kepada kepala dapur di rumah ini yang berdiri di belakangnya.
"Tuan dan nyonya sedang pergi ke kantor pusat nona, hari ini adalah rapat jabatan komisaris baru dan juga ada pembahasan soal pembagian saham milik almarhum komisaris" ucapnya sopan.
Prang
Garpu dan pisau potong yang ia pegang jatuh ke atas piring itu hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
"Ada apa nona?" Ucapnya khawatir terhadap putri bosnya.
"Tidak, saya telah selesai makan tolong di bereskan" ucap gadis itu lagi kemudian berjalan keluar ke arah taman belakang rumah itu.
Hiks
Hiks
Tetesan air mata membasahi pipi gadis itu lagi-lagi begitu pedih hidupnya bahkan kuburan kakeknya saja belum kering kedua orang tuannya sudah mempersiapkan diri mereka menjadi pemimpin resmi Smith corperation.
*******
"Untuk harga saham di Hotel Bali sedang mengalami peningkatan yang tidak terlalu signifikan".
"Perusahan ritel Amazon masih belum mau bekerja sama dengan kita? Apa kalian susah menjelaskan keuntungan yang mereka dapat dengan menjadi mitra kerja kita?" .
"Untuk perusahan Cakra kami telah melakukan perundingan mereka bilang nanti jika mereka setuju dengan kerja sama ini mereka akan mengabari kita".
"Pak hotel yang akan kita kembangkan di Kuba, telah selesai kami survei untuk melihat lokasi nya. Lokasinya cukup strategis dan rencananya kita akan berkerja sama dengan Arthur grup sesuai dengan kesepakatan almarhum komisaris".
"Baiklah kalo begitu silahkan lanjutkan, rapat kali ini saya bubarkan" ucap Alfandi kemudian pergi meninggalkan ruang rapat bersama sekretaris ayahnya.
Alleysa membuka televisi di dalam kamarnya ia melihat berita terbaru di mana Daddynya resmi menjadi komisaris sekaligus pemilik resmi dari Smith corperation.
Ia menantikan siaran televisi itu kemudian memilih untuk tidur agar hari lebih cepat berlalu.
"Al bangun sayang" ucap wanita paruh baya mengelus puncak kepala putrinya yang sedang tidur.
__ADS_1
Merasa terganggu Alleysa bangun dari tidurnya sesaat ia membuka mata ia melihat wanita paruh baya yang ia panggil Mommy duduk di atas ranjangnya.
"Ada apa mom?" Tanyanya binggung melihat keberadaan ibunya yang ada di kamarnya.
"Mandi trus turun ke bawah kita kedatangan tamu" ucapnya kemudian pergi keluar meninggalkan Alleysa yang kebingungan sendiri.
"Tamu?" Batinnya bertanya-tanya akhirnya dengan langkah malas ia mengikuti perintah bundanya meskipun sangat berat hati.
"Paman" ucapnya terkejut melihat pengacara sekaligus notaris hukum kakeknya berada dirumah ini.
"Kamu masih mengenal saya ternyata Alleysa. Sekarang kamu makin cantik saja" ucapnya sambil tersenyum.
Alleysa hanya tersenyum mendengar pujian dari ahli hukum kakeknya.
"Langsung saja saya kesini ingin menjelaskan masalah harta warisan yang di tinggalkan oleh almarhum James Smith. Ia meninggalkan wasiat yang ia tulis sebelum ia meninggal dan disini saya akan membacakan tanpa ada satu pun yang terlewat".
"Baik silahkan" perintah Alfandi.
"Kepada anak dan menantuku serta cucu tersayang ku Alleysa Seira James Smith. Disini saya akan menulis wasiat penting yang harus kalian lakukan setelah saya sudah tidak ada di muka bumi lagi.
Pertama untuk putraku Alfandi James Smith kamu akan melanjutkan perusahan saya menjadi komisaris sesuai perintah turun temurun dari kakek mu. Dan menantuku Anandita kamu mendapat bagian dari anak perusahaan milik mertuamu istri saya yaitu butik Alzara. Dan untuk cucu tersayang ku Alleysa Seira James Smith maaf kakek tidak bisa menemani dirimu sampai menikah, kakek harap kamu tumbuh menjadi gadis baik dan penyayang serta selalu menjadi Alley yang berhati malaikat. Kakek mewariskan kamu hotel di Maldives dan restoran serta resor di Italia dan serta 18 persen dari saham kepemilikan kakek akan jatuh ke kamu kamu akan mendapatkan itu jika kamu mau menuruti permintaan kakek yang satu ini menikah dengan cucu rekan bisnis kakek sekaligus sahabat kakek dari SMP Alaska Arthur".
Alleysa terdiam mendengar ucapan terakhir wasiat kakeknya yang menyuruhnya menikah dengan cucu pemilik Arthur grup siapa lagi jika bukan tunanganya Sean Gelael Arthur.
"Kamu harus menikah dengan Sean" ucap Alfandi pada putrinya ketika notaris hukum ayahnya telah meninggalkan Mansion.
"Al ngga mau Dad, menikah bukan tentang harta tapi tentang cinta dan Al nggak akan pernah cinta sama Sean" ucapnya kesal dengan surat wasiat konyol itu.
"Tidak ada pilihan Alleysa kamu harus menikah dengan Sean. Kamu tahu perusahan Daddy di Kuba itu investornya adalah papa Sean Angkasa".
"Mau tidak mau kamu akan kami nikahkan, kakek mu juga ingin kamu menikah dengan pewaris Arthur grup jadi jangan egois" ucapnya kemudian berjalan meninggalkan putrinya.
"Kalian jahat" ucap gadis itu gemetar membuat sang empu yang merasa menoleh ke belakang.
"Kalian jahat, kalian lahirin Al cuma sebagai alat untuk memajukan perusahaan kalian, apakah kalian pernah berpikir menjadi orang tua yang benar-benar orang tua pada umumnya, kalian selalu sibuk dengan kegiatan kalian ngrusin perusahaan kalian! Tanpa tahu bahwa kalian punya anak yang masih kecil anak yang sebenarnya tidak tahu arti kasih sayang dari orang tuannya. Anak yang dari dulu berharap orang tuannya datang memeluknya ketika ia menagis dan mulut orang tua yang memarahi dirinya ketika ia bersalah. Tapi kalian apa? Apakah kalian pantas disebut sebagai orang tua buat Al. Disaat kuburan kakek belum kering Daddy malah melakukan pengangkatan Komisaris dan pembahasan surat wasiat kakek. Al benci kalian!" Ucap gadis itu kemudian berjalan meninggalkan ayahnya yang terdiam mencerna ucapan putrinya itu.
__ADS_1
Alleysa menangis hatinya sungguh sakit di usianya yang baru akan menginjak 17 tahun ia harus memiliki kehidupan yang begitu rumit. Menyesal Lahir di dunia itulah yang ia rasakan saat ini andai ia bisa memilih ia tidak akan hidup di keluarga yang bergelimang harta namun didalamnya ia tak menemukan kebahagiaan dan kasih sayang.