Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 27 Kembali Membuka Luka


__ADS_3

Antariksa berjalan mondar mandir menunggu dokter yang memeriksa keadaan gadis itu keluar dari bangsal.


Mulutnya tak hentinya merapalkan doa agar gadis itu baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan dia dok" tanya Antariksa mendapati dokter yang menangani Alleysa keluar dari bangsal gadis itu dirawat.


"Anda keluarganya?" Tanya dokter kepada Antariksa.


"Ia saya keluarganya saya akan bertanggung jawab penuh ke pada gadis itu" ucap nya lagi.


"Baiklah kalau begitu mari ke ruangan saya, ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan kepada anda mengenai kondisi pasien".


"Kenapa dengan dia dok?" Tanya Antariksa sangat penasaran.


"Begini pasien mengalami despresi yang akan berjalan ke tingkat depresi berat, karena mungkin penyebab masalah yang dia alaminya, saya sudah memberikan obat penenang dan bius agar pasien merasa tenang ketika bangun. Saran saya bawa pasien ke psikiater takutnya depresi itu akan bertambah parah" ucap dokter itu.


"Baik dokter saya mengerti, apa saya sudah boleh bertemu dengan pasien?".


"Jika anda ingin bertemu boleh tetapi tolong beri jeda pasien untuk beristirahat, pastikan jangan ada banyak orang yang mengunjungi pasien saat ini karena kondisi batin pasien sedang terguncang" lanjutnya.


Antariksa menganguk paham kemudian keluar dari ruangan dokter tersebut.


*****


Disinilah Antariksa sekarang dengan tangan yang tak lepas menggengam tangan gadis yang tergolek lemah di atas brankar rumah sakit. Dengan pandangan yang tak sedikitpun jauh dari jangkauan gadis itu.


"Gue merasa bersalah karena ngga bisa jagain Lo sebagai pangeran yang Lo minta".


"Gue sayang sama Lo lley, jangan nyiksa diri Lo kayak gini jujur gue belum siap buat kehilangan Lo setelah Lo masuk kedalam hidup gue" liriknya.


"Gue akan buat Lo bahagia lley sabar ya" ucapnya lagi.


Sean duduk di sebuah kafe dengan rokok di tangannya untuk dia hisap menunggu seseorang datang menemui dirinya karena sudah janjian sebelumnya.


"Maaf tuan saya terlambat" ucap salah seorang wanita yang sudah berjanji akan bertemu dengan Sean.


"Tidak apa, saya juga baru datang!".


"Jadi mari kita mulai rencana yang akan kita jalankan" ucap Sean. Wanita paruh baya itu menganguk mantap memperhatikan rencana yang telah di susun oleh majikan barunya itu.


Arghhh


Gadis itu mengeliat dalam tidurnya, membuka matanya yang tampak sinar cahaya dengan pandangan kunang-kunang. Ia memposisikan dirinya duduk meskipun kepalanya sangat berat di angkat menatap lurus ke arah jendela transparan yang menunjukan kota metropolitan Jakarta di malam hari dengan di hiasi gedung pencakar langit yang berwarna-warni karena sinar lampu.


Gadis itu termenung cukup lama, tak bersua sedikitpun seolah-olah pikirannya sedang hanyut entah kemana.

__ADS_1


Antariksa membuka matanya, netranya bertemu dengan gadis yang duduk di brankar rumah sakit itu, ya Antariksa tadi tertidur di kursi samping brankar gadis itu ketika ia membuka mata, ia melihat Alleysa yang melamun dengan pandangan lurus.


"Lley" panggil Antariksa. Gadis yang ia panggil namanya tak menyahut malah diam dan tak menoleh.


"Alleysa you are okay?" Tanyanya sambil menggenggam tangan gadis itu.


Tak ada sautan balasan dari gadis itu lagi.


"Lley ada yang sakit?" Ucapnya lagi lembut.


"Tar" panggil gadis itu akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ada apa lley ada yang sakit, kamu haus atau laper?" Tanyanya bertubi-tubi.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Antariksa yang perhatian padanya.


"Trus kamu mau apa? Biar aku ambilin" ucapnya lagi.


"Gue nggak perlu apa-apa Antariksa" ucapnya sambil tersenyum.


"Serius?" Tanyanya lagi.


"Iya Antariksa Keano Peter" lanjutnya lagi.


"Bisa aja kamu" lanjutnya sambil mengacak rambut gadis itu gemas.


"Heheh lagian aku gemas sama kamu" lanjutnya lagi.


"Aku kamu, sejak kapan? Alay Lo hahah" ucapnya.


"Gapapa asal kamu senang" lanjutnya.


"Gaje Atar".


"Oh iya Tar, kata dokter gue sakit apa? Gue nggak di rawat inap kan?".


"Em gimana ya, kata dokter Lo nggak papa cuman nggak boleh kecapean dan jangan stres jangan mikirin apapun yang bisa buat kondisi Lo drop, dan dokter bilang Lo boleh nggak boleh pulang".


"Kok nggak boleh pulang? Gue kan gak papa!" Ucapnya sedikit kesal.


"Ya gitu deh,  jangan bantah Alley ini juga buat kesehatan Lo".


"Huups ah nggak asik" keluh nya.


"Namanya sakit, makanya jangan lagi ngelakuin hal bodoh yang buat gue khawatir" nasehatnya.

__ADS_1


"Iyaa gue nggak lagi kok, kapok" ucapnya malas.


"Janji sama gue nggak ngelakuin hal berbahaya buat diri Lo" ucapnya mengajukan jari kelingkingnya.


Alleysa terdiam cukup lama memikirkan ucapan Antariksa.


"Lley janji sama gue bisakan!" Lanjutnya dengan suara lembut.


"Em iya gue janji" ucapnya pasrah.


"Jari Lo mana, mau janji kayak gini biar Lo nggak bisa nginkarin nya".


"Ini" lanjutnya kemudian melekatkan jari mereka bertautan.


******


"Maaf tuan tadi orang rumah bilang nona Alleysa belum pulang dari tadi, dan juga tidak pergi ke tempat les seperti biasa" lapor salah satu suruhan Alfandi kepada dia.


Alfandi yang tengah mengisap rokok itu menekan api rokok ke dalam asbak. Ia mengacak rambutnya frustasi memikirkan putrinya yang semakin hari semakin membangkang.


"Cari dia sampai ketemu, bilang sama Sean tolong juga cari Al kalo ketemu suruh ajak pulang ke rumah Angkasa saja. Biar gadis itu tinggal di rumah Angkasa selama saya masih berada disini" ucapnya tegas.


"Baik tuan" lanjut suruhan itu kemudian pergi meninggalkan ruang kerja bosnya.


"Al kenapa kamu semakin membangkang perintah Daddy" ucapnya membatin tak habis pikir dengan kelakuan putrinya yang semakin jauh dari pengawasannya.


Jika bukan karena permintaan gadis itu yang ingin di belikan sate dan Snack di supermarket terdekat Antariksa tidak mungkin ada disini sekarang, duduk di kursi taman rumah sakit berusaha menahan rasa kesalnya namun di balik itu rasa rindu setelah sekian lama tak berjumpa lebih mendominasi.


"Mama rindu sama kamu Tar" ucapnya sendu menatap putranya yang tubuh besar sendiri tanpa di dampingi figur orang tua menyaksikan pertumbuhannya.


"Ada yang ingin anda bicarakan jika tidak saya harus pergi ada yang menunggu saya" lanjutnya dengan berbicara formal,  ia harus mengedepankan egonya menutup rasa rindu kepada mamanya orang yang sebenarnya paling ia sayangi di dunia ini.


"Maafin mama Tar, apakah kamu bisa pulang kerumah kita bisa perbaiki semuanya sekarang mama harap ini belum terlambat" ucapnya sendu.


Antariksa merasakan sakit mendengar permintaan lirih mamanya namun apa daya dia belum bisa untuk tinggal bersama orang yang menjadi sumber rasa sakitnya selama ini.


"Seandainya" ucapnya.


"Seandainya kalian percaya dengan apa yang saya katakan, seandainya kalian tidak melihat dari satu sisi, seandainya kalian menjadi saya menjadi putra yang kandung yang tak dianggap di keluarganya sendiri seandainya kalian memahami apa yang saya inginkan dan seandainya kalian selalu ada untuk saya. Mungkin kita tidak akan seperti ini maaf saya belum bisa untuk tinggal di rumah yang menurut saya itu neraka" ucapnya panjang lebar.


"Saya pamit" ucapnya lagi kemudian beranjak pergi meninggalkan wanita paruh baya itu yang menyesali perbuatannya.


"Antariksa" suara itu membuat dia menghentikan langkahnya sejenak namun ia berusaha untuk teguh pada pendirian tidak berbalik karena itu akan melanggar janji yang pernah ia buat dulu.


"Jika kamu berubah pikiran kamu bisa pulang ke rumah kapanpun kami selalu menunggumu dan pintu rumah selalu terbuka untukmu" ucap wanita paruh baya itu dengan air mata yang telah meluruh.

__ADS_1


Antariksa pergi meninggalkan wanita yang dahulu ia panggil mama sendirian yang menatap kepergian putranya dengan sendu.


__ADS_2