
Antariksa mengendong tubuh Alleysa yang pingsan dengan wajah pucat Pasih. Membawa gadis itu menuju mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan sangat tinggi.
"Tolong, tolong" teriak Antariksa mengundang kerumuman yang melihatnya masuk kedalam rumah sakit tersebut. Para perawat berlari sambil mendorong brankar rumah sakit dan membawa Alleysa menuju ruang UGD untuk di periksa lebih lanjut.
Tubuh Antariksa bergetar hebat apa yang ia takutkan akhirnya terjadi Alleysa masuk kedalam rumah sakit kembali kali ini bukan untuk mengobati depresi gadis itu namun hal lain yang membuat dirinya berpikir keras apa yang terjadi?.
"Dengan penanggung jawab pasien?" Panggil seseorang membuat Antariksa menoleh.
"Iya saya, tolong selamat kan Alleysa" mohon Antariksa.
"Lebih baik anda ke ruang administrasi terlebih dahulu untuk mengurus persyaratan".
"Apa? Kamu tidak mendengar saya bilang apa brengsek" bentak Antariksa murka.
"Nyawa pasien lebih penting dari ini semua **** you saya bisa hancurin rumah sakit ini berserta kalian semua" Bentak Antariksa murka membuat semua orang di depan ruang UGD kalang kabut.
"Maafkan kami tuan" ucap salah seoranv Dokter yang mengetahui siapa anak muda di hadapaannya ini. Yang tak bukan adalah putra dari pemilik Artur Group.
"Kami akam berusaha sebaik mungkin, maafkan staf kami" ucapnya lagi namun tidak di gubris oleh Antariksa.
Antariksa memandang cemas ke arah pintu kaca yang tertutup rapi itu. Yudhis dan Hendrik berlari memasuki gedung rumah sakit setelah menerima panggilan telepon dari Antariksa di iringi isakan kecil dari mulut pria itu.
"Gimana Alleysa udah selesai di tangani Tar?" Tanya Hendrik dengan nafas terengah-engah berlari dari basemant rumah sakit.
Antariksa menggeleng menimpali bahkan untuk berkata apapun saat ini lidahnya sangat kelu.
"Gue udah telepon orang rumah Alleysa ngasih tau keadaan dia" timpal Yudhis seketika membuat emosi Antariksa terpancing pria itu menarik kerah baju Yudhis dan menyudutkannya kedinding.
"Maksud lo apa brengsek, gak perlu lo kasih tau keadaan Alleysa" bentak Antariksa, Hendrik yang melihat itu menarik tubuh Antariksa menjauh sedikit.
"Hentikan Tar, jangan kayak gini Alleysa butuh loh disana tolong tahan emosi lo" ucapan Hendrik lagi-lagi mampu membuat tubuh seorang Antariksa merosot ke lantai. Alleysa membutuhkannya? Apakah ia? Apakah sekarang gadis itu tengah berjuang untuk dirinya? Ia ragu akan hal itu.
"Gue cinta Alleysa, mungkin semua orang gak bakal percaya kalo gadis itu adalah cinta pertama gue bukan Chalsea. Gue ngerasa ketika melihat dia pertama kali di studio musik hari itu gue jatuh hati padanya, Chalsea perasaan itu hanya timbul saat gue bersamanya saja, ketika dia pergi gue hanya merasakan kehilangan karena kami telah lama bersama. Namun Alleysa gue takut dia pergi ninggalin gue selama-lamanya" lirihnya tanpa sadar air matanya berjatuhan, sejujurnya Antariksa tidak pernah merasa setakut ini di tinggal orang, kedua orang tuannya saja sudah pernah meninggalkannya apakah ia pernah bersedih dan menangis jawabannya tidak namun untuk Alleysa ia takut dan sangat takut jika gadis itu benar-benar pergi dari dalam hidupnya.
Antariksa mengacak rambutnya frustasi sudah 1 jam Alleysa gadis itu belum keluar dari dalam ruang UGD. Suara langkah kaki terdengar berserta isakan kecil dari seorang perempuan.
"Bagimana keadaan Al, kenapa ini bisa terjadi" ucap wanita paruh baya menangis di pelukan suaminya.
"Mas Alleysa putri kita" bibir itu bergetar hebat.
"Sabar An, putri kita lagi di tangani dokter Alleysa Seira James Smith putri yang kuat selagi ia memegang nama Smith di dalamnya ia memiliki darah yang kuat" ucap Alfandi mencoba menenangkan istrinya.
"Gimana keadaan Alleysa Tar?" Kali ini Sean yang membuka suara.
Antariksa memang sudah geram dengan orang-orang yang baru saja tiba ini. Ia melangkah cepat dan bughh tangan Antariksa membogem pipi Sean membuat semua orang terkejut.
"MASIH SEMPAT LO NANYA KEADAAN ALLEYSA BRENGSEK" maki Antariksa.
__ADS_1
"Atar udah sayang tahan emosi kamu" ucap Laura berusaha memisahkan kedua putranya itu.
"SEHARUSNYA MAMA NGGAK USAH ADOPSI LO PEMBUNUH" teriak Antariksa lagi. Membuat lorong rumah sakit seketika hening kembali.
"Antariksa udah" kali ini Laura berbicara dengan mulut bergetar hebat. Anindita dan Al fandi tidak tahu apa-apa mengenai hal ini dan Chalsea gadis itu juga ikut terdiam bersama yudhis dan Hendrik mereka cukup mengerti jika ini adalah masalah pribadi keluarga Antariksa.
"Gue benci lo sean" tambah Antariksa kali ini dengan suara pelan namun menusuk.
"Gue benci sampe gue pengen bunuh lo saat ini juga".
"Antariksa udah nak" mohon Angaksa pada putranya namun nihil Antariksa tidak akan mendengarkan perkataan kedua orang tuanya.
"Gue pengen bunuh siapa aja yang membuat Alleysa menderita, termasuk lo Chalsea, Anindita dan Alfandi kalian juga akan masuk kedalam list daftar orang yang akan gue bunuh".
"Gue benci kalian, apa salah Alleysa sampe Lo sean ngeracun dia" ucap Antariksa dengan mulut bergetar hebat dan air mata membasahi pipinya.
"Didi di racun?" Ucap Anindita lagi. Alfandi menoleh kearah Sean yang tampak gelisah dan Chalsea yang sudah keringat dingin.
"Maksud nya apa? Sean yang menyebabkan Alleysa masuk rumah sakit?" Tanya Alfandi lagi dengan rahang mengeras.
"Alleysa salah apa sama lo Ca, sampe lo ikut bersekongkol buat bunuh dia dengan sean? Salah apa dia sama lo coba gue tanya?".
"Tar, gue".
Plak
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Chalsea kali ini yang menampar adalah Anindita.
"Seandainya jika bukan Smith cooperation yang mendanai kamu tinggal dan sekolah di german kamu akan jadi gembel disana. Kamu tau ini semua adalah permintaan Alleysa yang tidak ingin kamu hidup susah dan sengsara disana. Ia rela menukar dirinya untuk sekolah home scholling dan di kawal bodyguard kemana pun tidak mendapat kebebasan asal kamu tidak di bunuh" maki Anindita lagi.
"Dan akhirnya ini pembalasan yang Alleysa terima dari kamu setelah semua hal yang ia korbankan" lirih Anindita dengan air mata membasahi pipinya dan Chalsea mulut gadis itu bergetar hebat tak mampu mengeluarkan sepatah kalimat, syock dan terkejut mendengar penuturan Anindita.
"Dia selalu berharap jika di beri kesempatan bertemu lagi, ada banyak hal yang ingin dia ceritakan tentang hidupnya ke lo sebagai sahabat" ucap Antariksa lagi mampu membuat air mata membanjiri pipi chalsea.
"Dan lo Sean!" Ucap Antariksa maju menghampiri Sean yang menatap dirinya kembali.
"Apa salah Alley ke lo? Apa cuma karena kematian Renata sehingga lo ingin membunuh dia?" Tanya Antariksa pelan. Membuat semua orang membelalakan mata terkejut akan penuturan tersebut.
"Maksud kamu, Sean yang menyebablan ini semua?" Tanya Alfandi. Antariksa diam ia mengeluarkan sebuah diary pink yang bernama Alleysa ke Alfandi.
"Biar diary itu yang jelasin kebusukan li brengsek" bugh Antariksa memukul lagi Sean dengan sisa tenaga yang ia miliki Sean tak tinggal diam pria itu juga melayangkan balasan atas pukulan yang ia terima.
"Cuma lo bilang, cuma kematian renata" Murka Sean dengan Mata berapi-api membalas pukulan Antariksa semua orang berusaha memisahkan tubuh kedua orang itu.
"Sadar tar lo udah gila ini rumah sakit" bentak yudhis yang juga sedikit tersulut emosi karena tingkah Antariksa.
"IYA GUE GILA YUD. LO NGGAK NGERASAIN GIMANA JADI GUE GIMANA ORANG YANG PALING LO SAYANGI BERJUANG ANTARA HIDUP DAN MATI DI DALAM SANA. ALLEYSA SUMBER BAHAGIA GUE DAN SEKARANG DIA NGGAK TAU MAU HIDUP ATAU NGGAK KARENA DUA ORANG BUSUK INI" murka Antariksa.
__ADS_1
"Seharusnya yang lo salahin atas kematian Renata bukan Alleysa dia juga nggak menginginkan terjadi pertunangan ini. Cewek lo meninggal overdosis sekali lagi karena pertunangan kalian yang orang tua lakuin itu juga bukan kehendak Alleysa, dia korban yang lebih parah dari lo. Seharusnya keegoisan lo nggak buat hancur dia, gue nggak nyangka lo sejauh ini melangkah untuk membalas dendam ke keluarga Smith".
Bughh
"Brengsek kamu" maki Alfandi setelah mengetahui isi diary itu memukul Sean membabi buta.
"Hentikan Alfandi kamu akan membunuh putra saya" bentak Angkasa tak terima putranya di pukuli.
"Saya kecewa dengan kalian, saya akan tuntut kamu Sean atas apa yang terjadi dengan Alleysa kalian harus membalas hasil perbuatan kalian. Brengsek" maki Alfandi murka.
"Lebih baik kamu pergi Sean" ucap Laura menahan isakaannya.
Sedangkan Chalsea gadis itu menangis merenungi kesahalannya kepada Alleysa.
Sean laki-laki itu sama sekali tidak melawan, diam setelah perkataan Antariksa menyentil kalbunya.
Dokter keluar dari ruang UGD. Semua orang yang tadinya di landa kemurkaan kini berlari kecil menghampiri Dokter yang melepas masker dan sarung tangan itu.
"Bagaiman kondisi putri saya, dokter?" Tanya Alfandi.
Dokter itu menggeleng. Membuat semua orang kebingungan.
"Gimana keadaan Alleysa" ucap Antariksa lagi.
"Kami telah berusaha semaksimal mungkin namun racun di dalam livernya sudah menyebar hingga ke ginjal, kerena banyak komplikasi kami tidak bisa menyelamatkan pasien".
Ucapan Dokter membuat tangis di lorong rumah sakit pecah.
"Jangan main-main lo sama gue. Itu semua nggak benerkan" ucap Antariksa menarik kerah baju dokter tersebut.
"Tar istigfar ngucap" mohon Hendrik.
"INI SEMUA KARENA KALIAN BANGSAT" maki Antariksa menunjuk ke arah orang yang menangis tersedu-sedu.
"Lo harus bertanggung jawab atas kematian Alleysa. Gue akan seret kalian ke neraka paling bawah" ucap Antariksa sebelum kehilangan kesadaran.
End.....
Finally akhirnya, setelah sekian lama kalian aku ghosting akhirnya cerita Pangeran untuk Alley udah bener-bener tamat ya, maaf kalo ending-nya ga memuaskan.
terima kasih untuk support cerita ini dan vote cerita ini sampe tamat. maybe aku ga akan bisa tamatin cerita ini kalo ga berkat kalian ya.
terima kasih banyak....
dan jangan lupa Follow ig ku @marcelinaap_ ya teman luvvv
from;
__ADS_1
Celineee
so nanti bakal ada ektra part ya tunggu aja kapan up....