
Angin malam berhembus dengan kencang namun gadis itu tak merasa kedinginan sama sekali, ia menatap langit malam kota Jakarta yang berwarna hitam keabuan. Antariksa sudah berkali-kali memerintahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobil saja karena angin sangat cepat berhembus. Ia takut gadis itu akan masuk angin nantinya namun Alleysa keras kepala dan selalu bilang bahwa ia akan baik-baik saja.
Alhasil dengan terpaksa karena khawatir ia juga ikut menemani gadis itu menatap langit penuh kebisuan.
Antariksa mengambil jaket denim miliknya di dalam jok mobil memakaikannya kepada gadis itu agar ia bisa menikmati angin malam tanpa terlalu kedinginan.
"Lo ada masalah lley?" Ucap Antariksa memberanikan diri bertanya tentang keadaan gadis itu. Karena dari tadi ia perhatikan Alleysa tampak murung dan tak bersemangat.
"Masalah gue banyak, kalo nggak punya masalah bukan hidup gue" ucapnya tertawa renyah seolah-olah memperlihatkan kepada dunia bahwa masalah yang ada di dalam hidupnya sungguh bertubi-tubi.
"Lo bisa cerita ke gue, itu guna gue disini".
"Thanks Tar, tapi gue binggung mau mulai cerita dari mana? Masalah gue rumit" lirihnya.
"Lo harus percaya lley, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. So Lo harus tabah dan hadapin jangan diem dan nangis, asal Lo tau nangis memang buat kita lebih tenang karena berhasil membuat kita merasa hidup kita akan baik-baik saja tapi ingat itu hanya sesaat, sekarang yang terpenting bagaimana caranya kita cari solusi dari masalah yang kita miliki" lanjutnya lagi.
Alleysa terdiam mencoba mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Antariksa memang ada benarnya menagis bisa membuat kita merasa lega namun tidak bisa menyelesaikan masalah itu sendiri namun apakah masalah Alleysa semudah yang seperti yang di katakan Antariksa? Nyatanya tidak dia sendiri juga sudah lelah dengan masalah yang menimpah dirinya secara bertubi-tubi itu.
"Thanks Tar, berkat Lo pikiran gue yang kalut agak cerah" ucapnya lagi.
Antariksa tersenyum, dan menganguk mereka menikmati angin malam berhembus dengan damai. Meskipun gadis itu belum mau menceritakan masalahnya kepada dirinya tak apa satu hal untuk Antariksa yakini bahwa Alleysa adalah gadis yang kuat dan penuh kemisterusan.
******
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju lokasi yang di katakan oleh orang suruhannya. Lokasi dimana Alleysa berada sekarang.
Ia melihat dari balik kaca mobil bahwa gadis itu tengah duduk di taman bersama dengan pria berkaos putih, dengan segera ia membuka pintu mobilnya tak lupa menutupnya. Berjalan dengan nafas memburu ke arah dua orang yang sedang menikmati angin pagi buta di taman itu.
"Alleysa" panggil Sean kepada gadis itu.
Merasa ada suara yang memanggil namanya sang empu menoleh untuk memastikan.
__ADS_1
"Sean" ucapnya kaget melihat keberadaan pria itu disini.
"Pulang sekarang".
"Lo kok ada disini?" Tanya gadis itu.
"Pulang sekarang Alleysa ini udah pagi" perintahnya.
Alleysa menganguk sesaat ia hendak berjalan Antariksa menahan tangan gadis itu.
"Dia pulang bareng gue" kali ini Antariksa menjawab perintah dari Sean.
"Lo nggak ada urusan dengan Alleysa" titah Sean.
"Dia kesini bareng gue, jadi biar gue yang ngater" lanjut Antariksa.
"Gue nggak perduli, Alleysa pulang" ucapnya kemudian menarik tangan gadis itu menjauhi Antariksa.
"Lo jangan lupa. Bahwa Lo bukan siapa-siapa bagi Alleysa, dia tunangan gue jadi Lo nggak punya hak apapun untuk berlaku apapun ke Alleysa" lanjutnya kemudian menarik tangan Alleysa meninggalkan Antariksa yang di puncak kemarahan.
"Masuk Alleysa" perintah Sean dingin.
Alleysa masuk kedalam mobil, memasang sealbet mobil Sean.
"Lo kok kabur dari California?" Tanya Sean pada gadis yang masih terus terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Bukan urusan Lo" desisnya tajam.
"Gue tunangan Lo Alley, bokap nyokap Lo khawatir dengan keberadaan Lo sampe nelpon gue" lanjutnya.
Alleysa tidak menjawab ia memilih diam.
__ADS_1
"Kalo orang tua Lo tau, Lo berhubungan dengan Antariksa dapat di pastikan dia bakal di singkirkan oleh orang tua Lo, Lo mau dia kenapa-napa karena diri Lo sendiri?" Tanyanya.
"Maksud Lo?" Tanya gadis itu kepada Sean kerena tidak mengerti maksud perkataannya.
"Gue rela nyari Lo pagi buta gini karena kalo suruhan bokap Lo yang nyari pasti mereka akan ngehajar habis si Antariksa, seperti Revan! Lo ingatkan Revan mantan sahabat Lo. Sebenarnya itu bukan kemauan gue buat singkirkan dia tapi karena perintah bokap Lo, gue cuman ngasih dia pelajaran karena udah mau ngelecehin tunangan gue sendiri tapi asal Lo tau waktu itu dia masih hidup kalo nggak bokap Lo nyuruh orang buat nembak jantung Revan pas Lo udah gue bawa pergi dari situ" lanjutnya lagi.
Damn
"What the hell" batin gadis itu, mulutnya terasa kaku Revan sahabatnya mati di tangan Daddy nya sendiri.
"Gue udah berusaha bilang ke bokap Lo buat berhenti ngelakuin itu tapi bokap Lo bilang jika Revan di biarkan ia takut Lo akan lebih parah di lukai oleh dia karena pria itu punya dendam ke bokap Lo" lanjutnya lagi.
Tes
Tes
Air mata kembali berjatuhan ia tak menyangka, sungguh tak menyangka akhirnya akan sepeti ini kenapa Daddynya menyimpan rapat-rapat, kisah kelam ini kenapa harus dia yang mengalami kejadian ini?.
"Gue nggak percaya" ucap gadis itu gemetar dengan air mata berjatuhan di pipinya.
"Gue cuma bilang fakta lley, maaf kali selama ini gue simpan rapat. Lo anggap gue jahat karena udah bunuh sahabat Lo gue rela Lo benci gue selama ini gue ikhlas asal Lo nggak benci dengan kedua orang tua Lo. Mereka sayang sama Lo" lanjutnya.
"Sayang?".
"Iya mereka sayang, sangking sayang sama Lo mereka takut Lo kenapa-napa. Revan itu bukan pria baik! Dia pysco!".
"Lo bohong" teriak gadis itu penuh amarah.
"Terserah Lo, gue cuma bilang fakta asal Lo tau Revan itu bipolar dia pernah di rawat di RS jiwa. Dan gue tau dari hasil pemeriksaan yang pernah di lakukan Revan dari bokap Lo" katanya kemudian membuka ponselnya menunjukan bukti dimana Revan di kurung di RS jiwa dan Vidio di mana Revan kecil yang suka mengamuk.
"Nggak mungkin itu Revan" kilahnya.
__ADS_1
"Itu terserah Lo, gue dan bokap Lo hanya berusaha melindungi Lo dari orang-orang yang mau nyakitin Lo karena gue sama kayak bokap Lo sayang sama Lo" lanjutnya lagi.
Alleysa menggeleng gadis itu tak bisa menerima ini semua, semua kenyataan ini begitu menyakitkan untuknya. Sahabatnya meninggal karena di bunuh oleh orang suruhan Daddynya tidak kenapa kenyataan ini begitu pahit oh tuhan bisakah aku tidak mengalami ini semua!!