Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 50 Akhir Penderitaan


__ADS_3

Gadis itu merasakan pusing pada kepalanya, dan perut sebelah kanannya yang semakin hari bertambah sakit. Alleysa memegang keningnya yang panas ia melangkahkan kakinya untuk mengambil air putih yang ada di atas meja.


Brakkk


Gelas itu pecah karena tangannya yang tergelincir.


Saat tangannya hendak membersihkan pecahan tersebut sebuah tangan menahan ya, gadis itu mendogakkan kepalanya melihat siapa orang yang menahan tangannya.


"Revan?" Ucap Alleysa tanpa sengaja. Manik mata itu yang tidak pernah ia lupakan sama sekali. Manik mata cokelat yang sama dengan miliknya, dan senyuman itu senyuman yang dulu selalu dia dapatkan.


"Alleysa apa kabar?" Ucapnya sambil lagi-lagi menerbitkan senyuman nya.


Alleysa mundur satu langkah, itu tidak mungkin Revan pria itu sudah-sudah meninggal.


"Re itu kamu?" Tanya gadis itu berhati-hati.


Revan mengangguk memberikan jawaban.


"Gak mungkin kamu udah----".


"Aku masih disini Alleysa, apakah kamu merindukan ku" ucapnya memajukan tubuhnya mendekati Alleysa. Tubuh gadis itu gemetar, sekelebat potongan bayangan hitam masa lalunya yang hendak ia kubur selamanya tiba-tiba bermunculan bayangan dimana Revan megerayangi tubuhnya menyentuh setiap inci kulit luarnya, mencium dirinya dengan liar meraba setiap lekuk badannya membuat dirinya menjadi manusia paling kotor di dunia dan di mana pria itu hampir memperkosa dirinya berhasil membuat Alleysa mengalaminya trauma akut.


"Kamu mau ngapain?" Ucapnya takut-takut sungguh ia takut Revan melakukan hal buruk itu lagi.


"Kamu mau bermain sejenak dengan ku sweetie? Aku merindukan mu Alleysa, aku kesepian".


"GAK" teriak gadis itu kemudian mengambil gelas kaca itu menyodorkan ke arah Revan.


"Jangan Revan, jangan lakuin itu lagu hiks hiks" ucap nya sambil menagis ia ketakutan sangat ketakutan takut hal buruk itu kembali terulang.


"Aku merindukan mu Alleysa sangat merindukan dirimu".


"Gak kamu udah, arghhh" gadis itu merasakan sakit di bagian perutnya, sakit ia ingin berteriak namun ia seperti kehilangan suaranya.


Arghhh


Ia merintih kesakitan, perutnya rasanya seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum.


Sakit sangat sakit. Ia berusaha untuk bangun dan brukk


Semuanya gelap.


...........

__ADS_1


Alleysa membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina Matanya.


"Non udah bangun" ucap salah seorang maid yang memeriksa inpus di tangan nona nya.


"Kenapa dengan saya?".


"Nona di temukan Rere pingsan di samping pecahan gelas kaca" tutur Maid itu.


Alleysa mengingat kejadian kemarin malam ya ia pingsan karena bertemu dengan Revan.


"Dimana Rere?" Tanya Alleysa berusaha bangun.


"Ibu Rere meninggal dia pulang ke kampungnya dan berhenti dari pekerjaannya".


"Inalilahi Kenapa tiba-tiba?".


"Saya kurang tau nona namun dia bilang dia memiliki seorang adik di kampung jadi dia harus pulang dan bekerja disana".


"Apakah Daddy setuju dia berhenti?".


"Saya kurang tau nona, namun kepala maid setuju dia resing karena itu atas keputusan tuan Sean".


"Sean? Dia kesini?".


"Tidak usah beritahu kalau saya sudah sadar, lebih baik kamu keluar saya mau bersiap ke sekolah".


"Tapi nona masih----".


"Saya sudah tidak apa-apa, hari ini saya ada ujian".


"Baiklah nona kalau begitu saya permisi".


........


Alleysa POV


Aku merasakan kepalaku pusing saat keluar dari ruangan ujian. Entah kenapa rasanya kepalaku berdenyut keras seperti seseorang yang hendak memukul kepalaku. Ku lanjutkan langkah kakiku hingga sampai di depan halte bus. Rasa sakit itu masih bersarang di dalam kepala ku. Bayangan orang berlalu lalang di mataku buram, aku memegang kepala ku rasanya sangat sakit. Entah kemana sopir pribadi yang biasa menjemput diriku padahal ini sudah jam 1 siang mereka pasti sudah di beri tahu bahwa Exam ku telah usai jam dua belas.


Aku merasakan lagi bukan hanya kepala ku yang sakit, perut bagian kanan ku merasa sangat sakit sekali. Kram seperti mati rasa aku rasanya ingin berteriak namun tidak ada yang orang yang berlalu lalang lagi. Ada apa ini?


Aku merintih- rintih kesakitan menahan purut dan kepalaku yang menusuk sampai ke tulang.


Uhkk

__ADS_1


Aku memuntahkan isi perutku, yang membuat ku histeris adalah isi makanan ku bercampur sedikit noda Darah.


Mataku semakin berkunang-kunang.


Telinga ku tiba-tiba mati rasa, namun sebelum itu terjadi aku mendengar suara seseorang yang amat aku kenali berteriak dan berlari menghampiri diriku yang hendak tumbang.


Antariksa.


Antariksa POV.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan penuh, persetan dengan kecelakaan entah kenapa aku memilih perasaan buruk kepada Alleysa firasat yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.


Aku telah pergi dari rumah gadis itu ya sebelum ke sekolah aku pergi ke rumah Alleysa untuk memastikan gadis itu apakah ada di rumah, namun para maid menjawab bahwa Alleysa pergi ke sekolah untuk melakukan Exam.


Ya saat ini adik tingkat atau kelas 11 high' school sedang melakukan ujian kenaikan kelas dan kami kelas dua belas sudah selesai melakukan ujian kelulusan sehingga tidak di wajibkan lagi kembali ke sekolah.


Aku melajukan mobil ku sesaat aku melihat mobil pribadi yang biasanya menjemput Alleysa berhenti di tengah jalan aku menghampiri mobil itu, ku pikir Alleysa berada di jalan namun lagi-lagi zonk ternyata Alleysa tidak ada di dalam mobil. Aku bertanya kemana Alleysa sang sopir bilang bahwa mobilnya mogok dan dia belum menjemput putri majikannya itu.


Aku bertanya apakah ada mobil lain yang menjemput Alleysa, dan sopir itu berkata lagi sesuatu yang di bilang Yudhis.


"Semua mobil di servis dan 2 mobil lagiĀ  di pakai untuk menjemput tuan dan nona Smith mereka hari ini kembali ke Indonesia, dan tuan Sean yang meminta nya".


Apa yang di rencanakan pria itu? Sean jika terjadi sesuatu pada Alleysa aku bersumpah akan membunuh dirimu.


Setelah sampai ke sekolah aku langsung memarkirkan mobilku asal. Berlari menuju ruangan Exam dimana Alleysa sedang melaksanakan nya.


Zonk


Lagi-lagi kosong, semua orang telah pulang tidak ada lagi orang di dalam ruangan Exam itu.


Ku langkahkan kakiku menyelusuri gedung sekolah namun lagi-lagi aku tak menemukan keberadaan Alleysa gadis itu hilang.


Berbagai spekulasi buruk bermunculan di kepala ku dan ucapan Yudhis tempo hari muncul lagi di kepala ku.


"Gue rasa Sean Masih memiliki dendam kepada Alleysa atas kematian Renata, lebih baik Lo jaga Alleysa".


Aku kalut aku takut sesuatu terjadi pada Alleysa. Semua orang yang ku temui tak luput ku tanya di mana keberadaan Alleysa mereka tidak melihatnya.


Karena putus asa ku langkahkan kakiku menuju halte depan salah satu pengharapan terakhir ku mungkin gadis itu sedang menunggu bus umum untuk pulang.


Dan benar, aku melihatnya duduk namun anehnya gadis itu tidak mendengar panggilan ku ada apa ini? Ia memegang kepala dan perutnya secara bergantian seperti orang yang menahan sakit. Dan wajahnya pucat.


Aku panik aku berlari ke arah Alleysa, satu hal yang membuat aku makin terkejut Alleysa memuntahkan darah sebelum gadis itu jatuh ke dalam pelukan ku.

__ADS_1


__ADS_2