
"Atar" panggil seseorang membuat Antariksa menoleh kebelakang untuk melihat seseorang yang memanggil dirinya yang sedang bermonolog sendirian dengan bulan dan bintang.
Antariksa melihat seorang gadis yang sangat ia kenali, gadis manis yang beberapa hari ini menemani dirinya dia adalah Alleysa Seira James Smith.
"Lo nggak sendirian kok ingat gue selalu ada buat Lo sama kayak Lo yang selalu ada buat gue" ucap gadis berkemeja denim levis itu duduk di samping Antariksa yang sedang tercengang melihat kedatangan dirinya.
"Lo denger yang tadi?" Ucapnya.
"Ya gitu deh, kalo Lo butuh tempat sandaran gue bisa kok jadi tempat sandaran ternyaman buat Lo" tawarnya sambil tersenyum simpul kepada Antariksa.
"Makasih lley" ucapnya lagi.
"Gue boleh nanya nggak?" Ucap Alleysa memposisikan dirinya menghadap Antariksa dengan bersila.
"Nanya aja lley".
"Lo ada masalah? Gue liat ekspresi kayak orang lagi banyak masalah. Kalo Lo mau gue bisa kok dengerin cerita Lo".
"Boleh gue peluk Lo" ucap Antariksa tidak menjawab sama sekali pertanyaan Alleysa.
"Maksudnya?" Belum selesai ia mengajukan pertanyaan tangan Antariksa menarik tangannya dan membiarkan tangannya merengkuh tubuh gadis itu menenggelamkan wajahnya di balik ceruk leher jenjang gadis itu.
Alleysa terdiam mendapat perlakuan mendadak dari Antariksa jantungnya berpacu cepat, nafasnya memburu ketika Antariksa memeluk dirinya. Sesaat tangannya hendak melepaskan pelukan pria itu sebuah suara mengehentikan niatnya.
"Lo tau lley, dari dulu gue merasa menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Gue nggak punya tempat bersandar dan berkeluh kesah, gue sendirian disini orang yang gue sayang semuanya ninggalin gue" lanjutnya.
Gadis itu mengelus pundak pria itu mencoba memberikan semangat agar Antariksa tak merasa bahwa ia sendirian di dunia ini.
__ADS_1
"Lo nggak sendirian. Udah gue bilang gue selalu ada buat Lo jadi sandaran buat Lo so jangan merasa sendirian Tar" ucapnya.
Mereka berpelukan cukup lama saling menyalurkan rasa sakit dari dalam diri masing-masing mencoba menyembuhkan dengan diri sendiri-sendiri.
Alleysa menguap berusaha menahan kantuknya agar ia tidak terpejam. Namun nihil kantuk semakin menguasai dirinya dan ia memilih memejamkan mata dengan setumpuk tugas yang belum ia kerjakan.
Antariksa masuk kedalam perpustakan bersama dengan Yudhis meletakkan buku cetak matematika dari buk Anis. Netranya tak sengaja menangkap seorang gadis yang tidur di jam istirahat dengan tangan menelungkup sebagai bantalan dan wajah menghadap ke kanan, Antariksa berjalan mendekati gadis itu namun tangannya di tahan oleh Yudhis yang binggung dengan sikap Antariksa yang mendekati gadis tertidur itu. "Mau ngapain Lo kesitu?" Tanya Yudhis.
"Lo balik aja ke kelas duluan gue ada urusan bentar, Sono" usir Antariksa dengan mendorong tubuh Yudhis pelan. Pria itu berdecak kesal sesaat Antariksa mengusir dirinya seenaknya, "awas aja Lo nggak ke markas, dan jangan Lo *****-***** tu cewek" peringatannya kepada Antariksa.
"Iya bawel kayak emak gue dah" ucapnya kesal.
Gadis itu tidur dengan damai, wajahnya menunjukan bahwa gadis itu sedang masuk ke dalam alam mimpi yang indah ia tidak merasakan gusar saat tidur. Antariksa berjalan mendekati gadis itu melihatnya tertidur dengan pulas membuat Antariksa menerbitkan senyumannya. Sekilas memori tentang kebersamaan dia dan gadis itu muncul dalam ingatannya, dimana gadis itu rela menunggu dirinya selesai dari tidurnya menjaga dirinya dan tanpa mengeluh mendengarkan semua curhatannya.
Ia melihat wajah putih bersih gadis itu, tangannya terulur menggeserkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu agar ia dapat leluasa memandang wajah damai gadis itu.
"Mimpi yang indah putri Alley" ucap Antariksa kemudian ikut memejamkan mata menghadap wajah gadis itu.
Sudah 30 menit berlalu Alleysa membuka matanya menyesuaikan cahaya masuk dari jendela di depannya sesaat bola matanya terbuka sempurna dan ruh nya kembali menyatu dengan raganya ia membelalakan matanya melihat pria yang kemarin bersama dirinya Antariksa. Alleysa menahan nafasnya dalam-dalam memandang wajah Antariksa dari jarak sedekat ini membuat jantungnya berpacu cepat. Ia tak menyangka pria yang beberapa hari ini ada di dalam pikirannya sedang tertidur di sebelahnya dengan wajah menghadap dirinya.
Alleysa memandang wajah pria itu dengan jarak sedekat ini ia menyadari bahwa Antariksa adalah pria yang tampan dan rupawan. Wajahnya sungguh mirip dewa dalam antologi Yunani, alis tebal dan bulu mata lentik serta jangan lupakan rahang kokoh, dan hidung mancung bak perosotan serta kulitnya yang putih bersih.
"Udah puas mandangi wajah tampan gue" ucap pria itu dengan mata terpejam membuat Alleysa terpelonjak kaget di buatnya.
"Astaga".
Antariksa membuka matanya dan tersenyum manis ke arah Alleysa sehingga gadis itu merasa kikuk di buatnya.
__ADS_1
"Ngapain Lo senyum kayak gitu?" Tanya nya pada Antariksa.
"Lo cantik kalo lagi ketahuan kayak tadi" lanjutnya sambil terkekeh.
Blush
Pipi Alleysa bersemu merah mendengar pernyataan dari Antariksa.
"Pipi Lo kenapa merah kayak tomat lley" ucapnya kembali menggoda Alleysa dengan menekan pipi gadis itu.
"Apaan si Tar lepas nggak" ucapnya malu bukan kesal.
"Ngga mau" katanya sambil menarik-narik pipi gadis itu lagi.
"Antariksa" .
"Iya nona Alleysa".
Blush
Pipi Alleysa lagi-lagi merah, ia tak mampu mengontrol tingkat kemerahan pipinya dan Antariksa yang melihat itu menjadi gemas sendiri.
"Udah Tar gue malu" ucapnya jujur.
Antariksa mendengar ucapan dari mulut gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Gue suka Lo yang polos kayak gini jadi pingin gue goda terus".
__ADS_1
"Antariksa Keano Peter, gue sembelih Lo" teriak nya kemudian keluar dari perpustakaan dengan menghentakkan kakinya menjauhi pria itu sebelum ia di goda lagi.
Antariksa melihat kepergian gadis itu menerbitkan senyumannya. Senyuman yang selama beberapa hari ini menghiasi wajah tampan nya senyuman yang dulunya sempat hilang.