
Kini Alleysa sedang duduk termenung di sebuah gazebo yang di gunakan oleh para pemancing untuk menunggu ikan pancingan mereka.
Air mata tak dapat lagi di bendung, gadis berdress selutut itu menangis sambil memeluk lututnya. Sakit! Hatinya sakit. Bagiamana ia bisa hidup dalam skenario tuhan yang rumit ini bahkan di hari ulang tahunnya ia harus mendapatkan kado pahit dari orang-orang terdekatnya.
Antariksa nama yang tak akan pernah dia lupa, pria yang selalu ada di sampingnya, menjaganya dan menjadi pangeran pelindungnya. Pria itu pasti kecewa dengan tolakan Alleysa.
Gadis itu meremas rambutnya, ia pusing akan masalah yang semakin bertambah kenapa tuhan tak bisa membiarkan dirinya hidup tenang? Ia tak kuat jika terus di berikan cobaan bertubi-tubi seperti ini. Ia bukan orang dewasa yang mengerti tentang Polemik kehidupan.
Dan menangis adalah salah satu cara Alleysa untuk meredam rasa sakitnya saat ini. Menangis memang tidak bisa membuat masalahnya selesai namun bisa sedikit membuat harinya lega karena masalahnya tak perlu ia simpan.
Seorang pria duduk di gazebo itu mendengar suara tangisan gadis itu. Hatinya terenyuh mendengar isak kan tangis gadis itu namun saat ini bukan hal yang tepat untuk berempati pada Alleysa disaat dendamnya belum terbalaskan.
"Udah keluarin aja semuanya lley" ucap Sean mencoba menenangkan gadis yang menagis senggugukan itu.
Alleysa menoleh mendapati Sean yang duduk di sebelahnya dengan pandangan menatap ke arah gadis itu, gadis itu memundurkan tubuhnya sedikit seolah-olah enggan melihat Sean untuk saat ini. Laki-laki tersenyum entah kenapa perasaan Alleysa tidak enak saat itu tatapan mata yang menyorot ke arahnya seakan adalah sebuah pertanda bahwa Sean memliki maksud mendekatinya saat ini.
"Gue ngga akan ngelakuin hal jahat ke Lo" ucap Sean santai seolah-olah ia tau apa gadis manis itu pikirkan tentang dirinya.
"Lo tau dari mana gue disini?" Tanya gadis itu sambil mengelap air mata yang membasahi wajahnya, ia tak peduli kini penampilannya akan seperti apa yang jelas pasti tidak begitu baik bukan? Mata merah, nafas tersendat, maskara luntur dan make up terhapus jangan lupakan rambutnya yang berantakan akibat tangisannya itu.
"Nguntit gue?" Selidik nya tajam.
__ADS_1
Sean tersenyum lagi, membuat Alleysa menghentikan pertanyaan yang akan ia lontarkan selanjutnya.
"Gue, ngga nguntit Lo, gue tadi lagi lewat sini trus gue liat ada cewek nangis di gazebo suaranya kenceng sampe kedengeran ke jalan raya" tuturnya.
Alleysa membelakakan matanya lebar-lebar "serius segitunya gue nangis?" Tanyanya tak percaya.
"Kalo gue tadi ngerekam pasti Lo udah malu".
"Mana lagi nangis sampe ingusnya keluar kayak gitu lagi" ucapnya sambil menunjuk sebuah cairan putih keluar dari lubang hidung gadis itu.
"Seannnn" teriaknya menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lutut malu satu hal yang mendefinisikan gadis itu saat ini.
Prettt
Tawa Sean seketika pecah ketika melihat gadis itu malu dan menyembunyikan wajahnya entah kenapa menggoda gadis itu sungguh menyenangkan apalagi melihat wajah gadis itu yang malu dan berubah masam seketika seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perut Sean.
Angin malam menghembus permukaan kulit semua orang yang keluar malam ini, termasuk Alleysa entah kenapa angin kali ini sangat kencang berhembus apakah akan turun hujan? Alleysa merapatkan tubuhnya agar tidak terkena angin malam yang berhembus. Sean menoleh ke arah sebelahnya ia kemudian melepaskan jaket bomber yang melekat di tubuhnya dan memakaikan jaket itu ke arah Alleysa. Alleysa terkejut saat tangannya hendak melepas jaket Sean suara pria itu menginstrupsi sehingga membuat dirinya mengurungkan niatnya.
"Sean!" Panggil gadis itu lembut, laki-laki yang sedang menatap penuh ke arah kolam yang airnya tampak hijau gelap dan bersinar pada satu titik karena di pancari sinar malam itu menoleh ke arah samping kanan, matanya menatap intens ke arah gadis yang mengenakan jaket bomber miliknya.
"Ada apa?".
__ADS_1
"Gue boleh nanya sesuatu?" Ucap gadis itu takut-takut. Sean tersenyum kemudian menganguk merespons ucapan gadis itu barusan padanya.
"Kenapa Lo mau tunangan sama gue?" Ucapnya.
Sean terdiam beberapa saat matanya kini teralihkan menatap ke arah danau buatan itu.
"Lo tau dari awal gue cuma nurutin apa yang orang tua gue mau, gue nggak mau ngecewain mereka lley. Orang tua gue amat berarti buat gue, jadi nggak ada alasan gue untuk nggak Nerima permintaan mereka untuk bertunangan dengan Lo".
"Lo nyesel nggak tunangan sama gue secara Lo kan ngga suka gue?".
"Nyesel?" Tanya nya kini mata mereka bertemu iris mata hitam dan cokelat itu saling memandang lekat untuk beberapa saat sebelum gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Gue nggak pernah nyesel sama jalan apa yang gue ambil, justru gue yang seharusnya ngomong kayak gitu Lo nyesel tunangan sama gue bukan?".
Gadis itu terdiam, menyesal itu sudah pasti jelas namun apakah penyesalan nya akan membawanya menuju ke kesempatan kedua? Nyatanya tidak sekuat apapun penyesalan Alleysa dia tidak akan bisa berhenti dari sini karena sudah pada hakikatnya lah dia dan Sean akan selalu bersama dan sekuat apapun ia berkata bahwa ia mencintai Antariksa itu hanya akan menjadi bintang di angkasa ada dan terlihat namun tak bisa di gapai.
"Gue tau lley, Lo nggak pernah suka sama gue di saat gue udah menjadikan Lo poros dunia gue nyatanya Lo masih hidup dalam kebencian ke gue, disaat gue udah berusaha untuk menjelaskan semuanya Lo nggak bisa terima itu lley, gue sabar berharap cinta gue berbalas namun gue tau ini semua salah gue. Di saat Lo terpuruk gue nggak pernah ada buat Lo, buat nenangin Lo dan jaga lo. Dan karena kesalahan gue yang nggak pernah ada di samping Lo kini hati Lo jatuh pada pria itu yang selalu ada di samping Lo dan memberikan rasa nyaman bukan!"
"Maksud Lo?".
"Antariksa Lo tau dia kan? Pria Lo sukai dan memberikan rasa nyaman?".
__ADS_1
"Gue nggak suka Antariksa" ucapnya sambil menghela nafas kasar.
"Sekuat apapun lidah menampik bahwa lo nggak punya perasaan ke dia tapi anggota tubuh Lo nggak akan pernah bisa bohong! Mata Lo memancarkan luka karena mengatakan kalimat barusan Alleysa Seira James Smith".