Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 11 Kemarahan


__ADS_3

"Alleysa sarapan dulu sini" ucap Alfandi ketika melihat putrinya berjalan menuruni tangga.


Alleysa berdecih melihat ketiga orang yang membangkitkan amarahnya beberapa hari ini. Apalagi disitu telah duduk manis Sean Gelael Arthur yang menatapnya sambil tersenyum manis dan itu sungguh memuakkan baginya.


Alleysa tak menghiraukan ucapan daddy nya ia melongsos pergi begitu saja tanpa peduli dengan panggilan itu.


"Alleysa jangan kurang ajar kamu ke Daddy" lanjut Anindita.


Alleysa menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya ke belakang " oh iya jangan suruh siapapun ikutin Alley sebab Alley bukan anak kecil lagi" ucapnya kemudian berjalan meninggalkan ketiga orang yang tercengang dengan perubahan sikap yang terjadi dalam dirinya.


Alley duduk di kursi halte bus saat ini ia sedang menunggu bus datang. Namun sebuah bunyian klakson mengehentikan lamunan nya yang sibuk mendengar musik dengan earphone.


"Alleysa main yuk" ucap Antariksa tersenyum manis saat membuka helm fullfacenya.


Alleysa mendongakan kepalanya melihat ke atas.


"Ngapain Lo disini?" Ucapnya kaget dengan kedatangan Antariksa di dekat komplek perumahannya.


"Ngajak Lo main, kenapa?".


"Gajelas Lo tar" ucapnya kesal.


"Hehe nggak kok gue kesini mau ngajak Lo main, eh salah Ding sekolah!" Seru Antariksa dengan semangat.


"Jadi Lo ceritanya lagi jemput gue nih?" Selidiknya.


"Iya lah Lo pikir gue jauh-jauh gini ngapain ngegembelnya di komplek Lo?" Ucapnya malas.


"Ya kali heheh, udah karena Lo udah jemput gue. Gue ikut Lo lumayanlah irit ongkos" ucapnya sambil terkekeh.


"Senang banget gratisan ya buk" ledeknya.


"Iya dong hidup ini untuk cari gratisan" lanjutnya bangga.


"Padahal horang kaya suka banget dah yang gratisan" ucapnya dengan nada malas padahal ia tahu perumahan di sini bukan rumah yang di jual dengan harga murah.


"Hehe yang kaya itu keluarga gue not me" ucapnya kemudian mengambil helm Vespa yang mereka beli kemarin dari tangan Antariksa.


"Cus berangkat mas" ucapnya menepuk bahu Antariksa ketika sudah berada di atas jok motor.


Motor Antariksa membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang menjauhi perumahan Alleysa tanpa mereka sadari seseorang di dalam mobil itu melihat kebersamaan mereka dengan tatapan tajam.


"Awas Lo Tar tunggu tanggal mainnya!" Ucapnya dengan sebuah seringai jahat.


Semua pandangan tertuju ke arah mereka, berbagai tatapan heran mereka layangkan ke pada Alleysa 'kenapa murid baru itu bisa berangkat bersama dengan Antariksa si pria dingin yang di kagumi banyak murid itu!".

__ADS_1


Antariksa memarkirkan motor sportnya kemudian melepas helmnya. Setalah itu ia menarik tangan Alleysa untuk berjalan beriringan dengan dirinya.


"Tar nggak usah kayak gini diliatin mereka" ucap Alleysa berusaha melepaskan genggaman tangan Antariksa.


"KALIAN SEMUA BUBAR BERENTI LIATIN GUE KAYAK GITU" teriak Antariksa dengan nada dingin menusuk. Kemudian semua orang yang mendengar seruannya berlari berhamburan masuk ke dalam kelas ataupun pergi dari lapangan.


"Silahkan masuk tuan putri" ucap Antariksa tersenyum manis kepada Alleysa setelah mengantarnya.


"Apaan sih" ucap Alleysa malu kemudian berlari masuk kedalam kelasnya.


Antariksa berjalan menuju sebuah ruangan yang terletak jauh dari kelasnya.


Kreek


"Hallo everybody" ucap Antariksa ketika masuk ke dalam ruangan khusus untuk mereka yang disediakan oleh kakeknya.


Ruangan yang lebih besar dari pada ruang kelas itu di dalamnya terdapat banyak sekali furniture dan beberapa alat gym, billiar, meja tenis, komputer untuk bermain gim dan mini bar untuk minum. Juga terdapat sofa merah besar dan satu ruangan kamar khusus untuk beristirahat dan ada sebuah televisi besar beserta kulkas untuk menyimpan makanan. Jangan lupakan di ruangan yang bertuliskan Antariksa Mine itu juga sudah tersambung WiFi sehingga membuat mereka betah berlama-lama di ruangan pribadi itu.


"Hallo Bos" ucap Hendrik sambil tersenyum ramah.


"Jijik Hen" ucap Yudhis sarkas.


"Serah gue dong" ucapnya kemudian meminum coffe kemasan itu.


*******


"Ssakit kak" lirih gadis berkacamata itu ketika rambutnya di tarik kakak kelas itu dengan kuat.


Alleysa berjalan seorang diri menuju ke toilet mendengar suara samar di depan pintu masuk toilet wanita itu.


"Emangnya enak makanya jadi adek kelas jangan kegatelan Lo. Udah gue bilangin jangan deketin Sean" ucap gadis itu murka.


Prang.


Suara bantingan sebuah pecahan membuat Alleysa berlari menuju bilik toilet itu.


"Kalian apa-apaan sih?" Ucap Alleysa kaget melihat salah satu orang itu hendak menusukan sebuah kaca ke leher gadis berkacamata itu.


Alleysa mendorong tubuh gadis itu hingga tersungkur.


"Kalian gila" sentak Alleysa yang tak habis pikir dengan kelakuan kedua siswi itu.


Gadis yang tersungkur itu berdiri kemudian mendorong tubuh Alleysa.


"Jangan ikut campur urusan gue" ucapnya kasar.

__ADS_1


"Gue nggak akan ikut campur jika Lo nggak semena-mena kayak gini, Lo pikir sekolah ini punya Lo sampe seenaknya Lo ngebully dia kayak gini" ucap Alleysa tanpa rasa takut meskipun gadis itu memegang serpihan kaca.


"Jangan ikut campur Lo dasar *****" ucap gadis yang bernamtag Chika Arrabella.


"Nggak liat Lo yang ***** pakek baju kurang bahan kayak gini!" Teriak Alleysa murka.


"Lo" ucap gadis yang memegang serpihan kaca, mendorong tubuh Alleysa mendekat ke arah wastafel.


"Kalo gitu Lo aja yang jadi ganti dia" ucap Hanin menjambak rambut cokelat Alleysa.


Alleysa tak tinggal diam ia juga membalas jambakan gadis itu balik.


"Mati Lo tukang ikut campur" teriaknya murka.


"Dasar orang sinting".


"*******".


Gadis berkacamata itu menagis di pojokan memeluk tubuhnya ketakutan ia ingin menolong Alleysa yang serbu dua kakak kelasnya. Namun ia terlalu takut.


Bukk


Alleysa mendorong gadis bernama Hanin itu hingga ia terjatuh tepat di serpihan kaca di lantai.


"KALIAN APA-APAAN" bentak Sean ketika melihat kekacauan di toilet wanita itu.


"Alleysa!" Ucapnya tak percaya ketika orang yang terlibat dalam keributan itu adalah tunangannya.


"Sayang sakit" ucap Hanin melas ketika melihat Sean masuk kedalam toilet itu.


Sean menoleh melihat Hanin dengan lutut putihnya mengeluarkan darah.


Sean menghampiri Hanin dengan paniknya membantu gadis itu berdiri.


"Lo apaain Hanin lley?" Tanyanya dengan nada sarkasik.


"Coba tanya sama cewek Lo apa yang udah dia lakuin sebelum nanya ke gue" ucapnya kemudian berjalan mendekati gadis berkacamata yang menunduk dengan keadaan kacau. Menarik tangan gadis itu keluar dari toilet yang di penuh di kerumunan murid.


"Alleysa?" Tanya Hendrik ketika melihat gadis blasteran itu keluar dengan menggandeng tangan gadis yang tubuhnya sangat acak-acakan.


"Emangnya mereka kenapa?" Tanya Hendrik sambil meminum popice cokelat kepada seorang gadis yang berada di kerumunan.


"Itu kak, kak Hanin katanya ngelabrak cewek culun yang pakek kaca mata kalo nggak salah sih cewek itu deketin kak Sean pas lomba di Belgia" ucap gadis itu dengan gugup.


"Oh" ucap Hendrik singkat kemudian berjalan menjauhi toilet wanita pergi ke basecamp mereka di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2