Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 30 Chalsea life story'


__ADS_3

"Kenapa harus Hendrik sih yang beli?" Ucapnya menolak perintah mamanya.


"Jadi siapa yang mau belikannya Hendrik Naderson? Adik kamu Gara?" Ucap Hana- mama Hendrik sambil menunjuk bocah kecil yang sedang makan cokelat di atas perut papanya.


" Apa papa kamu?" Tanyanya melirik pria bertubuh tambun yang berguling sambil menyuapi cokelat pada putranya yang berumur 3 tahun.


"Ya nggak Hendrik juga sih ma? Masa Hendrik beli begituan" tolaknya mentah-mentah bagiamana tidak wajar ia menolak permintaan ibunya karena ibunya meminta dirinya ke mini market untuk membeli pembalut wanita ada-ada saja.


"Udah mama bilang trus siapa yang mau beli? Nggak mungkin mama, mama lagi bocor kayak gini. Tinggal beli di depan rumah sakit itu ada swalayan 24 jam" tuturnya.


"Ma".


"Kalo kamu nggak mau, nggak usah pulang ke Indonesia lagi. Tinggal disini sekolah disini, mama bakal awassin kamu setiap hari biar kelakuan kamu makin terjaga dan juga kartu ATM, fasilitas lain semuanya mama sita, mau kamu? Tinggal beli apa susahnya"


Hendrik menghembuskan nafas kasar ia sudah tau tabiat ibu jika kehendaknya tidak di turuti pasti akan mengancam dirinya dengan hal-hal seperti itu. Basi!.


"Tinggal beliin aja kok susah bang" lanjut Hans- papa Hendrik.


"Tapi pa!" Ucapnya hendak membantah namun kalimat ayahnya barusan mengehentikan langkahnya.


"Kamu ingatkan papa pernah bilang ke kamu pasal satu wanita selalu benar, pasal dua jika wanita salah kembali ke pasal satu wanita selalu benar dan wanita pms itu nggak mau di bantah dan di ganggu, ingatkan kamu" ucapnya Hans lagi.


Alhasil dengan amat sangat terpaksa ia pun menganguk, senyuman terbit dari bibir mamanya Hana melihat keterpaksaan putranya menuruti apa yang ia minta.


"Nah, mama kasih kamu uang lebih ingat beli yang pakek sayap jangan lupa" peringatnya.


"Sayap di kira burung apa?" Dumelnya kemudian mengambil uang dari tangan Hana sesaat ia hendak keluar pintu bangsal sebuah teriakan mamanya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Sama susu dan Snack yang di beli Gara kemarin jangan lupa bang sekalian" teriak Hana.


"Iyaaaaaa" ucapnya sewot dan kesal.


Hendrik melihat-lihat pajangan aneka macam jenis pembalut yang ia tak mengerti satu pun. Menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal terjebak dalam ketidaktahuan akan semua jenis pembalut wanita yang merepotkan ini.


"Jadi punya mama yang mana?" Ucapnya binggung.


"Mungkin yang ini! Lagian ini banyak biar mama ngga nyuruh gue lagi" Lanjutnya kemudian mengambil salah satu pembalut yang di bungkus dengan isi yang lumayan tebal.


"Bukan yang itu" sebuah suara membuat mengentikan kegiatannya. Tangan itu mengambil bungkusan yang ada di tangan Hendrik.


"Itu Pampers orang dewasa kalo Lo mau cari pembalut disitu" ucap orang asing itu kemudian mengambil pembalut bersayap yang sering di pakai.


"Ini" ucap gadis itu lagi.


"Chalsea" ucapnya memanggil gadis itu, ia tak mungkin salah wajah gadis itu sungguh familiar meskipun telah lama tak bertemu ia yakin gadis itu pasti gadis yang sama.


"Anda kok tau nama saya?" Tanya gadis itu binggung dengan pria di depannya yang tau namanya.


"Gue Hendrik Naderson, sahabat Antariksa Keano Peter Arthur Lo nggak lupa kan Atar. Dan nama Lo Chalsea Verorina kan?" Tanyanya lagi.


Gadis itu terdiam mendengar nama pria yang selalu ada di hatinya Antariksa Keano Peter Arthur".


"Atar? Gue ga lupa kok tenang aja. Jadi Hendrik sahabat Atar sama Yudhis" lanjutnya sambil tersenyum.


Hendrik menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Gimana kabar Atar?" Ucap gadis itu memulai obrolan ketika kini mereka telah berada di sebuah kafe di kota Berlin.


"Dia masih sama kayak dulu, problem keluarga nya masih belum terselesaikan" ucap Hendrik sambil menghela nafas, ia sudah tahu perihal masalah keluarga Antariksa sewaktu Antariksa memukuli Sean dengan membabi buta sehingga menyebabkan Sean koma namun pihak keluarga Sean yang di kenal sebagai penguasa dan pemilik Arthur grup tidak mempermasalahkan hal ini. Malah Antariksa tidak di laporkan ke kantor polisi atas dasar penganiayaan dan juga di sekolah dia tidak di panggil oleh kepala sekolah karena Sean adalah anak pemilik yayasan.


Satu hal yang Hendrik baru tahu jika Antariksa adalah putra pewaris Arthur grup dan Sean Gelael Arthur adalah kakak angkat Antariksa Keano Peter Arthur.


Meskipun Hendrik sedikit kecewa karena sudah lama ia berteman cuma dirinya sendiri yang tidak tahu jika Antariksa berasal dari kalangan konglomerat Indonesia pemilik Arthur grup.


Ia kecewa karena tidak di beri tahu namun ketika Yudhis menjelaskan semuanya ia sadar bahwa Antariksa memiliki hidup yang tidak seenak dirinya hidup Antariksa keras dan penuh liku-liku.


Jadi sebagai sahabat dia harus mendukung apapun keputusan Antariksa jika Antariksa belum ingin menceritakan masalahnya satu hal yang harus ia pahami bahwa Antariksa belum siap untuk bercerita dan berbagi masalahnya. Seharusnya mereka mengerti bukan?.


"Gue mau nanya kenapa Lo bisa disini?" Tanya Hendrik sambil meminum black coffe yang ia pesan.


"Ceritanya panjang. Satu hal yang harus Lo tau gue ada disini sekarang karena gue di perintahkan keluarga Smith. Bokap gue di bunuh oleh suruhan Smith family gue nggak bisa balas dendam makanya gue kabur kesini kerja kerja dan kerja ngumpulin uang biar bisa balas dendam sekaligus ngumpulin rencana" lanjutnya dengan berapi-api mengingat bagaimana kejamnya keluarga SMITH kepada keluarga kecil yang ia miliki.


"Smith family maksud Lo yang punya Smith corperation itu?" Ulangnya.


Gadis itu mengangguk mantap " bokap gue meninggal sewaktu gue duduk di kelas 3 smp, saat itu nyokap gue ngajak gue pindah ke Amerika karena dapet kompensasi dari Smith corperation yang cukup banyak. Gue baru tahu satu hal kalo uang kompensasi itu sekaligus uang tutup mulut ibu gue karena dia terlibat pembunuhan terhadap bokap gue" ucapnya dengan air mata yang tak mampu di bendung lagi.


"Gue marah, gue benci nyokap gue, gue benci hidup gue setelah gue pindah. Gue tinggal di mansion keluarga Smith. Namun karena beberapa setelah kami tinggal disana ibu nyuri perhiasan milik istri Alfandi Smith nggak itu juga dia memindah tangankan beberapa surat atas nama istrinya untuk ibu gue sendiri. Ketahuan nyokap gue di penjara di Amerika. Gue yang masih ngga ngerti apapun di buang ke Jerman cuma dikasih rumah dengan uang bulanan sebagai penunjang hidup" lanjutnya.


"Hiks hiks gue nggak mau kelihatan lemah tapi gue nggak bisa, gue benci takdir gue benci mereka yang datang ngasih takdir buruk itu ke gue. Gue benci keluarga Smith" lanjutnya dengan terisak.


"Bokap gue cuma kaki tangannya kenapa harus berakhir tragis. Nyokap gue yang bunuh juga berakhir tragis jadi gue yang akan buat takdir keluarga mereka juga tragis sama kayak keluarga gue Hen" lanjutnya lagi.


Hendrik terdiam mendengar ucapan barusan terkejut jelas! Ia tak menyangka Chalsea gadis yang periang itu memiliki kehidupan yang rumit karena Keluarga Alleysa. Ia tak menyangka Alleysa tinggal bersama orang-orang jahat. Padahal gadis itu termasuk gadis yang pendiam dan tak banyak tingkah namun satu hal yang baru ia tahu jika gadis itu memiliki sejuta misteri yang harus Antariksa pecahkan.

__ADS_1


__ADS_2