
Alleysa mengikuti langkah kaki Revan memasuki taman belakang yang lumayan sepi. Alasan kenapa mereka memilih taman ini karena selain jauh dari jangkauan CCTV hampir tidak ada murid yang berlalu lalang di taman belakang jadi otomatis sepi dan itu menguntungkan untuk Alleysa dan Revan sebab tidak ada orang yang bisa tahu perbincangan mereka dan merekamnya. Setelah sampai mereka berdua duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan mata Alleysa yang menatap lekat ke arah Revan Sahabatnya.
"Ada apa Van Lo bisa cerita Sekarang" pinta Alleysa kepada Revan.
Revan menghela nafasnya sejenak, pikirannya berkabut kejadian kemarin malam membekas di otaknya dimana Dian dan Rudolf ibu dan ayahnya bertengkar hebat. Saat ia tak memiliki teman untuk bercerita Alleysa adalah gadis yang selalu mau mendengarkan semua keluh kesah dan yang membuat ia nyaman bercerita dengan gadis itu Alleysa selalu bisa memberikan solusi atas semua permasalahan yang ia hadapi.
"Orang tua gue, bukan orang tua kandung gue Al" lirihnya.
"Maksud Lo, Aunty Dian dan Uncle Rudolf?" Tanya gadis itu kemudian di angguki oleh Revan.
"Kenapa, Lo tau dari mana?".
"Kemarin mereka berantem dan papa membentak mama".
Malam itu Revan yang tengah tertidur nyenyak di malam yang tengah di guyur hujan, terganggu akan suara bantingan sebuah barang.
Revan yang sangat terusik akan teriakan seseorang membuat dia beranjak dari tempat tidurnya melangkah ke arah anak tangga untuk mengetahui suara berisik apa yang menggema masuk ke telinganya dari lantai satu rumahnya.
"Sudah ku bilang jangan adopsi dia" teriak suara wanita yang Revan tau siapa pemilik empu suara itu.
"Kau tau sekarang putri kita jadi korbannya, cukup Tama dan Resti saja yang menjadi korban kecelakaan jangan putri kita mas hiks hiks hiks" ucap sebuah suara tangisan malam itu sambil memecahkan beberapa barang.
"Aku sudah cukup pura-pura baik di depan dia sungguh aku benar-benar muak akan semua ini" teriak wanita itu frustasi.
"Sudahlah Dian ikhlaskan Renata dia sudah tenang di sisi Tuhan, tuhan akan selalu melindungi putri kita".
"Tidak-tidak Nata tidak boleh pergi meninggalkan aku dari dunia ini harusnya dia yang pergi Revan yang pergi dari rumah ini aku tak Sudi memiliki anak hasil hubungan gelap Tama dan Resti kakak mu" teriak Dian m menggebu-gebu.
Damn!
Bagikan tersambar petir di malam itu dada Revan terasa tercekat.
__ADS_1
"Anak Hasil hubungan gelap" ucapnya sangat pelan dengan pandangan lurus.
"Kita sudah sepakat bukan tidak membicarakan itu. Kau tahu Revan ada di rumah sekarang" sentak Rudolf dengan penuh amarahnya.
"Kenapa Mas? Biarkan saja ia tahu toh lebih baik dia pergi dari rumah ini, aku capek mas berpura-pura baik baik saja di depan dia setelah kepergian Nata".
"Aku benci dengan dia seandainya anak haram itu tidak dilahirkan di dunia ini pasti keluarga kita tidak akan mengalami kesialan seperti ini pasti ayahmu tidak akan meninggal karena serangan jantung, pasti jika kak Resti tidak melahirkan anak sialan itu ia tidak akan meninggal dan suaminya Tama tidak akan kecelakaan mobil" teriaknya lagi sambil menekuk lututnya tak sanggup berdiri karena sudah habis tenaga.
"Sudahlah Dian tolong jangan di bahas ini sungguh menyakitkan untuk kita terima" lirih Rudolf sambil memeluk istrinya.
"Aku mohon mas suruh dia pergi dari sini hiks hiks" tangis wanita itu pecah.
"Nanti kita pikirkan lagi kamu masih shock".
.......
Alleysa terdiam mencerna perkataan demi perkataan yang di lontarkan oleh Revan. Tangan gadis itu terulur untuk mengusap punggung pria itu yang bergetar.
"Gue minta maaf jika bercerita tentang masalah ini sungguh merumitkan buat Lo Van" ucapnya lagi.
"Gue nggak papa, lagian gue udah nggak tinggal di rumah itu lagi lley, sekarang gue lagi mau nyari siapa yang bunuh Nata sampe nata di temukan tewas gantung diri membalaskan dendam keluarga angkat gue yang selama ini sudah membesarkan gue" ucapnya dengan nafas memburu.
"Revan jangan" pinta Alleysa mencoba memperingati Revan jika langkah yang pria itu ambil adalah langkah yang salah dan bersifat fatal nantinya.
"Gue gak peduli lley bagaimana pun Nata adalah adik gue dan gue sayang dengan dia, gue nggak terima adik gue mati begitu saja".
"Revan" mohon gadis itu.
"Jangan halangi gue lley, gue mohon".
"Gue nggak akan ikut campur dalam masalah Lo tapi jika yang Lo lakuin udah berlebihan gue harap Lo berhenti gue takut Lo akan kenapa-kenapa" pinta nya lagi.
__ADS_1
"Makasih Alleysa cuma Lo yang bisa mengerti gue" ucap Revan kemudian membawa Alleysa kedalam pelukannya.
Tanpa sadar dari tadi ada sebuah air mata yang menetes mendengar dan melihat kemesraan kedua sahabat itu.
.......
Flashback of.
"Sejak saat itu, gue nggak tahu tiba-tiba masalah makin rumit Tar. Puncaknya gue hampir di lecehkan oleh Revan seandainya Sean nggak datang malam itu buat menyelamatkan gue mungkin gue udah meninggal dalam keadaan kotor karena udah di lecehkan oleh Revan atas rencana Dia dan Chalsea" lirih Alleysa dengan penuh air mata ia tak sanggup mengingat potongan kejadian yang memilukan baginya itu.
"Malam itu.... Hiks hiks hiks, Revan meninggal di tembak oleh Sean".
"Truss apa yang di lakuin Kedua orang tua gue pas tahu kalo Sean membunuh orang lain, gue tahu bokap gue bukan orang yang suka menerima barang cacat kayak gue lley yang notabene nya anak nakal?" Tanya Antariksa hati-hati. Selamat hidup di dunia ini ia tahu watak kedua orang tua nya terutama ayahnya yang sangat menjunjung tinggi kesempurnaan dalam hidup pria itu rela mengasingkan Antariksa kecil karena sebuah kesalahan sepele yang pernah dia lakukan seperti anak muda pada umumnya yang sedang mencoba mencari jati dirinya.
"Kejadian itu di tutupi oleh om Angkasa dan Tante Laura serta kedua orang tua gue. Mereka beranggapan itu adalah kesalahan masa lalu antara keluarga gue dan melibatkan Sean sebagai tunangan gue untuk menyelamatkan gue pada saat malam prom itu".
"Lo tau Chalsea juga terlibat dari mana?".
"Kedua orang tua Chalsea meninggal karena kedua orang tua gue, tepatnya Daddy menyuruh orang lain untuk merusak rem mobil ayah Chalsea hingga pria itu kecelakaan" ucapnya mengingat potongan kejadian yang sungguh memilukan dan tak ingin singgah di dalam pikirannya namun selama ini sungguh banyak ia memendam masalahnya jadi jika bukan bercerita dengan Antariksa lantas kepada siapa ia bercerita untuk meredakan sedikit rasa sakitnya.
Antariksa terdiam ia sungguh terkejut mengetahui fakta bahwa Sean pria itu amat sangat di lindungi oleh kedua orang tuanya padahal ayahnya sungguh tidak manusiawi memperlakukan orang lain jika bersalah.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi?".
Antariksa mencoba mengingat kembali awal kedatangan pria itu kerumahnya semenjak kedatangan Sean hidupnya berubah 360 derajat. Ia masih ingat ketika pertama kali ia di pukuli abis-abis an oleh papanya karena menendang kaki pria itu saat main bola hingga kaki Sean patah dan harus di gipsum akibat tendangan bola kaki itu sungguh kuat membuat tubuh pria itu terbentur.
Marah adalah hal yang wajar di lakukan oleh orang tua namun kemarahan ayahnya sungguh tidak bisa ia terima.
Dan kejadian dia ikut tauran sampai ke telinga ayahnya? Juga dari mana? Semenjak kepulangan pria itu dari California Sean cenderung lebih banyak berubah dulu Antariksa berpikir bahwa kejadian bola itu hanya kesalahan dia namun setelah mendengar pelayan yang akrab dengan dia bercerita bahwa Antariksa sengaja melukainya karena dirinya membenci Sean sejak saat itulah ayahnya semakin kasar padanya dan tak memperlakukan dia dengan sewajarnya anak dengan orang tua saling melindungi.
**Maaf baru up temen online ku, oh iya nanti cerita ini bakal ada sequel nya loh jadi jangan lupa di pantengin ya......
__ADS_1
so jangan lupa lagi follow ig author @Marcelinaap_ buat tau kabar updated cerita ku ya ...
kayaknya aku bakal sedikit berubah pikiran deh sequel cerita aku bakal aku up di lapak lain bukan disini tujuannya sih biar memudahkan kalian kalo mau baca cerita ku yaa? gimana komen dong kasih saran mau di lanjutin di cerita pangeran untuk Alley aja atau buat draf cerita baru? Makasih temen online ku sayang luv dah**.