Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 4 Dia


__ADS_3

"Gue Antariksa" ucapnya kemudian berjalan mendekat ke arah Alleysa.


Alleysa gugup dan takut, seumur-umur ia tidak pernah dekat dengan orang asing seperti ini.


"Jangan dekat-dekat" ucapnya gugup.


"Kenapa?" Ucap Antariksa dengan semirik jahilnya kemudian makin mendekati Alleysa yang sudah berada di pojok dinding.


"Jangan please" mohonnya dengan air mata yang hendak keluar.


"Lo nangis?" Tanya Antariksa kepada gadis di depannya. Sambil tertawa terbahak-bahak.


"Gue cuman bercanda takut banget kayaknya Lo di gituin sama cowok" ucapnya kemudian terkekeh geli melihat ekspresi wajah gadis itu.


"Ngeselin kamu" ucap Alleysa kemudian memijak kaki Antariksa sehingga membuat si empu meringis kesakitan.


"Lagian Lo si mau aja gue tipu" ucapnya kemudian duduk di sebelah gadis itu.


"Oh iya nama Lo siapa? Masa gue panggil gadis bersuara bagus?" Tanya Antariksa.


"Penting ya buat Lo tau nama gue?" Tanya Alleysa dengan tatapan menusuk jujur ia masih kesal dengan kejadian tadi dimana pria itu berjalan sangat dekat padanya.


"Em penting lah" ucap Antariksa sambil cengengesan.


"Gue nggak punya nama" lanjutnya kemudian berjalan meninggalkan Antariksa.


"Cantik tapi ketus jadi pengen" ucap Antariksa menatap kepergian gadis itu.


"Satu sekolahan sama gue" lanjutnya kemudian mengambil stik drum dan mulai menaikan drum dengan lincahnya.


"Nona kata nyonya besar nona di perintahkan untuk pergi ke rumah sakit sebab ibu dari tuan Sean kemarin masuk rumah sakit" ucap bodyguard itu kepada Alleysa.


Alleysa menganguk kemudian masuk kedalam mobil Alfard hitam itu.


"Nanti di jalan beli buket sama kue" ucapnya kemudian memasang earphone di kedua telinganya.


"Baik nona" lanjutnya.


Tap


Tap


Langkah kaki Alleysa menggema di lantai rumah sakit yang masih milik keluarga Arthur itu. Kini ia memutar knop pintu.

__ADS_1


Kreek


Pintu di buka tampak seorang pria yang sudah 1 tahun ini menjadi tunangannya dan seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Tante Shaila" ucap Alleysa menghampiri wanita yang berbaring itu.


"Sini sayang, kamu apa kabar?" Tanyanya.


"Baik kok Tante, Tante kenapa bisa kayak gini?" Tanyanya kepada wanita cantik itu.


"Biasa kecapekan ngurusin butik" lanjutnya.


"Bun Sean keluar dulu ya ada mau Sean beli" ucap Sean pamit kepada bundanya.


"Loh kok mau pergi sih, tunangannya di sini kok di tinggal?"


"Bentar doang Bun ke minimarket depan, abis ini aku ngater Alley balik kok" ucapnya.


Shaila pun mengangguk kemudian mempersilahkan putranya itu pergi.


"Gimana Sean baik kan memperlakukan kamu sayang?" Ucapnya sambil mengelus rambut Alleysa.


"Baik kok Tante" ucapnya.


Tubuh Alleysa bergetar "menikah Tan?" Ucapnya refleks.


"Kenapa kamu nggak mau nikah sama Sean?" Tanya Sheila dengan menaikan kedua alisnya.


"E-em bukan gitu Tan, apa nggak kecepatan lagian Alley baru kelas 11 dan kak Sean kelas 12?"


"Ya nggak papa, lagian Tante pingin banget kamu jadi bagian keluarga Tante jadwal putri tante. Orang tua kamu juga udah setuju kok sayang" lanjutnya.


Alleysa tersenyum kecut lagi-lagi kedua orang tuannya sudah merencanakan semua tanpa memberitahu dirinya.


"Tan, Alley nyusul kak Sean dulu ke depan ya soalnya Alley harus balik ke tempat les. Masih ada jam soalnya" ucap Alleysa kepada Shaila ia takut jika ia semakin lama disini Sheila malah meminta hal yang tidak-tidak padanya seperti sekarang.


"Yaudah susul gih Sean nya Tante tau kok kamu nggak bisa jauh dari dia" ledek Shaila pada Alleysa.


Di dalam mobil hening lagi-lagi itu yang tercipta jujur Alleysa masih kepikiran omongan Tante Shaila padanya "pernikahan, di usia dia yang masih muda" batinnya.


"Kalo ada yang mau Lo omongin bilang aja" ucap Sean yang dengan tatapan fokus ke jalanan kota Jakarta.


"Kamu udah tau kita mau di nikahin?" Tanya Alleysa to the point.

__ADS_1


"Em gitu deh" ucap Sean acuh.


"Bunda cerita ke Lo?" Tanya Sean tanpa memandang ke arah Alleysa.


"Sejak kapan rencana itu?" Alleysa bertanya balik .


"Sejak Lo belum balik ke Indonesia" ucapnya.


"Lebih tepatnya 2 bulan sudah kita tunangan"


"Kenapa kamu nggak ngomong?" Ucap Alleysa dengan nada dingin dan menusuk.


"Gue pikir Lo nggak mau tau, secara Lo kan nurut sama apa yang di bilang kedua orang tua Lo"


"Kamu gila, menikah? Hah" ucap Alleysa dengan frustasinya.


"Menikah? Nikah sama kamu sedangkan kamu udah punya cewek lain gila" lanjutnya dengan suara bergetar.


Sean menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Owh jadi Lo udah tau?"


"Kamu pikir selama ini aku nggak tau, kamu pikir aku sebodoh itu. Kamu egois Sean bisa-bisanya kamu terima pernikahan ini sedang kamu punya cewek lain" teriak Alleysa kepada Sean.


"Bukannya kedua orang tua Lo kepingin punya menantu dari keluarga gue, dan sekarang Lo mau nyalahin gue" ucap Sean dengan nada dingin.


Alleysa berdecih mendengar ucapan dari Sean." Kepingin? Bukannya kami yang dari dulu kepingin jadi bagian dari keluarga ku, AKU TAHU KAMU YANG BUNUH REVAN SAHABAT AKU LALU KAMU MENGKAMBING HITAMKAN DIA YANG NYURI AKU, JADI NGGAK KEBALIK APA KAMU YANG INGIN GABUNG DI KELUARGA AKU" teriak Alleysa menggebu-gebu.


"Kamu egois Sean, kamu selalu mementingkan perasaan dan kesenangan kamu, apa nggak cukup kamu udah misahin aku dengan Revan"


Hiks hiks


"Aku benci kamu"


Brakk


Alleysa berlari keluar dari mobil Sean hancur hatinya " menikah" batinnya.


Ia berlari sejauh mungkin dari Sean ia tak peduli mau bodyguard orang tuanya dan keluarga Sean mencarinya ia tak peduli. Bagaimana bisa kedua orang tuanya setuju menikahkan putrinya dengan Sean si laki-laki ular itu.


"Salah aku apa? Kenapa Daddy sama mommy tega bertidak lebih jauh" hiks hikss air mata kembali berjatuhan di pipi Alleysa ia terus berlari hingga.


Bukkk


"Aawww" ringisnya kemudian melihat sepatu yang pentofel yang ia pakai haknya patah sehingga  membuat dirinya tersandung, dan lutut kakinya keluar darah. Ia terus berlari tak peduli lututnya terus menerus mengeluarkan darah, langkahnya terhenti saat ia sudah berada di depan jembatan besar yang dibawahnya terhubung dengan sungai.

__ADS_1


Alleysa berjalan dengan lunglai menuju kearah jembatan itu. Duduk di tiang pembatas jembatan dengan pandangan kosong.


__ADS_2