
"Lo yakin kita makan disini?" Tanya Alleysa ketika mereka memasuki sebuah warung lesehan yang menjual aneka masakan dari olahan seafood.
"Kenapa jangan bilang Lo nggak pernah makan ke tempat kayak gini?" Tanya Antariksa kemudian berjalan masuk kedalam di ikuti oleh Alleysa.
"Memang nggak pernah" ucapnya jujur.
"Yaudah kalo gitu sekarang Lo harus makan, disini enak ko lley di jamin Lo bakal ketagihan" ucapnya kemudian duduk di salah satu tempat lesehan itu.
"Mang kayak biasa dua" teriak Antariksa kepada penjual itu.
"Siap den Atar, tunggu ya" ucap pedagang itu kemudian berjalan menuju staling.
"Lo sering kesini?" Tanya Alleysa melihat ke keakraban Antariksa dan penjual makanan itu.
"Gue memang sering ke sini udah dari dulu pun, dari waktu dia masih jualan di pinggiran trotoar" ucapnya sambil tersenyum simpul.
Makanan mereka pun datang, Alleysa mengambil sendok dan garpu namun tangannya di tahan oleh Antariksa.
"Makannya enak pakek tangan lley, cuci tangan Lo di air kobokan itu" perintah nya.
"Tapi gue nggak pernah makan pakek tangan, kecuali makan roti" ucapnya pelan.
"Hah, sumpah" ucapnya kaget mendengar penuturan gadis berkemeja kotak-kotak navy itu.
"Lo pasti mau ngetawain gue kan".
"Eh nggak kok, lucu aja denger omongan Lo. Asal Lo tau makan pakek tangan itu Sunnah Rasul tau".
"Sini gue ajarin, Lo cuci tangan Lo dulu kayak gini. Terus Lo ambil nasi tekan, kayak gini" ucapnya mempraktekan kepada Alleysa.
"Masukin ke mulut" ucapnya sambil mengunyah.
"Makan kayak gini lebih terasa lley dari pada makan makek sendok sama garpu" ucapnya.
Alleysa mempraktikannya, "bener kata Lo enakan makan kayak gini" ucap Alleysa menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Antariksa tersenyum mendengar ucapan gadis itu melihat Alleysa makan dengan lahap membuat dirinya juga ikut bahagia.
"Terus kita mau kemana lagi nih" tanya Alleysa saat mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang tidak di beri tahu oleh Antariksa.
"Ngikut aja" ucapnya kemudian melajukan motornya membelah jalanan ibukota Jakarta.
"Rumah sakit?" Tanya Alleysa ketika mereka berdiri tepat di depan gedung rumah sakit yang memiliki lantai cukup tinggi.
"Siapa yang sakit Tar?" Tanyanya kepada Antariksa.
"Nggak ada yang sakit yaudah yuk" ucapnya menarik tangan Alleysa berjalan beriringan menuju lift dengan tangan sebelah kanan memegang kantong kresek makan dan minuman ringan yang ia beli di minimarket depan rumah sakit tadi.
"Rooftop?" Tanya Alleysa ketika melihat jari Antariksa menekan tombol lantai paling atas di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Wow" Alleysa membuka matanya lebar-lebar melihat pemandangan dari atas rooftop rumah sakit ini. Ia sangat kagum dengan pemandangan saat ini, dimana gedung-gedung pencakar langit yang berwarna kelap-kelip yang di pencari oleh lampu-lampu di sepanjang gedung itu.
Alleysa duduk di tengah-tengah lapangan rooftop yang biasanya di pakai sebagai lapangan pendaratan helikopter karena di lantai atas rooftop ini ada sebuah huruf H yang sangat panjang melingkar.
"Lo tau tempat menakjubkan kayak gini dari mana?" Tanyanya sambil memandang bintang kelap-kelip di atas langit hitam itu, melingkar diantara bulan sabit.
"Lo suka lley?" Tanya Antariksa menatap lekat wajah gadis itu dari samping.
"Gue suka Tar sumpah seumur hidup gue, baru kali ini gue lihat tempat kayak gini" ucapnya bahagia.
"Pertanyaan gue tadi belum Lo jawab loh" tanya Alleysa lagi.
"Gue tau tempat ini waktu kakek gue di rawat beberapa bulan lalu" ucapnya sambil membuka softdrink didalam kaleng.
"Sekarang kakek Lo udah sehat kan?" Tanya Alleysa lagi.
"Gitu deh udah sehat tapi masih rawat jalan" lanjutnya.
Mereka memandangi langit malam dengan udara malam yang berhembus masuk ke dalam pori-pori kulit mereka. Memikirkan sesuatu untuk masa depan mereka.
Ting
Ponsel Alleysa berbunyi ia kemudian membuka dengan malas notifikasi ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari aplikasi linenya.
Pak Darto
Maaf non, non harus segera pulang soalnya tuan dan nyonya besar sedang di jemput di bandara.
"Shit" umpat Alleysa ketika membaca sebuah pesan masuk dari bodyguard kepercayaannya.
"Ada masalah lley?" Tanya Antariksa begitu melihat raut wajah Alleysa yang berubah tiba-tiba.
"Anterin gue pulang sekarang Tar, orang tua gue lagi di jemput di bandara" ucap Alleysa kemudian memasukan ponselnya kedalam tas gendongnya.
"Lah emang kenapa?" Tanya Antariksa bingung ketika melihat raut khawatir dari wajah Alleysa.
"Aduh panjang ceritanya, cepetan anter gue balik" ucapnya.
Mereka pun berjalan keluar dari rooftop menuju bassmed dengan berlari kecil.
Antariksa langsung menggegas motornya dengan kecepatan tinggi menuju perumahan yang di bilang oleh Alleysa tadi.
"Lo sampe sini aja tar" ucap Alleysa kemudian melepas helmnya dengan terburu-buru. Saat ini Alleysa meminta Antariksa untuk menurunkannya di pinggir jalan saja karena takut ada para suruhan orang tuanya sedang berjaga-jaga di dekat Mansion.
"Emangnya ada apa sih lley?" Tanya sekali lagi.
"Kapan-kapan deh gue cerita, sekali lagi thanks ya" ucap Alleysa kemudian berlari menjauhi Antariksa. Antariksa melihat punggung Alleysa semakin menjauh ia tersenyum " emangnya apa yang terjadi sama Lo sih sampe segitu takutnya?" Batinnya bertanya-tanya, ia kemudian menggegas motornya menuju basecamp tempat ia dan para temannya berkumpul.
Tok
__ADS_1
Tok
"Non tuan dan nyonya udah sampai" ucap sopan seorang maid di depan pintu kamar Alleysa.
"Iya bentar" teriak Alleysa sedikit lebih kencang. Kemudian membuka pintu dan mengikuti maid tersebut.
Alleysa duduk di ruang kerja Daddy nya bersama dengan mommy yang berada di sebelah dirinya.
"Bukannya lusa kalian balik, kenapa sekarang?" Tanya Alleysa binggung biasanya orang tuanya selalu on time dalam pekerjaan dan sebuah perjalanan.
"Bukannya lebih cepat lebih baik sayang" ucap Alfandi mencium puncak kepala putrinya yang sudah beranjak dewasa ini.
"Dan apa yang mau kalian bicarakan sekarang?" Tanya Alleysa malas. Biasanya jika kedua orang tuanya meminta Alleysa menemui dirinya di ruang kerja ada sebuah hal yang ingin mereka sampaikan dan itu mungkin sangat penting.
"Sebelumnya apa kamu sudah makan sayang?" Tanya Alfandi mencoba menggalihkan topik pembicaraan.
"Udah deh Dad, to the points aja nggak usah basa basi. Alleysa udah makan" ucapnya kesal.
"Alleysa jaga ucapan kamu dengan Daddy mu" sentak Anandita kepada putrinya yang semakin kurang ajar.
"Daddy mu nyuruh kamu kesini karena kita akan membahas lebih lanjut hubungan kamu dengan Sean" ucap Anandita.
"Hubungan apa lagi sih bukannya Alley udah tunangan dengan Sean. Truss hubungan yang mana lagi?" Ucapnya dengan nada kesal kenapa orang tuanya selalu ikut campur dengan masalah pribadi dirinya.
"Kalian bukan hanya akan tunangan Alleysa kalian akan menikah" ucap Anandita lagi.
"Menikah?" Ucap Alleysa menatap sinis kedua orang tuanya.
"Atas dasar apa aku harus nikah dengan Sean?" Tanyanya lagi.
Kedua orang tuanya terdiam mencari jawaban yang tepat untuk putrinya.
"Atas dasar apa aku harus nikah dengan Sean mom dad?" Ucapnya sekali lagi.
"Apa atas kerja sama perusahan kalian? Atau atas dasar kalian jual aku untuk jadi istri dia biar keluarga kita bisa kerja sama dengan Arthur grup?" Tanyanya tanpa sadar air matanya ikut menetes.
"Alleysa ini bukan seperti yang kamu bayangkan sayang" ucap Alfandi mencoba menenangkan putri nya.
"Jadi gimana yang nggak sesuai bayangan Alley dad? Hah? Alley udah nurutin semua kemauan kalian. Alley yang nggak kenal sama sekali dengan Sean tiba-tiba kalian suruh tunangan. Alleysa yang masa kecilnya selalu ngertiin kesibukan kalian. Alley yang waktu kecil sekolah home schooling karena kalian pikir sekolah umum itu berbahaya. Alley yang selalu berharap punya teman disaat kalian bilang buat apa punya teman buang waktu dan lebih baik les aja biar pinter. Alley yang punya teman di akhir masa SMP kemudian beberapa tahun lalu ia meninggal karena kedatangan Sean? Dan yang mana nggak sesuai bayangan Alleysa?" Ucapnya dengan air mata terus membasahi pipinya.
"Alley benci ketika kalian selalu libatin Sean dalam semua kehidupan yang Alleysa jalani. Alley benci sama dia, dia pembunuh Revan" ucapnya murka.
"DIA PEMBUNUH REVAN SAHABAT ALLEYSA" teriak ya frustasi.
Plakkkk
Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi putih gadis itu. Tamparan itu berasal dari Anandita.
"Jaga ucapan kamu Alleysa jangan berani kamu bilang Sean itu pembunuh. Dia yang udah nyelamatin kamu dari penculik itu yang kamu bilang sahabat kamu. Sahabat mana yang tega ingin merusak sahabatnya sendiri. Kamu seharusnya sadar kalau tidak ada Sean saat itu kamu mungkin tidak ada disini dan dalam keadaan baik seperti sekarang" ucap Anandita kepada putrinya yang keras kepala itu.
__ADS_1
"Kalian berdua terlalu bodoh untuk percaya semua hal bullshit yang keluar dari mulut Sean. Asal kalian tahu lebih baik Alley mati disana dari pada harus hidup kayak gini" ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruangan terkutuk itu.
"ALLEYSA KAMI BELUM SELESAI BICARA" teriak Anindita.