Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Extra Part 1


__ADS_3

3 tahun berlalu....


Seorang wanita dengan kaca mata hitam melekat di batang hidung gadis itu. Rambut panjang bergelombang yang di beri warna cokelat tua itu serta kulit putih yang menambah kesan cantik dalam dirinya mengeret koper hitam dengan anggun.


Seseorang di sebrang melambai ke arah dirinya membuat wanita itu berlari kecil hingga melupakan kopernya. Memeluk pria berstelan jas kantoran.


"Udah aku bilang gak usah di jemput pekerjaan kamu kan masih banyak" ucap wanita itu setelah mencium bibir pria itu sekilas.


"Aku rindu kamu lagian sehari aku nggak ngantor nggak akan buat perusahan papa bangkrut juga kali" ucap pria itu sambil mendusel ke leher jenjang wanitanya.


"Antariksa di liatin orang-orang" peringat wanita itu karena Antariksa bukan mengendus saja namun meninggalkan tanda kepemilikan berbentuk ****** disana.


"Gak papa kali sayang, biar mereka tahu kalo kamu punya aku" ucapnya sambil tersenyum jahil.


"Atarrrrr" peringat gadis itu dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Ada apa nyonya Alleysa Artur" panggil Antariksa kembali.


"Ngeselin".


"Apa ngangenin".


"Ngeselin".


"Apa".


"Au ah" ucapnya meninggalkan Antariksa yang terkekeh geli.


"Nanti malam jangan lupa siap-siap dandan yang cantik aku jemput".


.......


Malam ini Alexa telah rapi dengan dandanan sederhana make up tipis dan drees hitam. Kaki jenjangnya tak lupa di lapisi heels hitam dan rambut yang ia gerai sempurna.


Pintu kamar putih itu di ketuk dan di buka. Seorang wanita paruh baya dengan wajah blasteran namun masih sangat cantik berjalan anggun menghampiri dirinya duduk di pinggiran ranjang.


"Antariksa udah nunggu di bawah sayang" ucap Anandita sambil mengelus punca kepala putrinya.


"Iya mom, kalo gitu Alley pamit dulu ya" ucapnya kemudian mendapat anggukan dari Anindita. Ya semenjak kejadian itu mereka semua memilih berdamai dengan masa lalu.


Antariksa menatap kagum ke arah wanita yang sedang menuruni anak tangga, 'Cantik' itulah kata yang dapat ia definisikan kepada wanita di hadapaanya ini. Semakin berumur wanitanya semakin cantik dan semakin ia ingin mengurung di dalam kamar dan menerjangnya hingga pingsan setelah menikahinya nanti.


"Gimana, ga cocok ya?" Tanya Alleysa pelan, karena dari ia turun tangga Antariksa melihatnya tanpa berkedip.


"Perfect, georgeus baby" ucap Antariksa kemudian mencium pipi wanita dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping wanita.


"Emangnya kita mau dinner kemana sih Tar?".


"Rahasia" ucapnya kemudian tersenyum simpul dan berjalan sambil memeluk pinggang wanitanya posesif.

__ADS_1


Hotel four season


Alleysa mengerjapkan matanya melihat hotel besar di hadapannya. Hotel yang memiliki restoran mewah ini memang salah satu dari perusahan yang menampung saham Artur grup.


Pintu mobil di buka oleh pelayan, Alleya turun bersama Antariksa tak lupa pria itu masih memeluknya dan semakin posesif.


"Silahkan selamat datang tuan" ucap salah satu orang berjas dengan sebuah pin tersemat bertuliskan manager hotel.


Antariksa mengangguk, kemudian mereka naik menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas hotel bintang lima ini yaitu rooftop hotel yang terkenal sangat bagus.


Alleysa mengerjap-ngerjapkan matanya melihat dekorasi rooftop hotel yang di tata oleh seseorang sangat bagus, dan indah.


"Gimana suka hem?" Tanya Antariksa kepada wanita di sampingnya, Alleysa mengangguk penuh semagat ia sangat menyukai dekorasi rooftop ini.


"Kamu duduk disini, aku mau ke stage bentar" ucapnya kemudian menarik sebuah kursi kayu dengan meja bundar yang di tata di depan nya terdapat lilin makan dan berbagai makanan pembuka tersaji di meja itu.


"Ngapain ke sana?".


"Ada deh tunggu ya sayang" ucap Antariksa mencium pipi Alleysa kemudian berjalan ke arah stage mengambil gitar akuistik dan mulai memetikkan senar itu pada jarinya menimbulkan sebuah nada yang sangat indah.


'Di ujung cerita ini'


'Di ujung kegelisahan ku'


'Ku pandang tajam bola mata mu'


'Cantik dengarkan lah aku'


'Aku tak setampan don juan'


'Tak ada yang lebih baik dari cintaku'


'Tapi saat ini ku tak ragu'


'Ku sungguh memintamu ......'


'Jadilah pasangan hidupku, jadilah ibu dari anak-anakku'


'Membuka mata dan tertidur di samping ku'


'Aku tak main-main, seperti lelaki yang lain satu yang ku mau ku ingin melamarmu'


'Satu yang ku mau, ku ingin melamarmu....'


Air mata Alleysa turun seketika, lampu temaram berbentuk love melingkar di atas stage. Antariksa meletakkan gitarnya dan berjalan ke arah Alleysa yang sudah meneteskan air mata haru.


Antariksa berjalan, di ikuti seorang pelayan yang membawa kotak bludru berwarna merah dan sebuket bunga lili di nampan.


"Setelah semua yang kamu hadapi, aku ga akan pernah bisa liat kamu terluka lagi Lley. Aku Antariksa akan jadi pangeran yang selalu jagain kamu hingga nanti. Aku akan buat hidup kamu bahagia dan berwarna so izinkan aku buat bilang Will you marry me Alleysa Seira James?" Ucapnya sambil berlutut di hadapan Alleysa kemudian membuka kotak bludru yang isinya cincin putih bermata berlian.

__ADS_1


"Terima-terima"


"Trima"


Semua orang keluar dari tempat persembunyian. Alleysa menatap terkejut semua orang ternyata ada disini ada keluarganya dan kedua orang tua Antariksa di tambah sahabat Antariksa Hendrik membawa istrinya, Yudhis sendirian, dan pemilik les vokalnya dulu serta sahabat Alleysa di bangku kuliah Karina.


"Terima, Lley" ucap Karina memberikan dukungan.


"Pegel aku sayang" ucap lembut Antariksa. Alleysa menatap kearah kedua orang tuanya setelah mendapat anggukan setuju gadis itu tersenyum.


"Yes I Will Tar".


Senyuman Antariksa mengembang sempurna, di tambah teriakan heboh para sahabat mereka dan jangan lupakan kembang api yang meledak di atas langit malam memberikan saksi bahwa Alleysa menerima pinagannya.


Antariksa mengambik cincin dari kotaknya menyematkan cincin indah itu di jari manis wanitanya. Dan memeluk Alleysa, meneggelamkan wajah gadisnya kedalam dada bidangnya.


"I'm happy, thanks my sweetie'.


Acara lain di mulai, setelah melamar Alleysa mereka semua menyanyi dan menari. Kini Alleysa bersama Antariksa duduk melingkar di meja bundar bersama kedua orang tua mereka masing-masing.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Angkasa kepada kedua calon mempelai itu.


"Besok" ucap Antariksa membuat Alleysa memukul kepala pria yang sedang memaikan cincin yang melekat di jari putihnya.


"Kenapa sayang?".


"Kamu sih, ngomong asal-asalan" omel Alleysa.


"Memang bener besok kita nikah" tegas Antariksa.


"Ga ah cepet banget" ucap Alleysa.


"Nunggu aku wisuda aja" usulnya mendapat gelengan keras di Antariksa.


"Ga mau kelamaan".


"Lagian Nikah butuh persiapan juga kali Tar" usul Laura ibunya.


"Ga, aku ga mau kelamaan ma, nanti makin di ejek sama Hendrik istrinya aja udah ngandung".


"Gini aja, kalo nikahnya sebulan lagi" usul Alfandi.


Sebelum semua orang setuju Antariksa menggeleng keras.


"Ga minggu depan aja".


"Atar" peringat Laura, ya memang sebelum melamar Alleysa Antariksa sempat berdiskusi terlebih dahulu kepada mamanya dan meminta saran kepada wanita itu.


"Iya dua minggu lagi" ucapnya melas.

__ADS_1


Akhirnya setelah mendapati persetujuan bersama mereka memutuskan untuk menikah 2 minggu kedepan.


__ADS_2