
Alleysa tak henti-hentinya menangis didalam mobil. Ia belum siap kehilangan mereka, Sean yang melihat tunangannya terus menerus menagis menggengam tangan gadis itu mencoba menenangkan dirinya.
"Sabar lley".
"Gue belum siap Se" ucapnya lagi, dengan air mata yang terus bercucuran.
Bandara internasional Halim Perdanakusuma Jakarta.
Alleysa turun dari mobil bersama Sean. Dengan langkah cepat Alleysa berjalan menuju jet pribadi milik keluarganya yang sudah siap berangkat.
"Nona Alleysa" ucap mereka sopan dengan membungkukkan tubuh setengah.
Alleysa berjalan menuju kabin jet pribadi bersama Sean.
"Keperluan saya dan Alley sudah kalian persiapan?" Tanya Sean kepada salah seorang bodyguard suruhan keluarga Alleysa.
"Sudah tuan, ada di bagasi" timpalnya.
Pesawat berangkat meninggalkan Indonesia.
*******
Antariksa memeriksa ponselnya sudah berkali-kali ia menghubungi gadis itu namun tidak ada balasan dari gadis itu. Bahkan sudah berpuluhan spam chat WhatsApp ia kirimkan menanyakan kabar gadis itu apakah ia baik-baik saja tapi nihil tak ada satupun yang di baca.
Setelah kejadian siang tadi, gadis itu hilang bak di telan bumi tak ada kabar, dan rumah gadis itu tampak sepi dari depan seolah-olah tak berpenghuni tak tampak para bodyguard yang biasa menjaga depan rumah gadis itu.
"Lo kemana sih lley" ucapnya khawatir.
"Tar" panggil Yudhis mendekat ke arah Antariksa yang sibuk dengan ponselnya.
"Panggil pelatih, masuk ke lapangan sekarang" ucapnya.
"Dia nanti juga ngabarin Lo kok, ngga usah khawatir".
Antariksa menganguk kemudian masuk kelapangan dan mulai mendribble bola basket.
California, Amerika serikat
Alleysa berjalan cepat bersama dengan Sean masuk ke dalam mobil Range Rover yang telah menjemput mereka. Mobil itu berjalan menuju rumah sakit.
Alleysa tak memejamkan matanya sekali pun padahal wajah gadis itu terlihat sangat kelelahan. Terlihat dari kantong mata gadis itu yang sudah menghitam apalagi jarak yang harus mereka tempuh dari Jakarta ke California lebih dari 8 jam.
"Lo nggak mau makan dulu lley?" Tanya Sean yang sudah siap dengan sepotong sandwich yang di beli di food court bandara.
Gadis itu menggeleng lemah menatap jalanan kita California di malam hari.
"Tapi dari tadi perut Lo belum diisi lley ntar sakit" peringat nya lagi.
"Gue nggak laper" ucapnya lesu.
Mobil mereka berhenti di depan rumah sakit tempat orang yang di kenal Alleysa di rawat. Alleysa dan Sean turun dari mobil kemudian di kawal oleh belasan bodyguard. Tampak banyak paparazi dan media massa sudah berdiri di depan rumah sakit menuggu gadis itu dan tunangannya.
"Have you heard the news?"
__ADS_1
"What happened to the commissioner?"
"Ma 'am please answer!"
Alleysa tak menggubris semua pertanyaan yang di lontarkan oleh para wartawan yang meminta informasi dari dirinya. Ia berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan berlari kecil.
"Mom" ucap gadis itu berlari memeluk ibunya yang duduk di bangku panjang lorong rumah sakit.
"Yang sabar ya sayang" ucapnya memeluk putrinya yang menangis dalam pelukan.
"Kakek benerin ninggalin kita" lagi dengan air mata berderai.
"Yang sabar Al" kali ini Alfian ayahnya memeluk putri kecilnya yang beranjak dewasa. Berusaha menenangkan putrinya, ia tahu betul putrinya sangat terpuruk mendengar berita ini bukan tanpa alasan Alleysa sangat dekat dengan kakeknya dulu sebelum pindah ke Indonesia ia sempat tinggal beberapa tahun bersama kakeknya karena kedua orangtuanya yang sibuk mengelola bisnis keluarga sehingga membuat mereka harus berpindah-pindah negara demi perkembangan bisnis.
"Keluarga pasien silahkan masuk" ucap dokter rumah sakit itu keluar dari bangsal inap kakeknya.
Alleysa berlari masuk kedalam bangsal rumah sakit, ia melihat tubuh kakeknya yang sudah di balut oleh kakinya putih menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
"Kakek" ucapnya dengan air mata kembali berderai lebih kencang. Melihat tubuh kaku orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Orang yang selalu ada untuknya menjaganya, menyanyi dirinya dengan tulus memberikan cinta, merawatnya dan mendukung apapun keputusan gadis itu.
"Alleysa disini, kakek kenapa pergi" lirihnya.
"Kakek maafin Alleysa yang nggak bisa datang kesini liatin kakek. Kakek janji mau minta Alley temenin main golf, mancing di danau, jalan-jalan di taman. Liat Aurora di Alaska kenapa Kakek pergi ninggalin Alley" ucapnya memeluk tubuh kaku itu.
"Kakek janji bakal sehat, bakal sembuh tapi kenapa Kakek pergi? Kakek ninggalin Alley sendirian disini kakek janji kakek bakal pergi kalo Alley udah wisuda dan menikah punya anak yang lucu, kakek bilang pengen lihat cicit kakek tapi kenapa Kakek pergi".
"Kakek bangun jangan tinggalin Alley" teriak gadis itu kemudian.
Brukkk
"Panggil dokter cepat" perintah Alfandi.
Sean mengendong tubuh tunangannya membawanya keluar dari ruang rumah sakit tempat kakek gadis itu.
Arghhh
Gadis itu mengerjab-ngerjabkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ia berusaha bangkit meskipun kepalanya sungguh berat.
"Kamu udah sadar lley?" Tanya Sean berusaha membantu Alleysa bangun.
"Gue dimana Se?".
"Lo di rumah sakit, kemarin pingsan sekarang gimana udah mendingan?".
"Kakek mana?" Tanya gadis itu lagi.
"Kakek, di rumah duka lley" ucapnya prihatin.
"Gue mau kesana sekarang" lanjut Alleysa.
"Lo baru bangun dari pingsan dan keadaan Lo masih lemah" ucapnya berusaha memperingati.
"Gue mau ke rumah duka sekarang, kalo Lo nggak mau nganter gue. Gue bisa pergi sendiri!" Serunya kemudian melepaskan jarum infus yang menusuk kulit telapak tangannya.
__ADS_1
"Alleysa jangan nekat" ucap Sean khawatir melihat darah segar bercucuran keluar dari kulit bekas penusukan jarum cukup banyak. Sean mengambil kain kasa menarik tangan gadis itu dan menutup luka tusuk itu dengan alat P3K.
"Gue mau ke tempat kakek Se, percuma gue kesini kalo akhirnya ngga bisa liat dia" lanjut gadis itu menangis.
"Iya gue bakal ngater Lo, tapi gue obatin dulu luka lo ntar infeksi" perintahnya.
Sesuai janji Sean ia membawa Alleysa menuju rumah duka, tempat kakeknya di letakkan untuk di lakukan upacara pemakaman secara islami.
Di tempat yang berbeda Antariksa menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangan. Dengan ponsel yang selalu berada di sampingnya berharap gadis itu membalas chat darinya yang banyak itu.
Nihil
Lagi-lagi jawaban itulah yang ia dapat dari menunggunya. Semua anak kelas riuh berbisik-bisik sesuatu namun Antariksa pria itu tidak peduli. Ia malah mengambil earphone miliknya memakainya dan menyetel musik sambil menutup mata menunggu guru mapel masuk kedalam kelas.
Hendrik berlari terburu-buru, hingga menabrak beberapa bahu murid yang berjalan di koridor.
"Sorry"
"Jalan tu pakek mata"
"Sorry"
"Ngga papa"
"Sorry"
"Woi ***** santai kalo jalan pakek nabrak segala"
Kira-kira seperti itulah cacian mereka yang bahunya di tabrak oleh Hendrik. Hendrik berlari menuju kelasnya yang terletak di gedung timur mencari keberadaan sahabatnya siapa lagi kalo bukan Antariksa Keano Peter .
Hendrik berlari masuk kedalam kelasnya meneriaki si empu pemilik nama Antariksa yang sedang tidur di meja.
Dengan geram ia menghampiri pria itu dan menepuk bahunya, Antariksa yang merasa di ganggu itu membuka matanya.
"Ada apa?" Tanyanya kemudian melepas earphone yang menyumbat telinganya.
"**** pantesan gue tadi teriak manggil Lo nggak denger" ucapnya kesal.
"Ngapa Lo gangu gue?".
"Bentar Tar gue ambil nafas dulu, capek gue sumpah lari dari gedung barat ke gedung timur nyari Lo" ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Jadi gini, Lo udah baca berita belum pagi ini?".
"Gak penting" ucapnya lagi.
"Gak penting palak Lo, Lo nggak denger banyak anak kelas yang gosip. Gosip tentang kakek Alleysa meninggal".
Damn
"Sumpah?" Tanya nya tak percaya pantas saja chat dan telepon darinya tak ada satupun yang dibalas gadis itu.
"Lo nggak percaya ini buktinya" ucap Hendrik kemudian memperlihatkan berita terbaru dari YouTube.
__ADS_1
"Kabar duka menyelimuti SMITH corperation, dimana sang Komisaris sakaligus pendiri dari pada SMITH corperation yang terdiri dari perusahaan bidang ritel dan pariwisata di kabarkan meninggal dunia pada hari Jumat pukul 4 subuh waktu California. Saat ini James Smith telah di bawa ke rumah duka SMITH untuk melakukan upacara pemakaman secara resmi. Dan kabarnya juga putri tunggal dari Alfandi Smith dan Anandita Smith telah jatuh pingsan mendengar kabar kakeknya meninggal dunia, saat ini gadis itu masih berada di dalam rumah sakit di temani oleh Tunangannya putra dari Arthur grup" ucap reporter berita dari CNN Indonesia yang berada di California.