
Dengan amat terpaksa gadis berkuncir satu itu menuruti perintah orang tuannya berkunjung ke bangsal rumah sakit tunangannya Sean Gelael Arthur. Gadis berhodie yellow dan memakai repped jeans hitam bermotif kotak menyusuri lorong rumah sakit menuju bangsal VVIP itu. Disepanjang jalan gadis itu berdoa agar kabar Sean siuman dari komanya tidak benar adanya meskipun terdengar jahat ketika ia mendoakan orang lainĀ yang tidak baik ke Tuhannya namun apa daya jika benci sudah di ubun-ubun pasti kalian akan melakukan hal yang sama dengan yang Alleysa lakukan saat ini Mendokan orang itu agar selalu sekarat dan mengalami siksaan meskipun doa seperti itu tidak akan di Kabulkan Tuhan.
Kreek
Alleysa membuka knop pintu putih itu. Orang-orang yang berada di dalam bangsal itu menoleh ke arah pintu yang terbuka menampilkan seorang gadis yang sering berpakaian formal dan selalu elegan kini berbeda 180 derajat yaitu berpakaian cassual dan sederhana.
"Alleysa itu kamu sayang?" Tanya wanita paruh baya yang tengah memotong apel terkejut melihat penampilan calon menantunya yang tidak melambangkan kepribadian gadis itu.
Alleysa berjalan mendekat ke arah wanita itu mencium punggung tangan wanita itu tanda menghormati orang yang lebih tua darinya.
"Tante apa kabar?" Tanya Alleysa kemudian duduk di kursi sebelah wanita itu bersama dengan tunangannya yang sedang duduk di atas brankar rumah sakit.
"Tante baik kok, sayang. Kamu apa kabar?" Tanya nya lagi.
"Alhamdulillah Al baik kok Tan" ucapnya lagi.
"Oh iya kan Al udah ada disini Tante mau pulang dulu ke rumah. Ada keperluan Sean yang Tante lupa ambil kamu mau kan temenin Sean bentar. Sekalian kalian bicara gitu kayak nya saling diem-dieman" ucapnya sambil tersenyum.
Alleysa menganguk kemudian Laura pamit pergi meninggalkan putra putrinya di bangsal itu.
Hening
Itulah suasana yang menggambarkan keadaan saat ini baik Alleysa dan Sean mereka saling diam tanpa mau membuka suara.
"Al maaf" ucap Sean tiba-tiba seketika membuat gadis itu yang tadinya fokus dengan layar ponsel menoleh dan menautkan alisnya binggung.
"Maaf untuk apa?" Tanyanya binggung.
"Maaf untuk semuanya" ucapnya lagi.
Alleysa terdiam cukup lama bukannya ia tidak mau memaafkan Sean namun ia butuh waktu karena Sean sudah sangat melukai hatinya.
"Al" panggilnya. Membuat gadis yang dari tadi diam itu menoleh ke arah remaja yang duduk di brankar itu.
__ADS_1
"Kenapa Sean?" Tanya Alleysa lagi.
"Lo mau maafin gue kan?" Ucapnya lagi dengan nada memohon.
"Sekarang waktunya Lo minum obat" ucap Alleysa kemudian berjalan ke arah nakas mengambil obat-obatan dan air putih di nampan.
Tangannya di cekal oleh Sean dan pria itu menarik tangan Alleysa lembut mendekat dan duduk di atas brankar bersamanya.
"Gue tau, gue udah jahat banget sama Lo. Dan mungkin kesalahan yang gue buat itu udah sangat fatal, tapi gue mohon kasih gue kesempatan buat memperbaiki kesalahan gue ke Lo. Setelah gue koma dan gua hampir mati beberapa hari lalu, gue selalu di hantui rasa bersalah sama Lo Al dan gue baru sadar nyatanya gue beneran suka sama Lo dan rasa gue bukan sekedar kertas keluarga dalam ikatan tunangan aja" ucapnya panjang lebar dan membuat empu yang di bicarakan itu terdiam beberapa saat.
Gadis itu berusaha mencari letak kebohongan dari raut wajah pria itu namun nihil ia malah melihat kesungguhan pria itu. Rasa penyesalan yang amat dalam ia tunjukan kepada Alleysa bukan rasa kesombongan dan kekuasaan seperti dulu.
"Gue memang kecewa sama Lo. Gue marah jelas, gue benci juga lebih jelas tapi meskipun sejahat apapun Lo ke gue, gue nggak pernah nggak maafin Lo" lanjutnya sambil menunjukan senyumannya pada Sean. Senyuman yang dulunya hilang, senyuman gadis masa kecilnya kini kembali lagi.
"Serius Al Lo maafin gue" tanyanya lagi kurang percaya.
"Tuhan aja mampu memaafkan hambanya yang melupakan kewajiban nya masa gue yang cuman hamba Tuhan nggak mau sesamanya" lanjutnya lagi.
Sangking bahagianya Sean dengan reflek memeluk gadis itu membuat si empu terpelonjak kaget namun ia tidak menolak pelukan itu.
Deg
Entah kenapa panggilan Alley baginya itu terasa berbeda jika di ucapkan oleh Sean. Dia tak menampik bahwa ia lebih senang di panggil Al oleh Sean dari pada Alley yang di sering di panggil oleh Antariksa.
"Lo tau lley, gue senang banget Lo mau maafin gue" ucapnya lagi.
Alleysa menganguk mencoba tersenyum. Meskipun dalam hatinya ada sedikit kejanggalan namun berusaha ia tepis baginya ketika orang meminta maaf berarti ia benar-benar menyadari kesalahannya.
"Jalan kesana"
"Analog gue ****"
"Diem disitu"
__ADS_1
"Jangan nyerang sendiri"
"Anjay double kill Lo Tar"
"Yudhis meniac bro"
"Awasss"
"Ah mati gue *******"
"Mampus"
"Lancelot ****"
"Alu card gue **** diserang"
"Serang itu nya, jangan sampe lepas"
"Victory"
Mereka membanting ponselnya ke atas kasur, sambil tertawa bahagia karena senang menang dalam rank permainan mobile legend.
"Tar lapar gue" ucap Leon memelas memegang perutnya kelaparan.
"Di rumah gue nggak ada makanan" ucapnya cuek mengambil ponselnya mengecek aplikasi Instagram yang sudah lama terbengkalai. Ia membuka aplikasi itu mengecek banyak permintaan mengikuti di akunnya ada sekitar 5000 pengikut namun ia tak menggubris itu. Tangannya dengan lincah mencari akun Instagram gadis itu, namun nihil ia tak menemukan akun Instagram gadis yang bernama Alleysa itu.
Sesaat ia hendak menutup aplikasi Instagram miliknya tak sengaja ia melihat akun Sean, dia lupa mengunfol akun pria itu. Sesaat ia hendak mengunfol akun itu tangannya tak sengaja menekan photo profil itu dan menampilkan sebuah instastory di akun Sean. Ia terkejut dimana Sean sudah bangun dari komanya dan membuat Boomerang Selfi dengan gadis yang ia kenali Alleysa. Gadis itu tersenyum manis sesaat melakukan Boomerang dengan Sean.
Antariksa membanting ponsel iPhone 11 max miliknya sehingga membuat suara yang mengejutkan sahabatnya.
"Kenapa Lo?" Tanya Yudhis pada Antariksa melihat raut amarah terpancar dari wajahnya sesaat setelah membuka ponselnya.
"Brengsek Lo Sean" umpatnya kesal.
__ADS_1
"Tunggu pembalasan gue. Gue tau maksud jahat Lo" katanya lagi. Membuat kedua sahabatnya menyingit binggung.