
"Aaa buka mulut" ucap Antariksa menyuapi Alleysa potongan apel yang baru ia kupas kulitnya.
"Gue udah kenyang Atar" tolak gadis itu lagi.
"Makan Alley biar Lo cepet sehat" perintahnya.
"Tapi gue udah kenyang Atar" timpalnya.
"Alleysa makan yang banyak biar Lo sehat, dan bergizi".
"Jadi kata Lo gue nggak bergizi gitu?" Ucap gadis itu sambil berdecak pinggang duduk di atas brankar rumah sakit.
"Lo kurusan pasti karena kurang gizi, makanya makan" lanjutnya.
"Ngga mau".
"Alley makan"
"Alleysa makan!, Nanti kamu pemulihan makin lama loh".
"Ngga mau Atar ngga usah maksa deh" ucapnya kesal.
"Aku nggak bakal maksa kalo kamu nurut" ucapnya sambil terus menyodorkan sepotong apel yang di tusuk garpu ke arah Alleysa.
"Nggak mau".
"Berisik woi" umpat Yudhis kemudian berjalan ke arah mereka berdua yang sedang berdebat mengambil sisa satu potongan apel itu memakannya dengan satu gigitan.
"Kenapa Lo makan ******* itu untuk Alleysa, jarang-jarang gue motong buah malah Lo makan" ucapnya kesal kepada Yudhis.
Yudhis berdecih kemudian berjalan ke arah sofa tempatnya dari tadi istrirahat dan di ganggu oleh suara dua orang bucin.
"Lagian kalo si Alley ngga mau ngga usah di paksa kali" desisnya.
"Benar tu Yud gue setuju sama Lo. Orang gue ngga mau lagi makan masih aja di paksa sama si Atar" keluhnya.
"Demi kebaikan Lo Bey" ucapnya lagi.
"Tapi gue udah kenyang Antariksa".
"Terserah Lo deh" ucap Antariksa lagi merajuk.
"Bucin parah dah" kali ini Yudhis bersuara kesal dengan melihat kedua orang yang bucin akut di bangsal rumah sakit.
"Kalo Lo ngga seneng ngga usah kesini pulang sana!" Usir Antariksa.
"Atar ngga boleh gitu" peringat Alleysa kepada Antariksa.
"Tapi lley" ucapnya lagi.
"Dengerin Alleysa" ucap Yudhis bahagia karena di bela Alleysa.
"Terserah Lo Yud, gue kalah" ucapnya melas.
******
Sean yang baru selesai berenang mengambil kimono memakainya di tubuh atletisnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp melihat ada nomor masuk dari orang ketemuan dengannya di kafe beberapa hari lalu.
Rencana awal berhasil tuan
Oke lanjutan ke rencana kedua pastikan tidak ada yang tahu siapa kamu, ketika menjalankan misi.
__ADS_1
Baik tuan
Sean menarik sudut bibirnya senyuman penuh arti tercetak jelas. Ia bahagia karena rencana awalnya berhasil jadi menurutnya kini rencana selanjutnya akan menjadi mudah terlaksana.
Antariksa menyingit binggung melihat nomor yang tak di kenal menelpon dirinya. Ia kemudian menggeserkan tombol hijau itu dan mengangkat penelpon itu.
"Haloo" ucap Antariksa memulai obrolan.
"Atar" ucap suara sayu itu, suara yang di rindukan oleh Antariksa sejak lama.
Antariksa terdiam kaku, tak mampu berkata-kata ketika mendengar suara yang sangat ingin dengarkan.
"Hallo ini Atar kan?" Ulang penelpon itu ketika tidak mendengar sautan sama sekali.
"Aku nggak salah nomor kan?"
"Chalsea" ucap Antariksa gugup, membalas suara gadis itu.
"Kamu masih ingat aku, syukurlah" ucap suara penelpon itu bernafas lega.
"Aku rindu kamu, Tar udah lama aku cari nomor kamu akhirnya ketemu" ucap gadis itu lagi dengan gembira.
"Aku juga rindu kamu" ucapnya hangat.
"Tar maafin tutt tuttt".
"Hallo Ca?"
"Ca kamu bisa denger aku nggak?" Ucap Antariksa mendengar telpon gadis itu putus-putus.
"Atarrrrr tuttt" telpon itu tidak tersambung lagi, Antariksa mencoba menelpon gadis itu lagi namun nihil tidak ada sautan suara gadis itu yang ada malah suara operator telepon.
Chalsea Verorina
******
"Emangnya hari ini Lo udah boleh pulang lley?" Tanya Yudhis mendapati Alleysa yang memasukan beberapa baju, ke dalam tas sekolahnya.
"Udah kok dokter bilang gue udah boleh pulang" ucap gadis itu antusias.
"Ya kan tar!" Ucap Alleysa lagi ketika melihat Antariksa yang baru menutup knop pintu masuk kedalam bangsal.
"Apa?" Ucapnya dingin.
"Apa? Oh aku udah boleh pulang kan?" Tanya Alleysa pada Antariksa. Gadis itu merasakan perubahan wajah Antariksa yang terkesan dingin.
"Lo jadi kan ngater gue?".
"Apa?" Ucap Antariksa yang tidak mudeng dengan pertanyaan gadis itu.
"Lo jadi kan ngater gue pulang?" Ulangnya lagi.
Antariksa menganguk, "Lo kenapa Tar?" Ucap Yudhis yang menyadari perubahan wajah Antariksa sewaktu masuk ke dalam bangsal.
"Gue ngga papa kok" ucapnya lagi berpura-pura menutupi semuanya.
"Yakin?" Tanya Alleysa kepo.
"Yakin Alley, udah ah nggak usah interogasi gue gitu" katanya sambil mengacak-acak rambut gadis itu.
.......
__ADS_1
"Thanks ya Tar, makasih buat semuanya Lo selalu ada buat gue dan selalu jaga gue" ucap gadis itu sambil tersenyum manis ke arah Antariksa yang duduk di depan kursi kemudi.
"Gue yang seharusnya makasih, beruntung di kasih amanah Tuhan buat jagain gadis cantik kayak Lo" ucap Antariksa.
"Lo ngegembelnya".
"Bukan ngebucin Alley" ucapnya lagi.
"Oh ngebucin, jadi Abang Atar budak cinta" ledeknya lagi.
"Ngga malu jadi budak cinta?" Tanya Alleysa.
"Jadi budak cinta kamu aku ngga papa kok" lanjutnya.
"Udah deh jadi melting aku mah" tolak Alleysa.
"Hahah" mereka tertawa bersama-sama geli akan akting mereka yang menghibur mereka sendiri.
"Lley" panggil Antariksa pada gadis itu, Alleysa si empu menoleh ke arah Antariksa matanya menatap mata zamrud milik Antariksa, mata yang sangat indah di pandang. Mereka saling menatap tanpa sadar Antariksa sudah memajukan wajahnya beberapa centimeter di depan gadis itu. Bagai terhipnotis wajah tampan Antariksa gadis itu hanya terdiam menikmati wajah tampan yang di berikan tuhan itu.
Wajah Antariksa semakin mendekat. Hingga nafas mereka pun saling terdengar, Alleysa memejamkan matanya membiarkan apa yang di lakukan Antariksa padanya nanti.
1
2
3
"Ada daun di pinggir rambut Lo" ujar Antariksa tangannya mengambil daun kecil di pinggir rambut Alleysa.
Gadis itu membuka matanya malu itulah definisi yang tepat untuk mewakili keadaan Alleysa saat ini. Bisa-bisanya dia berpikir bahwa Antariksa akan menciumnya tadi seperti kejadian di Danau itu.
"Oh daun gue pikir tadi Lo mau ngapain" ucapnya asal.
"Tunggu, ngapain?" Ulang Antariksa.
"Ehhh nggak kok" ucapnya kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mikir apaan Lo hah?" Ucapnya lagi meledek.
"Mikirin apa hayo Alley?" Godanya.
"Pasti mikirin anu ya?" Selidiknya sambil terkekeh.
"Mikirin apa? Jorok nggak lah enak aja. Udah ah Atar gue pulang dulu" ucap Gadis kesal di ledek Antariksa sesaat ia hendak membuka pintu tangannya di tarik oleh Antariksa.
Bukk
Tubuh Alleysa tertindih di atas tubuh Antariksa. Tangan Antariksa melingkar di pinggang Alleysa dan kepalanya bersembunyi di balik ceruk leher gadis itu.
"Atar" panggil gadis itu, berusaha melepaskan pelukannya.
"Lley, Lo tau nggak?" Ucap Antariksa masih memeluk gadis itu tanpa berniat melepaskan pelukan itu.
"Apaan dari tadi Lo aja belum bilang?".
"Lo itu kiriman tuhan terindah buat gue, karena Lo hidup gue berwarna. Gue akan berusaha menjadi pangeran yang terus melindungi Lo nantinya".
Alleysa melepaskan pelukannya. Ia bangkit dan duduk di bangkunya matanya menatap intens ke arah Antariksa, sambil tersenyum ia berkata "makasih Lo udah mau jadi pangeran pelindung gue Atar" ujarnya.
"Kalo semisalnya pangeran pelindung Lo ini suka sama Lo gimana lley?" Tanya Antariksa pada gadis itu membuat Gadis itu terdiam seketika mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1