Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 24 Kenapa Bisa?


__ADS_3

Alleysa duduk bandara menunggu keberangkatan pesawat nya ke Indonesia. Tanpa di ikuti oleh para bodyguard suruhan ayahnya ia pulang kampung Indonesia menaiki pesawat dengan kelas ekonomi untuk pertama kali.


Ia berjalan menuju kabin penumpang dengan lesu karena habis menangis. Duduk di kursi yang berdekatan dengan banyak penumpang lainnya, ia harus terbiasa.


Setelah menempuh 8 jam perjalanan ia merasa kantuk menyerang dirinya. Namun ia berusaha untuk tidak tertidur saat ini ia melihat jam di pergelangan tangannya pukul 1 dini hari. Ia tak memilih pulang ia duduk di bangku arrival bandara internasional Soekarno-Hatta tanpa berniat menelpon bodyguard ya meminta jemputan karena ia pulang ke Indonesia.


"Lo nggak bilang **** mau balik ke Jerman" ucap Antariksa mengantar sahabatnya yang paling menyebalkan sikapnya namun paling ia rindukan.


"Gue cuman bentar Tar nungguin bokap gue yang sakit di sana ntar juga gue balik lagi kok" ucapnya berusaha tuk tersenyum meskipun ia khawatir bahwa apakah ayahnya akan baik-baik saja di sana?.


"Awas aja Lo nggak balik!".


"Eh yud Lo ngga mau nyamepein salam perpisahan buat gue gitu?" Ucap Hendrik menggoda.


"Gak, udah buruan pesawat Lo usah take off itu" ucapnya lagi.


"Asu anjay di usir gue" ucapnya kesal.


"Hahah yaudah sono Lo nggak usah pakek acara salam perpisahan *****".


"Yaudah gue berangkat bye-bye sahabat gue jangan rindu ingat kata dilan rindu itu berat" ucapnya mengombal.


"Anjay udah sono" kata Antariksa kesal.


"Berisik ****" umpat Yudhis.


Setelah kepergian Hendrik, mereka berjalan meninggalkan ruang deprature. Sesaat itu tak sengaja netra Antariksa Melihat seorang gadis yang tengah menyandarkan kepalanya di pada kepala bangku panjang dengan kaki di lekuk dan rambut menjuntai Antariksa tak yakin bahwa gadis yang tengah tidur di bandara itu adalah gadis yang ia kenali karena wajahnya tertutup oleh rambut itu sendiri.


"Tar kuy balik udah kemalaman kita" ucap Yudhis.


"Lo duluan aja Yud gue masih ada urusan" ucap Antariksa masih fokus melihat gadis itu.


"Emangnya mau ngapain Lo malem kayak gini?" Tanya Yudhis namun tak di gubris oleh Antariksa. Pandangan Yudhis mengikuti arah pandang Antariksa sesaat ia tahu bahwa sahabatnya itu telah memperhatikan gadis yang tertidur itu.


"Oke gue duluan, ntar nyokap gue ngomel panjang lebar lagi" ucapnya kemudian menepuk bahu Antariksa pergi meninggalkan pria itu sendirian.


Antariksa berjalan mendekati gadis itu, ia memandangi gadis itu dengan jarak dekat. Kemudian tak merasa ada pergerakan gadis itu ia duduk di bangku sebelah gadis itu.


Tangannya menepuk bahu gadis itu berniat membangunkannya. Merasa terganggu dalam tidurnya gadis itu mendogakkan kepalanya melihat siapa yang menganggu dirinya sesat tidur itu.


Netranya tak sengaja melihat wajah familiar yang selama beberapa hari ini tidak ia lihat.


"Alleysa" ucap pria itu kaget karena feelingnya benar bahwa gadis yang tidur di ruang arival itu adalah Alleysa namun tunggu kenapa gadis ini tidur disini bukannya di masih di California selama lebih dari 10 hari karena kakeknya belum melaksanakan tahlilan 7 hari.


"Atar" ucap gadis itu terkejut melihat Antariksa berada di depannya sekarang.


"Lo kok disini?" Tangannya heran kenapa Antariksa berada di bandara pukul 1 dini hari.

__ADS_1


"Seharusnya yang nanya kayak gitu gue deh bukan Lo? Emangnya Lo ngapain disini jam segini? Lo baru balik dari California?" Tanyanya.


Gadis itu terdiam tak bersua ia tak mampu menceritakan luka yang membuat nya seperti ini sungguh sakit bukan.


Antariksa yang menyadari perubahan wajah gadis itu yang semakin murung ia kemudian mengambil koper gadis itu dan tangan gadis itu menggengam nya.


"Yuk gue anterin udah malem, pasti bodyguard Lo nggak jemput" ucapnya kemudian gadis itu menganguk dan mereka berjalan menuju mobil Antariksa.


"Tar" panggil gadis itu saat mereka telah berada di dalam mobil BMW hitam milik Antariksa.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Makasih" ucap gadis itu tulus.


"Makasih buat apa?" Tanyanya heran dengan maksud gadis itu.


"Buat semuanya, makasih udah mau jadi pangeran buat gue" lanjutnya.


"Gue yang seharusnya makasih, karena Lo udah ada di dalam hidup gue lley" ucapnya sambil tersenyum simpul. Gadis itu merasakan jantungnya kini mulai berdegup kencang. Entah kenapa saat Antariksa menatap dirinya seintens dan tersenyum simpul seperti itu jantungnya berdegup kencang dan sesaat Antariksa berterima kasih kepadanya ia bahagia seolah-olah banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


******


Sean yang merasa tidurnya terganggu malam ini mengambil ponsel di atas nakas sebelah kasurnya. Menghidupkan lampu tidur dan melihat siapa penelpon yang meneleponnya di pagi hari seperti ini.


"Om Alfandi" ucapnya kaget membaca nama penelpon itu. Buru-buru ia mengeser tombol hijau itu dan mengangkatnya.


"Sean, om boleh minta tolong nggak?" Ucap suara dari sebrang sana.


"Ada apa om?".


"Alleysa minggat dari rumah, sekarang dia sedang melakukan penerbangan pulang ke Indonesia. Kata bodyguard di Mansion Indonesia Alleysa belum pulang dari tadi. Seharusnya dia sudah pulang karena om sudah cek jadwal kepulangan jam 12 dini hari. Om minta tolong kamu cariin Alleysa bisa" ucapnya lagi.


"Baik om".


"Kalo begitu terima kasih".


"Sama-sama".


Tut


Panggilan itu di akhiri, Sean mendengus kesal Alleysa gadis itu sungguh merepotkan dirinya. Namun ia heran selama ini Alleysa adalah gadis yang selalu menuruti perintah orang tuannya dan gadis yang takut bila bepergian sendiri namun kenapa gadis itu sekarang bisa seberani itu?.


Ia tak mau memusingkan hal itu, dengan segera Sean mengambil jaket lemarinya dan kunci mobil di atas nakas mencari gadis yang merepotkan dirinya itu.


"Lo udah makan?" Tanya Antariksa melihat gadis itu dari tadi memegangi perutnya seperti menahan lapar.


"Udah kok" ucapnya berbohong. Karena sudah seharian ia belum mengisi perutnya.

__ADS_1


Antariksa berjalan menuju salah satu restoran cepat saji. Gadis itu menyingit binggung kenapa Antariksa malah berhenti disini?.


"Gue nggak laper Tar" ucapnya.


"Gue yang laper, udah yuk temenin gue makan" titah Antariksa.


Akhirnya dengan amat terpaksa Alleysa ikut turun dari mobil, berjalan masuk kedalam restoran cepat saji yang menyajikan makanan berjenis junk food. Ya karena kalian tahu lah jam 1 pagi mana ada restoran biasa yang buka 24 jam.


"Saya pesan burger ukuran jumbo 2 dan freech rese serta pespsi nggak dingin 2" ucapnya kepada kasir pemesanan.


"Baik tunggu sebentar tuan".


Setelah pesanan mereka diambil oleh Antariksa mereka duduk di dekat jendela kaca transparan Antariksa yang dengan cekatan membuka bungkus kertas yang membalut burger itu. Dan memotong burger itu menjadi beberapa potong dengan pisau. Ia cukup tau Alleysa tipe gadis yang seperti apa, jika ia makan memiliki gaya atau cara makan yang elegan. Meskipun terkadang dirinya lah yang menyuruh Alleysa makan mengunakan tangan namun ia juga masih memiliki cara elegan dalam makan seperti itu sungguh anggota ia asli anggota kelas atas yang hidupnya memiliki sejumlah aturan yang ketat.


"Makan gih" ucapnya menyodorkan garpu ke arah gadis itu.


"Gue nggak laper Tar" ucapnya lesu.


"Gimana nggak laper Lo udah terbang dari Amerika ke Indonesia 8 jam lebih, dan Lo bilang nggak lapar. Liat wajah lo lley setidaknya kalo Lo banyak masalah Lo harus banyak makan biar Lo bisa selesain masalah Lo" ucapnya memperingati.


Akhirnya dengan amat terpaksa gadis itu mengambil garpu dari tangan Antariksa, ia menusuk burger yang telah di potong itu tanpa minat sedikit pun. Memakannya asal Antariksa berhenti mengocehi dirinya.


Melihat Alleysa yang mengambil makanan dengan amat terpaksa Antariksa diam-diam mengulum senyuman. Gadis itu terlihat lucu jika sedang kesal.


"Lo dimana sih lley?" Ucap seorang pria yang frustasi mencari keberadaan gadis itu, ia sudah memerintahkan para orang suruhan papanya mencari keberadaan gadis itu di bandara memeriksa semua cctv-nya.


Dreet


Ponsel Sean berbunyi, ia memasang earphone di telinganya. Menekan tombol hijau dengan pandangan sambil memegang stir mobil.


"Hallo tuan Sean".


"Ada apa Andre?".


"Kami telah memeriksa Cctv bandara internasional Soekarno-Hatta, di pintu tunggu arrival kami melihat nona Alleysa duduk disana, kemudian di hampiri oleh seorang pria berbaju putih polos".


"Kalian bisa lihat wajahnya?".


"Tidak tuan, kameranya tidak menjangkau wajah itu cuma dari jauh saja" lanjutnya.


"Shit, kalo begitu telusuri juga Cctv depan bandara, parkiran bandara dll lacak kendaraan yang membawa Alleysa pergi" ucapnya kesal.


"Baik tuan".


Tutt


Sean meremas stir mobil amarah memuncak dalam dirinya, gadis itu pergi entah kemana. Ia harus menemukan Alleysa jika tidak orang tuannya akan marah apalagi keluarga gadis itu sangat percaya padanya.

__ADS_1


"Merepotkan" ucapnya kesal kemudian melaju mencari gadis itu kemana pun.


__ADS_2