Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 21 – DUNGEON TERSEMBUNYI bag. 1


__ADS_3

“Ukh.”


“Kamu sudah sadar, Arno?”


Dalam pandangannya yang semula buram yang kian semakin jernih, wajah Viar yang tersenyum ramah padanya-lah yang pertama kali didapati oleh Arno.


Menyaksikan hal itu, raut wajah Arno sedikit mengusut.


“Ah, maafkan aku, Viar. Lagi-lagi aku melakukan sesuatu yang pushover ya.”


Viar tidak marah dan tidak pula membentak Arno atas perkataannya itu, namun itu pulalah yang membuat Arno semakin merasa bersalah pada Viar yang telah dia ketahui benar sifat pemarahnya.


Viar justru tersenyum.


Dan setelah memastikan bahwa kondisi Arno baik-baik saja, dia segera berdiri.


“Apa yang kamu minta maafkan? Kamu tidak salah apa-apa kok, Arno bodoh.”


“Ah, maaf. Kamu benar-benar marah ya, Viar.”


“Aku benar-benar tidak marah lagi kok.”


Senyum Viar itu segera lekang dari wajahnya yang diikuti oleh suatu ekspresi suram.


“Justru jika ada yang harus meminta maaf, itu aku, Arno bodoh.”


“Viar?”


“Karena kecerobohanku, aku berkali-kali menyeretmu dalam bahaya.”


“Ah, tidak sama sekali kok. Hehehehehehehe.”


Arno berusaha tertawa bodoh khasnya untuk memecah suasana, namun itu sama sekali tidak merubah ketegangan di wajah Viar.


“Berapa kali pun kuminta kau untuk sedikit saja mengutamakan nyawamu, tampaknya itu percuma saja, jadi ada sedikit rasa di dalam diriku untuk menyerah saja akan hal itu.”


“Viar?”


“Lagipula berkat kau, peluangku untuk selamat dari kutukan banshee ini bertambah dua kali lipatnya.”


“Viar?”


“Tapi itu bukan berarti aku tidak frustasi.”


“Aku malah menyeretmu ke dalam masalah yang kuperbuat, Arno bodoh.”


Arno bukanlah orang yang bodoh.


Itu sebabnya dia paham benar apa yang dimaksudkan oleh Viar.


“Tidak apa-apa kok, Viar. Sebagai sahabat sudah sewajarnya kita saling membantu…”


“Itu sama sekali tidak wajar, dasar bodoh!”


“Viar?”


“Jika itu aku, aku pasti sudah akan meninggalkanmu untuk menyelamatkan diriku lebih dulu, dasar bodoh! Aku tidak sebodoh itu untuk mengorbankan nyawaku yang berharga ini hanya demi teman!”


Mendengar jawaban Viar, Arno tidak sedih dan tidak juga kesal.


Sedari awal dia sama sekali tidak mengharapkan balasan apa-apa dari sikap altruismenya itu.


“Semuanya akan baik-baik saja. Lagian kita pasti bisa mengatasi hal ini.”


“Hah.”


Mendengar pernyataan percaya diri Arno itu, Viar hanya dapat menghela nafasnya.


“Itu benar.”

__ADS_1


Seperti yang dikatakannya di awal, Viar telah lama menyerah akan sikap pushover Arno yang tak kunjung dia temukan obatnya itu.


“Tiada gunanya membahas yang sudah terjadi.”


“Yang terbaik yang bisa kulakukan sekarang hanyalah takkan kubiarkan siapapun di antara kita yang akan menyesali keputusan yang kita buat saat ini.”


“Yang mesti kita lakukan hanyalah memusnahkan kutukan banshee-nya saja sebelum masa waktunya habis.”


“Syukurlah Anto di luar sana sudah melakukan pekerjaannya dengan baik.”


“Jadi, Arno bodoh, maukah kau mendukungku dengan keahlian berpedangmu yang elegan itu?”


Serasa segala penat di hati Arno terbebaskan.


Viar membutuhkannya.


Dan itu membuat hatinya terasa sangat lega.


Arno pun menjawab dengan senyum cerahnya.


“Tentu saja, Viar.”


“Akan kulindungi kau apapun yang terjadi.”


“Heh, tapi aku tak lagi butuh perlindunganmu, Arno bodoh, karena aku pastikan kini bisa melindungi diriku sendiri.”


“Hahahahahaha. Tentu saja, Viar. Tapi apa-apaan dengan Arno bodoh yang terus-terusan kau ucapkan itu? Hatiku sakit nih mendengarkannya.”


“Itu karena kau memang bodoh, dasar Arno bodoh, si bodoh yang suka mengorbankan dirinya sendiri.”


“Orang paling pushover di seluruh dunia yang tidak lagi ada obatnya.”


“Hahahahaha.”


Viar mengambek, namun Arno yang telah terbiasa dengan sifat pemarah Viar itu justru melihatnya terkesan lucu yang membuat Arno malah tertawa.


Baik Viar dengan skill detection-nya maupun Arno dengan aura pedangnya, segera mampu mendeteksi keberadaan shinigami kecil pembawa kutukan banshee tersebut yang sedang berlari kencang ke arah mereka lantaran Anto yang memancingnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Viar bersalto dengan lincah melemparkan kedua pedang pendek di kedua tangannya untuk menghancurkan kepala sang shinigami kecil yang hanya seukuran badan Anto itu.


Namun justru perihal ukurannya yang hanya setinggi sejengkal lengan manusia, pergerakannya jadi sangat lincah dan mampu menghindari kedua lemparan pedang pendek Viar itu dengan sangat baik.


Namun itulah semula rencananya.


Tepat di mana shinigami kecil itu mendarat, Arno telah menunggunya dengan serangan pedang auranya.


Namun, lagi-lagi semuanya tidak berjalan dengan mulus.


Tanpa diduga-duga oleh mereka, muncul musuh lain di dalam dungeon tersembunyi itu.


Itu living armor dengan besar dua kali ukuran manusia, lantas itu berhasil mendaratkan serangannya secara telak kepada Arno.


“Ukh.”


“Arno!”


-Trang, klung, tang.


Viar melemparkan pisaunya yang tersisa dengan lincah untuk mengurangi momentum serangan sang living armor sembari Anto menyelamatkan Arno melalui jurus bayangannya.


Viar segera menyeret Arno ke belakang lantas melarikan diri dari tempat tersebut secepat mungkin dengan memanfaatkan Anto sebagai umpan.


“Ukh.”


“Arno, tenanglah. Nanti lukamu akan semakin terbuka. Saat ini mari kita balut seadanya dulu agar tidak infeksi. Syukurlah Anto membawa beberapa obat pertolongan pertama di dalam bayangan.”


“Andai saja…”


“Apaan? Sudah kubilang kamu diam saja dulu, dasar Arno bodoh! Saat ini Anto berusaha mati-matian soalnya menyembunyikan keberadaan kita dari monster itu. Kalau kamu sebagai penyerang utama sampai terluka, mana bisa kita mengalahkan monster itu?”

__ADS_1


“Mo… monster itu ti… tidak ada ap… apa-apanya.”


“Aku bi… bisa merasakan keahlian berpedangnya ti… tidak ada apa-apanya.”


“Andai saja aku ti… tidak terluka.”


Suara Arno terdengar samar dengan nafasnya yang terengah-negah menahan rasa sakit dari tebasan sang monster.


Namun Viar segera mengerti apa yang baru saja ingin disampaikan oleh Arno.


Arno frustasi karena dirinya telah lengah di saat yang tidak seharusnya.


Padahal itu bukanlah monster yang seharusnya menyulitkannya dengan keahlian berpedangnya yang brilian.


“Vi… Viar, kuyakin ka… kau juga bi… bisa mengalahkannya.”


“Aku bisa merasakannya de… dengan aura berpedangku.”


“Api hi… hitam di tengah da… dadanya itulah pusat ke… kehidupannya.”


“Selama itu bisa dipadamkan, mo… monsternya juga akan lenyap.”


Dalam nafas yang terbatas, Arno tetap berupaya menyampaikan potongan informasi yang paling penting untuk Viar.


Di saat itulah Viar tersadar mengapa semenjak memasuki dungeon tersembunyi, kemampuan rahasia yang selama ini disegel oleh sistem tersebut kembali teraktifkan.


Semula, Viar menduga bahwa itu adalah bug yang terjadi perihal hal yang tak terduga juga terjadi.


Namun, jikalau demikian, sedari awal pasti Viar sudah kehilangan kontak dengan Sistem atau minimal komunikasi mereka akan sedikit terganggu.


Nyatanya, sang Sistem bisa memberikan misi dengan sangat jelas kepada Viar, misi selamatkan Arno.


Sedari awal, si Sistem sialan menurut Viar itu pasti telah merencanakannya dan memberikan Viar kesempatan itu saat ini untuk mengeksekusi rencana tersebut.


“Hei, bagaimana bisa aku yang tidak punya skill berpedang sehebat kamu bisa mendekati monsternya?”


“Yang terbaik yang bisa kulakukan adalah melempar pisau atau menahan serta menangkis serangan biasa saja.”


“Itu bukan di level aku untuk melakukannya.”


“Maafkan aku, Viar.”


Sayangnya setelah mengucapkan satu kalimat terakhir tersebut, Arno jatuh pingsan.


“Dasar bodoh!”


“Itulah mengapa aku terus-terusan memanggilmu bodoh.”


“Kau terlalu mudah mengucapkan kata maaf padahal jelas-jelas kau tidak bersalah!”


“Aku yang justru minta maaf, Arno.”


“Hanya ada satu cara bagi kita keluar dari sini hidup-hidup, yakni aku bisa menggunakan kemampuan berpedangmu yang hebat itu.”


Viar pun menatap papan Sistem-nya di udara.


Skill: [ikatan darah], [stealth], [cut], [detection]


Skill ikatan darah yang selama ini terkunci oleh Sistem telah teraktifkan kembali sejak memasuki dungeon tersembunyi tersebut.


“Biarkan aku menjadikanmu sebagai salah satu familiarku, Arno.”


Dan Viar pun mulai menjilati leher Arno lantas gigi taringnya menajam.


Viar dengan segera memasukkan gigi taringnya yang tajam itu ke kulit putih bersih di leher Arno.


Viar pun mulai mengisap darah Arno dan skill ikatan darah itu akhirnya teraktifkan.


Bakat bawaan game milik Arnoria Rosechild mulai tertransfer ke tubuh Viar.

__ADS_1


__ADS_2