Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 31 – SEORANG KUAT YANG DIRUNDUNG bag. 3


__ADS_3

“Ah! Tidak! Hentikan!”


Sore itu, aku tiba-tiba mendengar suara teriakan histeris Kak Dahlia.


Aku bergegas meninggalkan latihanku untuk segera mengecek apa yang sedang terjadi padanya.


“Ada apa, Kak?”


Namun tidak ada jawaban darinya.


Tubuhnya hanya meringkuk sambil gemetaran ketakutan.


Begitu kumelirik di depan, salah seorang tukang kebun kami telah memegang sebuah gunting kecil di tangannya.


Tampaknya itulah pemicu trauma Kak Dahlia.


“Aden, saya juga tidak tahu apa-apa mengapa Nona Dahlia tiba-tiba berteriak histeris begitu. Ini bukan kesalahan saya, Aden.”


Sambil ikut gemetaran ketakutan, Pak Tukang Kebun memberikan alasannya.


“Tampaknya, Bapak masih baru ya kerja di sini. Lain kali jangan bawa gunting lagi saat di dekat Kak Dahlia ya Pak.”


“Baik, Den.”


“Ya sudah, Bapak boleh pergi sekarang.”


Suatu ketika Arno pernah cerita padaku.


Di sekolah dasarnya, ada seorang anak kecil yang merasa iri dengan kecantikan Kak Dahlia.


Dia pun memanggil temannya bareng-bareng untuk mengerjai Kak Dahlia.


Salah satunya adalah dengan menggunakan objek gunting.


Rambut Kak Dahlia dibotaki lantas pelipisnya dilukai yang sampai sekarang masih menimbulkan bekas luka.


Kejadian yang hanya berlangsung selama kurang dari setengah hari, tetapi menimbulkan bekas luka yang bahkan belum sembuh sampai sekarang.


Bukan luka fisik, melainkan luka mental.


Aku telah mencatat nama-nama pembuli itu baik-baik di benakku.


Mereka jelas masuk dalam salah satu list balas dendamku sebelum aku menghancurkan umat manusia.


Tidak lama kemudian, ayah Arno pun, Pak Lehman, baru saja tiba dari kantornya.


“Oh, Arnoria. Kudengar kamu menawarkan seorang rakyat jelata posisi sebagai anak buah keluarga kita. Kamu tentu punya alasan yang baik untuk merekrut anak yang tampak biasa-biasa saja di dalam posisi prestige itu kan? Aku percaya pada keputusanmu, putraku, jadi jangan kecewakan Ayah.”


Sambil menepuk pundakku, dia hanya berkata demikian lalu langsung hendak berlalu begitu saja.


“Hei, Ayah. Itu saja kah yang ingin Ayah katakan?”


“Hmm. Tenang saja, putraku. Aku percaya pada tiap keputusanmu karena selama ini kamu tidak pernah mengecewakan Ayah.”


“Bukan itu, dasar Ayah biadab!”

__ADS_1


Tatapanku marah padanya.


Aku tahu Arno yang asli tidak akan mungkin berekspresi seemosional ini.


Hanya saja… Hanya saja, aku tidak tahan dengan dinginnya sikapnya sebagai seorang ayah.


“Tidakkah Ayah melihat kondisi Kak Dahlia saat ini?”


“Memangnya apa yang terjadi pada putriku?”


Dengan tatapan bingung tanpa merasa bersalah dia justru balik menunjukkan ekspresi tanda tanya seolah benar-benar tidak mengerti akan letak kesalahannya di mana.


“Ah, apakah pelayanan yang diberikan para pelayan di rumah kurang ya? Nanti akan Ayah sampaikan kepada kepala pelayan untuk meningkatkan pelayanan mereka kepada Dahlia.”


Hanya itukah yang bisa dipikirkan oleh ayah biadab ini?


Bukankah dia itu mantan aktor nasional jadi seharusnya lebih mengerti dengan emosi manusia?


Atau apakah saking beragamnya ekspresi manusia yang dipelajarinya, dia tak sanggup lagi membedakan bagaimana ekspresi kesakitan itu?


“Bukan itu, Ayah.”


“Hmm?”


“Trauma Kak Dahlia baru saja kambuh.”


“Dilihat dari gejalanya, tampaknya memang demikian. Itulah sebabnya mengapa Ayah menyuruh kepala pelayan untuk meningkatkan lagi pelayanannya kepada Dahlia agar pikirannya segera dapat lebih tenang.”


“Ayah, aku memang belum pernah merasakan yang namanya jadi Ayah. Tapi aku pun tahu kalau di situasi seperti ini sebelum Ayah meminta kepala pelayan meningkatkan pelayanannya, Ayah seharusnya menanyakan terlebih dahulu keadaan Kak Dahlia seperti apa.”


Ada apa dengan jalan pikiran orang ini?


Inikah yang disebut seorang ayah di dunia manusia ataukah hanya ayah Arno saja yang memang lain daripada yang lain?


Bukan begitu kan seharusnya?


Dahulu sekali, aku pun punya seorang ayah yang menyayangiku.


Walau demikian sebagai seorang vampir, aku terkadang iri dengan bangsa manusia yang mempunyai baik ayah maupun ibu.


Berbeda dengan manusia, seorang vampir tidak punya seorang ibu.


Seperti yang telah kalian ketahui, ada dua jenis metode perkembangbiakan kami bangsa vampir, yakni secara vegetatif dan secara generatif.


Secara vegetatif, tak lain adalah dengan melalui metode ikatan darah, namun hanya bisa dilakukan oleh vampir dari keturunan langsung.


Secara generatif, yakni dengan berhubungan badan.


Sayangnya, keturunan tidak langsung, termasuk para wanita dari keturunan langsung dari bangsa vampir kehilangan kesuburan mereka.


Satu-satunya yang dapat berkembang biak secara generatif hanyalah dari keturunan langsung dari kaum pria.


Namun tidak mungkin antara sesama pria saling berhubungan badan untuk menghasilkan benih.


Satu-satunya jalan adalah kami memanfaatkan buah telur dan rahim dari spesies lain untuk melanjutkan keturunan kebangsawanan kami atau dengan kata lain keturunan langsung.

__ADS_1


Itulah sebabnya bahkan jenis spesies apa ibuku, aku sama sekali tidak tahu.


Namun mengingat sifat Ayah yang selalu takjub akan spesies manusia, kuyakin bahwa baik Kakak maupun aku dilahirkan dari rahim seorang ibu berspesies manusia.


Walaupun hanya punya seorang ayah, tetapi Ayah sangat menyayangiku sehingga sewaktu kecil, aku tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah.


Walaupun semuanya pula berlalu sangat cepat di mana hidup ayahku harus berakhir di tangan para vampire hunter di usiaku 7 tahun, setidaknya aku memiliki kenangan kasih sayang seorang ayah yang begitu berharga.


Walau demikian, aku tetap iri dengan bangsa manusia yang memiliki lengkap keduanya baik ayah maupun ibu.


Namun tampaknya itu tidak lagi sejak aku mengenal ayah Arno.


“Lagian, kamu yang selalu dilindungi oleh kehangatan keluarga, mana bisa mengerti penderitaanku ini.”


Kata-kata Abel Lundoln seketika kembali bergema di dalam kepalaku.


Kehangatan keluarga?


Jangan bercanda!


Keluarga ini memang kaya dan berkuasa, namun tidak hangat sama sekali.


***


Beberapa hari telah berlalu sejak aku melatih Abel untuk menjadi swordsman yang andal.


Aku sebenarnya berpikir bahwa Abel akan lebih cocok menjadi seorang fighter sejak dia adalah seorang keturunan werewolf yang ketika terbangkitkan akan memiliki fisik yang luar biasa, namun orangnya sendiri tampak sangat menentangnya.


Setelah berembuk panjang lebar, akhirnya kami bersepakat saja dengan job swordsman dengan alasan bahwa dia juga mantan player swordsman di sekolahnya dulu.


“Arno, apa benar-benar tidak apa-apa aku melakukannya?”


“Ada apa memangnya? Bukankah kepala sekolah kita juga telah menyetujuinya?”


“Tapi aku dapat beasiswa di sekolah ini sebagai calon mage.”


“Nyatanya kamu belum bisa belajar satu mantra sihir pun, bukan?”


“Ukh.”


“Itu karena kamu sama sekali tidak berbakat menjadi mage, tapi seorang magic swordsman.”


“Sama seperti Julian? Dan darimana kamu tahu hal itu?”


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Abel itu bahwa dia sejatinya adalah keturunan werewolf.


Vampir dan werewolf adalah musuh bebuyutan yang secara insting bisa merasakan hawa keberadaan masing-masing.


Jika Abel sadar dirinya adalah werewolf, maka akan berbahaya bagiku untuk tetap bisa menyembunyikan identitasku sebagai vampir di hadapannya.


“Hei, teman-teman! Apa yang kalian lakukan di bawah pohon berduaaa? Aku ikutan doooong!”


Baru saja namanya disebut, orangnya benar-benar datang.


Dialah si slenge’an Julian.

__ADS_1


__ADS_2