Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 56 – SEORANG VALIA TAK BOLEH DIREMEHKAN


__ADS_3

“Wow, dunia rasanya berputar.”


Dan aku pun jatuh pingsan.


“Arno!”


“Tuan Muda Arno!”


Bahkan Julian yang sedari tadi sedang asyik-asyiknya bermain sepatu terbang, segera berlari kembali ke permukaan saking mencemaskannya ekspresiku yang sangat tak berdaya kala itu.


Namun, yang pertama kali menggapaiku adalah Abel yang berada pada ketinggian lebih rendah daripada Julian.


Rutiliana ikut bergabung dalam kerumunan itu sembari memberikanku secangkir potion anti mabuknya.


Berkatnya, perasaanku agak sedikit membaik.


“Huh, kukira kamu sangat malas sampai tidak bisa menonton pameran membosankan ini. Nyatanya kamu malah bersenang-senang sampai kehilangan stamina.”


Dengan ekspresi juteknya yang seperti biasa, Rohana Mabbell tiba-tiba mengajakku bicara di kala pikiranku itu belum pulih sepenuhnya dari pening.


Jikalau kepalaku sedang tidak berkunang-kunang, aku pasti sudah akan membalas hinaannya itu.


Tetapi si Rohana Macbell itu malah tertawa cekikikan di belakangku menertawakan kekikukanku dalam bermain sepatu terbang karena masih rendahnya dexterity-ku.


“Tapi itu tidak buruk juga.”


Rohana Macbell sekali lagi berucap dengan senyum aneh di bibirnya.


Entah mengapa kali itu, senyum yang ditujukan oleh Rohana Macbell padaku tidak terlihat lagi sebagai suatu ejekan.


“Hei, Arno. Bukankah ketangkasanmu terlalu rendah? Bagaimana kalau liburan semester nanti kamu main di rumahku? Aku tahu tempat latihan yang baik untuk melatih ketangkasanmu.”


Julian menawarkan hal itu padaku.


Jujur, aku sedikit tertarik setelah melihat ketangkasan Julian.


Kemungkinan besar bahwa tempat latihan yang dikatakan oleh Julian itu memang baik, terbukti bahkan Julian yang slenge’an pun bisa berakrobatik di udara dengan mudahnya.


Namun setelah kupikir-pikir, apa itu benar-benar tidak mengapa?


Kalau berbicara soal tempat Julian tinggal, itu berarti juga merupakan rumah Presiden Indonesista saat ini, Sam Gerfinda.


Tidak, bukan itu yang penting.


Aku tahu berdasarkan laporan dari keluargaku bahwa Julian tidak memperoleh perlakuan yang mengenakkan di rumahnya, mungkin karena rumor anak haram tersebut.


Itulah sebabnya kini dia dibuang ke akademi ini untuk mencari masa depannya sendiri dengan menjadi seorang hunter.


Aku hanya tidak ingin jika kemungkinan terburuk yang kupikirkan sampai terjadi.


Jangan sampai karena berpikir bahwa aku adalah teman Julian, orang-orang di rumahnya juga akan memperlakukan aku dengan kasar sebagaimana mereka memperlakukan Julian.


Terus terang saja, walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga meniru sifat Arno dengan baik, ada kalanya pula aku keceplosan.

__ADS_1


Aku hanya takut bahwa jika itu terjadi, aku secara tidak sengaja akan mematahkan tangan beserta lidah-lidah mereka karena menggosipi aku yang tidak-tidak di belakang, lantas masalahnya bertambah panjang dengan presiden sendiri yang akan turut campur tangan menangani masalahnya.


“Boleh juga. Aku kebetulan liburan nanti belum tahu akan ke mana.”


“Bagus! Yes! Arno, kamu sudah janji ya. Kamu tidak bisa lagi menarik ucapanmu kemudian hari ya.”


Pelas Julian padaku.


Apa yang kupikirkan itu bisa menjadi kemungkinan terburuk, tetapi kini aku bukan lagi Viar yang lemah.


Jika seandainya nanti terjadi sesuatu terhadapku dengan keluarga Gerfinda, meski itu Bapak Presiden sekalipun, Kakek atau Ibu pasti akan berupaya keras untuk menyelamatkan satu-satunya pewaris mereka yang tersisa.


Tentu saja aku tidak boleh terlalu berharap akan hal itu pula karena aku tahu benar bagaimana mereka berpikir dan bertindak.


Jika masalah terlalu besar, maka mereka akan cenderung memotong masalahnya meski itu harus mengorbankan nasib anggota keluarga mereka sendiri.


Lihat saja terhadap apa yang mereka lakukan kepada Kak Dahlia contohnya.


“Tetapi ngomong-ngomong, bukankah semua penemuan alat sihir Rohana Macbell ini terlalu canggih? Bahkan jika disandingkan dengan para senior, tetap tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.”


Bisa kulihat bagaimana Rohana Macbell jadi bertambah panjang hidungnya berkat pujian Julian padanya.


“Benarkah sehebat itu? Bukannya itu karena level akademi kita saja yang masih idiot?”


Aku hanya asal bilang kala itu karena aku tak senang melihat wajah bahagia Rohana Macbell yang dipuji.


Tetapi ketika kumelihat ekspresinya kembali setelah mengatakan itu padanya, aku jadi menyesal.


Dia seketika menunjukkan ekpsresi anak anjing yang ditinggalkan tuannya.


“Tapi yah, mesti kuakui bahwa di antara level para idiot, alat sihir Rohana Macbell memang yang terbaik.”


-Puak.


“Ouch. Apa yang kau lakukan, sialan?!”


“Kalau hanya mau mengejek, lebih baik pergi saja sana! Huuuuuu.”


Dan Rohana Macbell pun benar-benar jadinya menangis.


Pandangan sinis Julian, Abel, dan Rutiliana seketika tertuju padaku.


Jadi, aku orang jahatnya di sini?


Padahal aku hanya bermaksud bercanda.


***


Karena masih ada sekitar setengah jam yang tersisa sebelum malam tiba, aku mencoba melihat stan-stan milik para Senior di area lain.


Namun di luar dugaan, benar-benar sama sekali tidak ada yang menarik yang bisa menandingi level Rohana Macbell.


Tidak, bahkan aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa stan milik Rutiliana pun lebih baik dari milik mereka semua.

__ADS_1


Itu karena para senior selama ini lebih banyak yang berfokus pada cabang swordsmanship dan battle magic.


Sangat jarang ada yang memperhatikan magic item art sebaik angkatan mahasiswa baru kali ini.


Tidak ada yang menarik selama perjalananku mengunjungi stan di area senior sehingga aku pun hanya bergegas kembali ke alun-alun utama stan.


Namun tiba-tiba, perhatianku tertuju pada pengumuman yang ditempelkan di papan pengumuman.


Itu mengenai hasil pertandingan battle magic mahasiswa baru.


Bukanlah nama Jones Alphard sebagai peraih juara satu yang menarik perhatianku.


Kalau dipikir-pikir, itu sudah wajar baginya untuk memenangkan kompetisi itu sebagai pemilik bakat battle magic terbaik di angkatan kami, peraih nomor urut 1A2.


Mungkin, jika kalian lupa, tidak ada satu pun battle mage di kelas S kami.


Melebihi nama Jones Alphard, ada satu nama yang lebih menyita perhatianku yakni salah satu nama peserta yang berhasil menembus delapan besar, pemilik nomor urut 1C19, Valia Alluguinnea, salah satu rekan seperjuanganku pula seperti Erna di peringkat bawah sewaktu aku masih menjadi Viar di SMUT.


Tidak hanya aku dan Erna saja rupanya yang telah berkembang, Valia yang selalu tertutup pun ternyata juga demikian.


***


Padahal aku berniat istirahat seharian hari ini demi menyambut kompetisiku melawan para senior keesokan harinya, akan tetapi rasa penasaranku ditambah ejekan bertubi-tubi Julian yang mengatakan aku sangat kikuk, membuatku akhirnya membuat keputusan yang sama sekali tidak rasional dengan menghabiskan waktuku yang berharga hanya demi bermain sepatu terbang.


Tetapi apa yang telah terjadi tidak bisa disesali lagi.


Aku pun hanya segera bergerak menuju asrama begitu matahari telah benar-benar menghilang dari langit.


Akan tetapi, seolah semuanya bekerjasama untuk tidak membiarkan aku untuk beristirahat sedikit pun, gangguan itu pun kembali datang.


“Ah, syukurlah, Arno. Aku bisa menemukanmu. Cepat, kita harus buru-buru. Kalau tidak, kelas kita akan kena penalti dan nilai di transkrip kita akan terancam dikurangi.”


Kali ini gangguan sekali lagi datang dari Dillya Toxice.


“Hei, memangnya ada apa? Kalau butuh bantuan, bukannya kau harus menjelaskan dulu masalahnya?”


“Itu… Otto mengacau jadwalnya. Para phantom dari lukisannya terbebas keluar ke dunia nyata dan membuat kekacauan di stan alat sihir mahasiswa baru. Tetapi tenang saja, itu sudah ditangani dengan baik sama Alvin dan juga Jeremy.”


“Kalau sudah ditangani dengan baik, lantas apa masalahnya?”


“Itu… Karena ketiga orang itu sekarang sibuk, kini hanya tersisa dua pria di angkatan kita yang bisa menggantikan Otto menjadi perwakilan pria mengikuti lomba seni untuk kelas kita.”


“Apa?”


“Sejak kita tak mungkin menyuruh anak presiden seperti Julian melakukannya, kini yang tersisa cuma kamu, Arno. Tetapi Alvin bilang padaku bahwa kamu adalah orang yang baik yang pasti akan menolong siapapun yang kesusahan, bukan? Jadi kamu pasti mau membantu kami mengikuti kompetisi seni ini bukan, Arno?”


Alvin Hermes rupanya telah sekali lagi memasukkan aku ke dalam suatu masalah tanpa seizinku.


Tapi yah, jika itu memang Arno yang asli, dia tidak akan pernah menolak tawaran untuk membantu seorang teman yang kesusahan.


Tapi seni?


Aku memang senang menonton pertunjukan seni semasa Sunda Castle masih berdiri, tetapi aku benar-benar kikuk jika harus mempraktikkannya!

__ADS_1


Lantas, apa yang harus kuperbuat dengan itu?


__ADS_2