
“Lho, Kak Arno? Kakak sudah mau balik? Buru-buru banget?”
“Iya, Dek. Soalnya aku hari ini masih ada kelas. Kapan-kapan kita ngobrol bareng lagi ya.”
“Iya deh, tapi lagi-lagi palingan nanti janji palsu doang.”
“Nggak kok, hahahahaha…”
Tepat di saat Arno keluar dari pintu lantai satu yang terhubung dengan ruangan kepala akademi di lantai dua, dia berpapasan dengan Arcia.
Litana Magus menyaksikan mereka yang sedang berbincang dengan penuh riangnya dari balik jendela di lantai dua ruangannya dengan ekspresi yang rumit di wajahnya.
“Cucuku sudah sangat terpukul dengan kehilangan kakak angkatnya itu. Aku takkan membiarkannya lagi kehilangan siapa-siapa.”
Terlihat tekad yang kuat dari balik mata nenek yang tampak masih awet muda dibandingkan usia aslinya itu dalam ucapannya.
***
Suasana asrama kelas S benar-benar tampak berubah pasca duel tersebut.
Para mahasiswa senior tidak lagi memandang sebelah diriku yang dikatakan bisa sejauh ini dengan memanfaatkan dukungan keluarga semata.
Aku telah menunjukkan tekadku kepada mereka bahwa dalam keadaan terhimpit sekalipun dengan tiadanya bantuan dari nama keluargaku, aku berhasil melewati kesulitan itu.
Bahkan kini aku membangkitkan kekuatan magic sword-ku.
Jika ada yang tidak berubah, itu adalah suasana kelasku, kelas para mahasiswa baru kelas S.
Sikap teman-teman yang lain rata-rata tidak berubah.
Lisanna dengan pandangannya yang panas membara tiap kali menatapku, Rohana Macbell dengan sikap tsunderenya yang seakan ingin aku sapa namun giliran kusapa dia akan segera memalingkan wajahnya, ataukah Alvin Hermes dengan senyum yang lemah lembutnya namun terasa penghinaan merendahkan yang sangat dalam ketika aku menatapnya lebih seksama.
Namun tetap ada pengecualian,
“Ah, Bro sudah datang! Bro Arno, biar aku bawakan tasnya. Hei, minggir kau kecil, jangan menghalangi jalan brotherku!”
Jeremy Rudd dan Otto jadi dekat dengan geng-ku, atau malah bisa dibilang itu terlalu dekat.
“Ah, tunggu sebentar Bro, ada debu di kursi Brother. Biar aku bersihkan dulu. Ah, maaf, permisi sebentar, Yang Mulia Pangeran.”
Terutama Jeremy Rudd yang benar-benar memposisikan dirinya sebagai henchman nomor satuku tanpa pernah aku minta.
“Apa-apaan orang itu? Itu membuatku muak.”
“Apa yang baru saja kau bilang, Abel?”
__ADS_1
“Kubilang sikapmu terlalu berlebihan. Arno jadinya malah terganggu dengan sikapmu yang berlebihan itu!”
“Apa?”
Sejak saat itu, tiap ada kesempatan, Jeremy Rudd selalu saja mengajak Abel bertengkar.
Otto tiap kali berusaha menghentikan mereka di saat mereka mulai ribut, tetapi bagi Julian ini lebih seperti tontonan menarik di akademi yang penuh dengan kehidupan datar ini.
Pengumuman kompetisi perayaan proklamasi kemerdekaan Indonesista baru saja diumumkan oleh pihak akademi.
Ada empat cabang dalam perlombaan tersebut yakni swordsmanship battle, magic battle, magic material, serta seni di mana di setiap cabang dibagi menjadi dua jenis lagi yakni kompetisi khusus bagi mahasiswa baru serta kompetisi umum yang berlaku bagi seluruh mahasiswa.
Aku tentu saja mengikuti swordsmanship battle khusus mahasiswa baru.
Akan tetapi, jika aku berhasil memenangkan kompetisi swordsmanship battle khusus mahasiswa baru tersebut, maka aku akan meraih satu tiket untuk melaju pada pertandingan swordsmanship umumnya di mana aku memiliki peluang untuk memperluas cakrawalaku dengan melawan para senior yang bertalenta.
Tentu saja itu sangat berbeda dengan melawan Senior Sarpian Mucahantas sebelumnya, kali ini akan ada mahasiswa senior dari tingkat dua sampai dengan tingkat enam dengan kemampuan yang hebat-hebat.
Tetapi tampaknya, itu mimpi yang terlalu tinggi bagiku saat ini, soalnya ada batu loncatan yang sangat tinggi di angkatanku yang sampai saat ini belum bisa aku gapai, Lisanna Annexia.
Jika kita mengukur kekuatan para swordsman di kelas S untuk saat ini, maka yang terkuat jelas Lisanna di mana seluruh statistiknya sudah mencapai ranah D, kemudian disusul aku, Julian, dan Alvin Hermes dengan tingkat kekuatan yang hampir sama, kemudian sedikit di bawah ada Jeremy Rudd dan Abel Lundoln.
Tersisa empat mahasiswa lainnya di kelas S, tetapi tampaknya mereka semua hanya mengikuti kompetisi magic material saja karena tidak ada satu pun di kelas kami yang merupakan battle mage seperti halnya Valia jika kalian masih mengingatnya sewaktu masa-masa di SMUT dulu.
Terakhir ada seni yang sesuai namanya, berupa perunjukan bakat seni yang tidak terbatas pada satu jenis seni pun di mana semua bisa ditampilkan mulai dari bernyanyi, menari, akting, dan lain sebagainya.
Masih ada waktu sekitar kurang dari dua minggu sebelum dimulainya kompetisi.
Aku pun selama di akademi meminta Lisanna untuk berlatih bersamaku, kemudian di waktu yang sempit ketika nanti aku akan pulang ke rumah di hari sabtu dan minggu, aku bisa meminta salah seorang anggota guild keluargaku untuk latih tanding bersamaku.
Di sinilah, malam neraka berlatih bersama Lisanna itu berlanjut.
Seorang magic swordsman dengan rata-rata statistik D, satu level lebih tinggi dariku yang masih berada di level E.
“Sana, tolong kali ini gunakan juga aura pedangmu dalam latihan.”
“Tapi itu terlalu berbahaya, Yayang Arno.”
“Tenang saja, percaya saja padaku. Aku juga akan mengaktifkan aura platinumku.”
“Baiklah kalau itu maumu, Sayang.”
Akan tetapi,
-Brak.
__ADS_1
-Kruduk, tak, tak.
Hanya dalam sekali sapuan, aku terpental jauh oleh aura biru Lisanna.
Padahal Sarpian Mucahantas dan dirinya sama-sama masih berlevel D.
Inilah yang barangkali namanya perbedaan kualitas walaupun sama-sama sayuran yang dipetik dalam kebun yang sama.
Hanya dengan menjadi seorang magic swordsman, gap kekuatan mereka menjadi terlampau jauh.
Tidak, aku tetap menyangsikan bahwa Sarpian Mucahantas akan dapat mengalahkan Lisanna walaupun telah tercerahkan menjadi seorang magic swordsman pula.
Lantas apa yang harus kulakukan?
Kekuatan hembusan panas aura biru milik Lisanna terlalu kuat bagiku bisa memotong pertahanannya.
Satu-satunya keunggulanku…
Ah, itu benar.
Auraku bisa mengeluarkan petir dan badai.
Aku sekali lagi beradu pedang dengan Lisanna di mana kali ini aku tidak lagi serta-merta menerobos aura birunya yang menakutkan.
Aku menggunakan percikan listrikku untuk mengikis sedikit demi sedikit pertahanan mutlaknya tersebut.
Bagaikan diterjang ribuan air hujan, pasti akan ada yang menyelip di balik kerah bajumu, begitulah Lisanna bisa sedikit terlukai oleh auraku.
Akan tetapi,
MP: 21 <1441>
Mana power-ku masihlah sangat kecil sehingga aku yang justru tetap kalah duluan karena mana exhausted.
-Prak.
Sekali lagi aku terpental di mana Lisanna bahkan hanya menggunakan pedang kayu tanpa auranya.
Namun itu baru dua kali gagal.
Malam masih panjang dan masih banyak peluang bagiku untuk mencari titik lemah Lisanna.
Setelah mana power-ku kembali terpulihkan oleh priest yang kebagian tugas malam di akademi malam ini, aku melanjutkan latih tandingku bersama Lisanna.
Sayangnya latih tanding di malam hari itu tetap berakhir dengan kekalahan mutlakku, 0 vs 8.
__ADS_1
Tentu saja aku yang 0 poin.