Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 70 – MENEMPELIMU bag. 2


__ADS_3

Kami berempat berjalan sebagai tim untuk menyelesaikan misi.


Kami mengambil formasi dengan Kak Vivian dan Sarpian Mucahantas berdiri di depan sebagai damage dealer, sementara aku berperan melindungi healer kami.


Formasi itu sengaja diterapkan mengingat aku masih kelas satu, jadi tidak perlu untuk mengambil poin lebih pada tahap kedua ujian ini.


Aku cukup mendukung tim demi memenangkan pertandingan tim lantas mundur dari arena dan menyerahkan peluang sisanya kepada Kak Vivian dan Sarpian Mucahantas sebagai senior yang membutuhkan poin lebih banyak untuk naik ke tingkat selanjutnya.


Namun entah mengapa, healer kami ini melihati aku terus-terusan.


“Ada apa, Ruti? Jika ada yang ingin disampaikan, katakan saja.”


Anggota keempat di tim kami adalah tidak lain pemilik nomor urut 1S7, Rutiliana, teman sekelasku.


Rutiliana tampak menundukkan kepalanya dengan takut di hadapanku.


Aku pun berusaha menenangkannya dengan mengandalkan charm Arno yang sangat mudah membuat orang lain merasa rileks jika berada di dekatnya itu.


“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, Arno.”


“Hmm?”


Tanda tanya besar seketika terbentuk di kepalaku.


Selama ini aku merasa jarang bergaul dengan Rutiliana kecuali di kelas umum perihal dirinya dan diriku pada dasarnya mengambil konsentrasi yang berbeda.


Aku seorang swordsman sementara dirinya adalah seorang support mage yang bergelut dengan peralatan-peralatan magic sehingga wajar jika kami jarang ketemu kecuali dua kali sepekan di kelas umum.


Itu jelas bahwa aku merasa sama sekali tak pernah memberikan sesuatu yang berarti kepada Rutiliana yang pantas dia ucapi terima kasih.


Seakan mengerti rasa keherananku, Rutiliana menjawab, “Berkat ucapanmu tempo hari kepada Nona Rohana kini Nona Rohana dapat bersikap lebih baik kepada kami para pengikutnya.”


“Ah.”


Aku segera mengingat kembali insiden di hari itu di sekitaran waktu-waktu aku mengurusi Abel yang masih sedang depresi karena terus-terusan dibully oleh Mulyadi Murhahan.


Aku waktu itu tak banyak berpikir, terpengaruh suasana entah itu Abel entah itu Jeremy Rudd atau Otto, mau-maunya saja dibully oleh orang luar.


Aku yang emosi karena tak suka melihat orang-orang yang dilabeli sebagai temanku diperlakukan rendahan, malah harus melihat kejadian itu terjadi oleh sesama anggota kelasku sendiri.


Bagaimana tidak aku kelepasan memarahi Rohana Macbell kala itu.


“Bukan apa-apa kok. Syukurlah kalau sikap si Tuan Putri sudah sedikit membaik.”


“Hehehe, sebenarnya Nona itu adalah orang yang sangat baik, tetapi ada kejadian di mana aku dulu pernah disakiti oleh teman-teman dekat Nona dari kalangan ningrat dan mengejek Nona mengapa mau-maunya berteman denganku yang dari kelas rendah.”


Sambil terkekeh, Rutiliana mulai menceritakan masa lalunya.


“Jadi setelah itu, dia jadi merasa malu lantas segera memutuskan pertemanannya denganmu?”


Terhadap perkataanku itu, Rutiliana menggelengkan kepalanya.


“Bukan seperti itu. Malah sebaliknya. Memang hasilnya bahwa Nona mulai membentuk jarak denganku dan mulai berbicara padaku dengan gaya bahasa layaknya nona-nona bangsawan lain kepada para pengikutnya, tetapi itu karena Nona tidak ingin lagi melihatku disakiti oleh orang-orang lain yang menilai kedekatan kami itu sebagai sesuatu yang tidak wajar.”


“Kamu direndahkan padahal kamu itu kaya? Keluargamu kan pemilik farmasi terkenal Father and Daughter itu kan?”

__ADS_1


“Sayangnya di pergaulan kelas atas di negara kita, masih tetap saja mempertimbangkan asal-usul seseorang. Kamu mungkin bisa memperoleh kekayaan dengan usahamu, tetapi tidak dengan kekuasaan. Itulah orang-orang kelas atas itu ingin tekankan.”


“Padahal setelah Presiden Sam Gerfinda berkoar-koar tentang kesetaraan?”


“Hahahaha. Negara kita memang lucu ya.”


Tak kusangka Rutiliana, si kacamata yang terlihat sangat kutu buku itu, enak juga ketika diajak berbicara.


Kesanku padanya sedikit meningkat.


“Namun setelah Nona melihat bagaimana Arno bergaul dengan orang lain tanpa membedakan status mereka, sekali lagi muncul keberanian itu di dalam diri Nona untuk merubah keadaan.”


“Baguslah kalau begitu…”


Aku sampai lupa bahwa kami sedang di tengah misi.


Selama ini Kak Vivian dan Sarpian Mucahantas menangkis serangan monster dengan baik yang datangnya dari arah depan.


Namun tiba-tiba saja, ada monster yang menyergap kami dari arah samping yang di luar pengawasan baik Kak Vivian maupun Sarpian Mucahantas.


Yah, kutahu ini salahku karena kehilangan fokus selama pertarungan.


Tanpa berpikir panjang aku pun mensummon Plata alih-alih Kurumi dan Kusagi karena dari jarak itu, tak mungkin lagi bagiku untuk menahan monster agar tidak melukai Rutiliana, kecuali jika pedang besar seperti Plata yang sekaligus bisa bertindak sebagai perisai yang kusummon.


“Ukh.”


“Ruti, kau baik-baik saja?”


“Ya, Arno. Aku hanya mengalami luka kecil.”


“Baguslah.”


Tak kusangka bahwa di tempat ini juga ada hewan badak yang berevolusi menjadi monster.


Memang pernah kudengar bahwa hutan di belakang sekolah kami dulunya adalah kawasan konservasi hewan-hewan langka, tidak, bukan itu yang penting, mengapa ukuran badak ini begitu besar?


Apa ini juga pengaruh kontaminasi mana mati?


Aku beradu kekuatan sejenak dengan sang monster.


Berkat hentakan auraku, aku berhasil memukul mundur sang monster.


Lalu dengan cepat aku bersalto dan,


-Slash.


Aku menebas monster itu menjadi dua bagian dengan pedang besar Plata-ku.


-Brrrzzz.


-Brrrzzz.


Tiba-tiba bisa kurasakan getaran yang kuat di alam spiritualku.


“Maaf, maaf, karena tidak memilih kalian. Lain kali pasti akan kusummon kok.”

__ADS_1


Tampaknya Kurumi dan Kusagi mengambek karena aku bertarung tidak menggunakan mereka.


Namun aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa keputusan spontanku mengalahkan monster besar itu malah berakhir menjadi sesuatu yang rumit seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hasil Tim Vivian-Sarpian-Arnoria-Rutiliana: 1942 poin (peringkat kedua)


...Peringkat individu:...



Vivian Cassandra (780 poin), lolos tahap dua


Arnoria Rosechild (493 poin), lolos tahap dua


Sarpian Mucahantas (483 poin), gugur


Rutiliana (186 poin), gugur



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku malah mengacaukannya dengan harus lolos sampai tahap kedua dalam ujian ini.


Bukannya mengapa.


Seharusnya kelas satu cukup sampai tahap pertama saja dengan tim yang menang.


Itu sudah bisa memperoleh poin yang lebih dari cukup untuk tidak harus menjalani remedial yang berupa pelatihan khusus di masa orang-orang akan menikmati liburan panjang mereka.


Masalahnya adalah di tahap kedua ada yang namanya perebutan poin.


Cara yang termudah untuk memenangkan pertandingan daripada mengumpulkan poin dengan susah-payah dengan mengalahkan monster, tentu dengan mengeliminasi lawan-lawanmu sekaligus merebut poinnya.


Jika kekuatan lawan hampir seimbang, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk melakukannya.


Masalahnya adalah di mata anak kelas dua, pastinya anak kelas satu sepertiku adalah anak burung yang bahkan belum tumbuh bulu-bulunya apalagi terbang.


Itu adalah sasaran empuk untuk dikalahkan.


Lantas sesuai dugaan, di antara keenam belas peserta yang lolos ke tahap kedua, 14 di antaranya adalah senior.


Tak butuh waktu lama bagi empat orang dari mereka yang tidak aku kenal wajahnya yang berarti mereka adalah senior dari kelas A, mencegatku dari empat arah bersiap menghajarku sampai babak-belur.


Namun hal yang di luar dugaan terjadi bahkan sebelum aku sempat bertarung.


Keempat senior tersebut seketika dihempaskan oleh suatu angin kencang sehingga jatuh pingsan ketika kepala mereka terbentur pohon atau batu besar.


Dan di tengah-tengah kabut yang semakin menipis itu, kulihat seseorang berambut merah melambai kepadaku.


“Lama tidak bertemu, Bocah.”


Ujarnya padaku.

__ADS_1


“Selena, mengapa kamu ada di tempat ini?’


Tak kusangka pertemuan kami yang selanjutnya akan begitu dekat.


__ADS_2