Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 41 – PERLINDUNGAN DI BALIK MAKNA SENIORITAS bag. 5


__ADS_3

Duel antara aku dan Sarpian Mucahantas pun dilaksanakan keesokan harinya.


Telah hadir pula wali kelas kami masing-masing, Pak Salbalam Phismertofaz sebagai wali kelas 1S, serta Bu Patricia Lalalua sebagai wali kelas 2S.


Masing-masing wali kelas itu pun memandu kami untuk mengucapkan ikrar di hadapan para penonton yang hadir.


Tak kusangka penonton yang hadir jauh lebih banyak daripada yang kuperkirakan.


Tampaknya yang tertarik dengan duel kami tidak hanya dari kelas S saja, tetapi hampir seisi akademi.


Bisa pula kulihat di sudut sana, Valia dan Erna hadir yang terlihat memberikan dukungannya untukku.


“Mahasiswa 2S7 Sarpian Mucahantas, rabu 25 September 2019, mengajukan surat tantangan duel kepada mahasiswa 1S2 Arnoria Rosechild dengan alasan seperti tertera di bawah ini.”


Pada Rabu, 25 September 2019, mahasiswa tingkat 1 nomor urut S2, Arnoria Rosechild, telah menendang bokong saya di muka umum. Tidak hanya itu membuat saya terluka secara fisik berupa tak sanggup duduk dengan benar, tetapi itu juga menimbulkan luka psikis di pikiran saya karena telah dipermalukan oleh seorang junior yang seharusnya menghormati seniornya.


“Apa tidak ada kekeliruan sama sekali dalam pernyataannya?”


Bisa kulihat tawa mengejek seketika menggema dari teman seangkatan Sarpian Mucahantas.


Ada pula beberapa yang lain yang tampak menahan tawanya karena tidak ingin bermasalah dengan mahasiswa yang penuh masalah itu.


“Itu benar.”


Usai Profesor Patricia Lalalua memandu testamen dari Sarpian Mucahantas, kini tiba giliran Profesor Salbalam yang memandu testamen-ku.


“Pada Kamis, 26 September 2019, mahasiswa 1S2 Arnoria Rosechild menerima tantangan tersebut tanpa paksaan sedikit pun.”


“Apa tidak ada kekeliruan sama sekali dalam pernyataannya?”


“Itu benar.”


“Nah, sekarang para duelis, silakan ikrarkan keinginan Anda masing-masing.”


“Saya, Sarpian Mucahantas, mahasiswa tingkat 2 nomor urut S7, jika saya menang, saya menginginkan mahasiswa tingkat 1 nomor urut S2, Arnoria Rosechild, untuk meminta maaf di hadapan publik secara resmi kepada saya selaku korban kekerasannya dengan cara meminta maaf seperti anjing.”


Aku sama sekali tak mengerti apa maksud meminta maaf seperti anjing yang dimaksudkan oleh Sarpian Mucahantas, tapi satu hal yang kutahu bahwa itu adalah tindakan penghinaan.


Lagipula aku sama sekali tak berniat kalah darinya, jadi apapun itu tidak masalah.


“Saya, Arnoria Rosechild, mahasiswa tingkat 1 nomor urut S2, berjanji akan menyetujui keinginan dari Senior Sarpian tersebut jika saya kalah. Tetapi sebagai gantinya, jika saya menang, Senior Sarpian akan berjanji tidak akan pernah menyentuh atau bahkan menyakiti juniornya lagi dengan alasan senioritas, termasuk mengancam mereka dengan menggunakan keluarga mereka sebagai objek ancaman.”


“Saya bersedia.”


Dengan ikrar terakhir Sarpian Mucahantas tersebut, menjawab kesediaan penalti kekalahannya, duel pun segera dimulai.


Akan tetapi, Sarpian Mucahantas tiba-tiba mengangkat tangannya.


“Ada apa duelis Sarpian?”


Tanya wasit kepadanya.

__ADS_1


“Aku memutuskan akan mengirim champion untuk mewakiliku pada duel kali ini, Alleandro Karman, hunter tingkat E.”


Seketika seluruh podium menjadi ramai.


Itu tidak hanya karena Sarpian Mucahantas tiba-tiba saja mengajukan seorang champion untuk menggantikannya duel, tetapi juga siapa yang dikirimkannya adalah hunter tingkat E yang berpengalaman hanya demi melawan seorang calon hunter yang masih belum memperoleh lisensi hunternya dan bahkan masih di tahun pertama pelatihannya sebagai hunter.


Bisa kulihat raut marah Lisanna Annexia di podium mengisyaratkan agar aku segera menunjuknya sebagai champion-ku.


Tidak hanya Lisanna, bahkan Abel dan juga Julian tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Otto, sebagai orang yang kulidungi sehingga aku terjerat masalah ini, dapat kulihat raut wajah penuh merasa bersalahnya.


Tak kusangka Jeremy Rudd di sampingnya juga akan melayangkan ekspresi frustasinya padaku, padahal sebelumnya kukira dia tidak suka dengan sikap ikut campurku.


Tetapi melebihi Jeremy Rudd, yang paling mengherankan adalah ekspresi pucat Rohana Macbell.


Setahuku hubungan kami tidak baik, tetapi mengapa dia tampak begitu khawatir padaku?


***


Haruskah aku menerima tawaran Lisanna untuk mengajukannya sebagai champion-ku?


Toh lawan juga melakukan hal yang sama sehingga harga diri keluarga Rosechild takkan lagi ternodai jika aku melakukannya.


Jika itu Lisanna yang overpower, bahkan hunter berlevel E pun bukanlah tandingannya sejak kini dia telah setara dengan hunter berlevel D atau lebih tinggi.


Aku bisa tahu apa yang ada di pikiran Sarpian Mucahantas.


Mereka pasti telah mengorbankan masa depan hunter yang ditunjuk untuk menggantikan Sarpian Mucahantas tersebut dengan iming-iming uang, kekuasaan, atau sejenisnya, untuk melukaiku hingga cacat atau bahkan meninggal.


Itu adalah cara yang lebih aman ketimbang dilakukan oleh penerus mereka sendiri, Sarpian Mucahantas.


Keluarga Mucahantas dengan mudah bisa mengklaim bahwa itu murni kesalahan sang champion sehingga mereka bisa terbebas dari sanksinya.


Keluarga Mucahantas lebih licik dari yang kuperkirakan.


Tetapi apakah itu tindakan yang tepat untuk aku yang seorang pangeran vampir ini mengutus seorang champion menggantikanku dalam duel?


Terlebih seorang manusia rendahan?


Menyerahkan masalahku pada manusia rendahan?!


Tidak! Aku sama sekali tidak bisa menerimanya!


Harga diriku sebagai pangeran vampir terluka.


Apapun tantangannya, aku harus maju dengan upayaku sendiri demi harga diri Sunda Castle.


Ini bukan alasan untuk mundur dengan menyerahkan bebanku kepada orang lain sejak aku adalah seorang pangeran vampir, bangsawan ternama dari Sunda Castle yang dikagumi kebangsawanannya sejak dari dulu.


Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengikuti duel itu dengan tubuhku sendiri.

__ADS_1


***


Aku menggunakan kedua pedang pendek di tanganku.


Itu cukup menarik banyak perhatian sejak aura pedang besar platinum seakan telah menjadi identitas spesifik bagi seorang Rosechild.


“Hahahahahahaha. Kau bahkan telah menyerah dengan gaya berpedang keluargamu! Kau rupanya benar-benar tidak berbakat seperti yang dikatakan Tuan Muda, Arnoria Rosechild! Jadi matilah di tanganku demi masa depan guild.”


Alleandro Karman tiba-tiba berbisik kepadaku.


Aku hanya menahan ekspresiku dan berfokus pada gerakannya.


“Bersedia, mulai!”


Begitu aba-aba dari wasit dimulai, aku segera memanfaatkan agility-ku untuk mengincar titik buta lawan.


Kelima poin stat sebelumnya yang kuperoleh dari misi Sistem, akhirnya kudistribusikan semua untuk meningkatkan stat agility-ku sehingga seharusnya sudah setara dengan para hunter berlevel E.


Tetapi apa ini?


-Puak.


“Akh.”


Seakan bisa menebak di mana aku akan mendarat, bajingan itu segera melayangkan pedang besarnya ke solar plexus-ku yang membuatku seketika memuntahkan darah.


Dia seharusnya bukanlah hunter yang kuat.


Dia hanyalah hunter berlevel E sehingga kemampuannya rata-rata sama saja denganku walaupun aku masih belum menerima lisensiku sebagai hunter.


Apakah ini yang dimaksud dengan perbedaan pengalaman?


Dexterity-ku sangatlah lemah sehingga sekali aku terkena serangan yang kuat, aku pun menjadi sulit untuk bangkit.


Aku pun berakhir menjadi bulan-bulanan dan dihajar habis-habisan oleh sang hunter.


Ini adalah latih tanding akademi sehingga walaupun kami saat ini memakai pedang asli, kami dilarang untuk memberikan luka fatal kepada lawan.


Tetapi si bajingan itu justru memanfaatkan celah peraturan dengan menggunakan bagian tumpul pedangnya untuk menyerangku.


Alhasil, aku juga belum bisa kalah karena setiap luka yang kuderita tidak bisa dikategorikan sebagai luka yang berat.


Tetapi aku memang tidak berniat kalah sedikit pun.


Namun, bagaimana caranya aku bisa membalas sekali saja serangan bajingan itu?


Tanpa kusadari, seluruh tubuhku telah babak belur.


Wajah tampan milik Arno seakan tidak lagi berbentuk.


Aku benar-benar dalam keadaan putus asa.

__ADS_1


Saking putus asanya, aku seketika menyesal telah menolak tawaran bantuan Lisanna.


__ADS_2