Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 32 – SEORANG KUAT YANG DIRUNDUNG bag. 4


__ADS_3

“Hei, hei, apa yang sedang kalian lakukan?”


-Puak, pak, pak.


Mengabaikan Julian, aku tetap melanjutkan pelatihan berpedangku bersama Abel.


“Hei, hei, Tuan Muda Arnooooo.”


Namun, Julian bukan orang yang bisa diabaikan begitu saja keberadaannya.


Dia adalah tipe pengganggu.


Akhirnya, aku berakhir menjawab pertanyaannya.


“Ck. Tidak bisakah kamu lihat sendiri? Kami sedang berlatih berpedang!”


“Tapi bukannya Abel itu seorang mage? Mengapa berlatih berpedang?”


“Dia sudah pindah jurusan dan juga sudah disetujui oleh kepala akademi.”


“Eh? Memangnya itu bisa dilakukan?”


Mendengar pernyataan Julian yang terakhir itu, Abel seketika kehilangan fokusnya dengan raut wajah yang penuh kesangsian.


-Trak.


Akibatnya, seranganku pun yang sama sekali kulancarkan bukan niat untuk melukai malah berakhir mengenainya dengan telak.


“Akh.”


“Abel! Mengapa kamu malah kehilangan fokus di saat latihan, hah?!”


“Maaf.”


Tampaknya perkataan Julian barusan kembali menggoyahkan hati Abel.


Oh iya, Julian.


Bukankah dia lawan tanding yang lebih baik untuk Abel daripada diriku?


Sejak dia adalah seorang magic swordsman, dia akan mampu membangkitkan kekuatan aura terpendam di dalam diri Abel secara insting.


Di dalam mana ada yang namanya aksi dan reaksi.


Sebanyak apa aksi yang kamu berikan kepada suatu objek, maka objek itu akan merespon dengan reaksi yang sesuai.


Dengan kata lain, aura pedang milik Julian dapat bertindak bagaikan pemantik api yang mampu menimbulkan awal percikan api di dalam diri Abel.


-Hap.


-Sap.


Aku seketika melemparkan pedang kayu yang kupegang kepada Julian dan dengan refleks yang sangat baik, Julian mampu menangkapnya dengan sempurna.


“Hmm? Ini?”


“Kamu yang tadi bilang mau ikutan kan? Bagaimana kalau kamu yang bertindak jadi lawan Abel?”


Dengan senyum licik, aku menatap Julian.


“Tapi…”


“Mengapa? Kamu pikir Abel bukan lawan yang seimbang buatmu?”


“Ah, tidak kok. Itu…”


“Julian, kamu akan menyesal jika telah meremehkan keahlian fisik Abel. Bagaimana kalau mencobanya setidaknya dengan beberapa ronde pertandingan?”


“Baiklah jika itu keinginan Arno dan Abel.”


Julian pun menyetujui request dariku untuk mengadakan latihan tanding dadakan bersama Abel.

__ADS_1


Akan tetapi,


“Ukh.”


Abel kalah dengan cepat.


“Sekali lagi, Abel!”


“Ukh.”


“Aakh.”


Sekali, dua kali, tiga kali, Abel berturut-turut selalu saja berakhir dengan pihak yang kalah.


Lalu di percobaan keempat, aku pun melakukannya.


“Kamu berkali-kali bilang akan berkembang menjadi hunter yang hebat demi mengangkat nasib kedua orang tuamu lantas orang tuamu mendukungmu?”


“Kamu itu bodoh ya? Apa kamu tidak sadar diri?! Dengan bibit jelek milik mereka, mana mungkin mereka akan melahirkan kamu menjadi anak yang hebat!”


“Ck. Palingan mereka hanya memanfaatkanmu selama ini dengan dalih sebagai anak untuk memeras seluruh keringatmu demi kenyamanan mereka.”


“Tapi bagaimana ini? Setelah melihatmu ternyata lemah begini, mereka pasti akan segera membuangmu ke jalanan!”


Tentu saja Abel akan marah dengan kata-kataku yang kasar, terlebih dia adalah anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya.


Dia takkan mungkin tahan mendengar jika kedua orang tuanya dihina.


“Kedua orang tuaku bukan orang yang seperti itu!”


“Heh, benarkah? Lagian…”


Aku selanjutnya melantunkan berbagai kata-kata makian kasar nan tabu untuk mengejek kedua orang tua Abel.


Alhasil, Abel yang lembut dan penyabar itu, akhirnya bisa berada dalam keadaan puncak amarahnya yang berhasil terekspresikan keluar dengan sempurna.


“Kamu, dasar bajingan!”


Di situlah, mulai terlihat tanda-tanda kekuatan werewolf Abel terbangkitkan.


Untuk pertama kalinya aku berterima kasih kepada lisanku yang tajam yang sangat mudah membuat orang marah ini.


Bahkan Abel yang penyabar pun jadi tak tahan dibuatnya.


Sekujur tubuh Abel secara tiba-tiba saja mengeluarkan keringat yang banyak.


Terlihat percikan listrik kasat mata di sekeliling kulit Abel.


Amarahnya memuncak.


Sayangnya, itu bukan tertuju padaku sebagai orang yang telah membangkitkan amarahnya itu, tetapi kepada Julian yang berdiri tepat di hadapannya sebagai lawan latih tandingnya.


Dia yang awalnya diperlakukan sebagai novice oleh Julian, mutlak tak dapat lagi diabaikan keberadaannya oleh Julian.


Ayunan pedang Abel tampak berubah drastis menjadi sangat berat sehingga Julian pun segera terpukul mundur berkali-kali olehnya.


Namun, hal yang tak terduga terjadi.


Julian kehilangan Abel di mana Abel memanfaatkan celah Julian untuk menembus pertahanannya demi menyerangku.


-Slash.


Sedikit saja pedang kayu yang dipegang oleh Abel yang telah berubah menjadi lebih tajam daripada pedang asli itu hampir mengenai kepalaku.


Akan tetapi dengan sigap, dengan kecepatan yang sangat cepat, Julian segera berdiri di antara kami berdua, menghantam pedang kayu milik Abel itu hingga terpental mundur.


Sayangnya, pedang kayu itu masih kokoh berada di pegangan Abel.


Namun kini tampak aura biru meliputi Julian.


Dia seketika sanggup memukul mundur pedang Abel berkali-kali hingga pada akhirnya pedang Abel jatuh ke tanah dan Julian memancangkan ujung pedang kayunya ke leher Abel sebagai isyarat kemenangannya.

__ADS_1


Julian menang dalam keadaan berserk Abel.


Walau demikian, aku puas.


Aku telah mencapai tujuan awalku untuk membangkitkan kekuatan werewolf terpendam di dalam diri Abel.


Seiring dengan meningkatnya emosinya, kuyakin fisik Abel pastinya juga akan berkembang secara cepat menyesuaikan dengan perkembangan kemampuannya.


“Ah, apa yang telah kulakukan? Bagaimana tadi aku benar-benar berpikir untuk membunuh Arno?”


“Wuih, kamu rupanya bahaya juga ya, Abel. Jika tadi aku tidak gesit menangkis seranganmu, pasti kepala Arno sekarang sudah terbelah jadi dua.”


“Lagian kamu juga, Arno. Mengapa kamu justru lengah di saat merasakan hawa membunuh Abel?”


Hawa membunuh.


Itu insting yang mampu dirasakan oleh setiap petarung untuk menghindarkan mereka dari kematian.


Aku yang telah berusia lebih dari seribu tahun ini, mana mungkin tidak menyadarinya, bajingan.


Itu karena kuyakin kamu sanggup untuk menangkis serangan Abel tersebut.


Semuanya tetap berada dalam kendaliku.


Tapi aku tak perlu memberitahukan detail tidak penting seperti itu kepada Julian tentu saja.


“Mana mungkin aku lengah? Jika tidak ada kamu, aku tetap akan bisa menangkisnya dengan baik.”


“Mana ada! Kamu jelas-jelas tadi lengah, Arno.”


“Ck, ck. Itu karena kamu yang indera masih sedikit tumpul, Julian.”


“Kamu ini ya, Arno. Ternyata begini ya kepribadian asli kamu. Sangat berbeda dengan yang ada di rumor.”


“Karena kamu sudah tahu, jangan lagi berteman denganku.”


“Ah, tidak kok. Aku salah bicara. Arno selalu menjadi sahabatku yang terbaik, hehehehehehehe.”


Demikianlah, karena pemicu kini telah berhasil diaktifkan, maka yang tersisa tinggal bagaimana Abel mampu mengendalikan dirinya saja dalam bertarung dengan mengandalkan kekuatan werewolfnya itu yang berbahanbakarkan emosi-emosi negatif.


Jalan Abel untuk menjadi kuat agar tidak diremehkan, masih sangat sangat panjang.


***


Hari itu pun berlalu dengan baik.


Aku berhasil membangkitkan kekuatan terpendam milik Abel sehingga poin kepopuleranku bertambah drastis.


Ditambah, aku bisa melihat apa yang tersembunyi di balik sifat easy going Julian tersebut.


Walaupun dia orangnya slenge’an, tidak salah lagi dia adalah seseorang yang sangat hebat.


Bahkan dengan kemampuanku yang sekarang, aku belum bisa dibandingkan dengannya, bahkan jika itu Arno yang asli sekalipun.


Tentu saja jika itu Laviar wujud asliku, manusia rendahan itu tidak akan ada apa-apanya bagiku.


Sayangnya, dia mencoba menutupi kemampuannya itu demi kedamaian hidupnya.


Namun, apa yang dilakukan oleh Julian justru hanya akan membuat jalan kehancurannya semakin dekat.


Haruskah aku turut campur untuk menyelamatkannya dari takdirnya?


Sayangnya, kami tidak sedekat itu bagi aku untuk melakukannya.


Aku tidak boleh lagi goyah untuk menghancurkan umat manusia.


Bagiku, Abel dan Julian tidak lebih dari sekadar alat untuk mewujudkannya.


“Arno? Kamu benar Arno kan?”


Namun kemudian Lisanna yang tiba-tiba datang menghampiriku setelah menyadari keributan dentuman pedang Abel dan Julian, menanyakan hal itu padaku yang seketika membuatku berkeringat dingin.

__ADS_1


Apa wanita ini mencurigai identitasku?


__ADS_2