
Babak pertama kompetisi swordsman antara mahasiswa baru dibuka dengan pertarungan antara mahasiswa 1S2 Arnoria Rosechild melawan mahasiswi 1B6 Erna Silverwood.
Keduanya secara bersamaan naik ke atas podium.
Berbeda dengan kompetisi umum, khusus kompetisi swordsman mahasiswa baru dilakukan dengan menggunakan pedang kayu.
Ada tiga jenis pilihan pedang yang ditentukan oleh panitia di lapangan sesuai dengan apa yang biasa mereka gunakan di kelas swordsmanship akademi yakni tipe pedang besar, tipe seimbang, dan tipe bastard.
Terlihat bahwa Arnoria Rosechild memilih tipe bastard yang lebih pendek namun lebih berduri dan sedikit melengkung, sementara Erna Silverwood memilih tipe seimbang menyelaraskan dengan berat badan seorang wanita yang rata-rata tidak seberat badan seorang pria.
Dengan aba-aba dari wasit, pertandingan itu dimulai.
Terasa nostalgia di benak Laviar yang saat ini menggunakan tubuh Arnoria Rosechild bagaimana dulu baik Erna maupun dirinya adalah mahasiswa golongan bawah di sekolah menengah mereka.
Mereka saling menghina akan letak kekurangan mereka satu sama lain.
Namun itu tidak menjadikan mereka saling membenci karena berkat koreksi dari satu sama lain, keduanya dapat saling memperbaiki diri masing-masing dan berkembang menjadi seorang swordsman yang lebih hebat.
Tentunya bagi Erna, Laviar hanyalah kenangan masa lalunya yang telah lama meninggal dalam bencana naas dungeon break di ujian kelulusan mereka.
Itulah sebabnya Laviar di dalam tubuh Arno sedikit merasa frustasi akan perasaan rivalitasnya terhadap Erna perihal Erna sama sekali tidak menyadari perasaannya itu.
Namun kini, Laviar merasa puas.
Walaupun Erna tidak mengetahui bahwa Laviar-lah sejatinya yang berada di dalam wujud Arno itu, ini adalah momen yang sangat berharga bagi Laviar sebagai ajang pembuktian bagi dirinya melepaskan diri terhadap kelemahan masa lalunya dengan mengalahkan batu loncatan pertamanya, seorang Erna Silverwood.
-Trak.
Suara pedang kayu berbenturan menggema.
Erna adalah seorang swordsman tingkat rendah sehingga Arnoria Rosechild memutuskan untuk bertarung dengan tidak mengandalkan aura pedangnya.
Dia mencoba menantang dirinya mengalahkan Erna Silverwood hanya murni dengan kemampuan berpedangnya saja.
Kedua-duanya telah mencapai ranah stat E, tetapi stat milik Arnoria Rosechild sedikit lebih tinggi daripada stat milik Erna Silverwood.
Tetapi walau hanya dengan perbedaan stat sekecil itu, Arnoria Rosechild segera mampu mengungguli Erna Silverwood.
Sang bastard swords yang terbuat dari kayu segera mengikis secara perlahan ketajaman pedang kayu Erna Silverwood.
Hanya dalam beberapa dentuman, pedang itu patah.
Arnoria Rosechild lantas menggunakan bagian tumpul pegangan pedang kayunya untuk mendorong Erna Silverwood keluar dari arena.
__ADS_1
Kemenangan milik Arnoria Rosechild dengan perbedaan kemampuan terhadap lawan yang terlihat sangat jelas.
***
Aku bisa merasakan dengan jelas kualitas tubuh Viar dan tubuh Arno yang berbeda drastis.
Tubuh Arno dilengkapi dengan skill aura bintang yang membuat statistiknya naik lebih signifikan dibandingkan yang lain hanya dengan semakin banyak orang lain menyukainya.
Dengan wajah yang tampan dan pembawaan yang lembut ini, tidak akan sulit lagi bagiku untuk menarik perhatian orang lain sehingga mudah menyukaiku.
Itulah sebabnya dalam waktu kurang dari tiga bulan, perbedaan kemampuanku dengan Erna yang selalu mengungguliku dalam perbedaan yang tipis sewaktu dalam tubuh Viar, kini sudah sangat berbeda jauh.
Tentu saja, aku yang berada di posisi unggul.
Lawanku selanjutnya di putaran kedua pada babak 16 besar adalah Evinorth Cladeistein seorang mahasiswi kelas A dengan nomor urut 8.
Dia adalah tipe pengguna pedang besar sama seperti ibunya yang kini bekerja sebagai pengawal utama istana kepresidenan sehingga aku sebelumnya sudah bisa menebak bahwa dia akan memilih pedang kayu besar sebagai senjatanya.
Seorang swordsman pengguna pedang besar seperti Arnoria Rosechild yang asli adalah lawan yang tak boleh dianggap enteng.
Pedang besarnya itu adalah sekaligus berfungsi sebagai tamengnya sehingga tipe swordsman seperti itu akan menyerang sekaligus bertahan.
Itulah sebabnya seorang swordsman pengguna pedang besar yang berbakat sangatlah sulit untuk dikalahkan kecuali jika kamu punya stamina yang melebihinya.
Nyatanya Evinorth Cladeistein, seorang wanita yang berdiri di hadapanku saat ini, masihlah sangat kikuk.
Dentuman pedangnya memang berat, tetapi dia belum terlalu menguasai besarnya pedangnya itu.
Itulah sebabnya dia selalu menyisakan jeda sekian milisekon tiap kali usai mengayunkan pedangnya.
Dia bahkan masih jauh pada level Jeremy Rudd dan Abel Lundoln yang mengerti dengan baik ritme gerakan untuk tidak meninggalkan celah yang terlihat nyata di pertahananmu.
Pertarungan pun dimulai.
Aku membiarkan Evinorth Cladeistein menyerang duluan untuk membuka celah pertahanannya itu.
Begitu celah itu tampak, aku menggunakannya untuk menghindari dan melewati serangan tebasannya.
Begitu aku sampai di belakangnya setelah menghindari tebasan itu, beratnya pedangnya membuatnya terlambat untuk membalikkan pedang tersebut ke belakang untuk bertahan.
Aku pun memanfaatkan celah di bagian belakangnya yang terbuka sangat lebar untuk memberikan serangan kritikal.
Pengguna pedang besar yang terampil memang pertahanannya akan tak tertembuskan, namun begitu kau tipe kikuk yang meninggalkan celah, ketika celahmu itu dilewati, kau sudah tamat.
__ADS_1
Inilah kelemahan utama seorang swordsman tipe pengguna pedang besar seperti yang pernah dulu aku rasakan di awal-awal aku mencoba kekeh meniru gaya bertarung Arnoria Rosechild yang sangat tidak sesuai denganku itu.
Aku berhasil maju ke putaran ketiga di babak delapan besar juga dengan mudah.
Kusaksikan di grup lain, kelima perwakilan kelas S lainnya semuanya dapat lolos pula dengan mudah ke babak delapan besarnya.
***
Di babak delapan besar, aku untuk ketiga kalinya lagi-lagi berhadapan dengan seorang wanita.
Ini bukannya kesengajaan atau karena petarung swordsman wanita lebih banyak ketimbang pria di akademi ini, itu cuma murni kebetulan saja.
Nyatanya 5 di antara 8 peserta yang lolos ke putaran ketiga adalah pria.
Lawanku selanjutnya adalah Mimika Adasasaja, pemilik nomor urut A4, seorang swordsman yang kemampuannya tepat di bawah Mulyadi Murhahan.
Itu karena mahasiswa nomor urut A2 dan A3 adalah seorang battle mage.
Dia adalah seorang swordswoman tipe pengguna pedang bastard, sama sepertiku.
Melihat itu, aku pun mencoba bersaing dengannya dengan tetap menyimpan aura pedangku.
Aku melawannya dengan lebih menonjolkan agility-ku.
-Trak truk trak.
Suara dentuman pedang kayu terdengar begitu cepat dan membahana.
Tidak ada satu pun dari kami yang ingin menyerah dengan menurunkan pace serangan kami.
Setidaknya itu sampai dua menit kemudian.
Mimika Adasasaja tampak melakukan kesalahan dengan tidak sengaja tersandung batu di arena yang pecah dan menonjol keluar akibat ulah Lisanna Annexia pada pertarungan sebelumnya.
Dia yang kehilangan keseimbangan jadi kehilangan ketenangannya dan malah justru berakhir dengan melakukan lebih banyak kesalahan.
Seranganku pun bertubi-tubi tak bisa dihindarinya dan dia pun kalah setelah aku memberikan serangan penutupan yang membuatnya terpental dari arena.
***
Usai aku resmi dinyatakan sebagai salah satu semifinalis dalam lomba tersebut, kini giliran peserta lain yang akan bertanding.
Pertarungan ini akan cukup menarik.
__ADS_1
Pertarungan antara sesama kelas S, pemegang nomor urut S3 Julian Gerfinda melawan pemegang nomor urut S5 Alvin Hermes.