Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 46 – PERLINDUNGAN DI BALIK MAKNA SENIORITAS bag. 10


__ADS_3

-Kruduk, kruduk, kruduk.


Suara langkah kaki cepat terdengar gemerisik di tanah lapang bekas wilayah yang ditinggalkan akibat miasma mana mati dari dungeon break suatu dungeon terkutuk tersebut.


Terlihat seorang pemuda menggendong pemuda lainnya.


Karena bahu pemuda yang menggendongnya itu bergetar, perlahan, Otto yang berada tepat di belakang badan Jeremy Rudd pun mulai terbangun.


“Hmm.”


“Otto, kamu sudah siuman? Kamu sudah bisa jalan sendiri?”


Begitu tersadar, pertanyaan Jeremy Rudd-lah yang pertama kali terdengar olehnya.


Itu sedikit membuat Otto kebingungan.


Kepalanya sedikit sakit.


“Eh? Jeremy? Di mana ini? Kalau tidak salah, tadi aku… Ah!”


Perlahan kesadaran itu kian pulih dan akhirnya Otto mengingat kembali apa yang telah dialaminya sebelum pingsan.


Bersamaan dengan itu, Jeremy Rudd menghentikan langkahnya sejenak untuk memberikan ruang bagi Otto untuk bernafas.


Dia dengan perlahan menurunkan Otto dari pundaknya.


“Aku baru ingat. Senior Pian baru saja memanggilku ke ruangan asramanya. Lalu kemudian, dia tiba-tiba menghajarku lantas aku kehilangan kesadaranku.”


“Ck. Tak perlu lagi memanggil si sialan itu sebagai senior. Dia dan anak buahnya hampir saja membunuh kita bertiga.”


“Bertiga?”


“Ya, Tuan Muda Arno telah membantu kita menyelamatkan diri dari si sialan itu. Ayo, tidak banyak waktu. Kita harus segera keluar dari sini demi mencari bantuan. Saat ini Tuan Muda Arno masih bertarung melawan si sialan itu dan para anak buahnya.”


Otto bisa sedikit mengerti situasinya dengan penjelasan singkat Jeremy itu, walaupun dia masih memiliki pertanyaan di beberapa detailnya, terutama dengan munculnya secara tiba-tiba nama Arno pada pembicaraan mereka.


Namun melihat sikap panik Jeremy, Otto segera sadar bahwa mereka sedang dikejar waktu, jadi pertanyaan itu pun disimpan dulu di dalam benaknya.


Akan tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan kedua pemuda itu, mereka dicegat oleh segerombolan orang berpakaian hitam.


Jeremy Rudd segera menyiagakan pedangnya.


“Tunggu dulu, Jeremy!”


Namun Otto segera menghentikannya sebelum menyerang duluan orang-orang tersebut.


“Mereka bukan musuh kita, Jeremy. Gelombang suara murni ini milik holy sword Hourmet. Anda pasti Ayah Tuan Muda Arno kan? Tuan Lehman Rosechild.”


Ujar Otto seraya membungkukkan badannya dengan penuh hormat.


“Oh ho. Kau bisa mengenaliku hanya dari suara pedangku saja?”


“Itu karena Tuan Besar sudah terkenal sebagai pemilik holy sword Hourmet.”


Salah satu pasukan hitam itu pun melepaskan penutup wajah yang dipakainya dan benar adanya, itu menunjukkan wajah sang ayah Arno, Lehman Rosechild.

__ADS_1


Jeremy dengan terburu-buru ikut membungkuk bersama Otto.


Tidak, dari postur badannya, itu lebih mirip bersujud.


Dengan panik dia berucap, “Aku mohon Tuan Besar, tolong selamatkan nyawa Tuan Muda Arno! Saat ini dia sedang menghalau banyak musuh di dalam. Aku tak yakin dia akan sanggup bertahan lebih lama.”


Mendengar ucapan Jeremy Rudd, wajah Lehman seketika menampakkan amarah yang tak tergambarkan.


Itu sangat berbanding terbalik dengan ekspresinya yang biasanya kalem.


***


[Master, akan kuserang mereka dari belakang. Ini kesempatan kita satu-satunya untuk melancarkan serangan dadakan di saat mereka belum menyadari kehadiranku.]


Anto memberikan usulnya padaku dan aku juga berpendapat seperti itu.


Tidak mungkin aku menang melawan lebih dari dua puluh hunter, terlebih ada dua dari mereka yang berlevel dua tingkat di atasku, dengan mengandalkan pertarungan langsung.


Serangan dadakan pamungkas yang efektif di saat musuh sedang lengah adalah satu-satunya solusinya.


Akan tetapi, itu berarti aku harus memastikan bahwa semua orang yang ada di sini mati oleh serangan dadakan itu karena jikalau ada satu saja dari mereka yang lolos lantas mengadukan soal kekuatan bayanganku kepada dunia luar, identitasku sebagai Arno palsu kemungkinan besar akan terkuak.


Tetapi aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk itu.


Tidak ada peluang bagi kedua hunter berank C itu mati hanya dalam sekali serangan dadakan Anto.


‘Itu akan sulit karena identitasku bisa saja ketahuan kecuali jika kita bisa membunuh para bajingan itu dalam sekali serang.’


[Lantas apa rencana Master?]


Lalu tiba-tiba aku teringat.


‘Bukankah kita ada di wilayah miasma yang banyak monsternya?’


[Itu benar, Master.]


‘Gunakan skill provokasi bayanganmu untuk memancing monster sekitar kemari.’


[Tapi, Master, jika aku melakukannya, bukankah itu akan membuat kita semakin sulit kabur karena kita jadinya harus menghadapi para monster juga?]


‘Percaya padaku. Lakukan saja sesuai perintahku. Sisanya, serahkan padaku.’


[Sesuai perintah Master.]


Tanpa mengetahui apa yang terjadi, Sarpian Mucahantas beserta para anak buahnya tiba-tiba merasakan keanehan di sekeliling mereka.


Lalu secara tiba-tiba saja, banyak monster yang bergerombol di sekitar mereka.


Ini sesuai dengan prediksiku.


Tak kusangka skill yang dulu kutolak mentah-mentah, akan berguna di saat-saat seperti ini.


Stealth.


Skill milik pemilik tubuh Viar yang mampu membuat keberadaanmu terasa menghilang sejenak.

__ADS_1


Itu kurang efektif jika diterapkan pada lawan yang memiliki akal seperti manusia yang memiliki intelligence tinggi, terlebih jika mereka sedang waspada terhadapmu.


Namun ini akan sangat efektif terhadap monster yang tak memiliki akal.


Aku bisa memanfaatkan kekacauan sejenak untuk membuat lengah perhatian para hunter yang mengeroyokku lantas segera kabur dari tempat ini melalui skill stealth tersebut.


Para monster menyerbu Sarpian Mucahantas dan kawanannya, lalu aku pun segera kabur dari tempat tersebut.


“Fyuh! Sepertinya berhasil.”


[Master memang hebat.]


Tak kusangka aku sedikit tersipu pada pujian familiarku.


Aku pun segera berlari keluar dari daerah penuh miasma tersebut.


Namun tak kusangka dalam perjalananku kabur, aku kembali bertemu dengan Jeremy Rudd dan Otto.


Bersama mereka telah ada orang itu, Lehman Rosechild, ayah Arno, yang dikawal oleh puluhan prajurit dari guild pusat.


***


Otto berhasil selamat.


Hari-hari pun kembali normal seperti biasa.


Namun karena permintaan Ayah, aku diistirahatkan beberapa hari dari akademi.


Kudengar masalah berhasil diatasi dengan baik.


Para hunter berlevel rendah terbunuh sewaktu melawan para monster di tempat kejadian.


Adapun hunter berlevel lebih tinggi yang berhasil selamat, ternyata telah menunggu Ayah dan tentaranya di luar sana untuk mengeksekusi mereka.


Sayangnya, atas jaminan dari pihak akademi, Ayah tak bisa menyentuh Sarpian Mucahantas.


Dia yang telah melakukan kejahatan perencanaan pembunuhan pun terselamatkan berkat statusnya sebagai mahasiswa di akademi AHNI.


Itu sedikit membuatku jengkel, namun setelah dipikir-pikir kembali, itu adalah hukuman yang lebih baik untuknya.


Dosa-dosanya akan selamanya melekat pada dirinya, terhinakan di antara para mahasiswa lainnya.


Terlebih ketimbang mendapatkan perlakuan sebagai mahasiswa, dia sekarang lebih diperlakukan sebagai kacung.


Dia pula telah kehilangan haknya sebagai salah satu murid kelas S di akademi.


Tiada hukuman yang lebih pantas selain penghinaan untuk orang yang sesombong dirinya.


***


Melupakan hal itu, pertemuanku secara empat mata dengan Lehman Rosechild saat ini lebih membuatku gugup.


“Kerja bagus, Arno.”


Ucap Ayah dengan lembut padaku.

__ADS_1


__ADS_2