Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 24 – AKU YANG LEMAH bag. 1


__ADS_3

Dari total 35 siswa, hanya 14 siswa yang berhasil keluar dengan selamat dari dungeon break yang terjadi selama pelaksanaan ujian kelulusan Sekolah Menengah Unggulan Taruna itu.


Sebanyak 21 siswa menjadi korban, termasuk Viar.


Karena itu, bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana wajah frustasi Arno.


Di hari itu juga, dia dengan penuh amarah yang bercampur frustasi mendatangi Profesor Adeleine.


“Siapa? Siapa bajingan yang melakukan semua ini?!”


Profesor Adeleine hanya tetap duduk dengan tenang sambil mengecap teh Darjeeling-nya.


“Tenanglah, siswa Arnoria. Siapa yang mengajarimu perkataan kotor seperti itu? Apa jangan-jangan ini karena kamu terlalu sering bergaul dengan siswa rendahan itu sehingga sifatmu ikut-ikutan dengannya?”


Profesor Adeleine sama sekali tidak pernah mendiskriminasi para siswa berdasarkan status sosialnya seperti Profesor Catchilaoz.


Hanya saja, dia punya kecenderungan menganggap tinggi siswa yang berbakat, namun sangat merendahkan siswa kurang berbakat seperti Viar.


“Aku tidak peduli lagi dengan semua itu! Tolong, Profesor, katakan saja siapa bajingan itu?”


“Sayangnya, siswa Arnoria. Bahkan dengan wewenangku sebagai seorang profesor di negeri ini, aku tak sanggup mengungkap rahasia negara tingkat satu. Aku sangsi bahkan dengan status sosial keluargamu, kamu bisa memperoleh sesuatu.”


“Apa yang… Sebenarnya siapa mereka?”


Terlihat wajah penuh kekagetan pada ekspresi Arno setelah mendengarkan ucapan Profesor Adeleine tersebut.


Keberadaan yang bahkan tidak bisa disentuh secara sembarangan oleh keluarganya, itu pastilah organisasi yang sangat berbahaya.


Namun seberbahaya apa mereka sampai masuk rahasia negara tingkat satu?


Itu justru semakin menggelitik rasa penasaran Arno.


“Aku tahu kamu frustasi. Tetapi tidak sepatutnya kamu kehilangan ketenanganmu yang malah menjadikan sikapmu tidak seperti biasanya.”


“Bagaimana aku tidak frustasi jika bajingan yang melakukan ini pada kami bebas berkeliaran begitu saja?”


Profesor Adeleine sejenak diam.


Pandangan matanya yang tajam mengutarakan segalanya tentang apa yang ingin disampaikannya.


“Siswa Arnoria, lupakan segala hal yang terjadi di tempat ini dan mulailah lembaran baru.”


“Kamu adalah siswa berbakat, masa depanmu sangat cerah, terlebih kamu didukung oleh keluarga yang mumpuni pula.”


“Lupakan segala hal yang terjadi di sini dan kejarlah cita-citamu menjadi hunter terhebat yang paling dibanggakan di tanah air Indonesista ini.”


Mendengar itu, badan Arno gemetar.


Namun itu adalah reaksi seseorang yang tak sanggup lagi menahan gejolak amarah yang ada di hatinya.


“Bagaimana bisa aku menjadi hunter yang dibanggakan kalau aku saja tidak mampu membalaskan dendam kematian teman-temanku yang berharga!”


“Kumohon, katakanlah! Katakanlah, Profesor, siapa sebenarnya mereka?”

__ADS_1


Frustasi menyelubungi setiap ekspresi pemuda itu.


Dia dengan putus asa menanti jawaban dari Profesor Adeleine.


“Sudah kubilang siapapun itu, itu adalah rahasia negara tingkat satu yang tidak bisa diungkapkan tanpa adanya wewenang khusus!”


Arnoria menundukkan kepalanya.


Tangannya mengepal dengan sangat kuat.


Tampaknya, kematian Viar benar-benar membekas di sanubarinya.


“Begitu rupanya. Baik, aku mengerti, Profesor.”


“Ya, aku tahu kamu adalah siswa yang mampu selalu berpikiran tenang, siswa Arnoria. Jangan biarkan hal sepele seperti ini membuatmu surut. Ke depannya masih akan ada banyak kematian figuran-figuran demi mendukungmu menempati posisi paling puncak di dunia hunter. Jadi kamu…”


“Ya, aku paham maksud Profesor.”


Tidak tahan dengan pemikiran Profesor Adeleine yang terlalu menganggap rendah para siswa tidak berbakat seolah keberadaan mereka hanyalah batu loncatan untuk membuat yang terkuat semakin menjajaki posisi yang lebih tinggi lagi, Arno segera menghentikan ucapan sang profesor di tengah-tengah.


“Namun kumohon cukup katakan ini saja, Profesor, bagaimana caranya aku bisa memperoleh informasi para bajingan itu segera legal yang bahkan keluargaku pemilik guild hunter terkuat kedua di Indonesista tidak sanggup membantuku memberikan informasinya.”


“Bukannya mereka tidak tahu, hanya saja sama sepertiku, mereka tidak punya wewenang untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang tidak relevan, termasuk kepada calon penerus mereka sendiri.”


“Itu karena informasi ini berkaitan dengan stabilitas negara Indonesista ini sendiri.”


“Bagaimana ya, untuk pertanyaanmu ini, aku juga agak sulit untuk menjawabnya sekarang.


“Tapi yah setidaknya kamu harus punya posisi yang tinggi di kalangan para pejabat atau petinggi hunter.”


“Kamu bisa menjadi pejabat penting negara ini dengan karismamu yang menawan, namun hal yang mudah pula bagimu menjadi hunter kelas atas dengan bakatmu yang cemerlang.”


“Kamu benar-benar terlahir dengan multitalenta, siswa Arnoria, dan kamu harus berbangga karena itu.”


“Nah, jalan mana yang akan kamu pilih dari keduanya?”


Senyum sinis seketika terpampang di wajah Arno.


Dengan yakin, Arno pun menjawab.


“Tentu saja jalan hunter yang akan aku pilih.”


“Jadi sudah ditentukan bahwa kamu akan melanjutkan pendidikanmu di AHNI untuk sekarang, bukan?”


Arno seketika tak berkutik dalam kelihaian silat lidah sang profesor.


Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, Arno hanya bisa menyetujui saran dari Profesor Adeleine tersebut.


Dalam hati, Profesor Adeleine puas karena berhasil meredakan amarah sesaat dari siswa Arnoria Rosechild dengan mengalihkan perhatiannya terhadap kematian teman-temannya sekaligus menjauhkannya dari marabahaya jika terlibat lebih jauh pada organisasi yang telah menyebabkan kematian tragis teman-temannya itu melalui suatu tujuan hidup baru.


Arno tidak tahu, tetapi Profesor Adeleine lebih tahu bagaimana latennnya bahaya yang bisa disebabkan oleh organisasi rahasia tersebut yang bahkan bisa segera meruntuhkan pundi-pundi berdirinya negara Indonesista yang telah diperjuangkan oleh rakyat negeri ini selama ini.


Itu bahkan bukan organisasi yang bisa ditangani oleh keluarga Rosechild sendirian.

__ADS_1


Bahkan keluaga Gerfinda, pemimpin negara ini saja sangat sulit untuk mengatasinya bahaya latennya.


Apa tah lagi jikalau itu seorang individu siswa yang bahkan belum memperoleh lisensi hunter-nya, dia mutlak hanya akan menghilang tanpa jejak begitu terlibat dengan organisasi berbahaya tersebut.


Profesor Adeleine tidak tahu saja bahwa dendam yang dimiliki oleh Arnoria Rosechild bahkan lebih besar daripada apa yang bisa dibayangkannya.


***


Beberapa hari kemudian, upacara pemakaman para siswa yang meninggal karena menjadi korban kejadian tragis tersebut pun dilaksanakan.


Salah satu keluarga korban yang hadir adalah Arcia yang hadir seorang diri perihal setelah kematian Viar, mutlak bahwa kini dia harus hidup seorang diri.


Arno telah lama akrab dengan Arcia sejak dia adalah adik angkat dari sahabat karibnya, Viar.


Melihat Arcia dengan tatapan hampa, Arno pun merasakan perasaan yang menusuk di dalam sanubarinya.


Dia pun mendekatinya untuk sekadar menenangkan sejenak perasaan hati gadis itu yang sedang hancur.


“Arcia, kamu baik-baik saja?”


“Hiks… Hiks… Kak Arno!”


“Maafkan aku, Arcia. Padahal aku berada di dekat Viar saat itu, tapi aku tak sanggup untuk menyelamatkannya.”


Arcia menggeleng kuat atas pernyataan Arno itu.


“Tidak, itu sama sekali bukan kesalahan Kak Arno kok.”


“Arcia…”


“Tapi kumohon, katakan Kak… Akankah Kak Viar akan hidup bahagia di alam sana?”


“Tentu saja. Selama adik yang ditinggalkannya bisa hidup bahagia, kuyakin Viar pun di alam sana akan dapat hidup bahagia.”


“Hiks… Hiks… Syukurlah kalau begitu, Kak. Tapi andai saja…. andai saja malam itu aku menghentikan Kak Viar… Tidak, sedari awal ini salahku yang telah menawarkan Kak Viar untuk bersekolah di sana. Hiks… Hiks…”


“Arcia… Itu sama sekali tidak benar. Bagaimana kamu saat itu akan tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Ini hanyalah jalan takdir…”


Arno tahu bahwa apa yang paling dibutuhkan oleh Arcia saat ini, melebihi manisnya ucapan, adalah kehangatan.


Dia pun merangkul dalam hangat tubuh Arcia yang gemetaran itu.


“Tenanglah, kuyakin di mana pun Viar berada, dia akan terus menyayangimu dan tidak mengharapkan kamu bersedih. Jadi janganlah biarkan kesedihan menggerogoti hatimu, Arcia, demi kebahagiaan Viar pula di mana pun sekarang dia berada.”


***


Kejadian itu tentu saja juga berdampak pada Arnoria Rosechild.


Bagaimanapun, dia harus menyaksikan sendiri teman-temannya meninggal tepat di hadapan matanya.


Malam itu, Arnoria Rosechild dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya, terbangun dalam mimpi buruknya.


Dia pun menatap cermin.

__ADS_1


Tidak, itu bukan Arnoria Rosechild.


Itu Viar.


__ADS_2