
“Ck.”
Itulah yang justru pertama kali diucapkan oleh Jeremy Rudd begitu Sarpian Mucahantas pergi dari hadapan kami.
“Hei, kamu. Bukannya di saat seperti ini setidaknya kamu mengucapkan terima kasih padaku?”
“Aku tidak pernah butuh bantuanmu!”
‘Bajingan ini!’
Aku pun tanpa sadar mengumpat dalam hati saking kesalnya aku pada sikapnya yang jutek itu.
Seandainya saja aku tidak menyamar sebagai Arnoria Rosechild yang lembut dan baik hati saat ini, mungkin sudah akan kuhajar kepalanya berkali-kali.
“Tidakkah kau bersikap terlalu kasar padaku, kawan? Padahal kamu saja sangat sopan sama Senior Sarpian. Kalau dipikir-pikir, aku ini kan anaknya bos ayah Senior Sarpian. Jadi dengan kata lain, aku ini anak dari bosnya bos ayahmu, lho. Bukankah kau justru harus lebih hormat lagi padaku?”
Setelah mengatakan kalimat itu padanya, kulihat wajah penuh frustasi dari Jeremy.
Badannya benar-benar gemetaran ketakutan.
“Hahahahahaha, maaf ya, Arno. Jeremy tidak bermaksud tidak sopan padamu. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik.”
Melihat Jeremy yang kebingungan, Otto segera meng-cover-nya.
Padahal tak ada satu pun niatku untuk mengancamnya.
Aku murni mengatakan itu padanya agar dia bisa memilih seseorang yang lebih pantas dia hormati.
“Aku tidak sedang mengancammu kok, Jeremy. Maaf telah membuatmu salah sangka. Aku hanya ingin menjadi temanmu, kok.”
“Maaf, Tuan Muda Arnoria. Aku yang hina ini sama sekali tidak pantas menjadi teman Tuan yang berasal dari keluarga ternama dan kaya raya. Oleh karena itu, kumohon tinggalkan saja kami dan jangan terlibat lagi dengan urusan kami. Itu hanya akan menimbulkan kerugian bagi pihak kita berdua.”
Pikiran si bajingan itu ternyata lebih rumit dari yang kupikirkan.
Sebenarnya apa yang membuatnya sangat tidak ingin berteman dengan sosok sebaik hati Arnoria Rosechild?
Jika kau berteman dengannya, bukankah itu akan memudahkan hidupmu di akademi?
Sebagaimana dulu aku memanfaatkan Arno sebagai tameng dari pawa siswa pembuli sewaktu berada di sekolah menengah.
Pokoknya aku tidak tahu lagi dengan pikiran si bajingan itu.
Aku telah membantunya sebanyak tiga kali, tetapi dialah yang selalu menolak uluran tanganku.
Mulai saat ini, aku takkan tahu-menahu lagi mengenai urusannya biar pun dia dipukuli, ditindas, bahkan diculik sekalipun, aku tidak akan peduli lagi.
__ADS_1
Siapa yang sangka bahwa perkataan yang hanya terucap secara refleks di mulutku dan sama sekali tidak kumaksudkan apa-apa, benar-benar kejadian.
“Tuan Muda Arno, kumohon selamatkan nyawa Otto!”
“Aku berjanji demi harga diriku sebagai calon hunter masa depan akan bersedia melakukan apapun yang Tuan minta untuk membalas kebaikan hati Tuan di masa depan”
Akan tetapi itu bukanlah Jeremy yang diculik, melainkan sahabat karibnya, Otto.
Untuk pertama kalinya, kulihat wajah tidak berdaya Jeremy Rudd yang angkuh memohon dengan sungguh-sungguh kepadaku.
***
Itu semua berawal dari ayah Arnoria Rosechild, Lehman Rosechild, yang menggunakan insiden duel tersebut sebagai titik mula penyelidikan terhadap kesetiaan sub-guild yang dipimpin oleh ayah Sarpian Mucahantas, Rieco Mucahantas.
Lehman tidak bisa mengkritik secara langsung pelaksanaan duel itu karena dengan melakukannya, itu sama saja mengkritisi harga diri dari akademi itu sendiri.
Namun, dengan berbagai barang bukti yang berhasil dikumpulkan dari tubuh Alleandro Karman di lokasi kejadian, hunter rank E yang maju sebagai champion melawan Arnoria Rosechild dalam duel, plot-plot terselubung yang direncanakan keluarga Mucahantas selama ini akhirnya bisa ketahuan oleh keluarga Rosechild.
Lehman memang selama ini sudah curiga terhadap kemungkinan pengkhianatan sub-guild tersebut, tetapi karena tidak adanya bukti, Lehman tidak punya alasan untuk menyelidikinya secara mendalam.
Namun kini kesempatan itu datang dengan sendirinya.
Ditemukan beberapa racun pembunuh yang tidak dapat terdeteksi baik bau, warna, maupun rasanya yang tersimpan dengan baik di saku baju maupun celana Alleandro Karman sewaktu maju untuk berduel melawan Arnoria Rosechild.
Tidak ada alasan baginya untuk maju dengan racun pembunuh tak kasat mata di tangannya hanya untuk berduel biasa dengan seorang mahasiswa yang bahkan belum memperoleh lisensi hunternya, terkecuali jika sedari awal dia memang berniat membunuh Arnoria Rosechild.
Lalu seiring Lehman menyelidikinya, bukti-bukti pengkhianatan sub-guild itu pun semakin terkuak dengan jelas.
Syukurlah bahwa bukti-bukti itu segera bisa didapatkan sebelum sub-guild itu tumbuh menjadi lebih kuat lagi hingga dapat menyamai atau bahkan melebihi kekuatan guild pusat dan rencana pemberontakan mereka pun menjadi berhasil.
Mereka dapat dibumihanguskan sebelum mereka sempat melakukan pemberontakan sehingga dapat meminimalisir terjadinya lebih banyak korban jiwa.
Sarpian Mucahantas yang saat itu masih berada di dalam akademi, bisa segera mengetahui hal itu lebih cepat sehingga dia pun bisa selamat dari penangkapan pasukan guild pusat keluarga Rosechild.
Dia yang marah akhirnya menculik Otto yang saat itu belum tahu apa-apa.
Dia tidak berani untuk menculik Arnoria Rosechild secara langsung setelah melihat peningkatan kemampuannya selama duel melawan Alleandro Karman tersebut berlangsung.
Itulah sebabnya dia sedikit memutar rencananya dengan memanfaatkan Otto yang lemah untuk diculik demi memancing Arnoria Rosechild ke dalam jebakannya.
***
“Jadi kamu memintaku datang ke suatu tempat demi menyelamatkan Otto yang diculik oleh senior bajingan itu yang jelas-jelas tempat itu pasti merupakan suatu jebakan yang sudah disiapkan olehnya, kawanku Jeremy?”
“Tapi kalau kita melaporkannya kepada wali kelas atau dosen yang lain, Otto akan dibunuh.”
__ADS_1
“Aku lebih tahu bahwa Senior Pian itu sangat kejam sehingga pasti dapat melakukannya bahkan tanpa menutup mata.”
“Aku mohon Tuan Muda Arno, berbaik-hatilah kali ini saja kepada kami.”
“Anda yang sendiri bilang bukan, bahwa Anda menganggap kami teman!”
Di tengah malam buta, di kala aku telah akan beristirahat, aku secara tiba-tiba saja memperoleh kabar mendadak ini dari Jeremy.
“Aku mengerti. Sisanya aku yang akan urus. Kamu kembalilah dulu ke kamarmu.”
Aku menyuruhnya kembali sembari aku menyiapkan langkah yang tertepat yang bisa aku lakukan sekarang.
Si bajingan itu berjanji akan membunuh Otto jika aku tak datang di tempat yang telah ditentukan itu sejam dari sekarang.
Dengan mengambil estimasi perjalanan akan memakan waktu sekitar 40 menit, itu artinya aku sudah harus membuat keputusan sekarang.
Anto baru saja tiba di sampingku sembari memberikan laporan penyelidikannya padaku.
Rupanya apa yang dikatakan oleh Jeremy itu benar adanya.
Terdapat surat di kamar senior bajingan itu yang melaporkan bahwa keluarganya telah diringkus oleh keluarga pusat yang dipimpin oleh Ayah karena rencana pengkhianatan mereka ketahuan dan meminta senior bajingan itu untuk segera kabur dari akademi sebelum pasukan yang dipimpin oleh Ayah juga datang ke akademi untuk menangkapnya.
Lalu si senior bajingan itu bukannya kabur saja dengan tenang, malah membawa masalah baru dengan melibatkan orang yang tak ada sangkut-pautnya sama sekali terhadap hal ini, bahkan dia mengancam akan membunuh orang yang bersangkutan.
Itulah makanya kukatakan dulu kepada Otto bahwa sikapnya yang memilih untuk menjadi lemah juga salah.
Tidak melawan seseorang yang tidak sanggup kamu lawan memang adalah keputusan yang bijak.
Akan tetapi, adalah salah jika kamu menjilati kakinya seolah-olah kamu sangat lemah di hadapannya.
Sekali dia ingin melampiaskan kemarahannya, dia akan segera memilih untuk menendangmu tanpa berpikir dua kali karena di matanya kamu bukan lagi eksistensi yang ada apa-apanya.
Mungkin terdengar munafik, tetapi di dunia yang rusak ini, tidak apa-apa bagi kamu untuk tampak kuat walaupun sebenarnya kamu tidak punya apa-apa sebagai senjata.
Soalnya, sekali kamu terlihat lemah di mata orang lain, orang lain tidak akan pernah berpikir panjang lagi untuk segera menggunakanmu sebagai tumbalnya demi kepentingan pribadinya.
“Tidak bisa seperti itu, Tuan Muda Arno!”
“Otto itu sahabatku, jadi wajar jika aku juga ingin menyelamatkannya!”
“Bagaimanapun caranya, aku harus ikut dengan Anda!”
Tapi bajingan kecil yang ada di hadapanku ini, semangatnya demi melindungi sahabatnya memang baik.
Itu jelas lebih baik daripada sikapnya sebelumnya yang hanya membiarkan saja sahabatnya dihajar mentah-mentah oleh senior bajingan itu dengan menyembunyikan ekornya.
__ADS_1
Akan tetapi, memangnya apa yang bisa dilakukannya untuk membantu di sana?
Dia hanya akan berakhir menjadi beban tambahan.