
“Kerja bagus, putraku.”
“Berkat kecurangan dalam pelaksanaan duel tersebut, kami akhirnya jadi punya alasan untuk menyelidiki keluarga cabang itu.”
“Kami selama ini telah mencurigai mereka melakukan pengkhianatan.”
“Terima kasih berkat kau yang membukakan jalannya, kami pada akhirnya berhasil menemukan bukti kejahatan mereka.”
Lehman Rosechild terlihat puas terhadap apa yang telah terjadi sejauh ini antara aku dan Sarpian Mucahantas.
“Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai salah satu bagian keluarga, Ayah.”
Pandangan Lehman Rosechild tiba-tiba menunjukkan kesenduan.
“Tetapi terlepas dari semua itu, Arnoria. Sebagai seorang Ayah, aku memintamu untuk tidak berlebihan.”
“Aku tahu itu! Aku takkan melakukan hal-hal yang akan mencemari nama keluarga!”
Entah mengapa terbersit raut wajah kecewa pada Lehman Roschild ketika aku mengatakannya.
Tetapi dia kemudian kembali tersenyum lembut padaku.
“Bukan itu, putraku. Jangan lagi melakukan hal-hal yang berbahaya yang dapat mengancam keselamatanmu.”
“Aku paham. Sebagai penerus berpotensial tersisa di dalam keluarga, aku akan menjaga tubuh ini baik-baik.”
Lehman Rosechild tiba-tiba bangkit dari kursinya lantas berjalan ke arahku.
“Ayah?”
Dia tiba-tiba mengusap kepalaku.
“Sebelum menjadi penerus keluarga, kamu adalah putraku yang berharga, Arnoria. Itu sebabnya, Ayah tak ingin terjadi suatu apa-apa kepadamu.”
Tak biasanya seorang Lehman Rosechild menunjukkan emosinya kepada orang lain.
Ataukah itu bagian dari aktingnya untuk mengendalikan perasaan orang-orang di sekitarnya?
Bagaimanapun, dia adalah mantan aktor nasional yang sangat berbakat dalam akting.
Takkan pernah kulupakan bagaimana dia mengambil keputusan terhadap masalah pembulian Kak Dahlia di masa lalu.
“Oh iya, putraku. Habis ini tolong temui kakekmu. Tampaknya ada yang ingin Beliau sampaikan kepadamu.”
“Baiklah, Ayah.”
Sehabis itu, sesuai perintahnya, aku pun beranjak dari ruangan Lehman Rosechild untuk menuju ke ruangan sang kakek yang dimaksud.
Odis Rosechild.
Beliau adalah ayah dari Ibu yang merupakan salah satu perintis berdirinya negara Indonesista ini.
Berkat bantuan besar yang diberikannya selama proses revolusi, keluarga Rosechild pun menerima imbalan yang besar pula berupa hak untuk mengatur seluruh bagian utara Pulau Java di bawah kekuasaannya.
Begitu aku memasuki ruangan, bisa kusaksikan tampakan seorang kakek-kakek flamboyan sedang duduk di atas bantal duduk santainya sembari ditemani oleh minuman jahe pahit di atas meja lesehan di depannya.
Di sampingnya juga ternyata berdiri kepala pelayan kami, Kakek Flexi.
“Salam hormat kepada Kakek.”
Aku mengucapkannya sembari membungkukkan badanku penuh hormat sesuai dengan etika yang berlaku di keluarga Rosechild.
“Duduklah.”
Begitu sang kakek menjawab, aku pun segera bangun dari hormatku lantas dengan hati-hati, ikut duduk bersamanya tepat di hadapannya.
__ADS_1
Sang kakek hanya diam.
Sudah berlalu cukup banyak waktu sejak dia hanya menatapku dalam diam.
Karena itulah aku pada akhirnya yang berinisiatif mengajukan pertanyaan.
“Ada apa Kakek memanggilku?”
Tapi sang kakek lagi-lagi hanya diam.
Kembali berlalu cukup lama waktu di dalam ruangan itu dalam keheningan.
Baik aku, Kakek, termasuk kepala pelayan kami, Kakek Flexi, hanya mematung tanpa suara.
“Kudengar kamu akhirnya mencapai ranah magic swordsman. Tampaknya itu benar dilihat dari peningkatan drastis mana di tubuhmu.”
***
Nama: Laviar (samaran: Arnoria Rosechild)
Ras: vampir (samaran: manusia)
HP: 1114 <1225>
MP: 1422 <1431>
Str: 5,24 (E)
Vit: 5,22 (E)
Agi: 8,56 (E+)
Dex: 4,41 (E)
Int: 10,50 (D-)
***
Nyatanya, MP-ku masihlah sangat kecil dan bahkan masih sangat jauh menembus angka sepuluh ribuan, apa tah lagi mencapai MP awalku sebelum aku terdampar di tubuh manusia yang menyedihkan ini.
Terakhir kali sebelum bencana dungeon yang menyebabkanku terdampar di dunia manusia, aku memiliki jumlah MP tiga ratus ribu lebih, sangat tidak bisa dibandingkan dengan MP-ku yang sekarang.
Akibatnya, staminaku untuk menggunakan magic sword masih sangat lemah.
Setidaknya stat-ku yang lain harus mampu ditingkatkan agar tubuhku mampu menyimpan jumlah mana potensial yang jauh lebih besar.
Namun perkataan Kakek Odis selanjutnya lebih membuatku panik.
“Aku ingin menyelamatimu, tapi kudengar, kau justru membangkitkan kekuatanmu bukan dengan holy sword seperti baik kakekmu maupun ayah dan ibumu lakukan, melainkan dengan suatu bastard sword. Mengapa kamu melakukan itu cucuku?”
Tampaknya inilah tujuan utama dari sang kakek memanggilku kemari.
Dia pasti ingin menginterogasiku soal perubahan senjata pedangku.
Aku telah diakui oleh artifak pedang Plata, walau demikian aku beralih ke penggunaan pedang suatu bastard sword tak bernama.
Itu jelas-jelas aneh baginya, ditambah dengan itu kekuatan magic sword di dalam diriku justru terbangkitkan.
Namun, itu bukan hal yang sulit untuk dicari penyangkalannya.
“Entahlah Kek. Mungkin aku sedang berada di dalam masa-masa yang diistilahkan orang-orang sebagai fase pemberontakan remaja.”
“Begitu rupanya. Apa kau ada niat untuk kembali menggunakan artifak pedang platinum Plata-mu?”
“Itu mungkin saja.”
__ADS_1
“Mengapa jawabanmu jadi ambigu, cucuku?”
“Lebih tepatnya, aku tak suka dibatasi dalam penggunaan senjata. Bukankah tiap anggota keluarga kita juga diajari beraneka jenis senjata seperti panah dan shuriken? Aku juga tak suka jika harus diatur ingin menggunakan pedang yang besar atau pedang yang kecil.”
“Besar dan kecilnya sesuatu bukanlah batasan. Selama itu keras dan kokoh, itu bisa menjadi senjata yang baik.”
“Aku tetap akan mempertahankan pedang Plata-ku, tetapi aku juga tak ingin melepaskan Kurumi dan Kusagi milikku.”
“Kurumi dan Kusagi?”
“Ah, itu adalah nama kedua bastard sword-ku yang baru saja kuputuskan. Mulai sekarang, aku akan merawat mereka baik-baik.”
“Aku paham keputusanmu, cucuku, meskipun sebagai kakekmu, aku menyayangkan keputusanmu itu yang telah menanggalkan tradisi keluarga.”
“Sudah kubilang Kek bahwa aku juga akan tetap menjaga Plata…”
Kakek menaikkan tangannya pertanda menyuruh aku diam.
Aku pun seketika diam mendengarkan lanjutan obrolannya.
“Baiklah, mari kita simpan itu dulu seperti itu untuk saat ini sambil aku menyaksikan ketetapan tekadmu di masa mendatang, cucuku.”
“Jika seperti apa yang kau bilang sebelumnya bahwa ini hanyalah fase pemberontakan remaja, kuharap di masa depan kau akan kembali menggunakan pedang warisan keluarga dengan lebih bangga.”
Aku tak banyak bicara lagi setelah itu.
Aku hanya mendengarkan dengan tenang apa yang selanjutnya Kakek ingin sampaikan kepadaku dengan sesekali menjawab dengan jawaban ya atau tidak pada beberapa pertanyaannya yang membutuhkan konfirmasi.
Beberapa saat pun, akhirnya sang kakek mempersilakan aku untuk meninggalkan ruangan.
***
“Kalau begitu, aku permisi dulu, Kek.”
“Ya, selamat malam, cucuku.”
“Selamat malam juga, Kakek.”
-Puak.
Suara pintu tertutup terdengar lantas sosok Arnoria Rosechild tak lagi terlihat di mana pun di tempat tersebut.
“Sesuai laporanmu, Flexi. Ada yang aneh dengan cucuku, seolah dia adalah orang yang berbeda dari masa lalunya.”
Pandangan sang kakek lantas memfokus.
Dia tampak memikirkan suatu hal yang benar-benar rumit.
“Nona Lisanna berkata bahwa itu mungkin pasca trauma Tuan Muda pada kejadian dungeon break di ujian kelulusan SMA-nya dulu, Tuan Sepuh.”
Odis Rosechild segera bisa menyadari bahwa titik balik perubahan sikap Arnoria Rosechild adalah sewaktu bencana dungeon break ujian kelulusan SMUT angkatan ke-19 tersebut.
Suatu pikiran liar pun menjelajahi isi otaknya.
“Flexi, apa kamu pernah mendengar bahwa ada monster dari dalam dungeon yang mampu memimik wajah seseorang dengan sempurna?”
“Tidak, aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya, Tuan Sepuh. Jikalau ada, itu adalah di dalam legenda seperti siren yang bisa memberikan sihir ilusi kepada para nelayan di laut atau semisal vampir ketika dia ingin mengisap darah korbannya. Tetapi kedua-duanya adalah sihir sehingga seharusnya akan segera terpatahkan ketika melewati barier anti sihir seperti yang terpasang di kediaman ini. Lagipula, sosok seperti itu hanya ada di dalam legenda, Tuan Sepuh.”
“Ya sudah, kamu selidiki saja gerak-gerik Arnoria Rosechild baik-baik selama dia berada di dalam kediaman untuk saat ini lalu laporkan tiap perkembangannya padaku.”
“Sesuai perintah Anda, Tuan Sepuh.”
“Tampaknya, aku juga membutuhkan seorang mata-mata untuk mengawasi pergerakan cucuku itu selama berada di akademinya.”
Tanpa disadari Laviar, penalti mati dalam 4 bulan yang akan terjadi ketika identitasnya sebagai vampir ketahuan tersebut semakin mendekat padanya.
__ADS_1
Sang kakek rupanya mulai curiga terhadap perubahan sikap cucunya yang tak biasa.