Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 53 – AJANG KOMPETISI TAHUN PERTAMA bag. 6


__ADS_3

Akhirnya tiba juga saat yang sesungguhnya.


Bukankah tujuan awalku ingin memenangkan kompetisi ini semuanya dimulai karena guild Lephirum yang lebih merekomendasikan Alvin Hermes untuk ikut serta dalam ekspedisi dungeon daripada diriku karena menilai aku lebih kurang mampu darinya?


Untuk membuktikan kepada guild Lephirum bahwa akulah yang lebih pantas ikut serta dalam ekspedisi dungeon itu, aku harus bisa mengalahkan Alvin Hermes dalam kompetisi resmi ini.


Kalau dihitung termasuk dengan jumlah pertandingan tidak resmi kami, maka seharusnya aku menang lebih banyak ketimbang Alvin Hermes.


Tapi memang apa yang berbahaya dari sosok Alvin Hermes pada pertandingan resmi adalah hawa membunuhnya yang lebih terasa.


Jelas hawa membunuh itu tetap tidak mampu mempengaruhi orang kuat seperti Julian.


Jika bukan karena Julian sendiri yang menyerah pada pertandingannya, tidak mungkin Alvin Hermes akan melangkah sejauh ini.


Namun aku berbeda dengan Julian.


Sejak awal aku bukanlah Arnoria Rosechild yang asli.


Aku dulunya hanyalah seorang petarung grade bawah yang bisa sejauh ini berkat mencuri kekuatan lawan.


Tentu saja aku hanya bercerita soal sosokku sejak terdampar di tubuh manusia lemah ini.


Aku sejatinya adalah seorang pangeran vampir yang hebat dan perkasa.


Alvin Hermes-lah yang dengan sigap memulai serangan dengan melontarkan pedangnya ke arah solar plexus-ku dengan kecepatan tinggi.


Aku segera menangkisnya, namun serangan itu terlalu berat sehingga pada akhirnya untuk pertama kalinya aku mengaktifkan aura pedangku di dalam pertandingan itu.


Walau dengan petir yang meliar pada aura pedangku, tampak bahwa Alvin Hermes sama sekali tidak terganggu akan hal itu.


Dia dengan sigap memilih arah memutar untuk mengincar titik butaku.


Kini giliranku yang melayangkan pedang ke arahnya.


Aura membunuhnya yang kental membuat aku lengah pada serangan bawahnya.


Dia menendang tulang keringku yang menyebabkan keseimbanganku goyah untuk sesaat.


Aku segera memilih bergerak mundur sebelum tibanya serangan selanjutnya dari Alvin Hermes memanfaatkan tubuhku yang tidak siap menerima serangan.


-Shaa.


Aura pedangku mengalir dalam wujud petir menembakkan suatu serangan jarak jauh bertubi-tubi.


Dengan lincah, Alvin Hermes menghindari tiap serangan petir itu.


“Hei, Arno. Tahu tidak, kamu rupanya tidak segesit Julian dalam menyerang ya.”


Ucapan Alvin Hermes yang disertai dengan aura membunuhnya yang kuat seketika membuyarkan konsentrasiku.


‘Ah, sial! Aku telah termakan provokasinya.’


-Trak.


“Ukh.”


Dia berhasil menembus ke dalam celah perlindungan pedang auraku.


Namun berkat skill yang kupelajari dari Abel Lundoln, aku tidak menerima dampak kerusakan yang fatal pada serangan tersebut.

__ADS_1


Serangan liar berupa tembakan jarum petir tidak akan bekerja padanya.


Jika itu semisal serangan all-round milik Julian, mungkin itu akan berpengaruh karena tidak ada celah untuk berlindung, namun serangan jarum petirku yang menyebar sangat mudah untuk dihindari karena terdapat banyak celah.


Aku pun memfokuskan aura pedangku untuk pertahanan.


Sejak grade kami sangat berbeda walaupun kami masih sama-sama berlevel E, jika aku fokus bertahan, Alvin Hermes pastinya akan sangat kesulitan melayangkan satu serangan pun padaku.


“Alvin, kau seperti tikus saja yang berusaha merangkak kabur.”


Aku balas memprovokasinya.


Tentu saja bukan dengan ekspresi polos Arnoria Rosechild, melainkan sebagaimana tubuhku sebelumnya Viar yang selalu dengan mudahnya memperoleh musuh.


Jika ada satu bakat cemerlang yang kupelajari dari tubuh Viar, itu adalah keahliannya dalam memprovokasi lawan.


Alvin Hermes terpancing.


Bagaimanapun hati manusia itu serapuh kaca.


Sedikit saja kau menyinggungnya, bagaimanapun mereka mencoba menutupinya, rasa marah sekecil apapun dapat membuat kaca yang rapuh itu retak.


Tanpa dia sadari, sedikit gerakan Alvin Hermes menjadi simpel di bagian kaki kirinya.


Melihat kesempatan emas yang diberikan padaku, aku pun menyerang sisi kirinya.


Alvin Hermes pun terlambat merespon dan,


“Akh.”


Aku berhasil melayangkan serangan pertamaku padanya dengan impak yang cukup memuaskan.


Walau sedikit terlambat, Alvin Hermes mampu merespon sedikit lebih cepat sehingga itu meleset beberapa inci dari titik vitalnya.


Adu pedang yang intens pun terjadi selanjutnya.


Alvin Hermes bersalto dan menyerang dari atas, sementara aku bertahan di bawah.


Itu bukan pilihan yang baik untukku sejak pedang kayu Alvin Hermes jauh lebih berat dari pedangku sehingga gaya gravitasi semakin membantunya untuk memojokkanku.


Di luar dugaan pula, Alvin Hermes yang merupakan swordsman biasa mampu bertahan dengan baik pada seranganku yang padahal telah mengaktifkan aura pedangku.


Itu merupakan pertarungan yang gigih.


Namun pada akhirnya, aku malu mengakuinya, tetapi lagi-lagi aku diuntungkan oleh stamina.


Aku belum bisa berkata bahwa staminaku sudah besar jika aku berpatokan pada Lisanna Annexia atau Jeremy Rudd, tetapi setidaknya aku lebih unggul daripada Alvin Hermes yang lebih senang berkencan dengan seorang wanita di waktu luangnya ketimbang lebih berlatih mengasah kemampuannya.


Ini tentunya tidak terlepas dari jasa-jasa Lisanna Annexia yang dimulai sejak konflikku bersama Sarpian Mucahantas, terus melatihku menjadi lebih kuat, termasuk dalam hal membangun stamina di mana kami selalu bangun subuh-subuh hanya untuk berlari mengitari bangunan akademi yang sangat luas sampai sepuluh kali.


Alhasil, staminaku jauh meningkat drastis.


“Huff, huff, huff.”


Dengan semakin banyaknya waktu berlalu, terdengar suara nafas Alvin Hermes semakin tidak teratur.


Walau demikian, dia masih sanggup untuk mempertahankan kelincahannya bagaikan tikus yang tak pernah menyerah untuk dijadikan santapan ular.


Itulah sebabnya aku tidak punya pilihan lain selain menerapkan apa yang dilakukan Lisanna sebelumnya yang kesal di putaran kedua, yakni jika kau tidak bisa juga menangkap musuhmu yang lincah, maka hancurkanlah arena.

__ADS_1


Aku mengarahkan energi pedangku ke tanah.


Seketika, arena pun kembali retak tak berbentuk.


Itu tidak cukup untuk menjatuhkan Alvin Hermes, tetapi itu telah cukup mengurangi kelincahannya.


Ditambah staminanya yang mulai habis, aku dengan mudah menangkapnya.


-Trung trang trang.


Dia masih bisa menangkis seranganku dengan baik.


Akan tetapi,


“Ingat, Yayang Arno. Dalam pertandingan seluruh bagian tubuh itu adalah senjata. Jadi jangan hanya fokus berpikir bahwa pedanglah satu-satunya senjata di tanganmu.”


Itulah yang pernah dikatakan Lisanna padaku.


Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Alvin Hermes padaku di awal-awal, tanpa diduga-duganya hentakan pedangku hanyalah feint belaka.


Lisanna Annexia juga pernah berkata padaku bahwa gerakan satu tubuh dapat membuat gerakan tubuh lain kita terprediksi oleh lawan, jadi sebisa mungkin hindari gerakan yang mudah ditebak.


Itulah sebabnya Alvin Hermes yang mengkonsentrasikan fokus keduanya pada serangan bawah telah tertipu.


Tangan kiriku-lah yang di luar dugaan menyerang bagian solar plexus-nya.


Lagian sedari awal aku adalah pengguna dua pedang bastard.


Jika bukan karena aturan kompetisi yang hanya bisa menggunakan satu pedang, aku pasti sudah akan memilih dua pedang di tanganku.


Yah, walaupun melakukan itu agak sedikit… bagaimana menjelaskannya… hmm… sedikit aneh ketika kamu menyerang tidak dengan keadaan simetris.


Tapi alhasil seranganku itu efektif.


Aku kemudian sama sekali tak melewatkan kesempatan untuk menyerang intens Alvin Hermes yang telah dalam keadaan terluka sampai dia terkapar dan tak sanggup lagi berdiri untuk melanjutkan pertarungan.


Kemenangan mutlak diraih untukku.


***


Semuanya berjalan lancar sampai pada titik ini.


Namun, hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi di putaran final.


Semula, aku sudah yakin bahwa lawanku selanjutnya di putaran final pastilah Lisanna Annexia sebagai orang terkuat di angkatan kami.


Nyatanya, bukanlah Lisanna Annexia yang maju sebagai lawanku, Jeremy Rudd-lah yang akhirnya maju di putaran final.


Lalu apa yang lebih membuatku kesal adalah si Jeremy Rudd sialan itu…


“Wasit, aku menyerah.”


“Karena Jeremy Rudd telah mengaku kalah, maka pemenang kompetisi mahasiswa baru tahun ini otomatis jatuh kepada mahasiswa 1S2 Arnoria Rosechild.”


“Boooo.”


“Huuuu.”


Itu sontak memperoleh teriakan celaan dari para penonton yang menginginkan pertarungan yang panas membara, namun tiba-tiba berakhir secara antiklimaks perihal Jeremy Rudd yang tiba-tiba menyerah bahkan sebelum bertanding.

__ADS_1


__ADS_2