
“Woi, Jenny! Ngapain kamu di sana?! Kita harus bergegas persiapan memasuki dungeon! Cepat kemari!”
“Baik, Pak!”
Tepat sebelum Kak Jenny akan mengeluarkan jawabannya tentang alasan ketertarikannya terhadap masa lalu negara yang hampir dilupakan oleh semua orang, masa-masa kejayaan silam Sunda Empire, wakil ketua guild memanggilnya dengan keras untuk persiapan memasuki dungeon.
Aku ikut pula mengikutinya di belakang untuk memantau.
Tidak banyak yang mesti aku persiapkan selain tas kantong besar yang jika dilebarkan mungkin akan seukuran tiga kali lebih besar dibandingkan ukuranku.
Sebagai porter dalam misi ini, tugasku hanya satu yakni mengumpulkan segala harta benda berharga yang berhasil ditemukan oleh para anggota ekspedisi selama berada di dalam dungeon.
Profesor Fritz telah mengatakan kepadaku sebelumnya kalau peran sebagai porter ini hanyalah kedok belaka.
Jika mereka memang serius ingin menambang lebih banyak harta dari dalam dungeon, mereka pasti sudah akan menyewa banyak pula penambang untuk ikut bersama mereka.
Nyatanya, mereka hanya membawa tambahan seorang porter dengan alasan penghematan dana.
Mereka tidak mengungkapkan niat mereka yang sebenarnya, tetapi baik Profesor Fritz maupun Nenek Litana, sudah bisa menebak apa yang mereka inginkan.
Mereka ingin menggunakan kekhususan para calon hunter yang masih bermana rendah di mana kekuatannya belum banyak tercemari dalam rangka penyelesaian dungeon spesial ini untuk membuka pintu rahasia tanpa mengaktifkan jebakan yang sangat berbahayanya.
Mereka akan melanggar hukum negara jika mengungkapkan niat mereka secara gamblang, tetapi bukannya kepala akademi juga menyalahkan keputusan mereka ini.
Itulah sebabnya dalam diam, tanpa adanya perjanjian dengan ucapan, mereka sama-sama sepakat terhadap hal ini tanpa ada satu pun yang membahas hal yang sudah jelas itu.
Bagaimanapun keamananku selama berada di dalam dungeon telah dipastikan akan terjaga dengan baik sehingga dari pihak akademi pun memberikan lampu hijau mereka.
Setelah persiapan nan panjang, kami pun mulai memasuki dungeon.
Ada 21 orang yang masuk, dua puluh dari guild Lephirum ditambah diriku sebagai porter mereka.
Begitu masuk, aku bisa menyaksikan nuansa yang suram dan agak gelap walaupun waktu di dalam dungeon seharusnya sudah lewat fajar.
Walaupun demikian, perasaan panas nan lembab ala hutan tropis sangat terasa sehingga kulitku rasanya sangat tidak enak di mana ingin rasanya aku segera mandi untuk membersihkan badanku yang penuh dengan bau keringat dan sesuatu yang penuh dengan perasaan lengket ini.
Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi mendadak kabut di sekeliling kami menebal.
“Dik Arno, tetap waspada di belakangku.”
Kak Kina segera berdiri di hadapanku untuk berjaga-jaga akan terjadinya serangan dadakan.
Lalu pada suatu titik, sinar matahari benar-benar terhalang oleh kabut.
__ADS_1
Perasaan panas dan lembab yang awalnya terasa juga mendadak berubah menjadi nuansa horor yang begitu dingin.
Aku merasakan menggigil di seluruh tubuhku dan bisa kurasakan pula seluruh bulu kudukku ikut merinding.
Tiba-tiba tanah bergetar di sekitar kami lantas akar meliar muncul di mana-mana dari dalam tanah.
Lucunya, itu sama sekali tidak menyerangku.
Mereka benar-benar adalah monster yang bergerak secara insting untuk mengincar makanan dengan asupan mana yang terbesar saja.
Sebagai pemilik mana terendah di grup ini, memang tidak ada alasan bagi para monster itu untuk mengincarku.
Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk melihat bagaimana hunter profesional bertarung.
Itu benar-benar gerakan yang sangat cantik bahkan itu diselesaikan begitu saja tanpa ada monster yang berhasil melukaiku, tidak, bahkan menyadari keberadaanku saja tidak pernah.
“Levina, bagaimana? Apa kamu sudah menemukannya?”
Terhadap pertanyaan Kak Kina tersebut, Kakak yang dipanggil Levina pun menggelengkan kepalanya pertanda belum adanya sama sekali perkembangan informasi.
Tepat di saat kami memasuki dungeon, Kak Levina telah menyebarkan granule-granule kecil yang bertebaran ke mana-mana ke berbagai sisi dungeon.
Itu untuk mendeteksi ruang yang aliran mananya terasa lain dari tempat seharusnya.
Namun jauh berjalan, rupanya tetap sama sekali tak ada petunjuk.
“Biar kuperiksa beberapa tempat yang kurasa aneh di sana, Kak.”
“Sesuatu yang aneh di sana? Levina, apa kamu juga merasakan sesuatu?”
“Tidak, Ketua.”
“…”
“…”
“Tidak ada salahnya mempercayai insting walaupun itu sekecil apapun, bukan?”
“Baiklah, kalau begitu aku ikut.”
Setelah memberikan aba-aba kepada timnya, Kak Kina walaupun terlihat masih meragukan perkataanku akhirnya memilih ikut bersamaku ke suatu penampakan aneh yang aku temukan dari skill deteksi Anto yang anehnya sama sekali tak terdeteksi oleh jurus Kak Levina di mana yang lain tetap stand by di tempat untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi.
Namun tiba-tiba,
__ADS_1
-Krang.
Seekor ular hampir saja menelanku hidup-hidup.
Begitu aku menoleh ke belakang, rupanya Kak Kina yang jelas-jelas sedari tadi masih bisa kurasakan hawa keberadaannya telah menghilang di belakangku.
Tidak ada sama sekali perasaanku bahwa hal buruk telah mulai terjadi saat aku melangkahkan kaki ke sesuatu yang rupanya merupakan jebakan monster itu, bahkan Anto yang jauh lebih peka terhadap hawa membunuh dariku juga tidak bisa merasakannya.
Jika bukan karena seseorang berhasil menarik aku ke belakang, aku pasti telah akan berada di dalam perut monster itu sekarang.
Tetapi tunggu dulu, bukankah di wilayah hutan yang dipenuhi monster pepohonan seharusnya takkan pernah bisa hidup monster tipe hewan karena mereka hanya akan seketika menjadi sasaran makanan empuk bagi pohon-pohon kelaparan ini?
Tidak, sebelum itu, aku harus mengucapkan terima kasih kepada Kak Jenny yang telah menyelamatkan nyawaku.
Aku masih tak percaya bahwa di waktu yang singkat itu dia bisa menyelamatkanku padahal dia adalah seorang battle mage yang seharusnya berfokus pada serangan jarak jauh, terlebih dia masih hunter rank D.
Nyatanya, kelincahannya tak ubahnya sekelas assassin.
“Terima kasih, Kak Jenny.”
“Shhh.”
Namun Kak Jenny seketika menaruh ujung telunjuknya di bibirku sembari tersenyum nakal sebagai isyarat bahwa untuk sementara aku harus tetap diam.
“Itu bukan basilisk, melainkan tumbuhan bernama georapadtra yang bisa melumpuhkanmu seketika lantas melumatkan tubuhmu dalam sesaat dengan cairan asamnya. Dia mendeteksi musuh melalui bau mulut sehingga orang yang masih amatir menyembunyikan bau mulutnya sepertimu sebaiknya tidak boleh membuka mulut dulu.”
Entah mengapa aku sedikit kesal terhadap omongan Kak Jenny itu walaupun kutahu dia tidak bermaksud mengatakan bahwa nafasku bau.
Tetapi sebelum aku mampu menyadarinya, Kak Jenny dengan cepat telah melayangkan sihir apinya membakar habis para monster georapadtra tersebut.
Tidak, ternyata sosok yang mirip ular itu bukanlah sang tubuh asli. Apa yang menjadi tubuh asli monster georapadtra tersebut adalah pohon besar di tengah-tengah kumpulan ular-ular itu. Ular-ular itu tidak lain adalah perpanjangan dahan sang pohon saja yang dengan cepatnya tumbuh kembali begitu itu dihancurkan.
Namun dalam gerakan berikutnya, Kak Jenny tidak lagi menggunakan sihir, tetapi belatinya.
Dia dengan cepat menebas tiap perpanjangan dahan sebelum sempurna berwujud menyerupai ular.
Tahu-tahu dia sudah tepat berada di depan pohon lantas menembakkan sihir dalam jarak dekat yang seketika menghancurkan pohon itu sampai ke akar-akarnya.
Inilah kualitas dari anggota terlemah guild yang bernama Lephirum tersebut.
Di pandangan mataku, tidak terlihat sama sekali bahwa dia lemah.
Tidak, Kak Jenny benar-benar kuat.
__ADS_1