
Laviar tengah lengah.
Tanpa menyadari maksud Sistem yang sebenarnya, dia tergiur akan reward quest yang diberikan kepadanya.
Sayangnya, itu adalah bagian dari skema Sistem seperti halnya Sistem memancing kedatangan organisasi rahasia ke sekolah Laviar sebelumnya.
Semuanya demi satu tujuan, menimbulkan kesangsian di hati Lisanna agar mempertanyakan tentang identitas Arnoria Rosechild yang ada di hadapannya.
Gaya bertarung adalah suatu hal yang spesifik dimiliki untuk tiap individu.
Bagaimanapun kau berupaya meniru secara sempurna gaya bertarung seseorang bahkan jika kau mengekstrak ingatan orang yang ingin kau tiru itu, kau hanya tetap akan berakhir dengan gaya yang tidak persis sama.
Itu karena tiap individu terlahir dengan keunikannya masing-masing, tiada individu di dunia ini yang terlahir sama persis, walaupun itu di antara anak kembar sekalipun.
Terlebih ketika kau sebelumnya seharusnya telah mengenali kebiasaan lawanmu dengan baik karena kau telah terbiasa bertarung dengannya, namun kau tiba-tiba saja menjadi kikuk terhadapnya, itu pasti akan menimbulkan tanda tanya yang besar bagi seseorang yang mengenalmu dengan baik.
Sebagai teman masa kecil Arno, Lisanna juga telah menyaksikan pertarungan Arno bersama Alvin Hermes beberapa kali.
Alih-alih lari pada kekejaman hawa membunuh Alvin Hermes, Arno yang dulu akan cenderung menghadapinya secara langsung dengan keyakinannya yang lurus.
Namun, Arno yang sekarang justru terlihat canggung dan malah berusaha menghindarinya dengan jalan yang memutar, benar-benar berkebalikan dengan dirinya yang dulu.
Lisanna juga telah menyaksikan Arno melatih Abel untuk menjadi lebih kuat, bahkan dia sendiri yang menyarankannya untuk berpindah kelas dari kelas mage ke kelas swordsman.
Arno memang memiliki sifat yang sangat baik dan murah hati sehingga itu tidaklah begitu mengherankan bahwa dirinya akan tergugah menolong temannya yang kesusahan.
Namun apa yang aneh adalah cara Arno memberikan pelatihan kepada Abel.
Itu seakan-akan sosok malaikat berubah menjadi iblis dalam waktu semalam.
Keraguan Lisanna semakin menjadi-jadi ketika dia mendengarkan bisikan yang ditujukan oleh Arno kepada Mulyadi Murhahan.
“Makanya kamu hadapi dia dulu untuk melihat siapa yang sebenarnya sampah di antara kalian, dasar kecoak.”
Laviar tidak menyadarinya bahwa indra pendengaran seorang calon hunter unggulan sekelas Lisanna jauh lebih tajam daripada yang dipikirkannya.
Arnoria Rosechild, teman masa kecil Lisanna Annexia yang dikenalnya, tidak akan mungkin mengucapkan kalimat sekasar itu kepada seseorang sebenci apapun dirinya kepada orang tersebut.
Sosok Arnoria Rosechild di hadapannya seakan menjadi orang yang berbeda pasca bencana dungeon break di ujian kelulusan SMUT tersebut.
Lisanna ingin menolak hal tersebut, namun kian lama dia menolak, bukti itu hanya akan menjadi semakin jelas.
Terdapat perbedaan besar terhadap gaya bertarung Arnoria Rosechild yang sekarang dibandingkan dirinya yang dulu.
Sulit untuk mengungkapkan sifat bertarung seseorang jika sang lawan terlalu lemah atau sebaliknya terlalu kuat.
Namun, itu hal yang mudah ketika lawan memiliki kekuatan yang seimbang.
Begitu seseorang melawan lawan yang seimbang, di situlah sifat bertarungnya akan terungkap dengan lebih gamblang.
Hanya satu hal yang bisa menjelaskan mengapa sifat dasar gaya bertarung Arnoria Rosechild yang seharusnya identik dimiliki oleh individu bisa berubah.
Itu karena pada awalnya, mereka memang bukan orang yang sama.
“Itu tidak mungkin.”
Terbersitlah imajinasi liar Lisanna Annexia di dalam dirinya bahwa Arno yang keluar di detik-detik terakhir pada hari bencana dungeon break tersebut sejatinya bukanlah yang asli, melainkan monster dungeon yang telah menyamar sebagai dirinya.
Benar-benar situasi berkembang sesuai apa yang diharapkan oleh sang Sistem.
Namun kemudian,
__ADS_1
“Kepribadian ganda?”
“Itu benar, Dik Lisanna. Terkadang, akan muncul suatu penyakit yang disebut Dissociative Identity Disorder alias kepribadian ganda pada seseorang yang merasa sangat kehilangan akan kepergian orang terkasihnya yang berdampak akan muncul kepribadian lain pada diri orang tersebut yang menyerupai sifat dari orang terkasihnya yang telah meninggal tersebut.”
“Itu muncul sebagai perlawanan alam bawah sadarnya bahwa orang terkasih yang telah meninggal tersebut masih hidup dan bersemayam di dalam dirinya.”
“Begitu rupanya.”
Kecurigaan Lisanna seketika menghilang oleh sebuah perkataan sederhana dari seorang psikolog berpengalaman melalui telepatinya.
Sang Sistem pun gagal memperoleh tujuannya.
Hal itu justru membuat Lisanna semakin simpatik pada sosok Laviar yang sedang menyamar sebagai Arnoria Rosechild tersebut.
***
Aku seketika berkeringat dingin begitu kumelihat tatapan fokus Lisanna tertuju kepadaku.
Apakah dia curiga pada penyamaranku?
Apakah aku tanpa sadar telah melakukan suatu kesalahan yang mengungkapkan identitasku selama bertarung melawan Alvin Hermes?
Namun, kulihat Lisanna selanjutnya hanya kembali menempel erat padaku begitu aku turun dari arena.
Ya, mungkin saja hanya aku sajalah yang terlalu banyak pikiran.
Semuanya masih baik-baik saja.
“Arno, bagaimana penampilanku barusan?”
“Ya, kau telah melakukannya dengan baik, Abel. Lawanmu sampai-sampai tak dapat berkutik dengan memalukan.”
“Hehehehehe.”
Tapi aura membunuh tiba-tiba apa yang baru saja aku rasakan di sebelah kananku ini?
“Abel, tidakkah kau terlalu tidak sopan dalam memperlakukan pria yang baru saja kau kenal sampai-sampai merangkulnya erat-erat?”
“Walau baru bertemu, hati ini takkan pernah berbohong mengatakan bahwa Tuan Arno adalah sosok teman yang baik. Sebagai sesama teman, itu wajar saling berangkulan seperti apa yang Nona Annexia lakukan saat ini, bukan?”
Aku bisa merasakan dengan jelas hawa membunuh saling tertuju kepada masing-masing gadis yang ada di kanan dan kiriku itu.
Sebenarnya apa yang membuat mereka berdua tidak bisa saling akur?
Padahal setahuku Lisanna walaupun dingin, dia tidak pernah memandang sebelah mata seseorang yang berasal dari kalangan rakyat jelata.
Aku yang sebagai teman mereka berdua akhirnya berujung menjadi korban di antara pertengkaran dalam diam di antara mereka berdua.
Tapi apa yang terjadi di antara mereka selanjutnya biarlah itu menjadi urusan nanti.
Kelas telah usai dan masih ada urusan yang tidak kalah pentingnya yang harus segera aku lakukan.
Menemui Profesor Fritz.
Kuharap di jam segini, dia masih akan ada di ruangannya.
Aku pun berpisah dengan yang lain lalu bergegas pergi ke area ruangan dosen di mana ruangan Profesor Fritz juga berada.
***
-Tuk, tuk.
__ADS_1
“Masuk.”
Aku seketika masuk ruangan begitu ada instruksi suara wanita paruh baya yang berasal dari dalam.
Suara yang dulunya begitu aku kenal dengan baik, mantan guru pembimbingku sewaktu berwujud Viar di SMUT.
Itu benar-benar adalah Profesor Fritz.
“Siswa Arnoria?”
Aku dekat dengan Profesor Fritz sebagai Viar, namun tentu saja itu beda ceritanya sejak kini aku mengambil alih tubuh Arno.
Profesor Fritz pasti beranggapan bahwa aku tidak cukup dekat dengannya sampai-sampai akan mengunjunginya secara pribadi seperti sekarang ini.
“Pertama-tama, duduklah!”
Aku akhirnya menemui Profesor Fritz.
Namun setelah menemuinya, aku malah bingung bagaimana aku akan memulai percakapan demi menarik informasi tentang organisasi kegelapan itu.
“Profesor, itu…”
“Hah, apa ini seperti Valia sebelumnya?”
Tetapi tampaknya, sang profesor bisa segera mengerti tujuanku ke tempatnya bahkan sebelum aku memberitahukannya secara langsung.
“Bagaimanapun aku ingin tahu siapa bajingan yang telah merenggut sahabat baikku.”
“Dengar, siswa Arnoria, apa yang akan kita hadapi ini bukanlah orang-orang sembarangan, tetapi suatu organisasi yang keberadaannya bahkan tidak bisa ditangani oleh organisasi keamanan dunia yang berskala internasional.”
“Itu sebabnya aku menyuruh Valia untuk mundur saja dengan mempercayakan semua masalah ini padaku.”
“Aku bukannya dapat menyembunyikan niatku pada Valia dan yang lain bahwa benar aku kemari sama seperti kalian demi mengungkap keberadaan organisasi kegelapan itu karena satu-satunya petunjuk yang kumiliki yang bisa menghubungkanku dengan organisasi kegelapan tersebut hanya berada di akademi ini sebagai petunjuk terakhir yang ditinggalkan oleh salah seorang anggota organisasi yang tidak lain adalah profesor SMUT sendiri, Profesor Luvien.”
“Bagaimanapun mereka harus membayar terhadap apa yang telah mereka lakukan kepada para siswa!”
“Karena mereka, para siswa yang seharusnya masih punya jalan yang panjang, justru hidup mereka harus berakhir dengan tragis karena dungeon break yang mereka ciptakan!”
“Aku memang menolak bantuan siswa Valia karena aku tahu dia tidak akan banyak membantu dalam hal ini, terlebih dia masih lemah sehingga akan berbahaya baginya jika sampai menjadi target organisasi kegelapan itu.”
“Tapi kamu berbeda, siswa Arnoria.”
“Berbeda dengan siswa Valia yang sama sekali tidak punya kekuatan, kamu dilindungi sekaligus dibekali informasi yang mumpuni oleh keluarga Rosechild yang akan sangat membantu terhadap investigasi organisasi kegelapan itu.”
“Itu sebabnya aku justru akan terbantu jika melibatkanmu dalam urusan ini.”
“Tetapi sekali lagi aku ingatkan bahwa ini adalah jalan yang sangat berbahaya, siswa Arnoria.”
“Kamu masih bisa mundur jika mau.”
Jawabanku jelas terhadap perkataan sang profesor.
“Profesor Fritz sedang meremehkanku, ya? Bagaimana mungkin aku bisa berpaling terhadap kematian teman-temanku yang berharga tanpa keadilan?!”
“Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu, siswa Arnoria. Sayangnya untuk saat ini, hanya gambar inilah yang Ibu miliki sebagai petunjuk keberadaan organisasi kegelapan itu.”
Namun mataku seketika terbelalak terhadap gambar yang ditunjukkan oleh Profesor Fritz padaku tersebut.
Bagaimana mungkin aku tidak mengenali gambar itu sejak itu adalah logo milik Sunda Castle, mantan kerajaanku yang diruntuhkan oleh para vampire hunter.
Tetapi mengapa logo itu ada di tempat ini sekarang?
__ADS_1
Dan mengapa pula itu dimiliki oleh sang organisasi kegelapan?
Seketika timbul banyak tanda tanya di dalam benakku.