
Tanpa terasa, kini aku sudah menginjak masa-masa kuliah.
Padahal rasanya baru kemarin aku masuk Sekolah Menengah Unggulan Taruna dan menjadi bahan tertawaan pada ujian penerimaan masuk di sana karena kurangnya kemampuanku.
Namun kini, aku bukan lagi Viar yang lemah, pemuda miskin yatim piatu yang tidak punya apa-apa.
Kini, aku mengambil identitas Arnoria Rosechild, seorang anak keluarga kaya raya yang terlahir dengan sendok perak di tangannya, melalui skill ikatan darah yang memungkinkanku untuk berubah bentuk menjadi siapa saja yang telah aku isap darahnya.
Sejak dengan bodohnya Arno mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkanku tanpa aku memintanya, aku mengambil wujudnya demi memenuhi harapan terakhirnya.
Mengingat pelaksanaan ujian penerimaan masuk Akademi AHNI kemarin, aku benar-benar tak menduga bahwa nenek Arcia, Litana Magus, adalah kepala sekolah di sana yang sekaligus bertindak sebagai penilai di dalam sesi wawancaranya.
Namun berkat itu pula, wawancara berlangsung dengan mudah tanpa perlu guru-guru, hmm, ataukah aku mesti menyebut sekarang dengan istilah dosen-dosen, entahah, aku juga masih kurang paham terhadap budaya dunia manusia, mengapa istilah pengajar di sekolah menengah dan akademi itu berbeda, yang jelas dosen-dosen di sana jadinya tidak berani menanyakan aku pertanyaan yang macam-macam karena merasa sungkan dengan kepala akademi mereka.
Jika ada kendala di sesi wawancara tersebut, yakni aku harus menahan diri untuk tidak berbicara kasar karena aku harus menirukan dengan sempurna gaya berbicara Arnoria Rosechild yang asli yang lembut dan penuh wibawa itu.
Tiada masalah pula di sesi ujian tertulisnya.
Itu semua masuk di dalam kurikulum yang diajarkan di SMUT dan aku yang memang terlahir dengan kemampuan mengingat yang tajam, tentu dapat menjawab setiap pertanyaan yang diberikan dengan baik.
Di perunjukan bakat, aku dengan bekal pengetahuan yang tersimpan di ingatan Arno, dapat menunjukkan skill berpedang yang mumpuni.
Aku sempat khawatir karena ada beberapa mantan siswa SMUT yang juga hadir pada saat ujian itu yang bisa saja menyadari keanehan gaya berpedang Arno yang tidak biasa karena nyatanya aku bukanlah Arno yang asli, tetapi syukurlah mereka tidak ada yang menyadarinya.
Itu berarti aku sanggup menirukan gaya berpedang Arno secara sempurna.
Setidaknya itu yang tampak di luar.
Bagaimanapun dengan keahlianku yang sekarang, akan masih sulit mengikuti gaya berpedang Arno yang elegan walaupun pengetahuan-pengetahuan dasarnya telah diwariskan Arno melalui ingatannya.
Namun ada yang berbeda di ujian penerimaan masuk AHNI kali ini dibandingkan dengan ujian penerimaan masuk SMUT sebelumnya, yakni adanya turnamen peserta ujian di mana kamu harus menunjukkan bakatmu secara langsung melalui pertandingan nyata bersama salah satu peserta ujian lainnya.
Lalu yang harus kuhadapi secara kebetulan adalah Lisanna Annexia, pemegang peringkat satu di antara angkatan ke-19 SMUT kami.
Kalian tentu sudah bisa menebak hasilnya, aku kalah.
Yang sedikit aku sesalkan, aku tampaknya telah mengotori citra Arno karena aku bahkan tak sanggup bertahan melawan wanita dingin itu lebih dari 4 menit.
Sebagai hasilnya, aku lulus di akademi dan itu bukan kelulusan biasa karena aku sekali lagi ditempatkan di kelas unggulan.
Namun kali ini bukan sebagai peringkat bawah, melainkan peringkat yang cukup tinggi.
__ADS_1
S2, itulah nomor mahasiswaku.
Berbeda dengan sekolah menengah hunter yang jumlahnya banyak dan tersebar di seluruh pulau Indonesista, Akademi Hunter Nasional Indonesista hanya ada satu-satunya sehingga menampung cukup banyak mahasiswa.
Karena saking banyaknya, mahasiswa-mahasiswa itupun dibagi ke dalam 12 kelas, mulai dari kelas S yang paling unggulan, mengikuti di bawahnya ada kelas A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, dan sebagai kelas yang terendah adalah kelas Z.
Tiap kelas terisi oleh jumlah mahasiswa yang beraneka ragam pula tergantung tingkatan kelasnya, namun semakin tinggi tingkatan kelas itu, maka jumlah mahasiswa di dalamnya juga semakin sedikit.
Sebagai perbandingan, kelas Z memiliki mahasiswa yang berjumlah hampir mencapai 500 orang, tetapi kelas S hanya memiliki jumlah mahasiswa sebanyak 10 orang.
Kemudian ada pula nomor urut di tiap kelas yang menandakan peringkat kamu sewaktu ujian penerimaan masuk.
Ya, dengan kata lain nomor urut tersebut menandakan prestige kamu di akademi.
Dan aku di antara semua itu memperoleh nomor urut S2.
Kalian tentu sudah bisa menebaknya.
Aku ditempatkan di kelas unggulan dengan posisi terbaik kedua di antara 1000 mahasiswa yang dinyatakan lulus tahun ini di AHNI.
“Arno, sayang! Jalan masuk bareng yuk!”
Dia adalah Lisanna Annexia.
Lisanna pada dasarnya memang selalu bersikap manja hanya jika bersama Arno.
Dia selalu berperilaku dingin kepada orang lain selain Arno, atau lebih tepatnya dia hanya mengganggap makhluk hidup selain Arno tidak jauh bedanya dengan sampah, terutama aku sebagai Viar yang menduduki kasta terendah di kelas kami di SMUT sebelumnya, dia mutlak memperlakukan aku sebagai serangga yang keberadaannya bukan lagi di taraf pengabaian, tetapi pengganggu.
Namun karena kedekatannya dengan Arno, itu pulalah yang membuatku khawatir.
Melebihi keluarganya, bisa dibilang Lisanna adalah sosok yang paling mengenal seluk-beluk Arno.
Aku harus ekstra hati-hati jika di dekatnya agar tidak ketahuan bahwa aku sebenarnya adalah palsu.
Terlebih, belakangan aku baru mengingat siapa keluarga Annexia sebenarnya.
Annexia adalah salah satu dari empat keluarga vampire hunter legendaris yang paling bertanggung jawab atas keruntuhan keluargaku seribu tahun silam.
Dalam artian, Lisanna adalah target balas dendam terbesar dalam hidup panjangku selama ini sekaligus sosok yang paling harus aku waspadai.
Kalian tentu pula bisa menebak.
__ADS_1
Jika Lisanna juga turut berkuliah di akademi ini, ya, dialah penyandang nomor urut S1.
Hari ini adalah hari perdana masuk akademi sekaligus upacara penyambutan mahasiswa baru.
Di atas podium, bisa kulihat Nenek Litana beserta para jajaran dosen lainnya.
Juga tampak beberapa perwakilan mahasiswa senior yang salah satunya merupakan presiden mahasiswa.
Lalu di jajaranku, bisa kusaksikan mahasiswa penghuni kelas S lainnya.
S3: Julian Gerfinda, anak bungsu presiden Indonesista
S4: Rohana Macbell, putri tunggal gubernur Irian
S5: Alvin Hermes, penerus grup dagang Hermes
S6: Dilya Toxice, keluarga ahli dark magic
S7: Rutiliana, anak pemilik perusahaan farmasi terbesar di Indonesista
S8: Jeremy Rudd
S9: Otto
S10: Abel Lundoln
Sebelumnya, Arno pernah berkata padaku bahwa masa-masa awal perkuliahan adalah masa-masa yang paling menyenangkan di mana kamu bisa berkenalan dengan wajah-wajah yang masih fresh yang belum ternodai oleh idealisme senior.
Menurutku sendiri, aku setuju dengan pendapat Arno.
Itu karena jika ada saat yang tepat untuk mulai membentuk kelompok seperjuangan, itu adalah saat-saat ini di saat para mahasiswa baru masih mengenakan topeng dan belum menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya karena masih sama-sama saling melakukan penilaian masing-masing untuk menilai mana yang layak dan tidak layak untuk mereka jadikan teman sepergaulan mereka.
Sejak aku sudah hidup sebagai manusia selama tiga tahun, aku kurang lebih telah mengerti hal itu dengan baik.
Tapi tampaknya tidak demikian.
Tetap ada beberapa pengecualian untuk manusia-manusia sampah yang memiliki pola pikir berbeda.
Bagi mereka, dengan menyiksa orang lain yang tampak lebih lemah dari mereka, itulah yang justru meningkatkan nilai mereka.
Ya, sifat alami dari apa yang kamu sebut sebagai perundung.
__ADS_1
Yang tak kuduga, orang yang pertama kali justru mengalami hal itu di akademi kami adalah berasal dari kelas unggulan AHNI yang tidak lain adalah kelasku sendiri.
Dialah S10 Abel Lundoln, wanita berambut dan bermata silver, ciri seorang keturunan werewolf, yang sedang ditindas oleh mahasiswa-mahasiswa rendahan tidak jelas.