
“Semangat, Julian! Selangkah lagi, kita akan bertemu di babak semifinal.”
Aku menyemangati Julian yang kini tiba gilirannya menaiki arena.
“Hmm. Oh? Ya, Arno.”
Tidak biasanya dia yang slenge’an menunjukkan ekspresi yang begitu rumit di wajahnya seolah beban dunia seluruhnya ada di pundaknya.
Itu memberikanku sedikit firasat buruk padanya.
Namun rupanya, firasat burukku itu bukanlah sesuatu yang berarti karena Julian segera mampu menunjukkan keunggulannya di hadapan Alvin Hermes melalui kekuatan magic swords-nya.
Berbeda dengan swordsman yang hanya mampu menggunakan aura pedang untuk pertahanan dan memperkuat ketajaman pedangnya saja, seorang magic swordsman mampu memanipulasi aura itu untuk menghasilkan magic yang menyerang lawan dalam serangan yang lebih bervariasi tanpa dibutuhkan lagi sang pedang untuk menyentuh bagian tubuh lawan.
Dalam hal ini, magic Julian Gerfinda bertipe angin.
Serangannya tajam dan menusuk.
Itu membuat Alvin Hermes kesulitan untuk mendekati Julian karena harus bertahan dari angin kencang yang membentuk kepadatan di beberapa titik menyerupai jarum yang mampu menyayat tiap inci kulitmu.
Alvin Hermes jelas tidak berdaya di hadapan kekuatan mutlak seorang pengguna magic swords.
Akan tetapi, begitu tiba pada serangan penghabisan, Julian tiba-tiba berhenti di tengah-tengah.
Arena yang mulanya riuh oleh angin kencangnya, tiba-tiba berubah menjadi sangat tenang.
Julian terlihat tak bereaksi apa-apa.
Dia hanya menunduk berusaha menyembunyikan ekspresinya yang begitu rumit itu di hadapan para penonton.
Akibatnya, Alvin Hermes pun berhasil bangkit, lantas segera membalik kedudukan memukul mundur Julian dari arena.
Kemenangan pada pertandingan kedua di putaran delapan besar justru berhasil diraih oleh Alvin Hermes.
Sejujurnya, aku ingin marah kepada Julian yang membuang kesempatannya menang dengan begitu mudahnya.
“Setelah kupikir-pikir, aku hanya tidak punya alasan saja untuk menang dan menonjolkan diri di tempat yang tak perlu, Arno.”
Negara Kesatuan Republik Indonesista adalah suatu negara yang unik.
Di dalam konstitusinya jelas-jelas dikatakan bahwa seluruh rakyatnya bisa menjadi presiden, tetapi nyatanya hanya orang-orang berkuasa tertentulah yang bisa menduduki posisi tertinggi negara tersebut.
Sebagai keluarga yang paling memiliki peluang besar untuk menjabati posisi tertinggi negara itu tidak lain adalah keluarga Gerfinda yang saat ini salah satu anggota keluarganya menjabat sebagai seorang presiden, Sam Gerfinda.
__ADS_1
Tidak hanya saat ini, bahkan sejak masih bernama Kesultanan Indonesista, keluarga Gerfinda sudah menjadi pemimpin puncak negara tersebut yang diakui oleh tiap kalangan.
Dan untuk periode mendatang, mereka kini mempersiapkan Kakak Julian, Augusta Gerfinda untuk menempati posisi calon presiden tersebut.
Namun di periode kali ini, keluarga Gerfinda tampaknya akan kesulitan melakukannya sejak posisi kekuatan keluarga mereka telah menurun drastis hingga hanya menempati peringkat 6 besar saja.
Itu semua berkat terkenalnya Augusta Gerfinda sebagai seorang tiran.
Itulah sebabnya aku bisa mengerti apa maksud ucapan Julian Gerfinda tersebut.
Dia sama sekali tidak berniat angkuh atau memandang rendah semangat para pejuang yang berusaha memperbaiki nasib mereka melalui pengakuan dari hasil kompetisi ini.
Seperti yang dikatakannya, Julian Gerfinda hanya tidak ingin menonjol dan justru menjadi duri dalam daging dalam perjuangan kakaknya menempati posisi calon presiden yang berikutnya tersebut.
Jika Julian terlalu menonjol, besar kemungkinan bahwa suara rakyat yang sudah sangat minim yang bisa dikumpulkan oleh keluarga Gerfinda demi terpilihnya Augusta Gerfinda sebagai calon presiden akan terpecah lagi beberapa tempat ke Julian.
Pastinya Julian bisa segera sadar bahwa dirinya takkan mungkin memiliki peluang yang sama dengan kakaknya untuk diperlakukan istimewa oleh keluarga Gerfinda sejak asal-usul DNA-nya masih selalu dipertanyakan dengan keberadaan rambut pirangnya itu yang jelas berbeda dengan seluruh keturunan Gerfinda lain yang memiliki warna rambut hitam.
Mengetahui hal itu, aku tidak bisa marah lagi padanya, justru sedikit banyak aku simpatik pada perasaan Julian Gerfinda yang diperlakukan asing oleh anggota keluarganya sendiri yang harusnya memberikannya kasih sayang.
Namun, itu tak dapat dihindarkan pula bahwa aku kecewa padanya.
Duel yang telah lama kunanti-nantikan bersamanya, dipupuskan begitu saja olehnya.
***
Pemilik nomor urut S8 Jeremy Rudd melawan pemilik nomor urut S10 Abel Lundoln.
Aku berharap pertarungan kali ini tidak akan lagi membuatku kecewa sejak kutahu kehebatan keduanya walaupun mereka sama-sama belum mencapai ranah magic swords.
Pertarungan diawali dengan Abel mengeluarkan aura biru terangnya yang seketika diiringi oleh peningkatan massa ototnya.
Itu adalah kemampuan khas ras werewolf.
Tentu saja Abel hanya mencapai setengahnya sejak dia adalah keturunan campuran.
Abel mulai menyerang lantas menebas sosok Jeremy Rudd.
Di luar dugaan, itu hanyalah bagian ilusi yang diciptakan oleh Jeremy Rudd, sementara dirinya yang asli segera menyerang pertahanan belakang Abel yang terbuka lebar begitu fokus pada jebakan bayangan palsu menyerupai dirinya yang telah disiapkannya.
Abel seketika terluka, namun dia menggunakan kekerasan kulitnya akibat penebalan aura sebagai tameng dengan baik.
Jeremy Rudd kemudian memilih untuk sekali lagi menghilang dalam kabut ilusi.
__ADS_1
Akan tetapi, indra pendengaran keturunan werewolf bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng.
Dengan cepat, Abel mampu mentracking posisi Jeremy Rudd dengan hanya mengandalkan indera pendengarannya saja untuk mendeteksi tiap suara helaan nafas dan langkah kaki yang dikeluarkan oleh Jeremy Rudd.
Dengan cepat pula, Abel menyerang ke posisi itu bahkan dengan mata tertutup.
-Trak.
Namun, Jeremy Rudd tak mau kalah dan berhasil menangkis serangan Abel Lundoln dengan sempurna.
Kedua pengguna pedang tipe seimbang itu pun saling beradu pedang satu sama lain dengan kecepatan yang kian lama kian cepat.
Tiak ada satu pun dari mereka yang tampaknya mau mengalah.
Akhirnya semuanya kembali kepada adu stamina ketika seluruh kartu masing-masing telah terungkap di hadapan lawannya.
Jelas siapa yang akan dirugikan dalam hal ini.
Jurus penguatan tubuh Abel Lundoln memang bisa membuat tubuhnya kuat untuk sementara waktu melalui aura pedangnya.
Namun ketika itu berakhir, itu sedikit banyak akan memberikan efek kerusakan pada otot-ototnya hingga taraf tertentu.
Ditambah Abel yang belum terbiasa menggunakan jurus penguatan tubuh warisan dari darah werewolf-nya itu, Abel pun jadinya tak bisa cepat tanggap terhadap perubahan situasi di mana seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi kesemutan yang tak terkira.
Jeremy Rudd kemudian akhirnya memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong Abel keluar dari arena.
Jeremy Rudd keluar sebagai pemenang pada pertandingan ketiga di putaran delapan besar tersebut.
***
Lalu yang tersisa kini di putaran delapan besar hanyalah pertandingan keempat saja.
Mahasiswa S1 Lisanna Annexia melawan mahasiswa A1 Mulyadi Murhahan.
Tetapi ini tampaknya bukanlah pertandingan yang perlu aku ceritakan lagi sejak hasilnya sudah jelas.
Begitu kedua peserta memasuki arena, Lisanna segera mengaktifkan aura birunya yang panas membara.
Bahkan di kala Mulyadi Murhahan belum sanggup untuk melakukan apa-apa, dia segera terpukul mundur keluar arena karena tidak sanggup mempertahankan pijakan kakinya di arena oleh dahsyatnya impak aura pedang Lisanna.
Kemenangan mutlak di pertandingan keempat putaran delapan besar itu diraih oleh Lisanna Annexia.
Dengan demikian, lengkap sudahlah peserta empat besar pada kompetisi swordsmanship mahasiswa baru tersebut yakni aku, Alvin Hermes, Jeremy Rudd, serta sebagai peserta yang terakhir, Lisanna Annexia.
__ADS_1