
Kegiatan Porseni selama perayaan proklamasi kemerdekaan tersebut benar-benar neraka untukku.
Aku tiba-tiba saja disuruh melakukan pertunjukan seni tanpa persiapan apapun.
Tapi pada akhirnya, hasilnya tidak buruk juga.
Di antara para peserta pria lain, aku memperoleh peringkat yang tertinggi.
Padahal para penonton begitu menikmati penampilanku, tapi pas pada saat penilaian, kriteria para juri dalam menentukan juara hanya berdasarkan teknik dan klasifikasi masing-masing seni yang ada saja.
Walau dengan teknik aransemen laguku yang menakjubkan, aku tetap tak sanggup mengalahkan seorang peserta wanita dari kelas Z yang mampu memukul nada tinggi dengan cemerlang.
Lagipula sedari awal itu merupakan pertandingan yang tidak adil.
Bagaimana bisa seorang pria mampu mengalahkan nada tinggi seorang wanita?
Alhasil, sang penyanyi bernada tinggi tersebut memperoleh juara kedua. Karena bagian penyanyi sudah terisi di kolom juara, jadi tidak mungkin lagi kolom juara yang tersisa diisi oleh penyanyi lainnya.
Juara satu pun diisi oleh seorang dancer wanita dari kelas I dan juara tiga diisi oleh seorang violist wanita dari kelas G.
Aku hanya menempati peringkat keempat saja dalam perlombaan seni tersebut dan sayangnya lagi, yang bisa menyumbangkan poin terhadap kelas hanyalah sampai peringkat ketiga saja.
Tapi yang jelas, itu masih lebih baik daripada peringkat milik Dillya Toxice yang belasan.
Di hari ketiganya, yakni di hari di mana kompetisi umum swordsmanship diselenggarakan, aku bertemu Senior Vivian Cassandra, seorang swordsman wanita bernomor urut 2S4 sebagai lawan pertama sekaligus terakhirku.
Aku dengan mudah kalah olehnya.
Bagaimana tidak, staminaku benar-benar berada pada titik terendahnya karena aku sama sekali tak dapat memperoleh istirahat yang layak di hari sebelumnya.
Yah, meski kuakui memang memalukan dengan aku beralasan seperti ini seperti aku hanya mencari-cari alasanku karena kalah, jadi aku takkan banyak berkomentar lagi.
Walaupun staminaku berada pada puncaknya pun, aku belum yakin apa bisa mengalahkan senior tersebut karena gaya berpedangnya yang elegan dan hampir tidak ada celah sama sekali walaupun dia saat ini masih belum membangkitkan kekuatan magic swords-nya dan masih berada di ranah level D.
Sama seperti Alvin Hermes, apa yang hebat dari sang senior adalah teknik serta kelincahannya.
***
Dengan perasaan menggerutu seakan anak-anak yang dijanjikan oleh ayahnya mainan, tetapi karena hujan, akhirnya tidak jadi dibelikan, aku memasuki kelas.
Di sana, aku secara tidak sengaja berpapasan dengan Lisanna.
Lisanna terlihat ingin menyapaku, namun aku segera menyuekinya.
Kuyakin, dia mengerti benar mengapa aku melakukan hal itu padanya.
Aku masih tak dapat memaafkan sikapnya yang menganggap aku seorang pecundang yang bahkan dinilainya tak layak sebagai lawannya sehingga kabur begitu saja pada kompetisi swordsmanship mahasiswa baru kemarin.
Namun beberapa saat aku melangkah.
“Kumohon, maafkan aku, Big Bro!”
Jeremy Rudd tiba-tiba datang di hadapanku dengan bersujud di mana dahinya sampai menyentuh tanah.
“Aku mengaku salah!”
“Aku benar-benar bodoh waktu itu untuk berpikir lari dari kompetisi!
__ADS_1
“Tanpa sadar, aku telah mencoreng nama baik Big Bro dengan lari dari kompetisi!”
“Sebagai anak buah Big Bro, aku tidak sepatutnya melakukannya walaupun Big Bro sendirilah lawannya!”
“Tidak! Justru karena Big Bro adalah lawannya, aku justru tidak boleh kabur dan mencoreng harga diri Big Bro!”
“Kumohon, Big Bro, ampunilah kesalahan anak buah Big Bro yang bodoh ini!”
Bajingan ini!
Sejak kapan aku menganggapnya sebagai anak buah?
Tidak, justru dengan dia bersikap layaknya henchman-ku itulah yang akan membuatku terlibat lebih banyak masalah.
Entah apa yang dikatakan oleh orang lain jika melihat pemandangan yang seperti ini.
Ini akan malah terlihat bahwa aku sebagai pembuli di kelas.
“Hmph! Tidak kusangka seorang Arnoria Rosechild yang dipuji banyak orang rupanya seorang perisak.”
Rohana Macbell kemudian ikut masuk ke kelas dan lewat begitu saja sembari mengatakan hal itu tanpa melirik sedikit pun padaku.
“Tunggu! Kamu salah, oke! Aku tidak pernah memintanya melakukan ini. Dia sendiri yang melakukannya dengan keinginannnya sendiri.”
Tunggu, mengapa aku malah menjawab dengan jawaban yang sama persis yang akan dilontarkan oleh seorang pembuli yang kedapatan merisak mangsanya?
“Tunggu, Rohana Macbell! Kamu salah paham, oke!”
“Hmph.”
Si Jeremy Rudd sialan ini benar-benar meninggalkanku suatu sakit kepala.
***
Tingkah laku Jeremy tersebut rupanya tidak berakhir selama di kelas.
“Maafkan aku, Big Brother!”
Tepat sebelum kami akan memulai kelas swordsmanship kami, dia sekali lagi bersujud di hadapanku.
“Hei, kau, cepat bangun, dasar bodoh!”
Apa yang membuat semuanya kacau kali ini adalah berbeda dengan di kelas, perkuliahan ini dihadiri oleh tiap perwakilan kelas.
Dengan kata lain, setiap kelas mulai dari S sampai Z, semuanya setidaknya ada satu anggota kelasnya yang hadir di sini.
Jika begini terus, maka citra bersahaja Arno yang kubentuk selama ini akan runtuh begitu saja.
Tidak saja itu bisa membuat mereka mencurigaiku sebagai yang palsu, apa yang lebih memilukanku adalah aku tidak akan dapat lagi memperoleh sumber panen kepopuleran yang besar, malah sebaliknya, hama berdatangan meraup poin kepopuleran yang telah aku berupaya jaga baik-baik selama ini.
Peringatan! Peringatan! Adelia Roswich, 19 tahun, mulai berpikir bahwa kebaikan Anda selama ini palsu. Poin kepopuleran Anda berkurang 5.
Peringatan! Peringatan! Sania Alia, 19 tahun, mulai berpikir bahwa kebaikan Anda selama ini palsu. Poin kepopuleran Anda berkurang 6.
Peringatan! Peringatan! Rasa Sedap, 18 tahun, mulai berpikir bahwa kebaikan Anda selama ini palsu. Poin kepopuleran Anda berkurang 10.
…
__ADS_1
Poin kepopuleran Anda baru saja menurun drastis hampir melewati batas 5 % dari seluruh poin kepopuleran yang telah Anda kumpulkan. Jika angka ini melewati batas 5 %, maka ada penalti yang akan diberikan kepada host.
Peringatan dari Sistem yang tiba-tiba itu segera membuat sakit kepalaku semakin menjadi-jadi.
‘Woi, Sistem! Apa-apaan itu?! Aku tidak pernah mendengar soal penalti penurunan batas 5 % itu sebelumnya!’
Penalti batas penurunan 5 % baru diberlakukan ketika host telah mencapai batas 20 % poin kepopuleran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi.
Aku hanya menunjukkan ekspresi kecewa tanpa berkomentar apa-apa lagi.
Aku hanya dapat meratapi kehilangan poin kepopuleran yang selama ini dengan susah-payah aku kumpulkan selama tiga hari di perayaan proklamasi itu.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, percuma memprotes kepada Sistem yang tabiatnya sangat bebal tersebut.
Kamu tidak akan pernah sekalipun memperoleh apa yang kamu mau.
Jadi, solusi yang terbaik adalah dengan meredam semua kekonyolan yang dibuat oleh Jeremy Rudd sesegera mungkin.
Percuma untuk menjelaskan kecurigaan di hadapan audience yang telah merasa dirinya benar sendiri.
Aku perlu melakukan suatu impak untuk menarik perhatian mereka agar tidak akan menolak lagi kebenaran yang hendak aku sampaikan kepada mereka.
Lagian masalah dasarnya adalah kesalahpahaman mereka tentang aku membuli Jeremy Rudd, nyatanya ini berasal dari konflik kesetiakawanan saja.
Tanpa terlihat menjelaskan kesalahpahaman itu kepada audience, aku harus bersikap sealami mungkin melontarkan suara seolah menjawab Jeremy Rudd, padahal niatku sebenarnya adalah untuk memperdengarkan kepada mereka permasalahan yang sebenarnya.
“Sudahlah, bangun Jeremy Rudd! Jika kau memang menyesal, mengapa kamu sampai melakukan perbuatan pengecut lari dari kompetisi seperti kemarin?! Seharusnya kau melawanku dengan gagah berani walaupun nantinya akan kalah juga! Seorang ksatria benci pada sikap pengecut, seharusnya kau juga tahu itu!”
“Maafkan aku, Big Bro!”
“Ya sudahlah! Asal jangan ulangi perbuatan pengecut lari dari kompetisi itu lagi!”
Aku mengulangnya sebanyak dua kali, jadi tidak mungkin ada audience yang salah menginterpretasikan lagi kejadian yang sebenarnya terjadi.
Kini yang tersisa, adalah dongkolan kemarahan di hatiku.
Itu benar, aku pula harus melepaskan kedongkolan di hatiku ini.
-Trung, tang, tang.
Aku melemparkan pedang kayu itu kepada Lisanna Annexia.
“Yayang Arno?”
“Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku benci kepada pengecut yang melarikan diri dari pertarungan apapun alasannya.”
“Ah… Itu… Maaf…”
“Aku tidak butuh permintamaafan dengan lisanmu, Sana. Jika kau merasa menyesal, maka mari berduel denganku. Anggap ini pertandingan final yang tertunda. Sedari awal jika kau tidak melarikan diri dari kompetisi, mana mungkin Jeremy Rudd-lah yang akan menang WO. Kaulah lawanku yang seharusnya di babak final itu, Sana. Jadi mari kita buktikan hasil yang sebenarnya saat ini juga.”
“Yayang Arno, mengapa kamu perlu melakukannya sampai sejauh ini?”
Namun hal yang tak kuduga justru terjadi.
Lisanna yang dingin itu baru saja menitihkan air mata.
Poin kepopuleranku pun semakin menurun.
__ADS_1