
Di suatu tempat di bench penonton di mana Arno tak dapat mengamati, Lisanna menyaksikan pertandingannya yang gigih melawan Alvin Hermes.
“Yayang Arno, mengapa kamu mesti segigih ini?”
“Memangnya sepenting inikah kompetisi ini buatmu?”
Berbeda dengan Arno, bagi Lisanna, kompetisi tersebut bukanlah apa-apa baginya.
Lisanna tidak pernah sekalipun mengincar kemenangan.
Namun berbeda dengan Julian, itu tidak bisa dijadikannya alasan untuk sengaja mengalah.
Jika lawan memang tak mampu mengalahkannya, mengapa mesti dia mengalah?
Akan tetapi setelah melihat semangat juang Arno yang walaupun jatuh berkali-kali oleh serangan Alvin Hermes tetapi dia tetap bangkit, hati Lisanna pun mulai goyah.
“Melihatmu berjuang segigih ini, mana mungkin aku tega mengambilnya darimu.”
Lisanna pada akhirnya memilih untuk menyerah pada kompetisi dan meninggalkan tempatnya tanpa diketahui oleh siapapun.
“Peserta Lisanna Annexia? Apa peserta Lisanna Annexia hadir di tempat ini?”
Seluruh penonton seketika riuh dengan menghilangnya Lisanna dari kompetisi.
“Karena sampai panggilan terakhir mahasiswa nomor urut 1S1 Lisanna Annexia belum juga hadir di arena, maka Lisanna Annexia secara otomatis dinyatakan didiskualifikasi dari pertandingan. Dengan demikian, pemenang kompetisi semifinal putaran kedua ini jatuh kepada peserta mahasiswa nomor urut 1S8 Jeremy Rudd. Selamat kepada mahasiswa Jeremy Rudd!”
***
“Wasit, aku menyerah.”
Apa yang baru saja dikatakan bajingan ini? Menyerah? Padahal pertandingan dimulai saja belum?
“Karena Jeremy Rudd telah mengaku kalah, maka pemenang kompetisi mahasiswa baru tahun ini otomatis jatuh kepada mahasiswa 1S2 Arnoria Rosechild.”
Belum lagi pikiranku masih kalut persoalan Lisanna yang tiba-tiba menghilang dari arena, Jeremy Rudd malah memperparahnya dengan menyerah sebelum bertanding sehingga tampak seolah-olah aku menang tanpa effort sama sekali.
Jika bukan karena Anto yang memberikan laporannya bahwa keadaan Lisanna baik-baik saja dan dia pergi atas keinginannya sendiri, aku pasti sudah akan sangat panik mengira dia diculik atau semacamnya.
Lisanna memang kuat, tetapi jika organisasi bajingan itu ikut terlibat lagi, maka biarpun itu dia, dia tidak akan mampu menghadapinya, terlebih adanya pula peluang bahwa dirinya diserang saat sedang sendirian.
“Boooo.”
“Huuuu.”
Riuh penonton yang mengejek kemenanganku, membuat kekesalanku bertambah berkali-kali lipat.
“Hei, kau bercanda, bajingan! Mana mungkin kau bisa menyerah di saat-saat seperti ini?!”
“Mahasiswa Arnoria Rosechild?”
Ah, lagi-lagi aku kebablasan berkata kasar di depan umum yang tidak mencitrakan pribadi Arno yang lembut sama sekali sampai-sampai itu turut membuat wasit di tengah arena merasa heran.
“Maaf, Bro. Tapi mana mungkin aku berani menghajar Bro yang sangat aku hormati walaupun itu cuma latih tanding.”
Dengan polosnya Jeremy Rudd berkata seperti itu yang membuat aku semakin ingin melampiaskan murkaku padanya.
Namun perihal image Arno yang harus aku jaga, aku pun hanya memalingkan muka padanya dengan kesal.
__ADS_1
“Aku kecewa padamu, Jeremy Rudd. Kau ternyata seorang pengecut. Aku tidak sudi bergaul dengan seorang yang pengecut!”
Aku membisikkan kalimat itu padanya sehingga tak bisa didengarkan oleh wasit pertandingan sebelum aku turun dari arena.
Ekspresi yang terpampang di wajahnya menggambarkan dengan baik kalau dia benar-benar paham terhadap maksud ucapanku.
Aku tahu mungkin aku sedikit terlalu kasar padanya karena pikiranku saat itu saking kalutnya. Tidak Julian Gerfinda, tidak Lisanna Annexia, dan kini giliran Jeremy Rudd. Apa mereka semua menganggap aku gampangan dan berpikir aku akan kalah melawan mereka jika mereka bersungguh-sungguh?
Mereka semua terlalu menganggap tinggi diri mereka.
***
Usai kompetisi, malam harinya aku beristirahat untuk mengoptimalkan kondisiku dalam rangka menyambut kompetisi berikutnya yang akan tiba dua hari lagi, tepatnya di hari terakhir perayaan ulang tahun proklamasi.
Sebagai pemenang kompetisi swordsmanship mahasiswa baru, aku diberikan tiket untuk menantang diriku ke kompetisi umum swordsmanship di mana peserta lainnya terdiri dari para senior.
Perihal aku merasa belum puas terhadap hasilku di kompetisi sebelumnya, terima kasih berkat Lisanna Annexia dan Jeremy Rudd yang mengacaukannya, aku ingin melampiaskan semuanya di kompetisi kali ini.
Kali ini aku berjanji akan membuktikan kemampuan terbaikku.
Karena pikiranku yang penat, aku bermaksud jalan-jalan di sekitaran asrama malam itu untuk menjernihkan pikiran.
Namun, tiba-tiba Rohana Macbell datang menyapaku dari belakang.
“Hei, Arno.”
“Ada apa?”
“Karena kamu tidak punya lagi kesibukan besok, aku memberikanmu hak istimewa untuk hadir di stan pameran mahakaryaku besok siang.”
“Hmph. Bukannya aku ingin kamu datang. Aku hanya kasihan karena besok semua masih punya kesibukan selain kamu. Jadi aku memberikanmu hak istimewa itu. Jadi bukan berarti aku sedih kalau kamu tidak datang ya!”
Siapa juga yang ingin hadir. Lagian aku yang sengaja mengosongkan sendiri jadwalku buat besok agar bisa beristirahat full untuk persiapan kompetisi hari berikutnya.
Namun setelah pergi, Rohana Macbell tiba-tiba berbalik lagi padaku.
“Pastikan kamu datang ya! Ingat itu baik-baik! Hmph!”
Apa yang diucapkannya itu jelas-jelas berbeda dengan apa yang diucapkannya barusan.
Jadi mana yang diinginkannya? Aku harus hadir atau tidak jadinya?
Tapi ya, karena aku juga sedikit penasaran dengan pemilik talenta arsitek magic terbaik di angkatan kami itu, jadi sebisa mungkin aku akan menyempatkan waktuku buat hadir.
Aku juga kurang tahu, tapi aku merasa seolah bocah lemah itu akan segera menangis jika sampai tak melihat aku datang besok. Setidaknya, itulah yang dikatakan insting vampirku yang telah terbiasa menghipnotis mangsanya dalam rayuan.
***
Jadilah aku menggunakan waktuku yang berharga di hari kedua perayaan proklamasi kemerdekaan itu untuk melihat pertunjukan stan alat-alat sihir.
Di kelas kami ada empat peserta yang mengikutinya yakni Rohana Macbell, Rutiliana, Dillya Toxice, dan Otto.
Mumpung ke sini aku harus melihat-lihat pameran yang lain juga.
Aku mulai dengan mengunjungi pameran Otto.
Itu bukan bermaksud apa-apa, hanya saja stand Otto-lah yang pertama kali dilewati dari pintu masuk.
__ADS_1
Di pamerannya, aku bisa melihat banyak lukisan yang bisa bergerak.
Tapi ini…
Apa bedanya dengan proyeksi hologram yang kita peroleh dari hasil teknologi sains?
Melihat kurangnya nilai kebaruannya, aku segera mencoret Otto dari daftar favoritku.
Selanjutnya, tidak jauh berjalan ada stand Dillya Toxice.
Tetapi haruskah aku benar-benar mengunjunginya?
Bagaimana ya mengatakannya?
Bahkan aku yang merupakan makhluk kegelapan, jadi ketakutan oleh nuansa stand-nya yang benar-benar creepy.
Tiap sudut dan celah stand-nya terisi berbagai objek aneh yang menyeramkan.
Belum lagi ramuan aneh yang mengeletup-mengeletup seolah siap menangkapmu kapan saja ketika kamu mendekatinya.
Namun yang lebih parah daripada semua itu, begitu kamu memasuki stand-nya, Dillya Toxice akan segera mampu melihat semua ingatan masa lalu kamu yang memalukan.
Dia sebut itu dengan dalih ramalan yang belum tentu kebenarannya, tetapi dengan membayangkan saja bahwa ada orang yang mampu melihat ke dalam masa lalumu yang memalukan, bukankah itu menjijikkan?
Dan bukankah itu bahaya bagiku yang sedang menyembunyikan identitasku sebagai bangsa vampir? Jika aku ketahuan, jantungku akan segera diremukkan oleh para vampire hunter yang mungkin masih menyembunyikan diri mereka dalam kegelapan.
Itulah sebabnya hampir tidak ada orang yang berani berkunjung ke stand Dillya Toxice. Bahkan dengan keberadaan Alvin Hermes yang selalu menarik perhatian para gadis di sebelahnya, itu tetap tidak bisa mendatangkan banyak bantuan.
Tidak, bukan itu. Aku lebih heran pada Alvin Hermes yang bisa bertahan dengan baik di samping Dillya Toxice yang dalam mode black-nya.
Itu masih aman jika di hari-hari biasa, tetapi yang jelas untuk hari ini, dia out bagiku.
Aku pun berpura-pura tidak melihat mereka sambil menyembunyikan wajahku untuk bergerak ke stand yang selanjutnya.
Tetapi si Alvin Hermes sialan itu!
“Hei, Arno! Yuk berkunjung ke sini. Seru tahu!”
Alvin Hermes baru saja memanggilku untuk turut bergabung ke neraka itu.
Karena mempertimbangkan kepribadian Arnoria Rosechild yang asli, demi tidak ada yang curiga terhadap identitasku yang sebenarnya, aku pun tak bisa lagi menolak panggilan itu.
“Hahahahaha. Halo semuanya.”
Namun, apa yang dikatakan oleh Dillya Toxice selanjutnya benar-benar membuat hatiku merasa teriris-iris.
...****************...
“Ada seorang adik yang memanjakanmu yang memegang banyak rahasia memalukanmu.”
“Ada juga seorang cinta pertama ketika masih kecil.”
“Mereka semua yang telah lama tak kau temui, sebentar lagi akan muncul kembali di hadapanmu.”
“Aku bisa melihat bagaimana jalinan takdir dari kalian bertiga terjalin kembali.”
...****************...
__ADS_1
Entah ekspresi apa yang kutunjukkan kala itu, yang kutahu bahwa aku tak mampu lagi menutupi emosiku yang meluap-luap.