Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 27 – ARCIA BERTEMU NENEKNYA


__ADS_3

Begitu aku memasuki ruangan kafe, aku telah mendapati sosok wanita yang seharusnya telah berusia lebih dari 60 tahun, namun dengan penampilan yang masih tampak berada di usia 40-annya.


Rambut peraknya berkilau dengan indah yang menandakan keseriusannya belajar sihir sehingga membuat warna rambutnya jadi luntur.


Apa yang membuatku yakin bahwa dia memang nenek Arcia adalah warna matanya yang sebiru langit tampak mirip dengan kilauan mata Arcia.


“Halo, Nek. Maaf, tampaknya aku telat.”


“Tidak, sama sekali tidak kok, anakku. Hohohoho.”


“Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan. Nenek Tua inilah yang datang terlalu cepat karena tidak banyak lagi yang Nenek Tua ini bisa kerjakan di rumah. Beda dengan anak muda yang penuh dengan kesibukan. Hohohoho.”


Suaranya santun dan benar-benar terdengar bijak bagaikan seorang great sage dalam legenda-legenda.


Walau demikian tampilannya sangat modis mengikuti zaman, kecuali pada tongkat eksentrik yang dibawanya yang sekilas terlihat seperti tongkat pembantu berjalan, namun itu jelas adalah tongkat sihir yang berfungsi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan mana.


“Hahahahahaha.”


Namun bagaimanapun kamu mendengarkan ucapannya di akhir, itu hanya bisa terdengar sebagai sarkasme.


Aku hanya dapat tertawa kecut menanggapinya.


Kami kemudian memesan cemilan lantas obrolan kami pun segera dimulai.


Ya, tujuanku hari ini bertemu dengan nenek Arcia, tidak lain untuk membicarakan soal hak asuh Arcia.


“Jadi kamulah teman dari kakak angkat dari anak putriku itu rupanya.”


“Itu benar, Nek. Perkenalkan, namaku Arnoria Rosechild dari keluarga Rosechild. Nenek bisa memanggilku dengan sebutan Arno saja.”


Sebenarnya, agak risih bagiku untuk memanggilnya dengan sebutan nenek.


Bagaimanapun kamu melihatnya, dia pantasnya dipanggil sebagai tante karena penampakan luarnya yang masih cukup muda untuk dikategorikan sebagai nenek-nenek.


“Oho, tak kusangka anak dari putriku yang tumbuh dalam kemiskinan itu bisa bergaul dengan calon penerus generasi ketiga keluarga terbesar kedua negara ini rupanya.”


Aku sekali lagi hanya menanggapinya dengan tersenyum kecut.


Walaupun keluarga Rosechild dikenal sebagai keluarga dengan kekayaan dan kekuasaan terbesar kedua di Indonesista, sayangnya itu hanya tampilan luarnya saja.


Mereka benar-benar tidak dapat berkutik pada tekanan yang berasal dari luar Indonesista.


Aku pula baru mengetahuinya sejak menjadi Arno.


Mereka bahkan memilih untuk lepas diri dari masalah organisasi rahasia yang hampir saja membunuh calon penerusnya karena besarnya bahaya laten yang bisa ditimbulkan oleh organisasi berskala internasional itu.


Tidak, karena sejatinya Arno yang asli sudah meninggal, bisa kukatakan kalau lepas diri dari dendam kematian calon penerus mereka, mungkin?


Tidak hanya pada kasus Arno saja, kasus serupa juga terjadi pada Kak Dahlia.


Sewaktu Kak Dahlia dirundung di sekolah dasar pun, mereka memilih berpaling wajah dan membiarkan pelakunya lolos sejak keluarga sang perundung punya backingan yang kuat di luar negeri.


Yah, wajar jikalau pondasi keluarga Rosechild di Indonesista belum kuat sejak mereka baru bertahan selama dua generasi.


Bisa berdiri di puncak tertinggi kedua dalam kurun waktu sesingkat itu saja sudah merupakan prestasi yang besar.


“Tidak kusangka bahwa seorang anak yang bebas bisa terlahir di keluarga yang ketat aturan seperti keluarga Rosechild, tapi itu tidak buruk.”

__ADS_1


Kulihat Nenek Litana tiba-tiba menelisik ke seluruh penampilanku.


“Ah, maaf. Nenek tua ini lagi-lagi kurang sopan. Bagaimana bisa aku lupa memperkenalkan diri dengan seseorang yang baru pertama kali aku temui. Perkenalkan, aku Litana Magus. Nak, Arno bebas memanggil Nenek dengan sebutan apapun kok. Panggilan Nenek juga kedengarannya tidak buruk. Hohohohoho.”


“Hahahahaha. Tidak apa-apa kok, Nek. Santai saja.”


“Oho, benarkah demikian? Padahal kudengar keluarga Rosechild sangat ketat terhadap hal yang seperti ini.”


“Hahaha.”


Aku hanya bisa tertawa kecil menanggapinya sejak aku tidak bisa menyanggah penyataan itu.


“Langsung saja ke intinya, bisakah aku menemui cucuku itu, Nak Arno?”


“Apakah Nenek bersedia mengambil alih hak asuh Arcia?”


Setelah mendengarkan pertanyaanku itu, Nenek Litana segera merespon tampak tanpa keraguan sedikit pun.


“Itu tentu saja sejak dia adalah cucuku yang berharga.”


Aku seketika lega mendengarnya.


Di dunia ini, rupanya masih ada seseorang yang akan peduli dengan Arcia walaupun aku sebagai Viar telah tiada.


Walau demikian, aku sejenak terdiam.


Masih ada hal penting yang ingin aku konfirmasikan pada Nenek Litana.


“Apakah Nenek tidak pernah sekalipun mencari tahu soal keadaan putri Anda?”


Kebenaran soal adanya keluarga Arcia yang masih hidup bukanlah sesuatu yang sulit untuk didapatkan jika seseorang menggalinya lebih dalam.


Tidak akan sulit baginya untuk mencari tahu bahwa putrinya pernah melahirkan seorang anak perempuan sebelum kepergiannya dari dunia untuk selamanya.


Itu cukup mengherankan bagiku selama ini mengapa Nenek Litana sama sekali tidak mengetahui keberadaan cucunya.


Setelah lama merenung, Nenek Litana pun mulai menjawab pertanyaanku.


“Nenek sendiri tidak yakin.”


“Tadinya kupikir Luri akan lebih bahagia jika aku tidak pernah lagi muncul di dalam hidupnya.”


“Sewaktu muda, Nenek telah melakukan hal yang tidak sepatutnya Nenek lakukan padanya.”


“Terus terang, Nenek merasa tidak punya muka lagi berhadapan dengan putri Nenek itu.”


“Nenek hanya selalu berharap bahwa di manapun putri Nenek berada, dia akan hidup berbahagia dengan suami pilihannya.”


“Nenek pun disibukkan dengan berbagai penelitian dan tanpa sadar terlarut di dalamnya.”


“Begitu tersadar, Nenek rupanya sudah berada di umur Nenek yang sekarang.”


“Siapa sangka putri Nenek itu akan mati duluan bersama suaminya mendahului Nenek yang mana putri Nenek itu meninggalkan kehadiran seorang cucu perempuan.”


Jadi dengan kata lain Nenek Litana saking cintanya dengan penelitiannya sampai-sampai sudah lupa masih punya putri yang mesti dikhawatirkannya.


Aku sama sekali tidak bisa bersimpati dengannya.

__ADS_1


“Oh iya, mengenai permintaan Nenek yang sebelumnya.”


“Ah, kalau soal Arcia, Nenek tidak usah khawatir. Dia sudah dalam perjalanan kemari.”


***


“Kak Arno?”


Baru dibicarakan, sosok Arcia segera muncul di hadapan kami.


“Ah, kamu kah Arcia, Nak?”


“Memang kalau diperhatikan, wajahmu benar-benar mirip dengan putri Nenek. Tapi aku tidak suka warna rambutmu sejak itu sama dengan warna rambut budak yang telah membawa kabur putri Nenek.”


Nenek Litana segera berdiri menghampiri Arcia yang baru datang dengan ekspresi haru di wajahnya.


Melihat itu, Arcia segera kebingungan.


“Iya, Nek. Saya Arcia.”


“Kak Arno, nenek ini siapa?”


Bukan aku, melainkan Nenek Litana sendirilah yang menjawab pertanyaan Arcia tersebut.


“Aku nenekmu, Nak. Nenek adalah ibu dari ibumu, Luri.”


“Nenek?”


“Iya, cucuku.”


“Nenek! Uwaaah!”


Segera, wajah haru akhirnya ikut terpancar di wajah Arcia.


Pertemuan yang diiringi oleh linangan air mata pun terjadi di antara pasangan nenek dan cucunya itu yang telah lama hidup terpisah.


Melihat ketulusan Nenek Litana padanya, rasanya aku tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan Arcia sejak Nenek Litana bisa menjadi wali yang baik untuknya.


***


Kini urusan yang tersisa mengesampingkan misi dari Sistem adalah balas dendam untuk Arno.


Keberadaan organisasi penjahat yang menyebabkan dungeon break di ujian kelulusan sekolah kami itu.


Untuk bisa memperoleh informasi yang lebih dalam tentang mereka, aku harus bisa lebih dipercaya di dunia hunter.


Dan untuk itu, tujuanku selanjutnya adalah mendaftar ke Akademi Hunter Nasional Indonesista atau yang disingkat sebagai Akademi AHNI demi segera memperoleh lisensi hunterku.


Itulah yang seharusnya kurencanakan.


Tetapi mengapa?


“Selamat datang peserta ujian nomor 9066, siswa Arnoria Rosechild dari Sekolah Menengah Unggulan Taruna.”


Mengapa Nenek Litana ada di sini?


“Perkenalkan, aku Litana Magus, kepala Akademi Hunter Nasional Indonesista yang sekaligus akan menjadi ketua tim penilai kelayakan penerimaanmu di akademi kami.”

__ADS_1


Dengan senyumnya yang adem lagi menenangkan, Nenek Litana menatapku lembut.


__ADS_2