Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 29 – SEORANG KUAT YANG DIRUNDUNG bag. 1


__ADS_3

-Puak


Aku menyepak tepat di kepala salah satu kawanan yang sedang berjongkok membuli Abel Lundoln yang tampak merupakan pimpinan di antara mereka.


“Ouch!”


Bisa kudengarkan teriakan aneh dari orang yang kusepak tersebut.


“Oh, ada orang rupanya. Maaf, tadinya saya pikir kamu sampah yang menghalangi jalan. Lagian mengapa berjongkok menghalangi jalan di situ? Bisa minggir sekarang, tidak?”


Sebenarnya aku ingin langsung memaki-maki para pembuli biadab itu, namun mengingat kini aku telah menjadi Arno yang selalu tampak baik di hadapan orang-orang, aku sedikit mengontrol ucapanku.


“Hei, kamu sialan! Beraninya kau menghinaku!”


“Hei, hentikan, Mulyadi! Dia itu anak keluarga Rosechild.”


Si pimpinan pembuli tampak ingin menghajarku, namun sebelum aku bergerak, salah satu kawanannya sendiri yang telah menghentikannya.


Hanya dengan mendengar nama keluarga Rosechild, para kawanan pembuli itu segera ciut lantas segera meninggalkan tempat tanpa berani berbuat macam-macam lagi.


Tampaknya status keluarga benar-benar menjadi tameng yang kuat bagi anak-anak orang kaya dan berkuasa untuk bisa berbuat apa saja.


Mereka bahkan tidak bisa berbuat apa-apa padaku setelah kupermalukan segitunya karena status keluarga mereka jauh lebih rendah daripada keluargaku.


Pantas saja banyak dari anak-anak orang kaya dan berkuasa yang melenceng hingga menjadi sampah masyarakat.


Aku justru heran mengapa Arno selama ini tidak menjadi salah satunya.


Aku hendak pergi dari tempat itu, namun Abel yang telah terluka karena dipukuli tiba-tiba menyapaku.


“Anu, terima kasih.”


“Ck. Aku sama sekali tidak bermaksud membantumu. Aku hanya benci sampah masyarakat seperti mereka. Lagian, kamu itu kuat. Mengapa tidak berani melawan setelah dihajar habis-habisan begitu?”


Abel hanya tertunduk tanpa berani menjawab pertanyaanku itu.


Lagipula aku sudah tahu jawabannya.


Status keluarga.


Nama keluarga Lundoln sama sekali tidak tercatat di antara list nama bangsawan maupun pengusaha penting di perpustakaan keluarga Rosechild.


Itu berarti keluarga Abel bukanlah siapa-siapa.


Dia bisa saja rakyat jelata atau mungkin bangsawan jatuh selama proses reformasi negara.


Namun aku tertarik dengan warna mata dan rambutnya yang silver.


Rambut bisa saja menjadi silver seiring sering terjadinya mana depletion karena terlalu banyak melakukan penelitian sihir seperti halnya yang terjadi pada Nenek Litana, tetapi tidak pada warna mata.


Warna mata dan rambut yang silver, aku hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, dia seorang keturunan werewolf.


Itu didukung pula oleh ciri-ciri fisiknya yang tampak lemah dibandingkan dengan orang normal sebagai tanda awal bahwa kekuatan darah werewolf-nya belum terbangkitkan.


Pernah kudengar kabar bahwa ada seorang werewolf yang menikahi seorang manusia, menahan instingnya untuk meminum darah dan hidup berbaur di antara manusia.


Mereka pun melahirkan seorang anak campuran manusia dan werewolf, yang kemungkinan itulah asal-muasal dari keturunan Abel Lundoln.


Namun hubungan antara seorang vampir dan seorang werewolf dari dulu telah sangat buruk.

__ADS_1


Sebagai sesama penghuni makhluk kegelapan, kami sering berebut wilayah kekuasaan.


Itulah sebabnya aku pula sebaiknya tidak terlalu terlibat dengannya.


Hanya saja,


“Ukh.”


“Di mana yang sakit?”


Aku tidak mungkin mengabaikannya yang sedang dalam keadaan babak belur begitu.


Lagian kami kan sekelas, juga jika itu Arno, dia pasti juga tidak akan pernah membiarkan seorang gadis lemah yang terluka di depannya.


Aku memang lemah terhadap gadis kecil, entah itu Arcia, dan kini sekarang juga Abel.


Aku memang tidak pernah belajar dari masa lalu.


Padahal penyebab diriku sampai terjerembab ke dalam perangkap Sistem tidak lain adalah karena kelembutanku pada Jeanne hanya karena melihatnya sebagai gadis kecil yang lemah.


Pada akhirnya, aku memapah Abel sampai ke ruang kesehatan lalu kubantunya untuk mengobati luka-lukanya.


“Sesuai kabar yang beredar, kamu memang orang yang sangat baik.”


Pujian Abel tiba-tiba tertuju padaku.


“Ck. Tidak ada gunanya menjadi orang baik. Itu tidak akan membantu mengisi perutmu yang lapar.”


“Hehehehe. Tapi tak terduga kalau sosok Arnoria Rosechild yang dipuji-puji banyak orang sebagai tokoh idola idaman, rupanya bermulut kasar. Dan apa-apaan pula ucapan seperti gelandangan itu. Keluarga Rosechild tak mungkin pernah ditimpa kelaparan kan… Ouch!”


Aku seketika sengaja mengencangkan perbannya untuk menghentikannya berceloteh yang tidak-tidak.


“Kalau sudah paham, diam saja sementara aku obati.”


“Hehehehe.”


Dia justru tetap tersenyum lembut menanggapi ekspresi muka masamku.


Sejujurnya, senyum Abel itu manis.


Aku suka melihatnya tersenyum.


Ini memang baik baginya jika selalu berpikiran positif terhadap dunia jika dia adalah wanita yang normal.


Sayangnya, dia adalah keturunan werewolf.


Tidak akan ada hal yang baik baginya jika dia terus-terusan menjadi seseorang yang bersikap penyayang.


Sampai kapanpun, dia jadinya tidak akan pernah bisa membangkitkan kekuatannya.


***


Begitu aku berjalan keluar meninggalkan ruang kesehatan meninggalkan Abel yang masih terbaring di sana karena masih butuh beristirahat perihal luka-luka yang dideritanya, seseorang kembali menyapaku.


“Arno! Arno! Hai, Arno!”


Seseorang dengan rambut pirang halus dengan mata emasnya berlari ke arahku.


Dengan pembawaan yang santai dan easygoing, dia menyapaku,

__ADS_1


“Kamu Arno benar, kan? Aku tadi melihatmu di acara pembukaan mahasiswa baru akademi.”


“Yo, halo, kalau begitu, sampai jumpa.”


Aku menyapanya sebentar lalu bergegas ingin pergi meninggalkannya.


Tidak ada baiknya aku bergaul dengan orang yang terlalu menonjol seperti dirinya, terlebih dengan mengingat statusnya itu.


“Tunggu! Tunggu dulu dong, Arno. Aku ini teman sekelasmu lho, kamu tidak ingat? Oh iya, maaf belum memperkenalkan diri sebelumnya. Namaku Julian Gerfinda. Kamu bisa memanggilku dengan panggilan Lian, Juju, atau panggilan imut apapun. Hehehehehe.”


“Tidak, terima kasih, Julian saja oke kok.”


“Hehehehehehe.”


Dialah anak bungsu presiden Indonesista saat ini.


Di kala baik Bapak Presiden maupun Ibu Presiden keduanya berambut hitam lantas tiba-tiba melahirkan seorang anak dengan rambut pirang, semua tentu sudah paham apa artinya.


Keluarga Gerfinda adalah cikal bakal pejuang yang membentuk Negara Republik Indonesista ini yang pada awalnya disebut sebagai Kesultanan Indonesista dengan Sultan Hasanuddin Gerfinda sebagai sultan pertamanya yang terbentuk pada tahun 1667 kalender matahari.


Dia dengan gagah berani mengeluarkan sumpah Bunga Yak yang kini menjadi trend dalam sejarah, yakni sumpah yang mengikrarkan bahwa Sultan Hasanuddin Gerfinda takkan pernah mencium lagi harumnya bunga Yak sebelum dia berhasil mempersatukan seluruh kepulauan di nusantara.


Nyatanya, hanya delapan pulau yang berhasil disatukannya di mana tiga lainnya di utara masih dikuasai oleh bangsa imperialis.


Keluarga Gerfinda sejak saat itu masih terus menduduki ibukota di Pulau Celebes di pusat dan bahkan ketika negara sudah berubah bentuk dari bentuk monarki ke bentuk republik, keluarga mereka masih terus dipercaya sebagai pemimpin negara yang menyatukan kedelapan pulau yang ada.


Setidaknya, itu sampai di zaman Sam Gerfinda, presiden Indonesista sekarang.


Meskipun banyak yang kecewa padanya perihal isu miring kelahiran sang anak bungsu yang jelas-jelas memiliki gen yang berbeda darinya, Sam Gerfinda tetap memiliki posisi yang kokoh sebagai pemimpin negara dan memegang kepercayaan yang baik dari rakyat sejak keahliannya dalam mengelola negara.


Namun tidak kepada sang penerus, baik si sulung Asario Gerfinda maupun si bungsu Julian Gerfinda.


Satunya dikenal sebagai tiran, sedangkan satunya lagi bahkan diragukan keaslian gennya ditambah sifatnya yang slenge’an.


Sejak tidak ada larangan bagi siapa saja untuk bisa menjadi presiden, pastinya akan sulit mempertahankan kekuasaan keluarga Gerfinda itu seusai tampuk kekuasaan Presiden Sam Gerfinda berakhir yang telah mereka pegang selama hampir empat abad.


Bahkan sekarang, kekuasaan mereka telah turun drastis dan hanya menempati posisi keenam dalam hal prestige keluarga di Indonesista.


Tapi ngomong-ngomong, bukannya Julian sama sekali tidak berbakat.


Jika bukan karena sifatnya yang slenge’an dan malas berlatih, dia pasti sudah menjadi seorang swordsman yang andal, dan terlebih itu bukan swordsman sembarangan, melainkan seorang magic swordsman.


Dengan kata lain seorang pushover.


Bukankah bibitnya kurang lebih sama dengan Arno?


Jikalau begitu, mungkin mereka bisa menjadi pasangan teman yang terbaik, teman seperjuangan yang sama-sama pushover.


Julian bisa berfungsi menjadi pengusir efektif keberadaan Lisanna Annexia serta orang-orang berbakat lainnya yang selalu beredar di sekitar Arno dengan sifatnya yang menyebalkan secara natural itu.


Dengan bergaul bersama Julian, aku bisa sedikit demi sedikit mengubah karakter Arno yang menyimpang itu menjadi pribadi yang bisa lebih egois untuk mementingkan dirinya sendiri.


Jadi sebenarnya tidak buruk juga bergaul bersama Julian.


“Baiklah, Julian, sudah kuputuskan.”


“Hmm?”


“Mulai hari ini, kita adalah teman.”

__ADS_1


Aku merangkul pundaknya sembari mengucapkan kalimat tersebut padanya lantas bisa kusaksikan raut penuh bahagia di wajahnya itu.


__ADS_2