Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 71 – MENEMPELIMU bag. 3


__ADS_3

Seisi akademi seketika panik begitu mengetahui bahwa telah ada penyusup yang menyerang tempat ujian akademi mereka.


“Perhatian! Perhatian! Ini bukan latihan. Segera mengungsi ke tempat yang aman. Sekali lagi, ini bukan latihan. Segera mengungsi ke tempat yang aman.”


Suara pemberitahuan darurat bisa terdengar di mana-mana di seisi hutan yang menjadi lokasi ujuan tersebut.


Semua mahasiswa yang mendengar pemberitahuan tersebut berbondong-bondong meninggalkan lokasi ujian.


Sayangnya dari 16 peserta, hanya sebelas-lah yang berhasil kembali.


“Di mana Arno?! Hei, katakan di mana Arno?!”


“Aku tadi melihatnya. Tampaknya dia tadi dikeroyok mahasiswa dari kelas A sebelum bencana itu terjadi tepat di tempat itu.”


Dengan muka datar, mahasiswa 2S1, Sigried Abraham menjawab pertanyaan Lisanna tersebut.


Lisanna yang biasanya hampir tak menunjukkan ekspresinya begitu panik sampai-sampai air mata menetes membasahi kelopak matanya yang indah.


Tanpa pikir panjang lagi, Lisanna hendak berlari ke tempat di mana angin kencang yang tak tahu dari mana asalnya itu tiba-tiba bertiup.


“Lisanna kau mau ke mana?!”


Julian yang melihat kenekatan Lisanna segera menahan wanita itu.


Itu segera mendapatkan dukungan dari teman-teman kelas 1S yang lain.


Hingga pada akhirnya, hal itu pun dinotice oleh para dosen pengawas ujian lantas mengambil alih peran untuk menenangkan Lisanna.


“Hei, Nak, tenang. Di sana ada penyusup berbahaya. Sekuat apapun dirimu saat ini, itu belum akan sanggup mengalahkan kekuatan mereka. Jadi serahkan semuanya kepada para pengajar kalian.”


“Tapi sampai sekarang kalian masih belum berbuat apa-apa! Di saat kalian asyik berdiskusi di sini, Arno bisa saja… Arno bisa saja oleh mereka. Tidak. Tidak! Kali ini aku takkan lagi membiarkannya!”


Lisanna segera mengingat kejadian yang terjadi di ujian kelulusan SMUT angkatannya tahun lalu. Dari 35 anggota kelas, 21 meninggal dalam insiden yang disebabkan oleh Profesor Luvien, anggota organisasi yang sama seperti yang sekali lagi menyerang akademi di mana Lisanna berada tersebut.


***


Aku tak menyangka bahwa pertemuanku dengan Selena akan terjadi secepat ini.


Namun, ekspresi yang ditunjukkan oleh Selena ketika menatapku tak ubahnya seperti predator yang menatap mangsanya.


Adik kecil yang dulu tidak pernah lepas dari punggungku, kini benar-benar membuat seluruh bulu kudukku merinding.


“Jadi sekarang, bisa kau ungkapkan rahasiamu itu kepadaku, Bocah?”


“Hei, bukankah Rarina sudah bilang padamu untuk tidak perlu menyentuhku? Kenapa kau melakukan ini lagi padaku?”


“Kau juga berani menyebut nama Nona Rarina tanpa sopan santun rupanya. Aku semakin penasaran dengan identitasmu, Bocah.”


Bisa kulihat Selena menjilati gigi taringnya yang panjang itu dengan lidahnya yang tanpa sadar membuat aku menelan ludah.


“Tapi tidak mengapa. Aku bisa menanyakan itu langsung ketika kau kujadikan familiar.”


Secepat kilat Selena mengarah kepadaku.


Tanpa kusadari leherku sudah dipegangnya.


Namun begitu dia akan mulai mengisap darahku.


-Duar.

__ADS_1


Selena terpental dengan sendirinya.


“Apa ini?”


Tentu saja kau tak dapat mengisap darah majikanmu sendiri.


Namun sayangnya Selena tidak menyadari identitasku yang sebenarnya dan aku juga tidak dapat memberitahunya hal tersebut perihal kekangan Sistem.


“Siapa sebenarnya kau, Bocah?!


Seberapa kuat pun Selena mengancamku, mulutku tetap terkunci rapat.


Namun itu bukan keinginanku.


Aku tak dapat melawan keinginan Sistem.


“Aaa…”


Menyadari bahwa mulutku berusaha terbuka, namun tak bisa, ditambah ada aliran tipis mana mengalir melalui pita suaraku, akhirnya Selena mendapatkan klu penting tentang apa yang terjadi padaku.


“Apa jangan-jangan ada seseorang yang menaruh mantra kepadamu untuk tidak berbicara?”


‘Itu benar, tepatnya bukan seseorang, tetapi keberadaan transedental.’


“Apa itu Tuan Laviar?”


‘Bukan, dasar bodoh! Aku sendiri Laviar!’


Aku benar-benar merasa geram.


Padahal keluarga yang kucari-cari selama ini tepat berada di hadapan mataku, tapi mulutku sama sekali tak berfungsi memberitahunya.


“Kalau itu memang keinginan Tuan Laviar, apa boleh buat. Aku akan menuruti keinginan Tuan Laviar yang masih belum ingin kutemui.”


Seketika aku teringat sesuatu.


“Selena, apa kau masih menyimpan sapu tangan pemberianku?”


Sewaktu kecil, tepatnya setahun sebelum kejadian naas itu terjadi padaku, aku sempat memberikan Selena hadiah berupa saputangan yang motifnya kurajut sendiri.


“Kau?”


“Motif Castle yang kurajut pasti sangat kikuk bagimu ya sehingga sudah lama kau buang.”


Namun berbeda dari dugaanku, Selena segera mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


Itu adalah saputangan tersebut.


“Ini adalah hadiah pemberian Tuan Laviar di ulang tahunku yang kesembilan. Tapi kau baru saja mengatakan ini hadiah pemberianmu… Ah!”


Bisa terlihat bahwa tanda seru besar seketika melayang di kepala Selena.


“Jangan-jangan, Bocah, tidak, Anda adalah Tuan Laviar?”


Selena menelisik penampilanku mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Untuk memberinya klu, aku pun membatalkan perubahan wujud Arno-ku dan kembali kepada wujud Viar.


Sayangnya, aku tak bisa kembali ke wujud asliku dan aku juga tidak bisa berkata-kata di luar dari yang Sistem izinkan.

__ADS_1


Syukurlah Sistem tidak tahu-menahu perihal hadiah saputangan itu sehingga aku berhasil memberikan klu kepada Selena.


Dengan segera, aku kembali ke wujud Arno.


“Apa itu tadi? Kau berubah wujud? Ini bukan wujud aslimu? Apa yang tadi wujud aslimu? Tapi jelas-jelas yang tadi juga bukan wujud Tuan Laviar. Apa jangan-jangan Anda kehilangan kemampuan untuk kembali ke wujud semula Anda?”


Mulutku terkunci, namun aku masih bisa bersusah-payah untuk mengangguk.


Akhirnya, Selena pun paham apa yang sedang terjadi.


“Tuan Laviar!”


Selena yang bahagia segera datang ke sisiku memelukku dengan erat.


Semuanya akan berakhir bahagia jikalau saja Sistem tidak berulah di saat itu.


Perhatian! Perhatian!


Identitas Anda sebagai vampir diketahui oleh 1 orang.


25 % menuju proses penghancuran diri.


Berbeda dari harapanku, penalti Sistem itu rupanya tidak hanya berlaku jika identitasku diketahui oleh manusia, bahkan itu pun tak boleh diketahui untuk rekan serasku sendiri.


Namun yang tak aku duga, Sistem tampaknya masih berbaik hati dengan memberikanku batas maksimal jumlahnya, 25 % yang berarti setidaknya masih akan aman jika identitasku diketahui sampai sebanyak 3 orang.


Akan tetapi,


Perhatian! Perhatian!


Identitas Anda sebagai vampir diketahui oleh 1 orang lainnya.


50 % menuju proses penghancuran diri.


Harap diperhatikan jika angka ini mencapai 100 %, maka penalti akan segera diterapkan.


Siapa seorang lagi selain Selena yang berhasil mengetahui identitasku?


Aku begitu was-was.


Apa jangan-jangan salah satu peserta ujian?


Kalau begitu, takkan butuh waktu lama bagi seluruh akademi akan tahu identitasku jika tak segera kusingkirkan orang tersebut.


Namun berbeda dari kekhawatiranku, itu bukanlah mahasiswa akademi.


“Tak kusangka kamu adalah Laviar. Pantas saja aku merasakan kesamaan di antara kalian berdua ketika bersamamu.”


“Jangan bertindak kurang ajar di hadapan Kakak, tidak, maksudku Tuan Laviar, Jeanne.”


Melihat anak buahnya memanggilku hanya dengan nama saja, Selena segera geram kepada anak buahnya itu.


“Aku tidak apa-apa kok, Selena. Oh iya, kamu juga boleh memanggilku dengan sebutan Kakak kok seperti waktu kita kecil dulu. Eh? Siapa tadi kau bilang nama wanita itu, Selena?”


Aku segera membayangkan kembali wajah seseorang yang menjadi penyebab identitasku terungkap di antara kaum manusia.


Seseorang yang kuanggap sebagai teman baik, namun menusukku dari belakang.


Dan begitu kuperhatikan wajah wanita dewasa yang berdiri di hadapanku itu, mereka memang mirip.

__ADS_1


Apa jangan-jangan dia adalah Jeanne sama yang kukenal di masa lalu?


Jika demikian, peristiwa apa yang sampai menyebabkannya menjadi vampir?


__ADS_2