
Aura platinum yang sangat tebal seketika mengelilingi seluruh tubuh Arnoria Rosechild.
Siapa sangka penyiksaan dan penindasannya di arena akan menyebabkannya berevolusi menjadi seorang magic swordsman.
Efek skill aura bintang Arnoria Rosechild telah menarik ketertarikan dan simpatik milik para penonton menjadi sebuah energi yang merangsang skill ikatan darah berevolusi.
Kekuatan yang sejatinya dimiliki oleh Abel Lundoln berupa amarah, penghinaan, serta keangkuhan, menyatu di dalam diri Arnoria Rosechild membentuk suatu aura platinum secerah matahari.
Itu seketika membakar apa saja yang menyentuhnya.
“Apa yang…”
Melihat sosok lemah yang tiba-tiba menjadi sangat menakutkan di hadapannya itu, kaki Alleandro Karman pun gemetaran.
Lalu dalam waktu yang sangat singkat, Arnoria Rosechild telah ada di hadapannya.
Dia tidak sadar apa yang telah terjadi, namun begitu tersadar, Alleandro telah mendapati dirinya melayang di udara.
“Akh.”
Hanya dengan sebuah pukulan, bahkan bukan dengan tebasan pedang, dirinya seketika memuntahkan darah dan sekarat.
Kemenangan mutlak diraih oleh Arnoria Rosechild.
Seluruh penonton menjadi takjub akan pemandangan spektakuler itu.
Abel Lundoln, Julian Gerfinda, bahkan Jeremy Rudd dan Otto berhasil dibuatnya menganga agape.
Terlihat Rohana Macbell begitu senang akan kemenangan Arnoria Rosechild, saking senangnya, dia memeluk penuh haru Rutiliana yang ada di sampingnya.
Mungkin jika ada satu orang yang tidak bahagia di tempat itu setelah menyaksikan keajaiban terjadi tepat di hadapan mata mereka, tentu saja itu adalah pihak yang baru saja kalah.
Sembari menggertakkan gigi-giginya, Sarpian Mucahantas menarik ekornya lantas segera pergi meninggalkan tempat tersebut dalam perasaan yang penuh malu.
Sayangnya, Arnoria Rosechild tidak dapat menikmati kemenangan itu dalam waktu yang lama.
Itu karena beberapa saat setelah kemenangannya, dia jatuh pingsan.
Lisanna dengan sigap naik ke atas podium menggapainya.
***
“Ukh.”
Perlahan, mataku mulai terbuka.
Di saat itulah aku tersadar, ah, aku baru saja pingsan.
Namun begitu kumembuka mata, sebuah sosok yang tak pernah kusangka-sangkalah yang akan menyambutku.
“Kak Arno? Kak Lisanna, Kak Arno sudah siuman!”
“Ah, benar. Syukurlah.”
Itu adalah Arcia yang di sampingnya juga ada Lisanna.
Langit tengah gelap sehingga setidaknya aku telah pingsan selama sepuluh jam lebih.
“Apa? Tiga hari?”
Namun rupanya, aku tidak sadarkan diri jauh lebih lama daripada yang kuduga.
__ADS_1
Bukan setengah hari, melainkan tiga hari lebih.
“Iya, itu benar, Kak Arno. Kakak tahu betapa Arcia sedih setelah mendengar beritanya dari Kak Lisanna?”
“Huhuhuhu.”
Arcia menangis tersedu-sedu sembari Lisanna Annexia menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkannya.
“Aku tak menduga kalau apa yang dikatakan Kak Lisanna rupanya benar.”
“Kak Viar telah mengotori jiwa Kak Arno yang polos sampai menjadi seperti ini”
“Aku sebagai adiknya mau tidak mau merasa sangat bersalah.”
“Huhuhuhuhuhu.”
Apa yang baru saja dibicarakan gadis kecil ini?
“Hei, apa maksudnya itu? Mengapa Viar kamu katakan mengotori jiwaku?”
“Habisnya, Kak Arno kan dulunya orang paling baik sedunia, lemah lembut, tidak kasar, berhati polos, tapi lihat sekarang, Kakak sampai bisa memprovokasi seseorang sampai berakhir dalam keadaan seperti ini. Huhuhuhuhuhuhu.”
“Hah, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Viar. Aku semata-mata melakukannya karena kesal dengan mereka.”
“Nah itu! Itu dia cara ngomong khas Kak Viar yang kasar yang sampai menular ke Kak Arno! Mengapa kamu merusak jiwa polos Kak Arno ini, Kak Viar?! Huhuhuhuhuhuhuhu.”
Aku seketika kehilangan kata-kata.
Bukannya pula aku bisa mengatakan kepada Arcia bahwa sejatinya aku memang Viar yang dikenalnya yang saat ini memakai tubuh Arno di mana yang meninggal di dalam bencana dungeon break ujian kelulusan SMUT itu adalah Arnoria Rosechild yang asli.
“Pokoknya aku sudah memutuskan!”
Arcia menatapku dengan mata yang membara dan itu sedikit memberikanku perasaan yang tidak enak.
“Mulai sekarang, aku juga akan tinggal di dalam akademi demi menjaga Kak Arno.”
“Hei, kamu tak perlu segitunya, Arcia.”
“Tidak! Ini tanggung jawabku juga, Kak Arno. Bagaimanapun karena keseringan bergaul dengan kakakku Kak Viar sehingga karakter Kak Arno jadi rusak sehingga tanggung jawabku-lah sebagai adiknya untuk menangani masalah yang sudah diperbuat oleh kakakku.”
“Logika apaan itu? Lagian emangnya anak SMA bisa tinggal di tempat ini?”
“Ck, ck, ck. Kak Arno lupa ya siapa Arcia ini? Aku adalah cucu sang kepala sekolah. Sebelum kemari, aku sudah memperoleh persetujuan dari Nenek untuk bisa menjadi asistennya dan tinggal di asrama mulai sekarang.”
Demikianlah, Arcia yang sempat menghilang dariku beberapa saat, kini kembali mengitari perjalanan hidupku.
Tetapi itu tidak buruk juga.
***
Sarpian Mucahantas masih menaruh dendam akan kekalahannya baru-baru ini dalam duel bersama Arnoria Rosechild.
Dia begitu menyesali keputusan ayahnya yang sampai menyuruhnya menggunakan champion dalam duel itu demi mengambil posisi aman pasca membuat Arnoria Rosechild menghilang selamanya dari dunia.
Dengan Arnoria Rosechild dibunuh oleh champion dan bukan dirinya sendiri, tentunya akan lebih mudah bagi keluarga Mucahantas terbebas dari tuduhan konspirasi dengan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut kepada sang champion yang telah melakukannya.
Nyatanya, sang champion yang ditunjuknya malah mengulur-ulur waktu demi kepuasan dirinya sendiri melihat Arnoria Rosechild tersiksa.
Namun apa akibatnya? Kini kekuatan Arnoria Rosechild yang terpendam justru terbangkitkan.
Jika itu dia, dia pasti dalam sekejap sudah akan menghabisi bocah sombong itu sehingga kekuatannya takkan sempat terbangkitkan.
__ADS_1
Nyatanya, kini Arnoria Rosechild telah menjadi sosok yang lebih menakutkan lagi.
Di saat itulah dia melihat pasangan Jeremy Rudd dan Otto sedang berjalan keluar asrama.
Dia pun menghadang mereka.
“Ah, Senior.”
“Hormat kami kepada Senior.”
Sembari membungkukkan badannya, kedua sahabat itu memberi salam hormat kepada sang senior.
Namun nyatanya apa yang dilakukan oleh sang senior adalah tindakan yang benar-benar tak terpuji.
“Tidak usah berpura-pura bersikap baik di hadapanku, dasar bajingan!”
“Ini semua juga karena kesalahan kalian!”
Sarpian Mucahantas kemudian hendak akan melayangkan tangannya demi menghajar kedua juniornya itu.
Namun di saat yang benar-benar tepat, Arnoria Rosechild menghentikannya.
“Hei, Senior. Bukankah ini berbeda dari sumpah Senior? Senior telah bersumpah dalam suatu duel resmi bahwa jika kalah, Senior takkan lagi menyentuh para junior Senior dan nyatanya Senior telah kalah. Apakah Senior hendak melanggar sumpah duel yang sakral bagi akademi?”
“Cih, sialan!”
Kemarahan sang senior pun dengan cepat kini tertuju kepada Arnoria Rosechild.
Sarpian Mucahantas dengan penuh amarah menyingkirkan tangan Arnoria yang menyentuhnya lantas balik hendak memukulnya.
Namun itu tidak berhasil.
Akan tetapi, bukanlah Arnoria Rosechild yang menghentikannya.
Itu adalah mahasiswa 3S1, senior Arno yang lain, Alexander Rachelxia.
“Setelah kalah dengan menyedihkan, kini kau mau melampiaskannya dengan cara yang menyedihkan pula ya, Pian.”
“Ah, Senior.”
Sekujur tubuh Sarpian Mucahantas seketika gemetaran dan berkeringat dingin.
Wajah Alexander begitu tampan dengan rambut biru halusnya yang menawan serta kulitnya yang seputih susu.
Walau demikian, itu sanggup membuat seorang Sarpian Mucahantas yang angkuh seketika gemetaran hanya dengan melihat wajahnya.
Sarpian pun kemudian hanya meninggalkan tempat itu tanpa berbuat macam-macam lagi sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh sang senior setahun lebih tua dari dirinya tersebut.
Setelah Sarpian Muchantas pergi, kini perhatian Alexander terfokus kepada sosok muda yang ada di hadapannya, Arnoria Rosechild.
“Tampaknya, ini pertemuan kita pertama kali kembali setelah sekian lama ya, Arno.”
“Ya, itu benar, Senior. Ini pertama kalinya kita bertemu kembali sejak aku masuk ke akademi.”
“Hahahahahaha. Itu adalah hal yang wajar sejak mahasiswa tingkat tiga sudah harus disibukkan dengan urusan magang, jadi kebanyakan waktuku di luar dan bukan lagi di dalam akademi ini.”
Sang senior lantas menepuk pundak Arno.
“Lain kali jika ada waktu, mari mengobrol lebih banyak lagi, Arno.”
Sang senior pun berlalu tanpa membalikkan punggungnya lagi.
__ADS_1