
“Maaf, Arno. Padahal aku juga tahu kamu bilang begitu demi membangkitkan kekuatanku. Tapi aku malah serius ingin membunuhmu barusan. Seolah ada sisi gelap di dalam diriku yang terbangkitkan.”
Abel panik begitu serangannya dia kira hampir saja memecahkan kepalaku.
Tapi aku jujur bahwa benar-benar serangannya itu masih pada ranah yang bisa aku tangani.
Walaupun Julian tak menangkiskan serangannya untukku, aku masih bisa selamat dari ketajaman bilah pedang kayu yang dipertajam dengan aura yang diarahkan ke kepalaku itu.
“Tenang saja. Aku mengerti kok, Abel. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah karena ini pun bagian dari latihan.”
“…”
Abel hanya diam seribu bahasa dengan tampang yang amat merasa bersalah.
“Hah.”
Aku mengembuskan nafas kencang-kencang yang seketika membuatnya tersentak.
“Lebih penting daripada itu, kamu sudah bisa merasakan sensasinya kan bagaimana mengeluarkan kekuatanmu tersebut?”
“Hmm.”
“Baguslah. Kini yang mesti kau lakukan hanyalah berlatih mengendalikannya agar itu tidak lagi menyeretmu. Aku yakin suatu saat kamu akan menjadi petarung unggulan dengan kekuatan itu.”
Terlihat wajah ragu di balik ekspresi Abel seolah masih ada yang disimpannya yang ingin ditanyakannya.
Itulah sebabnya aku mengatakannya.
“Bilang saja jikalau masih ada yang ingin kamu tanyakan.”
“Itu… Sebenarnya kekuatan apa ini, Arno? Aku merasakan firasat yang sangat tidak enak ketika membangkitkannya.”
“Kau tahu bahwa leluhurmu adalah salah satu pejuang revolusi Indonesista kan?”
Akan tetapi, Abel justru menggeleng terhadap pertanyaanku itu.
Yah, wajar saja jika dia tidak tahu.
Keluarga Annexia melakukan segala hal untuk mengubur dalam-dalam segala eksistensi makhluk kegelapan di tanah air Indonesista ini.
“Intinya itu adalah kekuatan yang digunakan oleh kakekmu dalam membantu Indonesista berhasil dalam revolusinya.”
“Sayangnya, seperti yang kamu tahu bahwa itu kekuatan yang sangat berbahaya sehingga banyak kala itu yang takut terhadapnya lantas mengucilkan kakekmu sehingga tidak memperoleh hadiahnya sama seperti para pejuang kemerdekaan yang lain dalam kejayaan negara Indonesista baru.”
“Darimana kamu tahu hal tersebut, Arno?”
“Kamu pikir darimana kejayaan keluarga Rosechild selama ini berasal?”
“Itu karena hampir segala informasi yang terjadi di dalam negeri ini, termasuk di luar negeri, terekam dengan baik di perpustakaan keluarga kami.”
“Itu terekam benar dengan baik sehingga percuma jika pemerintah yang berkuasa ingin memanipulasi sejarah.”
“Ups.”
Aku lupa jikalau di tempat itu juga ada Julian.
Akankah itu baik-baik saja mengatakan hal demikian di hadapan seorang anak presiden?
Tapi dia kan Julian yang slenge’ an sehingga aku tidak berharap dia akan tersinggung hanya karena ucapan sepele seperti itu.
Akan tetapi ada apa dengan ekspresinya yang tiba-tiba kusut?
“Karena sudah gelap, kita akhiri saja latihan hari ini. Kita ketemu lagi sore besok ya, Abel.”
__ADS_1
“Hmm.”
“Eh? Kalian melakukan ini setiap hari? Luar biasa!”
“Bukan kami yang luar biasa, tapi kamunya yang pemalas. Jika kamu terus-terusan malas-malasan, tanpa kamu sadari Abel yang pemula akan segera menyusulmu, tahu!”
“Ukh. Kejamnya kata-katamu, Arnooo.”
Kami bertiga hendak meninggalkan tempat itu.
Namun, begitu aku menoleh, Lisanna telah berdiri di hadapan kami.
Tak satupun dari kami yang bisa merasakan hawa keberadaannya mendekat.
Namun bukan itu bagian yang penting.
Yang lebih penting adalah apa yang diucapkannya.
“Arno? Kamu benar Arno kan?”
Seketika aku berkeringat dingin.
Apa wanita ini baru saja mencurigai identitasku?
Aku harus tetap tenang.
Sekali aku panik, semuanya akan berakhir.
Bagaimanapun Lisanna adalah keturunan langsung vampire hunter.
Dia seketika bisa merubahku jadi abu begitu dia mengetahui identitasku yang sebenarnya.
Namun wanita itu tiba-tiba saja memelukku dengan cemas.
“Aku sudah memperhatikanmu selama ini, Arno.”
“Itu karena kamu terlalu dekat dengannya sewaktu di sekolah menengah.”
“Ada yang bilang kalau trauma kehilangan seseorang yang sangat kamu sayangi terkadang bisa membuatmu berubah bersifat sama dengan orang itu untuk menutupi kesedihanmu.”
“Itulah yang pasti terjadi padamu saat ini, Arno sayang.”
“Kamu selama ini terlarut dalam kesedihan, tetapi aku sama sekali tidak menyadarinya.”
“Tapi tenang saja, mulai sekarang akulah yang akan melindungimu hingga traumamu bisa segera hilang, Arno sayang.”
Sudah kuduga wanita ini berinsting tajam.
Syukurlah bahwa dia salah sangka.
Aku pun perlahan melepaskan pelukannya itu lantas menepuk bahu Lisanna.
“Sana, tidak baik berbicara kasar kepada orang yang sudah meninggal. Bagaimanapun Viar adalah sahabat baikku.”
Dia pun mengangguk mengiyakan ucapanku.
Tetapi tetap saja, sulit bagiku yang sebenarnya berkarakter tidak sabaran ini menirukan sifat Arno yang lembut.
***
Perkuliahan sudah memasuki minggu keduanya.
Telah mulai terlihat sekat-sekat kelompok di antara kami.
__ADS_1
Aku dengan Julian dan Abel yang sekali-kali Lisanna masuk ke dalam kelompok kami.
Kamudian ada kelompok Jeremy Rudd dan Otto, Dilya Toxice dan Alvin Hermes, lalu yang tersisa sang putri dari pulau Irian, Rohana Macbell dengan pemilik perusahaan farmasi terkenal yang juga berpusat di pulau Irian, Rutiliana.
“Hei, idiot! Begitu saja tidak bisa?! Perhitungannya kan sangat sederhana!”
“Ah, maafkan aku, Nona Rohana.”
Namun untuk yang terakhir, daripada hubungan pertemanan, itu lebih terlihat seperti hubungan antara budak dan majikan.
Itu karena perusahaan farmasi keluarga Rutiliana bisa berjaya berkat dukungan penuh gubernur Irian saat ini, ayah Rohana.
Rutiliana tak punya pilihan lain selain harus selalu terlihat baik di hadapan Rohana.
Namun, aku tak tahan dengan pemandangan menjijikkan seperti itu.
Mungkin itulah sebabnya, suatu ketika aku berpapasan dengan Rohana, aku mengucapkan kalimat tersebut.
“Hei, perlakukanlah temanmu secara baik selama mereka ada. Jika kamu bersikap begitu terus, suatu saat kamu akan berakhir sendirian tanpa teman sejati di dekatmu lagi.”
“Ap… Apa?! Arnoria Rosechild! Apa kalimat itu ditujukan untukku?! Berani-beraninya kamu menghinaku?!”
“Aku mana mungkin berani menghina putri keluarga yang mendapat sokongan dari pihak imperialis. Aku hanya mengatakan itu murni sebagai nasihat kepada sesama teman yang aku sayangi.”
Aku hanya mengakhiri sapaan singkat itu dengan senyum lembut khas Arno.
Setelahnya, hanya kulihat Rohana berwajah frustasi sambil menatap tajam ke arahku dengan ekspresi marah khas lolinya, tetapi tak lagi melakukan apa-apa.
***
Siang itu juga, secara tak kuduga aku bertemu dengan Erna dan Valia.
Mereka berdua juga melanjutkan pendidikan mereka ke akademi hunter bahkan setelah kejadian traumatis di ujian kelulusan SMUT tersebut.
Erna berada di kelas B, sementara Valia berada di kelas C.
Friska memilih untuk mengubur cita-citanya setelah merasa tak sanggup untuk mengalami kejadian yang sama lagi seperti di hari itu.
Yang tak kuduga justru adalah Valia.
Dia adalah gadis yang penakut, jadi tak kuduga dia masih berani untuk melangkahkan kakinya lebih jauh ke dunia hunter.
Namun setelah aku tanyakan apa alasannya,
“Aku ingin membalaskan dendam kematian Viar.”
Itulah jawaban yang diberikan oleh Valia kepadaku.
Padahal selama berada di SMUT, aku merasa tak terlalu dekat padanya, namun mengapa dia sampai segitunya ingin membalaskan dendam akan kematianku?
Namun rupanya Valia beranggapan lain.
Bagi Valia, aku adalah sosok panutannya.
Aku adalah rakyat jelata tanpa kekuatan yang mumpuni, namun aku tetap selalu bekerja keras tanpa putus asa.
Dan melihat impian orang yang senantiasa melakukan upaya terbaiknya demi meraihnya harus pupus begitu saja perihal kematian yang mendadak karena ulah organisasi rahasia tersebut, Valia sama sekali tak dapat memaafkannya.
Tanpa kuketahui, aku turut pula telah menjadi sosok panutan yang mengarahkan jalan hidup seseorang ke arah yang berbahaya.
Namun ternyata tidak mereka saja yang berpindah ke akademi ini.
“Eh? Profesor Fritz juga ada di akademi ini?”
__ADS_1
Tidak hanya aku, teman-temanku bahkan juga pengajar kami rupanya masih banyak yang belum lekang dari ingatan traumatis itu.
Tanpa kuketahui belakangku, rupanya telah banyak dari mereka yang bergerak demi menemukan keberadaan Profesor Luvien bersama organisasi rahasia penyebab bencana ujian kelulusan SMUT tersebut.