
Aku ingin segera menemui Profesor Fritz hari itu di ruangan kantornya begitu Valia mengatakan bahwa Profesor Fritz baru saja mengajar di kelasnya yang artinya kemungkinan besar Beliau masih ada di dalam akademi, namun akhirnya kubatalkan mengingat aku harus segera menghadiri kelas selanjutnya.
Kelas berpedang dasar.
Aku tidak boleh melewatkan kelas ini.
Karena di kelas itulah saatnya Abel menunjukkan peningkatan kemampuannya dalam berpedang setelah aku mengorbankan waktuku yang berharga demi melatihnya selama beberapa hari ini.
“Hei, Arno, tidak apa-apa kan aku juga menghadiri kelas ini?”
“Apa yang kamu takutkan? Kamu kan sudah mengganti KRS secara resmi. Sekarang kamu juga salah satu murid di kelas ini.”
“Tapi…”
“Tenang saja. Profesornya tidak akan marah padamu hanya karena kamu baru masuk di pertemuan keduanya.”
Aku dan Abel akhirnya bersama-sama menghadiri kelas berpedang dasar itu.
Kebetulan di kelas itu selain aku dan Abel, juga ada Lisanna, Julian, S5 Alvin Hermes, serta S9 Jeremy Rudd.
Kami duduk di lantai merenggangkan kaki kami sehabis berlari mengelilingi lapangan setelah pemanasan sembari mendengar teori singkat tentang ilmu berpedang dari sang dosen.
Di kananku ada Lisanna yang mengapitku seolah permen karet yang tak ingin lepas dariku, sementara di sebelah kiri ada Abel.
Di sebelah kiri lagi setelah Abel ada Julian, lalu di sebelah kirinya lagi ada Jeremy Rudd.
Kami semua dari kelas S duduk berjejer secara berdampingan, kecuali Alvin Hermes yang dengan sifat playboy-nya itu sedang bermain-main bersama para wanita dari kelas lain jauh di sana yang posisinya berseberangan dengan posisi duduk kami.
Tetapi ada apa dengan bocah bernama Jeremy Rudd itu?
Mengapa dia selalu menatapku dengan tatapan yang seolah menunjukkan kekesalan?
Namun yang terpenting di antara kesemuanya, di kelas ini juga ada Mulyadi Murhahan, sang pelaku utama pembulian Abel.
Begitu sang dosen mengakhiri teorinya, tibalah saatnya beberapa perwakilan siswa yang ditunjuk untuk melakukan perunjukan bakat melalui simulasi pertandingan berpedang langsung.
Inilah saatnya aku menyusun skema agar bagaimana aku bisa mempertemukan Mulyadi Murhahan dengan Abel sebagai lawan dalam salah satu pertandingannya.
Dengan kemampuannya yang sekarang, Mulyadi Murhahan bukan lagi apa-apa bagi Abel.
Dia bagaikan kecoak yang berharap mengalahkan seekor serigala.
Sudah saatnya memberikan pelajaran kepada orang angkuh itu tentang pahitnya dunia luar.
Namun hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi selama di kelas.
Quest Sistem setelah sekian lamanya tiba-tiba muncul kembali tepat ketika sang dosen menunjuk Alvin Hermes sebagai orang yang pertama tampil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Misi Tingkat D: Mengajukan diri melawan Alvin Hermes dan menang
Ikut serta tapi kalah, reward 5 poin Stat
Ikut serta dan menang, reward 15 poin Stat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Aku benar-benar tidak tahu mengapa Sistem yang selalu saja pelit, tiba-tiba saja baik hati.
Aku hanya perlu ikut pertandingannya untuk menyelesaikan quest tersebut terlepas jika aku menang atau kalah.
Apakah Sistem pernah berbaik hati seperti ini sebelumnya?
Rasanya tidak pernah sekalipun.
Setiap Sistem berbuat sesuatu, akan selalu ada maksud terselubung di dalamnya.
Terlebih ini adalah misi rank D, bahkan lebih tinggi ranknya ketika aku menyelamatkan Arcia dulu dalam bencana dungeon break.
Jelas-jelas ada sesuatu di baliknya.
Namun bagaimanapun aku mencoba memikirkannya, aku tidak dapat menemukannya.
Dan bukan saatnya pula memikirkan hal itu.
Aku benar-benar butuh segera meningkatkan poin stat demi mengembalikan stamina dan kemampuanku yang dalam sekejap menurun drastis setelah aku terdampar di dalam tubuh manusia yang lemah ini.
Setelah menggunakan tubuh Arno, setidaknya peningkatannya lebih cepat daripada ketika aku menggunakan tubuh Viar, namun nilainya masihlah sangat jauh dari kata cukup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Str: 5,22 (E)
Vit: 5,02 (E)
Agi: 3,54 (E)
Dex: 2,23 (E-)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di luar stat intelligence, nilai-nilai stat-ku yang lain sangat tidak seimbang.
Lisanna sudah sangat jauh di atasku, sementara Alvin Hermes, dan bahkan Julian mulai hampir menyalipku.
Sangat sulit bagiku meningkatkan kemampuan stat hanya dengan mengandalkan latihan fisik belaka.
Dan dalam kondisi seperti itu, Sistem tiba-tiba saja memberikan reward yang menggiurkan.
Sebanyak 15 poin peningkatan stat jika aku mengajukan diri dalam pertandingan melawan Alvin Hermes dan menang.
Bagaimana aku tidak tergoda mengambilnya?
Dengan poin itu, aku bisa meningkatkan stat strength dan vitality-ku ke ranah E+, sementara menggunaan sisanya untuk menyeimbangkan stat agility dan dexterity-ku.
Selama ini hanya poin stat intelligence saja yang dapat kutingkatkan dengan mudah sejak ada ruangan yang kaya akan mana karena terdapat lubang dungeon di dalamnya di kediaman Arno yang bisa kujadikan tempat bermeditasi.
Untuk stat-stat lain, latihan apapun yang kulakukan, peningkatannya sangat tidak signifikan.
“Apa ada orang yang bersedia melawan Alvin Hermes?”
Alvin Hermes dengan mudah dipilih oleh sang dosen sejak dia menonjol di antara gadis-gadis dan mendapatkan dukungan penuh dari para gadis itu.
Namun justru ini yang menjadi dilema bagi para lawannya, terkhusus pria.
__ADS_1
Jika mereka maju lantas mengalahkan Alvin Hermes, para gadis alih-alih memuji mereka, justru akan berakhir dengan membenci mereka sejak Alvin Hermes telah dinobatkan sebagai pria imut milik bersama di hati para gadis.
Sayangnya, mereka maju pun, mereka takkan mungkin sanggup mengalahkan Alvin Hermes.
Di luar penampilannya yang tidak berbahaya, pria berambut coklat kemerahan itu sebenarnya sangatlah ahli berpedang.
Dia tidak seperti Lisanna, Arno, maupun Julian yang mampu menggunakan aura pedang.
Dia hanya seorang pemain pedang biasa, tetapi memiliki teknik luar biasa khas keluarganya serta kelincahan yang mumpuni yang mampu menutupi kekurangannya tersebut.
Berkat bakat teknik dan kelincahannya itulah, dia mampu merebut posisi terbaik kelima di akademi.
Orang-orang biasa takkan mungkin sanggup untuk mengalahkannya jika dalam hal murni pertandingan berpedang saja.
Mungkin hanya sekelas Lisanna, Julian, atau Arno asli saja yang sanggup mengalahkannya dalam pertandingan berpedang langsung.
Aku sendiri sekarang, telah mampu menggunakan aura berpedang sejak aku memiliki ingatan Arno. Hanya saja karena menggunakan basis Arno, aku bukan seorang magic swordsman layaknya Lisanna dan Julian sehingga pilihanku terbatas dalam mengeluarkan jurus.
Namun aku telah mempelajari cukup banyak gaya berpedang Alvin Hermes di ingatan Arno.
Alvin Hermes rupanya telah pernah bertemu dengan Arno sebelumnya sejak keluarganya adalah seorang pedagang kaya yang memiliki relasi di mana-mana.
Dan di berbagai kesempatan itu, mereka telah berlatih tanding pedang berkali-kali.
Sebanyak 7 dari 10 pertandingan mereka dimenangkan oleh Arno tentu saja yang memiliki gaya berpedang murni tak tertembuskan.
Aku bisa menjadikannya sebagai referensi untuk mengalahkan Alvin Hermes.
“Saya bersedia, Pak!”
Aku pun mengajukan diri sebagai lawan bertanding Alvin Hermes.
Namun kenyataan pahit menungguku sejak aku bukanlah Arnoria Rosechild yang asli.
Aku hanyalah seseorang yang mengambil tubuh dan ingatannya saja.
Aku dikalahkan dengan mudah oleh Alvin Hermes.
Dia yang awalnya terlihat tidak berbahaya itu, secara tiba-tiba saja mengeluarkan aura membunuh yang kuat.
Perihal dexterity-ku yang masih rendah, aku jadi terlambat merespon dan begitu aku sadari, serangan Alvin Hermes tak mungkin lagi dapat kuhindari.
Namun itu bukan kekalahan yang memalukan sejak aku juga berhasil memberikan beberapa pukulan pada lawan.
Terlihat bahwa aku sudah mulai terbiasa menggunakan keterampilan serta skill ‘aura bintang’ milik Arno.
Itu seharusnya baik-baik saja sampai di situ.
Namun muncullah sang mood breaker itu, Mulyadi Murhahan.
“Khekhekhe. Hanya itukah kemampuan kelas S yang dikatakan berbakat? Dua orang top di akademi kita ternyata sangatlah lemah! Hei, Arnoria Rosechild, aku menantangmu duel! Khehehehehehe. Akan kutunjukkan bahwa keluarga Murhahan jauh lebih baik daripada penerus keluarga Rosechild yang banyak disanjung orang-orang itu, tetapi rupanya sangat lemah.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Quest selesai.
Hadiah Quest sebanyak 5 poin Stat didapatkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mulyadi Murhahan benar-benar merendahkanku setelah kalah dari Alvin Hermes.