
Setelah kekalahan memalukannya di hari itu terhadap Abel Lundoln, Mulyadi Murhahan rupanya masih berani untuk membuli Abel di belakang.
Namun setelah keluarga Lundoln dilindungi sebagai salah satu pengikut keluargaku, Abel memperoleh kepercayaan dirinya.
“Ukh! Witch sialan! Beraninya kau berbuat seperti ini padaku?! Akan kupastikan agar kau beserta seluruh keluargamu memperoleh akibatnya!”
“Lakukan saja kalau kau berani.”
“Apa?”
“Kubilang lakukan saja kalau kau memang berani, dasar sialan!”
“Aaakkkhhhh!”
Abel kini tidak segan-segan memperlakukan Mulyadi Murhahan dengan kasar.
Sembari dia mengatakan kalimat tersebut, Abel menginjak-injak jari-jemari Mulyadi yang terpapar di tanah.
“Beraninya kau! Kau tunggu saja!”
“Kau pikir aku akan takut pada ancamanmu? Perlu kau tahu, sedikit saja kau menyentuh keluargaku, itu berarti kau juga akan menyentuh keluarga Rosechild karena sekarang kami dilindungi oleh mereka. Kau tahu sendiri kan apa akibatnya jika berani macam-macam dengan mereka?”
“Witch sialan sepertimu!”
Namun Mulyadi Murhahan seketika tak mampu berkata-kata.
Seluruh tubuhnya tiba-tiba gemetaran sembari merasakan sensasi aneh begitu menatap mata silver Abel.
Itu adalah aura membunuh.
Seluruh pengikut Mulyadi yang memahami situasi segera berlari meninggalkan majikan mereka.
Itu bukan lagi untuk sementara.
Mereka memutuskan untuk meninggalkan Mulyadi Murhahan untuk selama-lamanya karena mereka tahu kekuasaan keluarga Murhahan tidaklah seberapa dibandingkan dengan rentetan ketololan yang telah dilakukan oleh Mulyadi Murhahan.
Mereka telah menyadari bahwa Mulyadi Murhahan bukanlah bos yang baik untuk mereka ikuti jika mereka mencari keselamatan hidup bertahan di akademi ini.
Tanpa disadari bau menyengat tiba-tiba menyerang hidung Abel.
“Ukh. Bau ini. Kamu, dasar tidak tahu malu!”
Begitu Abel memperhatikan, rupanya bagian celana Mulyadi Murhahan telah basah oleh air seninya sendiri.
Dia saking ketakutannya terhadap aura membunuh yang dikeluarkan oleh Abel.
Merasa dia bukan lagi seseorang yang layak mendapatkan perhatiannya, Abel begitu saja meninggalkan Mulyadi Murhahan di belakang asrama dalam keadaan celana yang masih basah.
***
Berbeda sewaktu di sekolah menengah dulu, di akademi kami diwajibkan tinggal di asrama demi menyesuaikan program pendidikannya.
__ADS_1
Akan tetapi, setelah hari jumat, kami bisa bebas meninggalkan akademi untuk menikmati akhir pekan kami masing-masing di rumah untuk kemudian kembali di minggu malamnya sebelum hari reguler kembali tiba.
Tentu saja itu dilakukan bagi siapa saja dari kami yang rumahnya masih satu pulau dengan akademi.
Bagi mereka yang tinggal di luar Pulau Java, walau sesekali mereka dapat melakukannya, itu tentu saja tidak dapat mereka lakukan tiap pekan karena mahalnya biaya transportasi.
Jadi di antara sepuluh orang mahasiswa baru di kelas S, hanya aku, Dilya Toxice, Alvin Hermes, Jeremy Rudd, dan Otto saja yang sering pulang tiap akhir pekan.
Dilya Toxice dan Alvin Hermes sebenarnya tinggal di pulau yang berbeda, yakni Pulau Yogyakarta, namun jaraknya masih bisa diperhitungkan dekat dengan akademi.
Adapun Lisanna Annexia juga sebenarnya kediaman keluarganya berada di Pulau Java, hanya saja tiap akhir pekan dia selalu memilih tinggal di asrama saja untuk melakukan pelatihan berpedang karena suatu alasan yang tak kuketahui.
Dan di sinilah aku saat ini di akhir pekan, menikmati kenyamanan hidup sebagai anak orang kaya di kediaman Arno.
-Tuk, tuk.
“Masuk.”
-Ceklek.
Rupanya tamu yang berkunjung ke kamarku adalah sang kepala pelayan sambil membawa laporan yang kuperintahkan padanya untuk menyelidikinya.
Sesaat setelah aku kembali ke rumah di akhir pekan, aku menyuruh sang kepala pelayan untuk mencari informasi terkait Sarpian Mucahantas, Jeremy Rudd, serta Otto.
“Terima kasih, Kek. Kakek bisa pergi sekarang. Nanti kalau aku butuh bantuan lagi, aku akan segera memanggil Kakek.”
“Sesuai perintah Anda, Tuan Muda.”
Sarpian Mucahantas, anak pertama dari pemimpin sub-guild kami di daerah Depok.
Belakangan sub-guild itu berkembang dengan pesat perihal banyaknya harta kekayaan yang mereka peroleh selama perburuan di dalam dungeon.
Itu terutama karena batu sejenis ruby yang mereka peroleh di dungeon slime merah yang ternyata memiliki efek penyimpanan energi sihir yang luar biasa sehingga sangat bermanfaat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan berbagai jenis alat-alat sihir.
Namun, ada isu tidak sedap mengenai mereka belakangan ini yakni mereka akan segera melakukan pemberontakan demi memisahkan diri dari guild utama keluaga kami.
Melihat sikap hostile si senior padaku beberapa waktu lalu, kemungkinan dugaan itu benar adanya.
Yah, palingan Ayah dan Ibu pasti sudah memikirkan langkah yang tepat untuk menanganinya.
Kemudian ada Jeremy Rudd dan Otto.
Jeremy Rudd rupanya adalah salah satu mantan keturunan bangsawan yang memilih bersikap netral selama revolusi yang terjadi pada tahun 1945 silam.
Mereka tidak dihukum karena tidak terlibat dalam faksi musuh yang mendukung penjajahan negara republik Joupun.
Hanya saja, karena mereka juga sama sekali tidak berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan negeri, usai revolusi, status kebangsawanan mereka pun dicopot dan mereka menjadi berstatus sebagai rakyat jelata.
Kini keluarga Jeremy Rudd dan Otto sama-sama bekerja di sub-guild yang dipimpin langsung oleh keluarga Mucahantas, namun bukan sebagai hunter, melainkan sebagai porter kelas rendahan dengan gaji yang sangat pas-pasan.
Berbeda dengan profesi hunter yang hanya dapat digeluti jika kamu terbangkitkan selama bermain game vrmmorpg atau mengalami sensasi bahaya dungeon break secara langsung, rakyat sipil tanpa kekuatan supranatural pun dapat menjadi seorang porter di dalam dungeon, tetapi tentunya hanya sebagai kelas rendahan.
__ADS_1
Namun itu adalah kesempatan yang baik bagi mereka karena ada peluang sebanyak 10 % bagi orang-orang seperti itu terbangkitkan selama memasuki dungeon.
Tentu saja itu mengikuti latennya pula bahayanya sejak tercatat kematian porter tanpa kekuatan selama ekspedisi dungeon sebesar lebih dari 60 %.
Itulah sebabnya kini baik Jeremy Rudd maupun Otto harus bersabar menghadapi kelakuan Sarpian Mucahantas demi diri mereka dapat ditarik oleh senior tersebut menjadi salah satu hunter di sub-guild tersebut setelah lulus.
Melihat bahwa mereka sama sekali tak pernah meminta bantuanku sebagai anak pemimpin guild itu sendiri, harga diri Jeremy Rudd dan Otto pasti benar-benar sangat tinggi.
Mereka lebih memilih bertahan di dalam penindasan Sarpian Mucahantas daripada datang mengibaskan ekor mereka demi meminta bantuan kepadaku.
Namun aku tidak membenci semangat yang seperti itu.
Seorang pria memang harus bertahan pada harga dirinya.
Hanya saja jika ada yang membuatku kecewa, itu adalah sikap apatis mereka dalam menerima pembulian sang senior.
***
Sikap sewenang-wenang sang senior tidak hanya berhenti sampai di situ saja.
Bahkan dengan seiring berjalannya waktu, sikap sewenang-wenangnya itu semakin keterlaluan.
Dia bahkan tidak segan-segan membuat seluruh badan Otto lebam-lebam hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan Jeremy Rudd selama menjalankan perintahnya.
Otto menyembunyikan dengan baik lebam-lebamnya itu sehingga tidak pernah ketahuan oleh para dosen pengajar sedikit pun.
Sementara itu, Jeremy Rudd hanya diam saja melihat temannya itulah yang justru harus menerima kemarahan sang senior setiap dirinyalah yang tak mampu memuaskan keinginan sang senior.
Karena mereka memintaku untuk tidak ikut campur, aku pun memutuskan untuk mengawasi saja dari jauh sembari menunggu mereka meminta pertolonganku dengan mulut mereka sendiri.
Hanya saja pendirian mereka ternyata lebih keras daripada apa yang bisa kubayangkan.
Itu terutama Otto yang harus menerima serangan fisik dari sang senior.
Betapapun dia tersakiti, anehnya dia dapat tetap tersenyum sembari mengatakan kepada Jeremy Rudd bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan si bodoh Jeremy Rudd itu malah selalu menerima perkataan Otto itu pula mentah-mentah, atau mungkin dia lebih ke arah takut bertindak karena saking takutnya dirinya dengan sang senior.
Benar-benar pecundang!
Hingga pada suatu titik, aku tak tahan lagi melihat sifat keangkuhan Sarpian Mucahantas.
Lantas di hadapan publik ketika dia menindas Otto,
-Puak.
“Mari sudahi tindakan sewenang-wenangmu itu, Senior!”
Aku sekali lagi tak tahan untuk melayangkan pukulan padanya.
Aku sama sekali tak menduga bahwa dia akan menanggapi pelecehanku itu padanya dengan memberikanku surat tantangan duel resmi yang telah disetujui oleh akademi.
__ADS_1