
Satu yang bisa aku simpulkan setelah menjalani hari-hari sebagai Arnoria Rosechild.
Kehidupan monoton yang benar-benar membosankan.
Terlebih, nuansa keluarga yang benar-benar dingin.
Sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika hidup berdua dengan Arcia.
Hidangan mewah tersaji di mana-mana di atas meja hanya untuk sarapan.
Jumlah fantastis yang takkan mungkin pernah aku dapatkan selama menjadi Viar.
Namun, di meja makan yang luas ini hanya ada dua orang yang menempatinya, aku dan ayah Arno, Lehman Rosechild.
Sedari awal jumlah anggota keluarga Arno memang sedikit.
Dia hanya memiliki seorang kakak.
Itu pun Kak Dahlia, kakak Arno, sama sekali tidak keluar dari kamarnya lantaran belum bisa menyembuhkan traumanya sepenuhnya jika berhadapan dengan banyak orang.
Bukannya tempat ini benar-benar sepi karena jibunan pelayan dalam keadaan siap siaga berkerumun di sekitar demi menunggu perintah dari masternya.
Adapun sang ibu sedang sibuk mengurusi guild hunter keluarga sebagai seorang pimpinan.
Benar-benar nuansa perkumpulan keluarga yang sangat dingin.
“Arnoria, kudengar kau mengunjungi prosesi pemakaman teman-temanmu kemarin?”
Pria yang menampakkan cerminan wujud dewasa Arno dengan wajah yang kegantengannya bak bidadara surga itu baru saja bertanya padaku.
“Ya, begitulah.”
“Apa ada yang terjadi?”
“Tidak ada hal spesial. Aku hanya menghadiri pemakamannya lantas pulang.”
Lehman tiba-tiba menaruh pisau dan garpu yang digenggamnya dengan rapi di samping piringnya lantas mengusap mulutnya dengan serbet dengan tampak elegan pula, sebelum kemudian lanjut berbicara kepadaku.
“Lantas siapa gadis bernama Arcia itu?”
Pria ini mengawasiku.
Tidak, pria ini benar-benar mengawasi setiap gerak-gerik anaknya, Arnoria Rosechild.
Dia pasti menanyakan itu sejak tahu bahwa di pemakaman, aku banyak berinteraksi dengan Arcia, adik Viar.
Sekarang aku tahu mengapa Arno selalu menahan dirinya.
Itu karena dia tahu bahwa ayahnya selalu mengawasinya.
Tanpa sang ayah tahu bahwa itu pulalah salah satu penyebab munculnya luka psikis pada mental Arno.
“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu, Ayah? Sejak tanpa kuberitahu, Ayah pun sudah tahu segalanya, bukan?”
Sang ayah kemudian menatapku dengan seksama, menelisik ke ekspresi wajahku.
Sebagai mantan aktor nasional, dia pasti sangat hebat dalam membaca gerak-gerik seseorang.
__ADS_1
Salah bertindak sedikit, dia bisa saja tahu bahwa aku bukanlah anaknya yang asli.
Secara alamiah, itu membuatku sangat gugup.
“Hahahahahahahahaha. Itu benar. Namun Ayah tentu saja ingin mendengarnya langsung dari mulut anak Ayah sendiri. Lagipula Ayah penasaran sejak kudengar kakaknya adalah sahabat baikmu dan kamu bahkan sering main ke rumah mereka.”
“Viar adalah sahabat yang baik, Ayah. Dan tentu saja aku sedih dengan kepergiannya yang mendadak.”
Di saat itulah ekspresi pria paruh baya itu mendadak menajam.
“Jadi, bagaimana putraku ini akan mengatasi dendamnya?”
Seakan matanya adalah kamera yang merekam segala gerak-gerikku, aku benar-benar tidak nyaman bersama dengan ayah Arno itu.
Dia rupanya sedang hendak menilai.
Dia melakukan penilaian tentang apa yang kiranya akan dilakukan oleh putranya yang berkepribadian unik itu.
Dia sebenarnya tahu Arno akan menjawab seperti apa.
Akan tetapi, aku memilih untuk tidak menjawab seperti itu.
“Takkan ada yang bisa dilakukan oleh anak-anak sepertiku menghadapi organisasi seberbahaya itu. Sebagai seorang pelajar, langkah-langkahku terbatas. Aku kini hanya dapat mempersiapkan diriku dengan baik menjadi hunter yang lebih andal dengan belajar lebih giat lagi di akademi.”
Alasannya jelas.
Jika aku ke depannya akan hidup sebagai Arno, mulai sekarang aku harus mengubah sedikit demi sedikit image sang Arnoria Rosechild yang pushover.
“Begitu rupanya. Itu bagus. Kupikir mengingat sifatmu, kamu akan berpikir hal seperti berupaya mencari keberadaan mereka sehingga akan membahayakan posisi keluarga.”
Dia tersenyum padaku tampak ramah di luar dengan senyumnya yang selalu menawan.
Mungkin jika diungkapkan dengan satu kalimat, tidak ada empati sama sekali terlihat dari tatapan matanya.
Ya, itu wajar saja akan datang dari orang tua yang menyebabkan lahirnya anak aneh bernama Arnoria Rosechild yang sampai-sampai memiliki pandangan tentang kepahlawanan yang cacat.
Dia turut andil dalam menciptakan sikap Arno yang pushover itu.
Dalam keadaan kelimpungan mencari bantuan ketika melihat kakaknya terluka parah setelah dibuli, baik sang ayah maupun sang ibu, hanya peduli pada image keluarga.
Para pembuli yang notabene-nya adalah rekan bisnis, mereka memilih untuk memaafkannya demi tetap terjalinnya relasi bisnis itu dan menganggap pembulian tersebut hanya sebagai pertikaian anak-anak yang wajar.
Mereka lebih peduli untuk menduduki posisi puncak ketimbang kehilangan kekuatan walaupun trauma psikis anaknya harus menjadi bayarannya.
Lalu Arno yang dibiarkan melihat itu semua, tumbuh menjadi seseorang yang memiliki jiwa keadilan yang tinggi demi menindak apa yang orang tuanya itu berusaha abaikan.
Di kala sang anak butuh perlindungan dari orang tuanya, sang orang tua justru mengajarkan anak tersebut untuk tetap tersenyum di hadapan musuhnya.
Perlahan, Arno telah terbiasa untuk membunuh perasaannya sendiri karena sering diajarkan bahwa marah di hadapan musuh berarti suatu kekalahan.
Dia yang terbiasa menahan emosinya pun tumbuh menjadi pribadi yang ambigu dalam menolak ketidakadilan yang dia lihat terjadi di hadapan matanya sendiri.
Dan itu menjadi sikap altruisme berlebihan di mana pada akhirnya dia memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri daripada menahan rasa sakit ketidakberdayaan melihat orang lain tersiksa.
Itu karena dia telah terbiasa menahan perasaannya.
Arno jadi berpikir setidaknya tidak apa jika dirinyalah yang terluka jika dengan demikian itu bisa menyelamatkan orang lain yang seharusnya akan terluka.
__ADS_1
“Mana mungkin itu terjadi, Ayah. Hahahahahahaha. Aku tahu benar sampai di mana batasan keluarga kita bisa menanganinya sehebat apapun posisi keluarga Rosechild saat ini.”
Aku pun menanggapi komentarnya itu dengan canggung.
Pria paruh baya itu kembali tersenyum padaku.
Itu benar-benar sangat mirip dengan senyum tulus Arno, tetapi nuansanya benar-benar berkebalikan.
Itu senyum yang lembut di luar, tapi terasa sangat dingin.
“Inilah baru anakku. Aku bangga padamu, Arnoria.”
Bahkan setelah apa yang baru saja dialami oleh anaknya, yang dia tanyakan hanyalah pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang akan aku lakukan ke depannya.
Bukankah di situasi di mana anaknya baru saja keluar dari musibah, apa yang wajarnya seorang ayah akan pertama kali tanyakan adalah pertanyaan seperti ‘apakah kamu baik-baik saja’ atau semacamnya?
Aku jadi kasihan pada Arno.
Walaupun dia hidup dalam kemewahan, dia sama sekali tak bisa merasakan yang namanya kasih sayang.
***
“Butler, bagaimana perkembangan pencarian Nenek Arcia?”
Setelah mengambil identitas Arno, itu berarti kini aku harus membuang identitas Viar.
Namun, ada satu masalah yang tidak dapat aku abaikan.
Itu adalah bagaimana nasib Arcia yang kini jadi sebatang kara setelah aku tinggalkan.
Aku pun menyelidiki asal-usul kelahiran Arcia dengan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Rosechild.
Satu hal baik dari keluarga ini yang walaupun sangat kurang akan kelembutan keluarga, itu adalah kekayaan dan kekuasaannya.
Banyak hal yang jadi mudah dilakukan jika kau punya uang dan kekuasaan.
“Ini laporannya, Tuan Muda.”
Lalu fakta mengejutkan pun kuperoleh.
Arcia terlahir dari pasangan kawin lari antara pemuda rakyat jelata miskin yatim piatu dengan seorang wanita yang berasal dari keluarga bangsawan kaya raya dari keluarga pengguna sihir kuno.
Apa yang membuatku terkejut adalah sang ibu sama sekali tidak pernah mengabari keluarganya bahkan di kala dia mengandung dan melahirkan Arcia sampai akhir hayat mereka karena wabah yang disebabkan oleh kemiskinan.
Tidak bisa diapa-apakan dari pihak sang ayah yang tanpa keluarga, akan tetapi beda halnya dari pihak sang ibu.
Itu berarti keluarga dari pihak sang ibu sama sekali belum mengetahui tentang keberadaan Arcia.
Dan di laporan yang disajikan oleh sang butler, dituliskan bahwa masih ada seorang kerabat dari pihak ibu yang masih hidup.
Itu adalah ibu dari sang ibu, dengan kata lain nenek Arcia.
Kira-kira, bagaimana reaksi sang nenek jika mengetahui bahwa dia ternyata masih memiliki seorang cucu?
Tergantung dari tanggapannya, itu akan menentukan nasib Arcia ke depannya.
Jika dia ternyata menolak cucu yang berasal dari pernikahan yang tak disetujui itu, aku pun juga siap untuk menjadi wali Arcia.
__ADS_1
Secara hukum, aku memang belum cukup umur untuk menjadi seorang wali, tapi apa memangnya yang tidak bisa dilakukan dengan uang dan kekuasaan di dunia ini?
Sudah kuputuskan langkah selanjutnya yang perlu aku lakukan sebelum pendaftaran ujian masuk Akademi Hunter Nasional Indonesista (AHNI), yakni bertemu dengan nenek Arcia, Litana Magus.