
“Oi, oi, oi, apa-apaan ini, Jeanne?! Kau bilang juga sudah membunuh bocah itu barusan!”
Lone penuh amarah memegangi solar plexus-nya yang masih kesakitan sehabis menerima bogeman mentah dari Arnoria Rosechild.
Air liur mengalir pada gigi taringnya yang panjang yang baru saja gagal menerima asupan darah.
Arnoria Rosechild mampu bergerak dengan cepat menyelamatkan Lakina Smirk sebelum sang vampir berhasil menodai lehernya.
“Ups, aku ketahuan ya.”
“Hei, sialan kau!”
“Maaf, maaf, maaf aku telah berbohong, Lone. Aku pikir hanya sayang membunuhnya begitu saja soalnya dia sangat tampan dan sangat sesuai dengan tipeku.
Mendengar wanita centil itu berucap, amarah Lone meledak.
Dia serta-merta menarik kerah baju Jeanne.
“Sialan kau, Jeanne! Kau anggap misi kita apa?!”
“Ukh. Sudah kubilang maafkan aku, Lone.”
“Kau sadar kan begitu ada saksi mata yang hidup, identitas yang kita jaga di dunia manusia selama ini akan hilang begitu saja!”
“Kita sehabis keluar dari dungeon akan beralasan kalau kita gagal mengalahkan true boss dungeon lantas member yang lain semuanya dihabisi. Tapi begitu bocah ini bilang beberapa kata saja di dunia luar, semua rencana kita akan ketahuan!”
“Kamu berlebihan, Lone. Kalau identitas kita ketahuan, ya kita buat yang baru saja. Toh umur kita sangat panjang untuk mengecoh manusia dalam melakukannya.”
“Lantas bagaimana dengan rencana yang sudah kita susun rapi untuk kebangkitan ras vampir tersebut, hah?!”
“Lagipula si Kakek Luvien sudah mengacaukannya sedari awal. Percuma kamu marah padaku, lagipula sudah mustahil untuk mempertahankan identitas kita saat ini lagi karena berkas yang ditinggalkan Kakek Luvien tersebut sebentar lagi akan berhasil terenskripsi sempurna oleh pihak hunter.”
“Kamu…!”
Selama pertengkaran sesama rekan antara kedua anggota organisasi kejahatan itu, Lakina mulai kembali kepada kesadarannya.
“Kak Kina! Kakak baik-baik saja?!”
“Ukh, Dik Arno? Apa yang baru saja terjadi?”
“Kedua bajingan itu, Zerick dan Jenny, telah mengkhianati kita. Mereka rupanya mata-mata dari organisasi kegelapan.”
Dengan sedikit penjelasan dari Arno, Lakina segera mampu mengingat kembali apa yang telah terjadi selama ini pada dirinya sebelum dirinya tersebut pingsan.
Lalu diingatlah sosok terakhir yang dilihatnya sebelum pingsan.
Semuanya bertambah jelas ketika Lakina menyaksikan potongan-potongan tubuh manusia yang berserakan di tempat itu.
“Tidak. Levina… Mana Levina?!”
“Tenang, Kak Kina. Tidak ada gunanya panik dan menyesali rekan yang telah meninggal. Musuh masih berdiri tepat di hadapan kita.”
Walau demikian, Lakina masih terluka parah sementara tidak mungkin bagi Arnoria Rosechild yang masih berlevel E mengalahkan kedua hunter yang mana yang satu sudah berlevel B, sementara yang lain bahkan sudah berlevel A.
__ADS_1
Tidak, itu pun level mereka hanya samaran saja berkat suatu skill.
Jika diperkirakan secara kasar, mereka berdua tidak ubahnya selevel dengan hunter berlevel SS.
Sedari awal bahkan peluang Arnoria Rosechild mengalahkan kedua musuh tersebut sendirian adalah 0, dan walaupun Lakina tidak dalam kondisi cederanya, tetapi berada di puncak staminanya pun, dia dan Arno hanya memiliki peluang 50 persen untuk kabur.
Ya, yang terbaik yang mereka bisa lakukan adalah kabur.
Tapi itu cerita ketika Lakina berada dalam kondisi primanya.
Nyatanya wanita perkasa itu kini sedang terluka parah dan hanya Arno-lah di tempat itu saat ini yang masih bisa bergerak.
Walau demikian, pandangan Arno cerah.
Dia tidak terlihat gentar sama sekali.
Hal itu pun menarik perhatian Jeanne.
“Kau, bocah. Kau tidak takut pada kami bahkan setelah melihat taring kami?”
Seketika kedua taring milik Jeanne juga ikut tumbuh layaknya punya Lone.
Jeanne juga adalah seorang vampir.
“Ah, itu pasti karena kami menyembunyikan keberadaan kami dengan baik setelah Sunda Empire runtuh ya. Apakah legenda kami yang menimbulkan ketakutan di mana pun kami berada telah lekang ditelan zaman setelah seribu tahun lamanya?”
Namun Arno sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu.
Justru sebaliknya, sedikit timbul rasa senang di hatinya karena untuk pertama kalinya sejak seribu tahun dia bisa melihat rekan sejenisnya.
Arnoria Rosechild, tidak, Laviar Vietto Mechbach sejatinya adalah seorang pangeran vampir yang karena perbuatan sistem yang entah menggunakan trik apa, Laviar tidak bisa lagi menggunakan wujud dan kemampuan vampirnya.
Jangankan wujud vampir, bahkan tubuhnya yang sekarang bukan lagi tubuhnya yang dulu.
Dan Laviar kenal benar dengan seorang vampir yang tampak berada di puncak usia dua puluhannya di hadapannya itu.
Dia adalah Lone, pelayan setia salah seorang sepupunya, Anggara, yang dulunya merupakan pewaris ketiga tahta vampir tepat setelah Laviar yang merupakan pewaris kedua.
Itu tentunya cerita sebelum kerajaan vampir diruntuhkan oleh Sunda Empire.
Hubungan Laviar dan Lone di masa lalu tidaklah dekat, tidak, bahkan bisa dikatakan bahwa Laviar berusaha menjauh dari Anggara, sang majikan Lone, karena sikapnya yang eksentrik.
Otomatis Lone yang merupakan pelayan setia Anggara juga tidak kenal benar dengan Laviar.
Itulah sebabnya perasaan Laviar ambigu.
Dia ingin mengatakan secara gamblang bahwa aku adalah salah satu pangeran di mantan kerajaanmu.
Namun Laviar tahu bahwa tidak ada peluang bagi Lone akan percaya ucapannya.
Laviar meringis.
Di satu sisi dia merasakan rasa nostalgia.
__ADS_1
Tetapi begitu mengingat kembali bahwa organisasi di mana Lone berada-lah yang menjadi penyebab kematian Arnoria Rosechild yang asli, amarah Laviar seketika kembali mencuat.
Melupakan rekan senegara dan sejenisnya, Laviar tetap tak mampu memaafkan perbuatan mereka.
“Hei, Jeanne. Jadi kau tak masalah kan jika aku juga membunuh bocah itu?”
“Yah, sebenarnya aku ingin membiarkannya hidup karena dia imut. Tapi karena sudah ketahuan olehmu, apa boleh buat. Aku juga tidak ingin kena marah sama Nona Selena.” Dengan centil Jeanne menjawab.
Terlihat wajah Laviar seketika tersentak begitu nama Selena disebutkan.
Itu karena orang yang ada di hadapannya juga merupakan anggota Sunda Castle di masa lalu sama seperti dirinya dan Selena, jadi besar kemungkinan bahwa Selena yang disebutkannya itu benar-benar adalah Selena, pelayan setia dirinya di masa lalu.
Tidak, Selena sejatinya adalah adik tiri perempuan Laviar yang karena jenis kelaminnya yang wanita sehingga tak bisa mewarisi kebangsawanan vampir, dia ditugaskan menjadi pelayan sang pangeran kedua, Laviar.
“Itu… jangan-jangan Selena yang kau sebutkan barusan, Selena pelayan Pangeran Laviar yang terpisah darinya seribu tahun lalu?”
Kali ini giliran kedua musuh itu yang kaget oleh ucapan tiba-tiba Laviar yang masih menggunakan wujud Arnoria Rosechild sehingga mereka tak mampu sama sekali mengenali pangeran mereka sendiri.
Tidak hanya para musuh yang kaget, Lakina yang setengah sadar di sampingnya perihal sakitnya luka-lukanya sejenak terperanjat oleh ucapan tiba-tiba Laviar tersebut.
Lakina kaget tentang bagaimana pemuda yang dikiranya Arnoria Rosechild tersebut bisa tahu tentang identitas rekan musuh.
Itu karena Lakina juga merupakan satu dari sekian banyak yang tidak mengetahui identitas Arnoria Rosechild yang sebenarnya.
Tidak, bahkan satu pun orang terdekatnya, belum ada yang mengetahui rahasia terbesar Arnoria Rosechild tersebut, tentang identitas sebenarnya yang rupanya Laviar sang pangeran vampir yang hanya menggunakan wujud Arnoria Rosechild dalam penyamarannya.
“Kau, bocah… Bagaimana kau bisa mengetahui nama itu?!”
Lone menatap Laviar dengan penuh nafsu membunuh.
“Sudahlah, itu tidak penting lagi. Karena aku akan membunuhmu dan menanyakan saja pertanyaan itu langsung pada mayatmu!”
Lone dengan gerakan secepat kilat, tahu-tahu sudah berada tepat di hadapan Arnoria Rosechild dan hampir saja menerkam perutnya.
“Tunggu!”
Namun Jeanne seketika menghentikannya.
“Jeanne sialan! Kau! Apa jangan-jangan matamu yang kecentilan itu masih terhipnotis sama wajah bocah bajingan ini?!”
“Tidak, jelas bukan begitu! Setelah kupikir-pikir, lebih baik kita biarkan saja bocah ini hidup dan kita bisa gunakan kekuatan hipnotis Nona Selena untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang hubungannya dengan Pangeran Laviar. Kalau kita mengubahnya jadi mayat baru menanyainya, kualitas informasi yang kita peroleh akan berkurang drastis. Nona Selena pasti juga berharap tentang ini sejak Pangeran Laviar adalah sosok yang begitu penting baginya!”
“Kau… masih berharap bisa menemukan pangeran kedua sampah itu yang lari dengan ekornya ketika pemberontakan Sunda Castle terjadi, hah?!”
-Puak.
Lone seketika mengalihkan sasaran amarahnya kepada Jeanne.
Dia mencengkeram leher rekan wanitanya itu kuat-kuat.
“Apa kau sudah lupa rencana kita, hah?! Tujuan kita adalah membangkitkan kembali Tuan Anggara! Hanya dia penguasa yang layak untuk kita setelah Yang Mulia Putra Mahkota Lavier meninggal oleh para vampire hunter bajingan itu! Siapa lagi yang peduli dengan pangeran sampah seperti Pangeran Laviar itu!”
Laviar dalam wujud Arnoria Rosechild hanya bisa mematung mengingat kembali masa lalunya yang kelam seribu tahun silam.
__ADS_1