Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 35 – SEORANG KUAT YANG DIRUNDUNG bag. 7


__ADS_3

Dialah Mulyadi Murhahan.


Anak dari salah satu keluarga bangsawan dari Pulau Nias, salah satu dari kedelapan pulau yang berhasil disatukan oleh keluarga Gerfinda sebagai pendiri negara.


Sebagai katak di dalam sumur, dia selalu meremehkan orang-orang di sekitarnya.


Itu didukung pula dengan dia selalu diberikan layanan yang terbaik berkat dukungan keluarganya.


Intinya, seorang anak manja yang belum mengenal kejamnya dunia luar.


Dan orang yang seperti itu baru saja dikirim menuju akademi AHNI demi mempertahankan reputasi keluarga di mana pekerjaan hunter menjadi yang paling prestige dalam tiga tahun terakhir ini sejak dungeon break pertama yang berlokasi di Sunda Palapa terjadi.


Mulyadi Murhahan rupanya tidak terlalu berbakat seperti apa yang dirinya bayangkan.


Dia hanya menempati urutan kesebelas dalam hal pengukuran bakat yang dilakukan oleh akademi yang harus membuatnya hanya menempati kelas A saja.


Apa yang membuatnya lebih kesal adalah salah satu batu loncatannya untuk meraih kejayaannya selama ini di dalam sumurnya itu, Abel Lundoln, malah justru menempati kelas S yang diidam-idamkannya tersebut.


Hanya karena omong kosong seperti bakat mana pool yang besar itu, dia didahului oleh batu loncatannya.


Mulyadi Murhahan pun tak terima jika kejayaan yang diidam-idamkannya justru jatuh ke tangan sang batu loncatan, Abel Lundoln.


Terbersitlah pikiran jahat di hatinya.


Jikalau Abel Lundoln menghilang selamanya dari akademi, bukankah dirinya-lah yang justru akan menempati posisi sepuluh besar itu yang membuatnya layak menempati kelas S?


Mulyadi Murhahan pura-pura buta dengan adanya aturan akademi yang melarang tegas perpindahan kelas setelah kelas diputuskan di hari penerimaan.


Dia hanya berpikir bahwa keluarganya yang selama ini memanjakannya akan mengurus sisanya begitu dia menyingkirkan sosok penghalang bernama Abel Lundoln tersebut.


Mulyadi Murhahan terlalu memandang tinggi keluarganya hanya karena keluarganya tersebut memiliki kekuasaan yang besar di tanah kelahirannya.


Nyatanya, keluarga Murhahan hanyalah secuil debu bagi akademi.


Mulyadi Murhahan pun mulai menggencarkan aksinya dengan membuli Abel Lundoln demi dia tak tahan berada di dalam akademi dan akhirnya memutuskan untuk keluar dengan kemauannya sendiri.


Dia dengan mudah mengumpulkan pengikut-pengikut untuk membuli Abel sejak penampilan fisik Abel memang terlihat lemah ditambah warna matanya yang unik membuat orang-orang terkadang mudah merasa jijik padanya.


Namun, pahlawan kesiangan bernama Arnoria Rosechild tiba-tiba saja muncul dan menghalangi langkahnya tersebut.


Mulyadi Murhahan tidak terima terhadap hal itu.


Dia marah pada pandangan orang-orang yang menganggap bahwa keluarga Rosechild adalah sesuatu yang bahkan dengan kekuasaan keluarga Murhahan sama sekali tidak dapat menyentuhnya.


Itulah sebabnya kini ketika Mulyadi Murhahan melihat sosok yang banyak dielu-elukan orang itu baru saja dipermalukan dengan kekalahan telak melawan seseorang yang rank-nya jauh di bawahnya, dia jadi tidak tahan untuk menghinakannya.


“Khekhekhe. Hanya itukah kemampuan kelas S yang dikatakan berbakat? Dua orang top di akademi kita ternyata sangatlah lemah! Hei, Arnoria Rosechild, aku menantangmu duel! Khehehehehehe. Akan kutunjukkan bahwa keluarga Murhahan jauh lebih baik daripada penerus keluarga Rosechild yang banyak disanjung orang-orang itu, tetapi rupanya sangat lemah.”


Mulyadi Murhahan-lah yang sama sekali tidak paham akan situasi yang telah terjadi.

__ADS_1


Bagi para penonton awam, mungkin terlihat bahwa Alvin Hermes hanya menyerang dengan lemah, tetapi justru Arnoria Rosechild kalah dengan serangan lemah tersebut.


Nyatanya tidak demikian.


Situasi yang terjadi jauh lebih kompleks dari apa yang dapat para penonton awam itu saksikan.


Alvin Hermes mampu memusatkan aura membunuhnya hanya kepada lawannya saja tanpa mempengaruhi penonton di sekitar.


Di samping itu, walaupun jurus yang dilayangkannya terlihat lemah, itu sejatinya adalah jurus yang penuh teknik dan memberikan impak yang sangat mematikan jika tidak ditangkis dengan benar oleh lawan.


Alvin Hermes tidak selembut penampilannya.


Dia adalah sosok kejam yang memperlakukan lawan tandingnya seolah-olah siap untuk membunuh mereka kapan saja.


Namun Laviar Vietto Mechbach yang kini memakai wujud Arnoria Rosechild telah menunjukkan upaya terbaiknya untuk bertahan pada serangan itu, walaupun pada akhirnya dia kalah.


Melihat dirinya dihinakan oleh seorang sampah, Laviar pun merasakan perasaan amarah yang tak tergambarkan.


***


Mulyadi Murhahan benar-benar merendahkanku setelah kalah dari Alvin Hermes.


Aku rasanya ingin meledak.


Namun kutahan.


‘Ingat, Laviar, kamu harus fokus pada tujuan awal,’ gumamku dalam hati.


Peluang terbaik untuk memanipulasi seseorang adalah ketika dia merasa di atas angin.


“Bukannya aku mau menolak tantanganmu, teman. Aku hanya takut kamu cedera.”


“Hahahahahaha. Dasar pengecut! Bilang saja kalau kamu itu sejatinya pengecut yang selama ini berpura-pura hebat saja karena ada keluarga Rosechild di belakangmu!”


“Baiklah. Aku akan menerima tantanganmu kalau kamu bersikeras. Tetapi sebelum itu, tentu saja aku harus memastikan kekuatanmu dulu apakah kamu memang pantas bersaing di antara kami para kelas S, bukan?


“Jadi bagaimana kalau begini. Kamu kalahkan rank terbawah kami dulu. Jikalau kamu memang sanggup mengalahkannya, itu berarti kamu memang layak bersaing di antara kami.”


“Dengan demikian, cedera fatal bisa dihindari.”


Terlihat ekspresi frustasi di wajah Mulyadi Murhahan.


“Kamu baru saja menghinaku ya, sialan! Kamu pikir diriku ini tidak sanggup beradu kekuatan dengan para kelas S sampah itu, hah?!”


“Hei, Mulyadi!”


Terlihat beberapa pengikutnya berusaha menasihatinya akan ucapannya yang kasar tersebut.


Tidak hanya kepadaku dan keluargaku saja hinaannya itu ditujukan, tetapi kepada seluruh rekan-rekan penghuni kelas S lainnya.

__ADS_1


Tidak hanya Mulyadi sedang mencari masalah dengan keluarga terkuat kedua di seluruh pelosok nusantara, dia jelas-jelas baru saja turut melayangkan hinaannya pada keluarga kuno Annexia milik Lisanna, dan terlebih daripada itu, Julian, yang di belakangnya berdiri keluarga pendiri utama negara ini.


Mau tidak mau, seluruh pengikut Mulyadi merasa takut dengan konsekuensinya dan mungkin saja mereka sekarang berpikir bahwa adalah kekeliruan selama ini mengikuti Mulyadi sebagai bos mereka.


“Kamu pikir aku akan kalah dengan si sampah itu?!”


“Makanya kamu hadapi dia dulu untuk melihat siapa yang sebenarnya sampah di antara kalian, dasar kecoak.”


Tentunya aku hanya membisikkan kalimat tersebut kepada Mulyadi ketika mengatakannya tanpa mengeksposnya kepada khalayak.


Bagaimanapun aku tidak boleh merusak citra lembut Arno dan membuat orang-orang jadi curiga pada penyamaranku.


“Kamu sialan!”


Mulyadi menggertakku, tetapi aku hanya menanggapinya dengan senyuman lembut di wajah.


Orang-orang yang berada di sekitar pun jadinya berpikir bahwa Mulyadi-lah yang tidak memiliki sopan santun sampai menggertak orang yang sebaik Arno.


“Baiklah! Akan kuhajar sampai babak-belur si sampah itu. Tetapi setelahnya, itu giliranmu, dasar sialan!”


Mulyadi tidak punya pilihan lain selain menyanggupi proposalku.


Pertarungan antara Abel Lundoln dan Mulyadi Murhahan pun tak terelakkan.


“Bersedia… Mulai!”


Dengan aba-aba dari sang dosen, pertandingan kedua antara Abel Lundoln dan Mulyadi Murhahan dimulai.


Hasilnya sangat sesuai dugaan.


Jika ada yang terduga, itu adalah waktu pertandingan.


Hanya dalam waktu lima detik, Mulyadi Murhahan terpental dari arena.


Mulyadi Murhahan dengan sangat percaya diri berlari ke arah Abel sambil melayangkan pedangnya untuk menyerangnya.


Itu bahkan tak sanggup sama sekali menggores perlindungan aura pedang Abel.


Abel yang terlihat kasihan padanya kemudian hanya sedikit menyerang menggunakan pegangan pedangnya ke arah wajah Mulyadi Murhahan.


Tetapi itu telah sanggup untuk membuatnya terpental sejauh sepuluh meter lebih.


Kemenangan mutlak buat Abel.


“Kau! Dasar sampah sialan! Beraninya kau melakukan itu padaku! Akan kuadukan ini pada ibuku agar semua keluargamu di rumah akan menerima akibatnya!”


Mulyadi Murhahan baru saja menggali kuburannya sendiri.


Dia berani mengucapkan kalimat terlarang itu di tempat yang sangat terlarang menggunakan status keluarga sebagai senjata, terlebih di hadapan salah satu dosen yang justru paling strict dengan aturan tersebut.

__ADS_1


“Oho, mahasiswa A1 Mulyadi Murhahan. Kamu tampaknya baru saja mengatakan hal yang menarik. Mari ikut aku ke ruangan konseling sebentar untuk membicarakannya.”


Dengan wajah tersenyum, tetapi dipenuhi dengan aura membunuh, sang dosen pun lantas menyeret Mulyadi Murhahan pergi bersamanya dan kelas pun ditutup untuk hari itu.


__ADS_2