Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 55 – SANG JENIUS SIHIR ROHANA MACBELL


__ADS_3

“Apa yang kamu bicarakan?”


Aku seketika tak dapat memalingkan wajahku terhadap apa yang dikatakan oleh Dillya Toxice barusan.


“Adik? Memangnya kamu punya adik, Arno? Setahuku kamu hanya punya seorang Kakak. Ah, jangan-jangan anak haram dari ayahmu…”


Dillya Toxice segera membekap mulut Alvin Hermes yang dengan seenaknya menarik kesimpulan dari hasil ramalannya itu.


“Jangan terlalu dianggap serius ucapanku barusan, Arno. Itu bisa benar, tapi juga bisa saja salah.”


“Lantas, sedari awal mengapa kamu mesti mengucapkannya?!”


Aku tak dapat menahan rasa kesalku pada Dillya Toxice.


Setelah bom yang tiba-tiba dia lemparkan itu, dia lantas lepas tangan dengan mengatakan bahwa aku tak perlu terlalu mendengarkan ucapannya.


Namun, bagaimana itu bisa kuabaikan?


Jika dia merujuk kepada seorang adik kecil, mungkin yang dia maksud adalah Selena.


Selena adalah vampir yang terlahir dari gen Ayah dengan jenis kelamin perempuan.


Perempuan dalam ras vampir semuanya mandul dan tidak bisa melanjutkan keturunan.


Itulah sebabnya tidak ada perempuan dari kalangan ras vampir yang diangkat menjadi bangsawan walaupun dia terlahir secara langsung dari benih keturunan langsung, bukannya dari ikatan darah.


Selena alih-alih diangkat sebagai adikku, dia justru menjadi pelayanku.


Tetapi ada satu masalah penting.


Aku sudah tidak pernah bertemu dengan Selena lagi selama 1000 tahun lamanya.


Vampir memang memiliki masa hidup yang lama, tetapi bukan berarti pula kami abadi karena penyakit pun bisa membunuh kami.


Itulah sebabnya aku tak bisa menahan rasa penasaranku terhadap apa yang diucapkan Dillya Toxice barusan.


Namun, yang lebih aneh dari semua itu, adalah cinta pertama ketika masih kecil.


Seumur hidupku, aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun.


Namun jikalau apa yang dikatakan oleh Dillya Toxice merujuk kepada Jeanne, maka jelas itu sangat aneh.


Jeanne adalah seorang manusia yang memiliki masa hidup yang pendek.

__ADS_1


Tidak mungkin baginya untuk bisa hidup sampai dengan sekarang.


Dillya Toxice pun menjelaskan,


“Itu tidak terhindarkan jika aku mengucapkannya. Mungkin ini diistilahkan sebagai kesurupan bagi orang awam? Bagaimanapun, aku tidak bisa menahan mulutku berucap sendiri menyinkronkan dengan apa yang diucapkan peri milik seseorang yang tiba-tiba aku temui dalam mode black-ku ini.”


“Peri? Apa kau merujuk pada legenda tinkerbell atau peterpan, makhluk menyerupai manusia tapi ukurannya sangat kecil itu?”


Ujarku secara spontan yang penasaran dengan tiba-tibanya muncul pembicaraan peri yang hanya bisa aku baca di buku pada bahasan Dillya Toxice barusan.


Sekadar kalian tahu, tidak semua legenda makhluk mitos itu benar adanya.


Aku yang telah hidup lama bahkan telah menyaksikan berbagai makhluk yang aneh selama berada di dalam dungeon sebagai boss monster, tak pernah sekalipun melihat peri seperti yang dilegendakan dalam cerita.


Mungkin yang paling mendekati konsep peri adalah elf dan dwarf.


Aku sekali pernah membaca dalam novel fantasi bahwa mereka bisa menggunakan sihir berkat bantuan peri, tapi nyatanya tidak demikian.


Itu karena mereka memiliki organ khusus tak kasat mata saja yang jelas berbeda dengan vampir maupun ras lainnya.


“Hahahahaha. Tampaknya itulah yang akan dikatakan oleh orang awam sepertimu, Arno. Tapi peri itu bermacam-macam bentuknya, bahkan terkadang bentuk mereka itu sangat aneh. Ada yang lehernya sangat panjang dan lidahnya selalu menjulur keluar, ada juga yang badannya sangat kecil tetapi memiliki ukuran kepala tiga kali lipat ukuran badannya. Hahahahahaha.”


“Itu… Tidakkah deskripsi peri seperti yang kau katakan barusan agak menyeramkan?”


Mendengar itu, bulu kudukku seketika merinding, bukan di bagian tak warasnya, tetapi tentang keberadaan peri di sekitarku itu sendiri.


Itu wajar saja ketika seseorang tiba-tiba mengatakan kepadamu bahwa ada makhluk tak kasat mata dengan leher panjang dan lidah menjulur sedang berada di dekatmu.


“Itu… bagaimana bentuk peri yang menjagaku?”


Dengan liciknya, Dillya Toxice menyipitkan matanya lantas tertawa sinis padaku.


“Kamu serius ingin mengetahuinya, Arno?”


“Tidak, tidak, tidak, tampaknya tidak usah!”


Karena aku merasa bahwa diriku akan semakin rusak dengan semakin lamanya aku berinteraksi dengan Dillya Toxice, aku pun segera meninggalkan tempat itu.


***


Stan yang selanjutnya kukunjungi adalah stan milik Rutiliana dan Rohana Macbell.


Stan mereka kebetulan terletak bersampingan.

__ADS_1


Aku kagum pada berbagai series potion lengkap untuk mengobati segala macam penyakit milik Rutiliana, dan juga termasuk alat sihir panci untuk memasak yang diciptakannya yang bisa memasak tanpa api dengan cukup memasukkan bahan-bahan ke dalam panci tersebut yang tampaknya menjadi ikon utama dalam stannya itu.


Namun demikian, hanya dengan sedikit melirik ke sebelahnya lagi, perhatianku segera teralihkan ke alat-alat sihir yang tampaknya sudah berada pada dimensi yang lain jika dibandingkan dengan seluruh peserta mahasiswa baru tersebut, tidak, mungkin itu juga berlaku untuk para mahasiswa senior.


Rutiliana tidak salah lagi jenius, tetapi Rohana Macbell jauh lebih jenius lagi yang dimensinya benar-benar sangat berbeda.


Bayangkan saja, dia menciptakan alat sihir berupa tas penyimpanan yang bisa menyimpan bahan makanan yang bebas dari pembusukan.


Pembusukan adalah hal yang alami terjadi terhadap semua makanan yang diakibatkan oleh aktivitas mikroba.


Bagaimanapun kamu mencoba untuk membuat ruang vakum sekalipun untuk mencegah aktivitas aerob mikroba ini dalam membusukkan makanan, tetap saja ada mikroba yang mampu melakukan aktivitas anaerob meski di ruang tervakum sekalipun sehingga pembusukan makanan bisa diperlambat dengan ruang vakum tetapi tidak bisa dicegah seutuhnya.


Namun Rohana Macbell baru saja menemukan hal fenomenal itu dengan alat sihirnya untuk mengawetkan makanan di dalam suatu ruang seolah waktu di ruang itu sendiri juga berhenti.


“Arnoooo! Yuuhuuu! Join aku yuuuuuk! Berlari di udara itu sangat menyenangkan!”


Selain tas penyimpanan makanan yang paling menarik perhatianku itu yang mematahkan konsep bahwa tidak hanya item dari dalam dungeon saja yang kini bisa disimpan ke dalam suatu ruang penyimpanan dimensional yang akan awet selamanya, masih banyak alat-alat sihir ciptaan Rohana Macbell yang luar biasa.


Salah satunya sekaligus yang menjadi tervaforit bagi rata-rata pengunjung termasuk si slenge’an Julian adalah sepatu terbang.


Bisa kulihat bagaimana Julian berlarian di atas udara dengan mudahnya dan terkadang juga naik dan turun seolah ada pijakan tak terhingga di bawah kakinya.


Kita bukannya berada di film kartun Dora Momon atau bagaimana.


Kini tidak hanya penyihir saja yang bisa melayang di udara, tetapi orang biasa pun bisa melakukannya dengan alat sepatu terbang ciptaan Rohana Macbell.


Karena penasaran, aku pun bergabung bersama Julian untuk turut mencobanya.


“Eh, apa ini? Oh, wah, haaaah!’


Aku bisa merasakan bagaimana aku bisa menginjak angin, tetapi itu sangat terasa licin melebihi licinnya lantai yang baru saja dipel oleh Ibu penjaga asrama.


Aku pun seketika terjatuh.


“Waduh.”


“Hahahahaha. Arno kita yang ganteng ternyata kikuk juga ya. Hahahahahaha.”


Sialan, si slenge’an Julian itu!


Baiklah, aku terima tantanganmu!


Aku pasti dalam waktu singkat juga akan bisa menguasai alat sepatu sihir ini sepenuhnya!

__ADS_1


Namun sampai petang tiba, aku hanya terus-terusan jadi bahan lelucon Julian.


__ADS_2