Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter

Pangeran Vampir Terjebak Menjadi Hunter
Chapter 40 – PERLINDUNGAN DI BALIK MAKNA SENIORITAS bag. 4


__ADS_3

Aku bertarung dalam suatu latih tanding melawan Lisanna yang memiliki tinggi badan jauh lebih pendek dariku.


Tak kusangka bahwa perbedaan tinggi badan itu akan dimanfaatkannya untuk selalu menyerang bagian bawahku yang pertahanannya kendor.


Salah satu keuntungan penggunaan pedang besar adalah itu juga bisa sekaligus menjadi tamengmu untuk menangkis serangan lawan.


Itu sulit untuk dilakukan oleh sebuah pedang pendek yang jarak jangkauannya relatif lebih kecil.


Oleh karena itu, pengguna pedang pendek harus dilengkapi dengan kelincahan untuk menghindari serangan lawan alih-alih menahannya.


Namun betapa itu sulit dilakukan ketika melawan lawan seperti Lisanna yang juga memiliki kelincahan yang sangat tinggi.


Padahal Lisanna sama sekali belum mengeluarkan kemampuan magic-nya, tapi aku sudah benar-benar dibuatnya cukup babak-belur.


Selama ini dia hanya bertarung melawanku murni dengan menggunakan keahlian berpedangnya.


Sungguh benar-benar monster.


Aku menjaga jarak sembari mengitarinya lalu menerjangnya ke arah yang kuprediksikan sebagai titik butanya, namun wanita itu bisa merasakan dengan baik darimana datangnya arah seranganku.


Tanpa membalikkan badannya, dia menangkis seranganku itu, menghempaskan kedua pedangku yang hampir saja terlepas dari tanganku.


Dan sebelum aku sempat untuk memperbaiki kuda-kudaku, kakinya menyepak solar plexus-ku kuat-kuat sehingga aku terpental jauh sembari memuntahkan darah.


“Arno sayang! Kamu baik-baik saja?”


“Hahahahaha. Aku baik-baik saja, kok. Luka segini sih tiada artinya.”


Aku mengatakan itu, walau sebenarnya merintih secara internal.


Sangat sulit bagiku menandingi kekuatan dari monster tersebut.


Aku kemudian mengonsultasikan masalah yang kurasakan pada teknik berpedangku kepada Lisanna.


“Itu benar. Sejak bobot sebuah pedang kecil jauh lebih ringan, impak serangannya pun lemah. Bagaimana kalau Yayang Arno berlatih memukul boneka kayu latihan terlebih dahulu untuk meningkatkan impak seranganmu?”


Dengan arahan dari Lisanna, aku berlatih menghajar boneka kayu dengan pedangku.


-Puak, pak, pak.


“Tidak, tidak. Jika kau melakukannya seperti itu, itu hanya akan membuat tanganmu sakit tanpa mengeluarkan impak serangan yang efisien. Kamu harus melakukannya seperti ini, Sayang.”


-Puak.


“Seperti ini?”


“Sekarang sudah lebih mendekati, tetapi sudutnya masih kurang terbentuk, Sayang.”


Walaupun impak serangan yang lemah pada pedang pendek tidak bisa terelakkan, ada beberapa metode untuk meningkatkannya ke taraf optimalnya.


Sudut serangan, irama, pola ritmik, posisi sendi, pegangan tangan pada pedang, serta kecepatan ayunan tangan, semuanya memiliki peranan dalam memaksimalkan output serangan tersebut.


Jika salah dalam menerapkannya, titik berat serangan akan melenceng dan itu hanya akan melukai persendianmu belaka.


Awalnya, aku terasa kikuk.


Namun berkat bimbingan Lisanna serta kebijakan di dalam ingatan Arno, aku sedikit demi sedikit dapat mengerti konsepnya dan akhirnya menguasainya.


Hari demi hari kami terus melanjutkan pelatihannya.


Tanpa terasa aku merasa sedikit lebih baik dalam menangkis serangan Lisanna.


Ya, aku mengeluarkan effort besar selama ini hanya untuk memikirkan bagaimana bisa menangkis serangan monster itu.


Aku menerapkan apa yang telah kupelajari darinya untuk memberikan output serangan optimal, akan tetapi menerapkan itu dalam waktu yang singkat rupanya sangatlah sulit.

__ADS_1


Waktu yang singkat itu berarti bahwa kamu tak punya cukup waktu untuk menyiapkan kuda-kuda yang layak.


Alhasil, kuda-kudamu juga takkan sempurna sehingga jurus yang dihasilkannya pun takkan sesuai harapan.


Aku bisa mengerti konsepnya, namun nyatanya sangat sulit untuk menerapkannya secara nyata.


Aku sampai akhir tidak bisa melayangkan satu pun serangan balasan yang efektif kepada wanita perkasa itu.


Tetapi ini lebih baik.


Walaupun kikuk, sedikit demi sedikit aku merasa sudah semakin dekat pada perwujudan impak serangan optimal itu pada serangan cepat.


Dengan aku semakin banyak berlatih dengan pemain pedang lincah seperti Lisanna, maka kelincahanku dalam berpedang juga akan semakin bertambah.


Seiring aku membiasakan diri, kuyakin begitu aku menghadapi lawan yang lebih lambat, semuanya akan terasa lebih mudah.


Lalu tibalah di malam hari, sehari menjelang di mana duelku bersama Sarpian Mucahantas akan diselenggarakan.


“Ukh.”


“Yayang Arno!”


“Aku baik-baik saja. Sekali lagi!”


Aku bisa merasakan peningkatan kemampuanku secara signifikan.


Itu berarti latihanku bersama Lisanna selama ini tidak sia-sia.


Aku telah mampu membaca pergerakan lawan dengan lebih baik dan memperdiksi sampai di taraf tertentu tentang bagaimana lawan akan menyerang atau bagaimana lawan akan melakukan feint.


Akan tetapi, walau dengan semua itu, aku tetap tak dapat menandingi keoverpoweran Lisanna.


Tidak hanya lincah, tiap momentum serangan Lisanna juga menghasilkan impak serangan yang amat dahsyat.


Tetapi apakah hal ini sudah cukup?


Apakah kemampuanku yang sekarang telah cukup untuk mengalahkan Sarpian Mucahantas?


Rasanya belum.


Bagaimanapun aku memikirkannya, feeling-ku merasakan bahwa masih ada yang kurang di dalam diriku yang tanpa sadar kuabaikan.


Tetapi tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.


Badanku terlalu lelah dan aku butuh segera beristirahat untuk menyimpan stamina buat acara besok.


Namun begitu aku hendak meninggalkan ruang latihan, aku tiba-tiba mendengar suara pedang dari salah satu ruangan yang lain yang terdengar begitu harmonis sampai-sampai menggelitik rasa penasaranku untuk mengintipnya.


Ternyata yang sedang berlatih di dalam ruangan itu adalah Alvin Hermes.


Benar, aku bisa belajar beberapa hal pula darinya.


Dibandingkan teknik dan ketenangannya dalam pertarungan, aku lebih penasaran pada hawa membunuh yang dikeluarkan Alvin Hermes selama pertarungan sebelumnya.


Bagaimana dia bisa melakukan itu dalam waktu singkat dan bagaimana setelahnya dia bisa kembali memancarkan aura pria lemah yang tidak berbahaya, aku benar-benar penasaran.


Tanpa pikir panjang aku memasuki ruangannya.


“Siapa?”


“Yo.”


“Oh, Arno? Ada apa?”


“Hmm. Bisakah kita berlatih tanding bersama, Alvin?”

__ADS_1


Aku pun lantas tanpa tahu malu meminta suatu latih tanding bersamanya.


“Boleh saja kok. Kebetulan sekarang aku lagi senggang.”


Setelah mendapatkan persetujuan dari Alvin, aku segera mengambil pedang kayu yang terletak di belakang ruangan itu lantas bersiap di hadapan Alvin.


“Kamu sudah siap, Arno?”


“Ya. Mohon bantuannya.”


“Kalau begitu, aku mulai menyerang ya?”


Sekali lagi perasaan teror melanda hatiku begitu Alvin Hermes akan memulai serangannya.


Seorang pria yang berpenampilan lemah dan rapuh, tiba-tiba saja menjadi beringas.


Ini bukan tentang penampilannya.


Bagaimana ya menggambarkannya, ini tentang tatapan mata yang sinkron dengan keyakinan ayunan pedangnya yang terlihat siap mengambil nyawa lawan kapan saja.


-Tuk, kuk, tak, tak.


“Ukh.”


Walau tak secepat Lisanna, tak salah lagi bahwa Alvin Hermes juga merupakan salah satu pemain pedang yang sangat lincah.


Terima kasih berkat latihan bersama Lisanna, aku semakin terbiasa dengan gerakan bertarung yang lincah.


Itulah sebabnya aku bisa mengikuti pace serangan Alvin Hermes dengan cukup baik, bahkan kini aku bisa membalas beberapa serangannya di beberapa tempat setiap kali dia membuka pertahanannya cukup lebar.


Alvin Hermes terkadang ingin melakukan beberapa feint pada serangannya.


Sayangnya dia cukup kikuk melakukannya sehingga feint-nya itu bisa terlihat jelas di mataku.


Ataukah karena aku sudah terbiasa dengan trik-trik feint umum yang dilakukan oleh Lisanna beberapa kali jadi rasanya tidaklah terlalu sulit lagi bagiku memprediksi feint dari seorang Alvin Hermes?


Entahlah, yang jelas dibandingkan dengan dua minggu yang lalu, kini aku bisa seimbang, tidak, sekarang aku bisa lebih unggul dari Alvin Hermes.


Melebihi tekniknya, aura membunuh Alvin Hermes jauh lebih berbahaya karena itu akan mengurangi nafasmu.


Namun selama kamu bisa menjaga ketenanganmu pada aura membunuh lawan yang kuat, semuanya tidak akan lagi menjadi masalah.


Waktu yang seharusnya kupergunakan untuk istirahat pun malah berakhir dengan aku menghabiskan malam sebanyak 14 ronde bersama Alvin Hermes.


Jikalau bukan Alvin Hermes yang minta istirahat duluan karena tidak sanggup lagi perihal bagian bawah tubuhnya sudah terlalu lelah, mungkin kami akan melakukannya sampai pagi.


Dalam 14 ronde itu, aku mengalahkannya sebanyak 8 kali.


Jelas aku bisa merasakan peningkatan yang signifikan di dalam diriku.


Dengan bantuan Anto pula di dunia bayangan, kini bukan hal yang mustahil lagi bagiku untuk mengalahkan Sarpian Mucahantas di dalam duel besok.


“Kamu kini banyak berubah ya, Arno.”


“Apa?”


“Bagaimana ya menjelaskannya. Dulu itu kamu terlalu kaku, namun kini kamu terlihat lebih bebas.”


Oh iya, aku lupa kalau bajingan ini juga teman masa kecil Arno.


Kuharap dia takkan curiga macam-macam padaku.


“Tetapi kamu tahu, Arno, aku lebih suka dengan keadaanmu yang sekarang ini. Kini, kamu dapat lebih mengekspresikan perasaanmu dan terlihat lebih menikmati betapa indahnya dunia. Hehehehehehe.”


Arno, sebenarnya seberapa kelamnya hidupmu di masa lalu sehingga bahkan Alvin Hermes dapat berkata seperti itu padamu?

__ADS_1


__ADS_2