
Gadis kecil yang selalu mengikutiku di belakangku tanpa kusadari kini telah tumbuh besar.
Itu wajar saja sejak seribu tahun telah berlalu sejak saat itu.
Namun kehilangan momen bersamanya, jujur itu membuat hatiku terasa jelu.
Aku begitu penasaran apa yang terjadi pada Selena selama ini sehingga dia bisa tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang memiliki tatapan tajam seperti itu.
Apa yang membuat hidupnya begitu tertekan sehingga tatapan matanya yang dulunya dipenuhi sorot kebahagiaan kini memudar digantikan oleh tatapan pilu seolah tak tertarik lagi dengan dunia.
Apakah itu semua karena kesalahanku yang telah meninggalkan sosok wanita ceria itu seorang diri di belakang?
Aku tidak peduli lagi entah apa yang akan terjadi pada diriku karena penalti Sistem atau ucapanku akan dianggap sebagai omong kosong belaka.
Aku ingin jujur kepada gadis kecil itu.
Akan kukatakan yang sebenarnya setidaknya kepada Selena.
Toh kami berasal dari ras yang sama sehingga ada kemungkinan larangan Sistem tidak berlaku padanya.
“Selena, ini aku… Akkkh.”
Namun harapanku itu segera dikhianati.
Hal ini pertama kalinya terjadi padaku sejak aku begitu takut akan penalti kematian sehingga aku selama ini menjaga rahasia tersebut baik-baik.
Aku tak menyangka bahwa nafasku seketika akan tertahan begitu aku hendak mengungkapkan kebenaran kepada Selena.
“Hei, bocah. Kamu kenapa?”
Rasanya aneh juga mendengar gadis kecil yang dulu sering mengikutiku di belakang kini balik memanggilku sebagai seorang bocah.
“Apa kamu terlalu takut denganku sehingga jadi tidak bisa berbicara, hah?!”
Selena lantas mendekatiku kemudian berjongkok sembari memegangi leherku dan menariknya ke atas.
“Tapi tunggu dulu, kau tidak hanya tahu namaku, tetapi juga tahu wajahku?!”
Selena kemudian menatapku dengan pandangan yang mengintimidasi.
“Kukira kau mendengar namaku entah dari siapa? Tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Bocah?”
Ingin rasanya aku menjawab pertanyaan itu bahwa itu bukan lagi pertemuan sekali atau dua kali, tapi aku adalah Laviar, majikan, tidak, kakaknya yang telah menghilang selama seribu tahun lamanya karena diculik oleh Sistem.
“Aakkh.”
Namun lagi-lagi yang bisa kukeluarkan hanyalah geraman aneh.
Suaraku seakan benar-benar terkunci oleh Sistem.
“Ya sudahlah kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku barusan. Lagipula aku sudah tidak peduli tentang itu. Yang lebih penting, darimana kamu tahu tentang nama Pangeran Laviar? Jawab aku, Bocah!”
Tatapan mata yang sendu itu tiba-tiba saja berubah memiliki hawa nafsu membunuh yang teramat kuat sampai-sampai seluruh tubuhku rasanya ditindih oleh suatu beban tak kasat mata yang bahkan sanggup merontokkan tulang-tulangku begitu aku lengah.
__ADS_1
Apakah setelah akhirnya aku bertemu dengannya, justru haruskah nyawaku berakhir di tangan Selena?
Tidak, aku tidak ingin berakhir seperti ini.
Melebihi takutnya aku akan kematian, aku hanya tidak ingin Selena akan tahu kebenarannya di kemudian hari lantas berakhir dengan menyalahkan dirinya sendiri setelah membunuhku.
Namun, adakah sesuatu yang bisa kulakukan saat ini?
Itu benar.
Rarina.
Rarina, pelayan setia Kak Lavier punya kekuatan penerawangan aura takdir.
Itu adalah kekuatan yang bisa memperlihatkanmu akan keputusan yang seseorang perbuat berpengaruh baik atau buruk pada takdir dirinya maupun orang lain.
“Rarina! Tolong aktifkan penerawangan aura takdirmu!”
Syukurlah di luar rahasia tentang identitasku, Sistem tampaknya tak mengunci fungsi mulutku untuk mengatakan hal lainnya.
“Jadi kau tidak hanya mengetahui tentang diriku, tapi bahkan Nona Rarina beserta kekuatannya?”
“Selena, hentikan.”
Dengan ucapanku itu, Rarina turut mendekat ke arahku lantas mulai menatap kedua bola mataku.
Bola matanya tiba-tiba saja bersinar merah layaknya warna pantulan sinar bulan yang terbiaskan oleh kegelapan.
“Ukh.”
Sayangnya, mulutku lagi-lagi terkunci oleh Sistem begitu tiba gilirannya aku ingin mengungkapkan identitasku.
“Tampaknya ada suatu kekuatan gaib yang mencegahmu untuk berbicara. Aku tidak tahu apa itu, tapi kekuatanku mengatakan bahwa membunuhmu akan menciptakan jalinan takdir buruk bagi kami berdua.”
“Apa?”
Selena terlihat kaget dengan ucapan Rarina tersebut.
Namun syukurlah karena dengan begitu, tampaknya niat Selena yang semula ingin membunuhku sudah teredakan.
-Jdaar.
“Ukh.”
Namun sama sekali tidak ada waktu untuk istirahat.
Tanah tiba-tiba saja bergetar yang disebabkan oleh true boss yang telah kembali memperoleh kekuatannya.
Buah yang bisa menyebabkan malapetaka telah dihancurkan, namun sayangnya sang produsen buah malapetaka itu masihlah hidup.
Makhluk itu harus segera disingkirkan.
Jika abyss berhasil terlepas ke dunia nyata, tidak hanya hidup kaum manusia saja yang akan terancam, tetapi seluruh makhluk hidup di dunia ini akan segera musnah menjadi zombie yang takkan lagi layak untuk disebut sebagai makhluk hidup, dan itu tidak terlepas bagi kami kaum vampir.
__ADS_1
“Kita sudahi dulu pembicaraan kita, Nak. Selena, kamu lindungi dulu anak itu selama aku mengalahkan pohon menjijikkan itu.”
“Serahkan padaku, Nona Rarina.”
Namun sang true boss bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kekuatan Rarina.
Dengan jurus kegelapannya yang luar biasa, dia segera melahap sang monster tanpa sempat sedikit pun sang monster untuk berkutik.
Bisa kulihat di sampingku Selena memelototiku dengan intens alih-aih menyaksikan kehebatan pertempuran Rarina tersebut.
“Maaf, seperti yang kamu tahu, aku sama sekali tidak berniat menjadi musuhmu, Selena. Jadi jangan memelototiku dengan seram seperti itu terus dong.”
Mendengar ucapanku itu, mata yang memelototiku sedari tadi itu pun mulai sedikit terpelintir.
“Siapa yang berwajah seram?!”
Jawab Selena dengan kesal.
“Maaf, maaf, tapi apa yang aku ucapkan itu benar kok. Setidaknya apapun yang terjadi, aku tidak ingin menjadikan Selena sebagai musuh.”
“Hei, kau bocah. Mengapa sedari tadi kau berbicara tidak sopan pada orang yang lebih tua darimu, hah?! Tidakkah ras manusia diajarkan sopan santun jika berbicara kepada orang yang lebih tua?!”
Ingin rasanya aku berkata, ‘Hei, Nak umurku lebih tua dua tahun darimu’, tapi itu tak mungkin sejak mulutku terkunci oleh Sistem.
“Maaf, maaf, Nona Selena. Apa itu sudah cukup?”
“Kamu, kamu takkan bisa menipuku. Kutahu kamu dendam pada kami karena Luvien telah membunuh banyak rekan-rekanmu di sekolah hunter itu. Itulah sebabnya kamu mencari tahu tentang keberadaan kami sehingga juga datang ke tempat ini, bukan?”
Selena menatapku menelisik setiap ekspresiku untuk mencari tahu kebenarannya.
Aku hanya diam.
Bukannya apa yang dikatakan oleh Selena salah.
Aku masih tidak dapat memaafkan mereka yang telah menjadi penyebab kematian Arno begitu pula dengan teman-temanku yang lain.
Hanya saja seperti apa yang kukatakan, hanya Selena saja yang tak mungkin menjadi sasaran kebencianku itu.
Sama halnya dengan Arno, dia juga adalah sedikit dari orang-orang yang berarti di hidupku.
Setelah sekian lama aku akhirnya menemukannya, aku tak ingin lagi berpisah darinya.
Namun, adakah jalan bagi ras manusia dan ras vampir untuk hidup berdampingan kembali seperti apa yang telah diwujudkan oleh Ayahanda?
Atau akankah ketika misi tingkat XXX itu selesai dan aku kembali memeperoleh wujud vampirku, sanggupkah aku sebaliknya mengkhianati rekan-rekan yang telah aku bentuk di dunia manusia ini?
Aku tak menginginkan hal itu.
“Selena, sudah waktunya pulang. Tinggalkan saja anak itu sendirian. Aku yakin dia bukan orang yang berbahaya bagi organisasi kita.”
Dengan ucapan Rarina tersebut, Selena pun meninggalkanku sendirian usai dikalahkannya sang true boss dungeon.
Dungeon yang tumbuh menjadi ancaman fatal bagi Pulau Batam pun seketika itu lenyap.
__ADS_1